
"Win," panggil Dean saat baru selesai menjenguk calon bayinya. Matahari telah melorot ke Barat sedang bersiap-siap akan menghilang.
Wajah istrinya masih berada di dadanya dan tangan kirinya tak henti membelai rambut wanita itu.
"Ya Pak?" jawab Winarsih.
"Eh kok jadi aneh ya, masak kamu manggil aku bapak terus," ucap Dean.
"Jadi Pak?"
"Ehm!" Dean berdehem.
"Gimana kalo Mas aja? Mas Dean gitu?" tanya Dean.
"Itu juga boleh," jawab Winarsih.
"Eh dulu mantan pacar kamu yang si anu itu, kamu panggil apa?" Dean teringat akan Utomo mantan pacar istrinya.
"Mas Utomo?" tanya Winarsih lurus-lurus saja.
"Kamu panggil mas juga?"
Winarsih mengangguk.
"Nggak jadi! Jangan panggil aku mas. Apa-apaan itu pake panggilan mas. Nggak banget...." Dean memberengut.
"Panggil Pak juga nggak apa-apa kan? Saya lebih suka. Nanti anaknya Pak Dean bisa ikut manggil dengan sebutan bapak juga. Saya suka dipanggil ibu," ucap Winarsih pelan menghibur Dean yang cemberut tapi masih menggaruk-garuk punggungnya yang belum memakai apapun.
Mendengar hal yang baru saja dikatakan Winarsih, Dean menjauhkan tubuh untuk melihat wajah istrinya.
"Nggak apa-apa. Itu juga boleh. Kalo kamu suka, aku juga suka. Yang penting nggak boleh sama dengan si anu itu. Aku mau yang lebih. Kamu ngerti 'kan?" tanya Dean menatap wajah istrinya.
"Ngerti." Winarsih mengangguk.
"Maksudnya aku bener-bener mau yang lebih."
"Mmm--maksudnya Pak?" tanya Winarsih mendongak.
"Mau lebih satu kali," balas Dean kemudian kembali menciumi leher dan dada istrinya.
Benar sekali apa yang dikatakan Toni. Paket combo adalah hal yang paling disukai oleh Dean.
Berbulan-bulan harus menebak isi pikiran Winarsih tentang dirinya, turut membuat sesuatu yang begitu lama dipendam seolah bangkit ingin memamerkan diri.
"Win, ibu kamu bilang, aku harus ngajarin kamu sesuatu yang mungkin nggak kamu tau...."
"Ya Pak, memang gitu."
"Sekarang aku mau ngajarin kamu sesuatu," ujar Dean kemudian mengatupkan mulutnya.
"Apa itu?" Nafas hangat Winarsih menghambur ke leher Dean.
"Aku ajarin megang ini...." Dean mengambil tangan Winarsih kemudian meletakkannya di tempat benda yang akhir-akhir ini semakin dibangga-banggakan olehnya.
Awalnya Winarsih sedikit terkaget dengan hal yang baru saja dilakukan Dean. Tapi melihat kebanggaan suaminya itu tampak semakin tegak memamerkan diri, tangan Winarsih ternyata betah dan tak beranjak dari sana.
__ADS_1
Sekali lagi pikir Dean, sebelum matahari benar-benar menghilang dia ingin kembali mengunjungi calon bayinya.
Toh mau itu sekali atau beberapa kali, mandinya cukup sekali saja pikirnya.
Dean kembali meninggalkan banyak jejak di tubuh istrinya. Perlahan tapi pasti Dean kembali menyatukan dirinya dengan Winarsih. Dan menjelang malam itu, Dean kembali terengah-engah di sebelah wanita yang pagi tadi dinikahinya.
*******
Menjelang makan malam, Dean baru keluar dari kamar Winarsih dengan kembali memakai beskap lengkap menuju kamarnya.
