
Like dulu biar nggak lupa ya,
Selamat Membaca :*
**********
"Eh sebentar, Novi mana?" tanya Dean pada Winarsih saat mereka baru tiba di kamar.
"Kayaknya tadi ada, kenapa?"
"Mau minta ambilin paperbag di mobil tadi. Atau sebentar aku telfon Pak Noto dulu." Dean mengeluarkan ponselnya dan menggulir layar mencari nama Pak Noto di panggilan keluar.
"Halo Pak? saya minta tolong ambilkan paperbag tadi, iya bener yang itu, tolong antar ke kamar saya ya." Dean kemudian mengakhiri pembicaraan dan melemparkan ponselnya ke ranjang.
"Apa emangnya?" tanya Winarsih penasaran.
"Oleh-oleh untuk kamu, kamu pasti suka. Sebentar kita tunggu Pak Noto. Semoga Dirja tidurnya lama ya--" ujar Dean tersenyum memijat-mijat pundak isterinya.
"Di Kalimantan ngapain aja?" tanya Winarsih tiba-tiba.
"Kerja dong. Sidang, meeting ama Pengacara lain yang pegang kasus itu. Emang napa?" Dean balik bertanya dengan raut sedikit heran.
Hatinya sedikit tak nyaman saat Winarsih menanyakan hal itu. Karena pertemuan tak sengaja dengan Ara selama di sana, menjadikan pertanyaan isterinya itu kini bagai sebuah interogasi.
"Ya nggak apa-apa nanya aja. Kan biasa kalau baru pulang dari mana-mana saya tanya. Kok jadi gelisah? emang ada apa?"
"Enggak apa-apa--eh itu ada yang ngetuk pintu kamar. Pasti Pak Noto. Sebentar." Dean bangkit menuju pintu kembali duduk di tepi ranjang sesaat kemudian dengan sebuah paperbag.
"Ini aku beliin untuk kamu. Oleh-oleh dari Banjarmasin, kota seribu sungai. Batik Sasirangan." Dean membuka paperbag dan mengeluarkan tiga buah kain panjang batik bermotif khas dengan warna mencolok indah. Kuning, oranye dan biru.
"Bagus untuk dipakai gendong Dirja," ujar Winarsih mengangkat kain batik sutra itu di depan wajahnya.
"Terserah kamu untuk apa Bu, unik juga Dirja digendong pakai itu." Dean terkekeh membayangkan bayinya digendong pakai kain batik buatan tangan yang dibelinya mahal dari sebuah toko oleh-oleh di bandara.
"Terus ada apa lagi? cuma ini aja?" tanya Winarsih memandang paperbag. Dean mengerjapkan mata mendengar perkataan isterinya.
"Oleh-oleh dari sana itu yang cuma begini. Yang lain makanan manis-manis. Kamu nggak boleh makan yang manis-manis. Entar lama langsingnya." Dean memasukkan kain batik itu kembali ke dalam paperbag dan meletakkannya di atas meja nakas.
"Pasti ada yang lain. Ciri khas satu daerah itu kan banyak Pak," tukas Winarsih lagi.
"Selain kain batik itu ada mandau juga. Kamu tau mandau? itu senjata tajam khas Kalimantan. Ngapain aku beliin mandau itu untuk kamu? jangan-jangan aku korban pertama kamu nanti." Dean menarik tubuh isterinya agar rebah ke ranjang.
"Ya nggak, kan bisa dipajang di dinding atau lemari," ujar Winarsih lagi.
__ADS_1
"Enggak ah. Aku serem. Entar jadi senjata kamu untuk ngelawan aku." Dean memeluk isterinya yang telentang dengan tangan dan kakinya sekaligus.
"Enggak," sahut Winarsih lagi seraya menggeliat karena merasa geli diterpa nafas Dean di lehernya.
"Udah ah, kamu ngomongnya oleh-oleh itu aja. Padahal ada oleh-oleh yang paling penting yang harus kamu tanya. Aku menjaganya dengan susah payah di sana," ujar Dean.
"Apa emangnya?" Winarsih menoleh wajah Dean yang berada sesenti dari telinga kirinya.
"Ya ini. Sini." Dean menarik tangan isterinya dan meletakkannya di atas kelelakiannya yang perlahan menggeliat bangun dari tidurnya.
Winarsih tertawa.
"Ketawa kamu Win, aku nahannya 40 hari loh. Itu aku pasang alarm di hapeku biar nggak lupa." Dean mencium leher isterinya.
"Aku sekalian mau liat Win,"
"Apa?"
"Itu abis dijait kemarin ada yang berubah nggak?"
"Apanya? berubah gimana? ada-ada aja," ujar Winarsih.
"Makanya aku mastiin segera biar nggak penasaran. Sini kamu. Jangan lama-lama, entar Dirja bangun kamar digedor-gedor Babysitter-nya." Dean berguling ke atas tubuh isterinya dan mulai mencium wanita itu sedikit terburu-buru.
"Win, kayaknya aku nggak lama ini. Maklum ya, bantuin buka Bu." Dean melepaskan kancing kemeja dan ikat pinggangnya terburu-buru.
"Hmmm--" desah Dean. Seiring desahan yang ke luar dari mulut pria itu, Winarsih pun ikut mengerang merasakan sentuhan lembut lain di puncak dadanya.
