CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
137. Jambi


__ADS_3

Jangan lupa di-like sekarang.


Give Awaynya ditutup pukul 22.00 hari ini ya.


Untuk yang masuk 3 besar ada tambahan souvenir lucu dari juskelapa. Pasti cakep.


Banyakin komentar ya.. Aku suka bacanya, meski belum sempet bales.


Btw, part ini aman ya dibaca saat berpuasa XD


Makasi sayang-sayangnya Pak Dean,


Selamat Membaca :*


************


Malam itu dengan berbantalkan satu lengan di bawah kepalanya, Winarsih menyusui Dirja berada di bawah tatapan suaminya.


"Gimana Win? Dirja bakal jadi kakak. Kamu udah siap?" tanya Dean.


"Nggak siap bagaimana? Anaknya udah ada dalem perut. Aku nggak apa-apa kok. Seneng juga. Namanya dikasi rejeki. Aku juga kepingin tau wajahnya gimana. Perempuan atau laki-laki. Lagian kan ini hasil kerja Bapaknya Dirja. Seminggu rutin bisa sampe tiga kali, ada yang dikali dua." Winarsih menengadah membuat raut wajah berpikir.


"Udah dihitung-hitung sekarang," gumam Dean. Winarsih tertawa melihat tatapan sinis Dean padanya.


"Enggak ngerasa capek hamil sekarang?" tanya Dean.


"Capek itu pasti. Tapi kan semua sudah Bapak Dirja penuhi lebih dari cukup. Dirja juga ada mba-nya yang bisa bantu aku. Aku bersyukur Pak... Mungkin kehamilan kedua ini aku bisa lebih tenang dibanding--" Perkataan Winarsih terhenti.


"Dibanding waktu hamil Dirja dulu? Sampe sekarang aku ngerasa bersalah tiap inget itu. Harusnya aku nggak nunggu sampe perut kamu besar." Dean membelai pipi isterinya.


"Ya udah, aku bukan mau ngingetin itu. Aku kan udah pernah bilang. Aku udah maafin semuanya. Dari sebelum kita menikah." Winarsih memegang tangan Dean yang berada di pipinya.


"Kamu nggak ada mual atau apa gitu? Kayak hamil Dirja kemarin kamu kayaknya lesu. Aku cium kamu di depan pintu kamar, kamu muntah-muntah. Aku sampe nggak bisa tidur semaleman. Kamu bikin percaya diriku drop seketika." Dean masih membelai pipi Winarsih dan mengusap bibir bawah isterinya perlahan.


"Drop gimana?" tanya Winarsih tertawa.


"Aku kira aku bau atau gimana. Nggak ada perempuan yang muntah kalo deket aku, cuma kamu," ujar Dean. Mendengar hal yang dikatakan suaminya Winarsih tertawa.


"Belum ada rasa mual, hamil Dirja kemarin masuk 3 bulan mual sedikit. Selebihnya aku laper terus. Aku angkat Dirja ke box dulu," ujar Winarsih saat menutup bra-nya karena Dirja telah tertidur pulas.


"Biar aku aja yang angkat," sahut Dean kemudian bangkit dari ranjang dan meraih bayinya untuk diletakkan di boxnya.


Winarsih membenarkan letak bantal mereka kemudian menarik selimut untuk menutupi kakinya.


"Sini Mas peluk," Dean merentangkan satu tangan saat telah kembali berbaring di sebelah isterinya.


Winarsih bergeser dan meletakkan kepalanya pada bantal yang sama dengan Dean.


"Kayaknya kita bakal menggagalkan program pemerintah Win," gumam Dean.


"Program pemerintah yang mana?" tanya Winarsih seraya memeluk suaminya.


"Program keluarga berencana. Anak-anak kita nggak pernah pake-pake rencana,"


"Tapi aku seneng hamil lagi, meski aku agak malu kalau orang tau. Dirja masih bayi banget," tukas Winarsih mengeratkan pelukannya. Bibirnya berada di leher Dean dan mengecup pelan.


