CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
110. Salah Tingkah


__ADS_3

Dean melupakan sejenak soal Ara yang sedang duduk di seberangnya. Mustahil wanita itu tak mendengar percakapannya bersama Winarsih barusan. Apalagi volume panggilan video itu cukup besar.


Antara gemas dan tak sabar ingin pulang, Dean berbunga-bunga mendengar kabar dari Winarsih yang dirasanya lebih hangat dan mesra. Selama ini Dean selalu bersikap santai dan sering bercanda pada wanita itu, dengan tujuan untuk mencairkan sikap kaku Winarsih sejak awal pernikahan mereka.


Sekarang Dean sedikit mengerti soal isterinya. Wanita itu menjadi lebih ekspresif jika sedang rindu padanya. Dean mengerti alasan kerinduan yang sedang dirasakan isterinya saat ini.


Mereka memang belum melakukan hubungan suami isteri sejak Winarsih melahirkan anak pertama mereka. Tapi Dean tak pernah melewatkan waktu malam hari mereka tanpa mencumbui atau membelai istrinya sebelum tidur.


Jadi Dean merasa percaya diri kalau Winarsih pasti merindukannya juga. Isterinya sudah terbiasa dengan perlakuan dan percakapan mesranya sebelum tidur.


"Isteri kamu?" tanya Ara saat Dean mengakhiri pembicaraannya.


"Iya,"jawab Dean.


"Mesra sekali, aku jadi iri." Ara tertawa mengajak Dean bercanda.


Dean ikut tertawa. "Dia memang menggemaskan. Isteriku baru aja merayakan ulang tahunnya yang ke-22."


"Wow, aku kira isterimu seumuran kita deh," ujar Ara.


"Oh enggak, dia jauh di bawah kita. Itu makanya aku selalu ngerasa jadi lebih--dominan. Dia buat aku ngerasa jadi laki-laki yang sesungguhnya. Kamu pasti ngerti apa maksud aku," tukas Dean setengah tersenyum mengingat Winarsih yang selalu diliputi kekhawatiran karena ulahnya.


"Caranya bergantung dengan aku tuh, buat aku ngerasa istimewa Ar. Di waktu-waktu tertentu dia bisa dewasa banget, kadang dia manja banget ke aku dan keseluruhannya, dia itu keibuan banget."


Saat mengatakan soal Winarsih yang manja sekali kepadanya, Dean sedikit meringis di dalam hati. Andai saja orang-orang tahu bahwa sejauh ini dialah yang lebih manja dan rewel kepada isterinya itu.


"Kamu memang benar-benar mencintai dia ya De? aku jadi penasaran orangnya gimana. Dia pasti lembut banget," ucap Ara.


Saat Ara mengatakan soal Winarsih yang lembut, Dean sedikit geli. Mungkin pendapat Ara akan sedikit berubah jika saja wanita itu melihat Winarsih yang mengomeli Disty di kantor polisi. Dean berharap Ara bukanlah korban Winarsih berikutnya.


"Pastinya Ra, aku nggak sabar pulang besok. Aku juga kangen anakku. Oh ya Ra, anak kamu berapa? eh maaf, aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma nanya, sorry. Itu pertanyaan yang nggak seharusnya ditanyakan di zaman sekarang saat ketemu teman lama." Dean cepat-cepat mengkoreksi ucapannya.


"Enggak kok. Enggak apa-apa, aku biasa aja. Anakku belum ada. Aku nggak sempat melahirkan anak dari suamiku. Pernah sekali keguguran, terus aku belum hamil lagi," jawab Ara.


DRRT--DRRT


Ponsel Dean bergetar dua kali, tanda sebuah pesan singkat masuk. Dean menggulir notifikasi ponselnya sekilas untuk membaca isi pesan.


"Ya udah, kalo gitu aku pergi ke luar ya. Ini barusan Ryan udah ngasih kabar kalo mobilnya udah nunggu di teras lobby." Dean bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"De, dasi kamu belum rapi," ujar Ara yang maju selangkah mendekatinya.


Dengan cepat Dean melepaskan dasinya. "Oh nggak apa-apa ini. Emang mau aku lepasin. Hari ini aku lagi nggak pengen pake dasi." Dean menarik dasinya hingga terlepas dari leher.


"Aku duluan ya Ra." Dean melambai kepada pelayan restoran yang kemudian berjalan mendekatinya. "Tagihannya ke kamar saya ya," ujar Dean bergegas melangkah. Pelayan itu mengangguk tanda mengerti.


"Kamu besok pulang?" teriak Ara pada Dean yang sudah menjauh. Mendengar pertanyaan Ara, Dean hanya melambai dan mengangguk sekilas.