Semua pakaian tentu saja masih berada di kamarnya. Jadi dia berencana untuk mandi dan berganti pakaian serta mengajak Winarsih makan malam di meja makan.
Dean benar-benar tak memikirkan kemungkinan soal Bu Amalia yang hingga saat ini masih berada di kamarnya mengurung diri.
Saat mengendap-endap hendak menaiki tangga besar, Dean berpapasan dengan Pak Hartono yang datang dari ruang keluarga.
"De, suka banget kayaknya kamu pakai beskap," sindir Pak Hartono.
"Eh, belum sempat ganti Pa..." jawab Dean menjajari langkah Papanya.
"Hmmm...."
"Mama mana Pa?" tanya Dean yang mulai menyadari Bu Amalia yang lama tak menampakkan diri.
"Di kamar. Dari tadi masih nggak mau turun. Nggak mau makan. Kamu bujuk gih, dirayu. Jangan pinternya ngomong ama Winarsih aja," tukas Pak Hartono yang telah tiba di anak tangga paling atas.
Dean berhenti sejenak menatap papanya.
"Udah, nggak apa-apa. Coba kamu ajak makan malam bareng sama Winarsih. Kamu ajakin bercanda di meja makan," saran Pak Hartono pada Anaknya.
"De, posisi kita belum aman. Kamu harus bisa lembutin mama Kamu. Kalau nggak, kita semua bisa repot. Pikirkan juga kalau Disty tau gimana. Apa jawaban kamu?" Pak Hartono menatap Dean.
"Sementara ini Dean hindari dulu aja Pa, Dean mau ajak Winarsih jalan-jalan. Mau ngajak Winarsih honey moon."
"Honey moon? Buat kamu tuh cocoknya sudah babymoon. Honeymoon dari mana?" Pak Hartono pergi meninggalkan Dean yang setengah terperangah.
*******
Dean membereskan beberapa letak benda di kamarnya yang ia rasa tak simetris. Beberapa pakaian yang tergantung segera dimasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Meja riasnya yang penuh dengan botol skincare dan parfum, semua ia angkuti ke dalam lemari. Dia hanya menyisakan sebotol parfum dan sebuah deodoran.
Saat Winarsih masuk ke kamarnya nanti, dia ingin istrinya itu menyadari ketampanan dan glowing-nya memang diperoleh sejak lahir. Bukan karena bantuan skincare itu.
Setelah beberapa kali memastikan tampilannya malam itu sudah sempurna, Dean sudah memantapkan hati untuk membujuk ibunya untuk turun makan malam bersama dan bertemu dengan istrinya.
Malam itu di kepalanya sudah terbayang bisa berbaring di sebelah Winarsih di atas ranjang besar miliknya sambil mengelus perut istrinya itu.
Tok! Tok!
Dean mengetuk pintu kamar orangtuanya dua kali.
Mendengar tak ada jawaban, Dean menarik handle dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
Pintu kamar orangtuanya tak terkunci. Mata Dean langsung menangkap belakang sosok tubuh Bu Amalia yang sedang tidur membelakangi pintu.
__ADS_1
Dean berjalan mendekati ranjang dan duduk di dekat ibunya.
"Ma... turun yuk. Makan. Mama dari pagi katanya belum makan." Dean membelai punggung Bu Amalia.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bu Amalia.
"Kok ngapain sih Ma? Ya ngajakin Mama makan dong. Dean sekalian pengen ngenalin Winarsih secara resmi ke Mama. Sekarang Dean udah punya istri Ma," ucap Dean lembut.
Mendengar Dean mengucapkan kata 'istri', Bu Amalia langsung duduk menatap tajam ke arah anaknya.
"Apa kamu bilang? Makan semeja sama Winarsih? Kamu dah sinting minta mama buat hal kayak gitu? Kamu nggak ngerti juga ya De maksud mama apa? Nggak ngerti kamu? Sekarang kamu mau bawa dia ke meja makan kita?" cecar Bu Amalia pada Dean.