Saat mulutnya sedang menggantikan Dirja di dada ibunya, Dean yang sekarang bertumpu dengan siku kirinya kini berekspansi ke bagian bawah dengan tangan kanannya.
Dengan satu tangan ia berhasil menyingkap dress yang dikenakan Winarsih dan menarik turun pakaian dalam wanita itu hingga jatuh ke lantai.
Ia ingin memastikan bahwa isterinya telah siap saat itu. Dean masih mengecapkan indera perasa mengitari puncak merah jambu dengan bentuk yang semakin menggodanya.
"Sebentar Win." Dean bangkit melepaskan pengait pada celana bahannya dan menarik sekalian hingga boxernya pun ikut turun dan terlepas.
"Mau?" tanya Winarsih pada suaminya.
"Apa?"
"Itu." Winarsih memandang bagian kelelakian suaminya yang telah bangkit sempurna. Mengerti dengan apa yang dimaksud isterinya, Dean menggeleng.
"Enggak usah, itu malem aja. Kalo sekarang entar belum keburu ke dalem, aku udah ke mana-mana." Dean menekuk kaki isterinya dan mulai berjongkok.
__ADS_1
"Win--"
"Hmmm--" Winarsih sudah memejamkan mata menanti kedatangan suaminya.
"Yang dijait yang mana? kok nggak keliatan ya?" tanya Dean dari bawah sana.
"Apa sih? Bapak mau ngapain sebenernya?" sergah Winarsih yang sedikit malu karena melihat wajah serius Dean yang sedang memandang bagian sensitifnya.
"Mau masuk dong Bu, namanya juga penasaran." Dean menunduk dan mengecup bagian sensitif itu sekilas untuk meninggalkan cairan dari mulutnya. Winarsih berjengit karena hal yang dilakukan Dean barusan.
Sesaat kemudian pandangan mereka bertemu. Mata Winarsih kini tak lepas memandang wajah Dean yang perlahan sedang memasukinya. Kini ia tak memalingkan wajahnya lagi. Ia turut menikmati raut suaminya yang tengah mereguk kenikmatan bersamanya.
"Aahhh--enak Bu. Aku ngerasa udah bener-bener pulang ke rumah sekarang." Dean terkekeh sambil perlahan bergerak maju-mundur.
Memandang wajah Dean saat bercinta, sekarang bukan merupakan hal sulit bagi Winarsih. Tapi mendengar celetukan lucu yang terkadang mengesalkan di tengah-tengah kegiatan bercinta mereka tampaknya ia belum terlalu terbiasa.
Dean yang rewel dan selalu gampang mengucapkan hal paling tabu sekalipun saat bersamanya membuat Winarsih masih sering salah tingkah dan merona.
Winarsih yang jarang mengeluarkan desahan saat bercinta, siang itu kembali kelepasan sebuah erangan cukup panjang. Ia yang sedikit terkejut dengan suara yang dikeluarkannya, langsung menutup mulut. Dean yang sedang asyik mengayun di atasnya menyeringai.
Mata Dean sudah memejam dan bibirnya sudah meringis seraya mengerang. Semakin lama gerakannya semakin cepat hingga akhirnya ia berhenti dan menarik rapat kedua paha Winarsih untuk menyempurnakan penyatuan mereka.
Nafasnya terengah-engah. Bibirnya tersenyum tapi masih meringis. Di dalam sana, kejantanannya masih terus menumpahkan seluruh rindu yang terpendam.
"Enak Win-- malah makin enak kayaknya." Dean nyengir dan mengedipkan sebelah mata pada isterinya.
"Udah?" tanya Winarsih pada Dean yang merebahkan tubuh polosnya di ranjang.
"Belum dong, ntar malem aku mau lagi. Sekarang aku mau mandi, mau bersih-bersih. Mau gendongin anakku keliling taman belakang. Sini Win cium lagi," ucap Dean merentangkan tangannya. Winarsih sedikit bangkit dan mencium bibir suaminya.
"Hmmm--" gumam Dean yang kembali membenamkan ciuman seraya meremas pelan dada isterinya. Beberapa saat lamanya ciuman mereka tak terlepas. Masih menyambut satu sama lain dengan pijatan-pijatan lembut yang dilakukan Dean pada dada yang dirindukannya.
DRRRRRRTTT
DRRRRRRTTT
Ponsel Dean yang terletak tak jauh dari kepalanya bergetar. Ia melepaskan ciuman mereka.
"Aku ngangkat telfon dulu. Nanti kelamaan ciuman, malah nyambung lagi. Jangan sampe Bapaknya kekenyangan, tapi Dirja malah kehausan di kamar Utinya." Dean tertawa geli.
"Halo? ya Nov? oh nggak apa-apa. Ya udah kamu lanjut aja dulu. Enggak apa-apa kok. Iya, nggak apa-apa." Dean mengakhiri pembicaraannya.
"Emang ada apa dari tadi nyariin Novi?" tanya Winarsih yang mulai mengancingkan pakaiannya.
__ADS_1
"Ada yang mau aku pastiin aja. Enggak penting sih, tapi aku penasaran. Entar kita liat sama-sama. Aku mandi duluan ya Bu, kamu liat anakmu sana." Dean bangkit dari ranjang dan bersenandung santai menuju kamar mandi dengan tubuh telanjangnya.
To Be Continued.....