"Kenapa malu? Suamimu ada kok. Ganteng begini. Apa kurangnya? Harusnya kamu bangga benihku itu subur di dalam tubuh kamu. Sshhhh..." Dean mendesah karena ciuman kecil Winarsih di lehernya.


"Kamu begini-begini ke aku, tapi pas hamil semua kesalahan dilimpahkan ke aku. Padahal pelakunya kita berdua. Nggak adil Win," ucap Dean memejamkan matanya dan mengusap punggung isterinya.


"Aku cuma peluk aja, udah capek seharian. Aku nyaman di sini," gumam Winarsih memeluk suaminya dengan mata yang sudah setengah mengantuk.

__ADS_1


"Nggak apa-apa anak kita banyak, biar kita nggak kesepian kayak Mama-Papa yang tiap hari sedih waktu Mba Anggi nikah dan netap di Belanda." Dean mengusap punggung isterinya perlahan sambil sesekali mengecup kepala wanita itu.


"Ciuman yuk Win... Kita belum ada ciuman hari ini. Win... Jangan tidur dulu, aku belum dicium hari ini." Dean menjauhkan letak tubuhnya untuk melihat wajah Winarsih yang masih berada di bawah dagunya.


Nafas Winarsih sudah teratur. Ia tertidur karena seharian memasak begitu banyak masakan yang enak untuk makan malam ulang tahun suaminya.


"Capek banget ya?" bisik Dean di telinga isterinya. "Selamat tidur Sayang..." Dean mengecup bibir Winarsih lembut kemudian kembali menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Sejak awal menikah hingga anak pertamanya berusia 5 bulan lebih, hal kecil yang bisa dibanggakan Dean adalah bahwa ia tak pernah tidur lebih dulu dibanding isterinya. Selelah apapun dia.


Dean menjadi terbiasa menepuk-nepuk atau mengusap-usap pelan punggung Winarsih menjelang mereka akan tidur, seraya memandangi wajah isterinya itu.


Begitulah Winarsih si anak sulung yang terbiasa harus mengurus dan memanjakan adiknya yang istimewa, bertemu dengan seorang pria yang merupakan anak bungsu dan terbiasa berlimpah dengan kemanjaan serta kasih sayang.


Sebagai seorang suami, Dean kini bisa memenuhi kebutuhan rasa ingin dimanja isterinya lebih dari cukup.


***********


"Nggak ada yang ketinggalan lagi? Coba dicek sekali lagi Mba," pinta Bu Amalia pada Babysitter Dirja.


"Sweaternya Win? Nanti di pesawat dingin. Itu topinya juga jangan ketinggalan. Mba, nanti lotion nyamuknya jangan lupa, itu kaus kakinya sering dilepasin soalnya. Nanti digigit nyamuk." Babysitter yang mendengar perkataan Bu Amalia kembali mengangguk kesekian kalinya.


Bu Amalia berada di teras dengan kursi rodanya. Tangannya tak henti menunjuk-nunjuk semua hal yang diingatnya saat itu.


Pak Noto sudah sejak tadi berada di mobil, tapi Bu Amalia sepertinya terus mengulur waktu berpisah dengan cucu.


"Sini Win, Mama mau cium Dirja lagi," Bu Amalia merentangkan kedua tangannya ke arah Winarsih yang menggendong bayinya.


Wajah ibu mertuanya itu tampak sedih saat mengusap punggung Dirja berkali-kali. Seperti itulah setiap manusia pada masa tuanya nanti. Usia dan keterbatasan fisik membuat perasaan menjadi lebih mudah sedih dan kesepian.


"Dirja sebentar aja kok Uti, minggu depan sudah balik ke Jakarta. Bapak Dirja juga banyak kerjaannya. Uti jangan sedih ya," ujar Winarsih membalas dengan mengusap-usap punggung ibu mertuanya.


Tak lama kemudian mereka berangkat menuju Cengkareng. Perjalanan ke Jambi tak memakan waktu lama sebenarnya. Dengan kondisi keuangannya sekarang, ia bisa dengan mudah membeli tiket pesawat untuk menyambangi ibunya di sana sesering mungkin.