Kemudian ia bergegas masuk ke dalam mobil tempat dimana Ryan telah menunggunya dengan kaki tersilang dan sebuah laptop di pangkuannya.


"Ehem!!" Ryan berdehem.


"Jangan ngomong yang enggak-enggak lu sama Novi. Entar bisa nyampe ke istri gua," tukas Dean langsung.


"Gua nggak ada ngapa-ngapain soalnya. Ketemu juga nggak sengaja. Lagian itu mantan pacar jaman SMA. Gak ada apa-apanya lah dibanding pacar-pacar sesudah itu. Kejadiannya juga udah lama lewat. Enggak setiap orang mengenang masa-masa pacaran SMA. Apa itu cinta monyet? zaman disuruh belajar, gua malah pacaran. Enggak banget emang kalo inget-inget jaman itu."


"Apalagi gua udah punya anak-isteri. Mana isteri gua cakep, jago masak, anak gua cakep, apalagi coba? Lu tau sendiri isteri gua gimana. Gitu-gitu dia adalah pemegang saham terbesar selain Papa di Grup Cahaya Mas," ujar Dean berapi-api.


"Iya Pak Dean--iya. Memangnya saya ada bilang apa? saya cuma berdehem gitu doang. Kok jadi ngomel-ngomel? Bapak beraninya ama saya aja," gumam Ryan pelan.


"Apa?" tanya Dean.


"Engga," sahut Ryan kembali pura-pura sibuk dengan laptopnya.


**********


"Iya Win, ini mau ke airport. Iya Sayang, aku pasti sarapan dulu. Aku nggak mau Ryan menggotong aku karena semaput di Bandara. Lagian entar malem aku kan butuh banyak tenaga. Kamu juga siap-siap," jawab Dean tergelak karena mendengar jawaban 'Apa sih' dari isterinya yang tersipu.


Pagi itu Dean mengenakan sebuah kemeja lengan panjang bermotif garis-garis halus berwarna hitam-abu-abu dengan sebuah celana bahan hitam dan sepatu kulit mengkilap.


Sebuah smartwatch yang tersambung dengan ponselnya melingkari lengan kiri melengkapi penampilan Dean yang sederhana tapi tak bisa menyembunyikan kesan glamournya.


Dari kejauhan Dean melihat Ryan melambaikan tangan dari sebuah meja yang terletak di sudut restoran.


"Kesiangan?" tanya Ryan saat ia tiba menarik salah satu kursi.


"Enggak kok, tadi gua emang agak lama aja telfonan ama bini gua," jawab Dean.


"Telfonan bisa lama-lama gitu. Kayak masih pacaran aja," ujar Ryan.

__ADS_1


"Dih, gua kan nggak pacaran. Makanya debar pacarannya itu ya sekarang."


"Hmmm--" Ryan bergumam.


"Pak, kalo seandainya kalah di Pengadilan Tinggi ini gimana? emang Pak Hartono udah bisa nerima? saham kemarin juga nggak guna dibeli Bu Winarsih kalo Hartono Coil kalah," tukas Ryan.


"Kalo seandainya kalah di Pengadilan Tinggi, ya kita Kasasi Yan."


"Kalo kalah di Kasasi?"


"Gua ada cara licik tradisional," jawab Dean santai.


"Apa itu?" tanya Ryan.


"Rahasi gua dong. Masak gua harus kasi tau ke elu sekarang. Itu alasan kenapa sebagai pengacara tarif gua lebih mahal."


Ryan hanya mencibir mendengar jawaban Dean yang rasa-rasanya tak pernah rendah hati itu.


"De! jadi pulang hari ini?" tanya Ara yang tiba-tiba berdiri di dekat mereka.


"Eh iya," Dean tersenyum seraya menambahkan gula ke dalam kopinya.


"Ya udah, aku berangkat ke kantorku dulu ya. Kamu hati-hati di jalan. Salam untuk anak kamu. Sampai ketemu lagi ya De," ujar Ara yang kemudian dengan cepat menunduk mengecup pipi Dean.


Ara langsung pergi meninggalkan Dean dan Ryan yang bertukar pandang dengan wajah syok.


"Pak." panggilan Ryan menghilangkan keterkejutan dari wajah Dean.


"Ya? Lu liat sendiri kan Yan? gua nggak salah," tukas Dean.


"Iya sih,"


"Makanya ini jangan sampai ke telinga bini gua. Lu harus inget. Jangan bilang kita ketemu siapa-siapa di sini."


"Iya,"


"Gua juga heran. Apa mungkin bagi Ara, gua adalah cowok yang paling cakep yang pernah pacaran ama dia? ya nggak Yan?"


"Tau dah,"

__ADS_1


To Be Continued.....


Jangan kesel, entar ada up lagi :P


__ADS_2