"Dean juga maksudnya mau bilang ke Mama, malam ini Dean bakal bawa Winarsih untuk tidur di kamar Dean. Gitu Ma.... Winarsih itu sedang mengandung calon cucu mama lho, Mama harusnya 'kan seneng karena bakal punya cucu dengan nama belakang Hartono."
"Jangan berani-berani kamu bawa dia naik ke sini. Sekali dia tetap pembantu, ya pembantu aja Dean. Kalo kamu bawa dia naik, mama yang akan pergi ninggalin rumah ini. Biar kamu seneng!" sengit Bu Amalia pada anaknya.
"Ma, Mama nggak boleh lagi manggil Winarsih itu pembantu Ma, dia itu istri Dean. Menyakiti dia, sama dengan menyakiti Dean. Dia nggak salah kok Ma." Dean berkata selembut mungkin dengan ibunya.
"Iya. Nggak salah dia. Salah mama. Pokoknya bulan depan, kamu harus duduk di pelaminan sama Disty. Mama nggak mau tau. Terserah mau kamu apakan istrimu itu." Bu Amalia kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang dan membelakangi anaknya.
"Ma, kalo Winarsih nggak boleh ke atas. Kami tinggal di rumah yang lain aja ya," bujuk Dean lagi mencoba cara lain demi membuat istrinya yang sedang mengandung merasa nyaman.
"Kalo kamu keluar dari rumah ini, nggak usah balik lagi kamu ke sini. Pergi sana! Jangan temui mama lagi sampai mama mati," sengit Bu Amalia dengan nafas sedikit tersengal.
"Mama kok gitu," gumam Dean pelan.
Rasanya sudah cukup dia merendahkan kata-kata dan membujuk ibunya. Sebenarnya berat sekali rasanya untuk tetap diam tak melawan saat ibunya mencaci Winarsih.
Perutnya yang tadi lapar sekarang menjadi kenyang. Harus dikemanakan istrinya itu? Apa yang harus dilakukannya untuk menghibur hati Winarsih dari penolakan ibunya?
*******
Pukul 8 malam lebih, Dean yang tadi pamit pada Winarsih untuk berganti pakaian malah tak juga menampakkan batang hidungnya.
Perutnya terasa lapar. Tadi Winarsih sudah membantu Mbah dan Tina menyiapkan makanan untuk makan malam seperti biasa.
Tapi Tina yang kini berubah sikap menjadi sangat sopan padanya, berkali-kali menolak. Dia bersikeras agar Winarsih tetap duduk manis saja sambil mencicipi makanan yang sedang dimasaknya.
Tok! Tok!
Pintu kamar Winarsih diketuk dua kali. Dia sudah bisa menebak itu pasti adalah Dean. Dengan antusias Winarsih meraih gagang pintu. Dan matanya menatap Dean yang tampan berdiri di depan pintu kamarnya dengan sebuah koper besar dan beberapa hanger berisi jas kerjanya.
"Gimana? Udah kangen belom?" tanya Dean setengah tersenyum.
"Kok bawa koper?" tanya Winarsih heran.
"Iya Win, setelah aku pikir-pikir ternyata aku suka banget dengan suara derit ranjang kamu ini. Jadi aku memutuskan untuk tidur di sini aja. Kamu masih mau sama aku 'kan meski aku cuma bermodal koper dan ketampananku ini?" tanya Dean tersenyum jenaka.
Winarsih tertawa dan mengangguk.
"Berarti... mulai sekarang kamu yang harus menanggung hidupku," ucap Dean lagi.
Winarsih kembali mengangguk.
Dean menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Syukurlah dia masih bisa membuat Winarsih tersenyum. Padahal saat keluar dari kamar orang tuanya tadi, air matanya sudah mengembang karena mendengar hinaan ibunya soal Winarsih.
__ADS_1
To Be Continued.....