Mendengar hal itu Winarsih sangat senang, meski ia juga tahu bahwa hal itu mustahil untuk diwujudkan. Bu Sumi pasti menolak dan tak ingin meninggalkan Desa Beringin.


Setelah melalui perjalanan udara sejam lebih dan berkendara di darat selama dua jam dengan sebuah mobil yang telah dipersiapkan Ryan, akhirnya Winarsih melihat pucuk rumahnya yang kini menjulang dari kejauhan.


"Ibu..." panggil Winarsih pada Bu Sumi yang berdiri di tepi jalan bersama Yanto yang berpakaian rapi.


"Ibu, Winar rindu..." ucap Winarsih saat memeluk ibunya. Ia tak bisa menahan lolosnya air mata kerinduan yang berbulan-bulan telah dipendamnya. Itu adalah waktu terlamanya berpisah dari keluarga.


"Ibu juga, ibu rindu. Mana cucu ibu? Ibu mau gendong--" Bu Sumi segera melepaskan pelukannya pada Winarsih dan beralih melihat Dirja yang berada dalam gendongannya.


"Ya ampun... Putuku, wis gedhene sak mene, ibu lagi iso kepethuk, baguseee win...*" ujar Bu Sumi mengangkat Dirja yang matanya sedang terbuka lebar memandang wajah baru di depannya.


(*"Ya ampun cucu ibu, sudah sampai sebesar ini ibu baru bisa ketemu. Ganteng banget Win...)


"Lha nggih bagus to bu, lha bapake mawon baguse kados ngaten. Ampun dipirsani bu, bapak Dirja kan mboten saged ngedikan basa Jawa,*" sahut Winarsih pada ibunya sambil tertawa.


(*"Ya ganteng Bu, bapaknya kan ganteng. Jangan pandang bapaknya Bu, Bapak Dirja nggak bisa bahasa Jawa")


Dean memandang bingung karena tak mengerti percakapan isteri dan ibu mertuanya.


Yanto yang berdiri di sisi kanan ibunya ikut memeluk Bu Sumi yang sedang menggendong Dirja dalam pelukannya.


"Dirja..." panggil Yanto yang sekarang terlihat lebih sehat.


"Iya, ini Dirja. Anak kakak. Yanto sayang juga kan?" tanya Winarsih pada adiknya.


"Iya, Yanto sayang. Ini bayi Kak Winar," ujar Yanto.

__ADS_1


"Pinter..." sahut Winarsih. Dean tersenyum melihat wajah bahagia isterinya.


"Ya sudah, kita masuk dulu. Sebentar lagi Dirja bisa dimandiin banyu gege. Biar tubuhnya kuat dan perkasa." Bu Sumi melangkah masuk ke dalam rumah. Winarsih terpukau dengan rumah mereka yang hampir tak dikenalinya.


Mendengar hal yang dikatakan ibu mertuanya barusan Dean berkata, "apa itu banyu gege? apa aku dulu selalu dimandikan pake air itu ya Win? Makanya aku bisa perkasa begini."


Winarsih hanya mengerling suaminya yang tengah tersenyum-senyum masuk ke ruang makan rumah itu.


(Banyu Gege : air yang disimpan dalam tempayan/bokor selama satu malam & pagi harinya dihangatkan dengan sinar matahari)


"Winaaar....." Suara dua orang wanita terdengar dari pintu depan. Winarsih yang mengenali suara itu langsung bergegas ke depan.


"Ayu... Siti..." Winarsih memeluk dua orang sahabatnya yang sudah setahun lebih tak bertemu dengannya.


"Mas... Ini temenku. Kenalin dulu," panggil Winarsih pada Dean yang tengah melongok dari ruang makan melihat siapa tamu yang ditemuinya. Winarsih tahu suaminya itu pasti penasaran namun malu untuk menyapa lebih dulu.


"Saya Dean. Suaminya Winarsih." Dean mengulurkan tangannya.


Ayu dan Siti pun menyambut uluran tangan Dean sambil tersenyum-senyum.


"Bojone Winarsih nggantheng ya.. Jan, kaya bintang filem kae lho.. (suami Winarsih ganteng ya, mirip bintang filem)" ujar Ayu.


"Sampeyan aja kesuwen mandengi bojoku. Ora elok, ora apik. Golek sing kaya ngene iki angele temenan. (Kamu jangan Mandang suamiku lama-lama. nggak boleh. Cari yang begini susah.)" Winarsih menjawab hal yang dikatakan Ayu dengan candaan kemudian tertawa.


Dean yang tak mengerti bahasa Jawa karena Pak Hartono yang bersuku Jawa namun tak pernah menggunakan bahasa daerah kepada anak-anaknya hanya tersenyum menyaksikan percakapan di hadapannya.


"Sampeyan ketemu ng ngendi, Win..? Yen ana maneh ki aku ya gelem dikenalne ngono lho.. (Ketemu di mana Win? Kalau ada lagi aku mau dikenalin)," tambah Siti.


"Wis ora ana tunggale, ijen siji iki thok. Aku wae saben dinane ora tau nyangka. Aku tresna banget karo bojoku. Dadi ya aku ngelingke sampeyan kabeh ora oleh nggodhani. Titenana wae yen sampeyan nganti kewanen. (Enggak ada lagi yang begini. Aku saja setiap hari nggak menyangka. Aku cinta banget sama dia. Jadi jangan kalian godain. Awas aja.)" Winarsih terkekeh menjawab perkataan sahabatnya.


Beberapa saat lamanya berbasa-basi dengan Ayu dan Siti yang datang membawakan beberapa kilo buah hasil dari ladang sendiri, kedua wanita muda itu pamit untuk memberi waktu kepada sahabatnya itu melepas rindu dengan keluarga.


"Ayo Nak Dean makan, ini sudah ibu siapkan banyak lauk. Perjalanan jauh pasti bikin laper. Itu Mbaknya Dirja disuruh ke sini Win, biar ikut makan juga. Kasihan dia juga pasti lelah," ujar Bu Sumi.


"Iya Bu," sahut Winarsih kemudian berjalan ke ruang depan untuk memanggil babysitter anaknya yang sedang duduk mengaso di teras.


"Win... Tadi temen kamu ngomong apa soal aku?" tanya Dean penasaran dengan pembicaraan yang menggunakan bahasa yang tak dimengertinya itu.


"Oh, temenku tadi bilang, Bapaknya Dirja gagah ya? Gitu..."


"Ya pasti kalo itu, terus apa lagi?" tanya Dean.


"Cuma nanya kerjanya apa, aku jawab Pengacara di Jakarta."


"Sebenarnya aku Advokat bukan Pengacara. Tapi orang-orang taunya Pengacara dan Advokat itu sama. Tapi ya udah nggak apa-apa. Terus apa lagi?"


"Ya nggak ada, itu aja."


"Masa sih cuma itu aja?"


"Iya, emang kedua perempuan itu mau bilang apa?" tanya Winarsih tersenyum geli.


"Masa nggak ada? Biasa kalo perempuan liat aku, pasti ada ngomong sesuatu,"


"Ngomong sesuatu yang gimana?"


"Ya nggak tau..." jawab Dean menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal.


Winarsih tersenyum puas melihat rasa percaya diri suaminya yang sedikit goyah sore itu. Ada rasa geli dan sayang yang semakin memenuhi hatinya menatap pria tampan yang sedang duduk di kursi utama menghadapi berbagai macam lauk pauk yang pasti sedap di rumah baru mereka.


To Be Continued.....

__ADS_1


Harusnya up kemarin malem, tapi karena khawatir merepotkan orang di tengah malam, jadi pagi ini diselesaikan.


Makasi untuk Nyonya Dyan dan Asisthaning Nirwana atas bantuan dialog bahasa Jawa-nya.


__ADS_2