
Klik Like dulu :*
Selamat Membaca XD
************
"Pak Hendra Atmaja lagi ada di sini kan?" tanya Dean dengan senyum termanisnya. Pegawai wanita seksi itu hanya tersenyum tak menjawab.
Berarti benar pikir Dean, Hendra Atmaja anaknya Dennis Atmaja sedang berada di sana.
"Selesaikan tagihannya dulu Yan," pinta Dean pada sekretarisnya. Ryan segera bangkit untuk pergi mengikuti wanita seksi tadi ke meja kasir dan membayar paket yang mereka ambil.
"Ayo Mas, udah bisa ganti pakaian sekarang. Mari saya antarkan." Wanita itu berjalan mendahului Ryan yang masih berdiri menunggu Dean yang setengah merebahkan dirinya di sofa.
"Jadi penasaran di dalemnya gimana, emang paket lengkap itu gimana Pak? Kan sayang udah bayar mahal-mahal kita malah nggak ngapa-ngapain," tukas Ryan.
"Paket lengkap itu sekalian disepo*ngin sampe keluar Riaaaann. Lu mau?" tanya Dean dengan mimik serius.
"Hah?!!"
"Mulut lu nggak usah kebuka gitu, biasa aja." Dean terus berjalan santai mengikuti wanita tadi.
"Di sini bisa lepas pakaian semuanya ya Pak," ujar wanita itu menunjuk sebuah kamar.
"Kolam rendamnya di mana? Saya mau berendam telanjang dulu" ujar Dean dengan wajah biasa saja. Wanita seksi itu tersenyum simpul saat mendengar seorang pria muda tampan menyebutkan kata telanjang dengan wajah biasa saja.
"Boleh Mas, kalau mau berendam dulu." Wanita itu tertawa kecil memandang Dean. "Mas jalan ke ujung lorong terus belok ke kanan. Nanti setelah buka pakaian, saya antar ke sana. Itu perlengkapannya ya Mas, sekarang saya tinggal dulu buat ngambil albumnya." Wanita itu bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Berendam telanjang? Serius Pak? Itu yang mau diambil album apa? Udah telanjang disuruh nyanyi? Kok aneh?" Wajah Ryan benar-benar menunjukkan kebingungan luar biasa.
"Gua nggak mau telanjang di sini. Itu album foto cewe pendamping lu kalo mau. Lu pura-pura bego atau gimana? Ayo cepet kita ke kolam rendam itu, jangan sampe dia dateng lagi ke sini. Tamu pertama kali dateng pasti langsung ke kolam itu dulu." Dean menyeret sekretarisnya menuju ke sebuah lorong yang memiliki cahaya kuning yang sangat minim.
Saat Dean mendorong pintu yang dimaksud wanita tadi, mereka disambut sebuah ruangan gelap yang mengalunkan musik lembut. Meski di luar langit masih terang benderang, tapi ruangan itu selalu tampak seperti malam.
Sebuah kolam rendam air hangat yang besar dan tinggi menghampar di tengah ruangan. Dean harus naik beberapa anak tangga kolam rendam itu untuk melihat subjek yang dicarinya.
Tampak wanita-wanita berseliweran hanya memakai bra tile yang menampakkan puncak dada mereka dengan jelas. Untuk bawahannya, wanita-wanita itu memakai sepotong kain segitiga yang diikatkan di pinggul. Ryan terperangah dalam diam menikmati pemandangan itu.
"Mulut lu tutup, kayak nggak pernah liat toke* aja." Dean terkekeh melirik ekspresi wajah Ryan yang terheran-heran.
Semua mata yang berada di ruangan itu menatap mereka dengan heran. Bagaimana tidak, di ruangan itu hanya mereka berdua yang memakai setelan jas lengkap. Selebihnya, hampir semua setengah telanjang.
Pria yang berada di dalam kolam renang rata-rata didampingi oleh seorang wanita. Kegiatan para pria itu tak banyak, hanya ngobrol sambil sesekali saling menggesekkan tubuh satu sama lain.
"Sebelumnya pernah ke tempat begini Pak?" tanya Ryan.
"Entar kalo gua bilang belom pernah, lu nggak percaya." Dean menjawab sambil terus berjalan mendatangi satu persatu kolam rendam VIP yang tertutup tirai.
Seperti sedang mengintip induk ayam yang sedang mengeram, Dean melongokkan kepalanya ke dalam kolam-kolam kecil yang letaknya tersendiri.
__ADS_1
"Pak, maaf. Tempat ini tidak bisa dimasuki oleh tamu lain. Bapak bisa berendam di kolam sebelah sana. Atau di kolam VIP yang kosong kalau ambil paketnya VIP." Seorang pegawai wanita menghalangi jalan Dean saat ia akan melangkah membuka satu ruangan yang letaknya paling sudut dan sekelilingnya tertutup.
"Yan," panggil Dean. "Minta amplop itu," pinta Dean mengulurkan tangannya ke arah Ryan.
Setelah menerima amplop dari tangan Ryan, Dean melangkah maju dan tubuhnya ditahan oleh wanita itu. Sepertinya wanita bertubuh seksi itu adalah supervisor dari para lady's escort.
"Saya mau ketemu Pak Hendra sebentar aja," ucap Dean menatap wanita itu lekat-lekat. "Setelah ketemu dia, saya mau diservis sama kamu. Bisa? Biaya tambahannya pasti memuaskan. Saya juga bisa memuaskan lebih dari biaya yang kamu mau," tutur Dean menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinga wanita itu.
Wanita itu melepaskan tangannya pada tubuh Dean dan tersenyum. "Saya tunggu di ruang massage," ujar wanita itu seraya pergi meninggalkan mereka. Dean masih menoleh ke belakang menatap punggung wanita itu untuk memastikannya telah lenyap dari pandangan.
"Ayo," ajak Dean menuju pintu yang sekarang tak berpenjaga itu.
"Pak Dean sakti," bisik Ryan.
"Di luar saktinya, di rumah ilmu gua nggak manjur," sambar Dean cepat seraya menarik sebuah handle pintu berbentuk gelang besi yang cukup besar.
Saat pintu terbuka, seorang pria yang dikenal Dean langsung menoleh ke arah mereka. Di sisi kanan dan kiri pria itu masing-masing duduk seorang wanita yang sedang menggosok tubuhnya.
Hendra Atmaja. Dia adalah putera sulung dari Dennis Atmaja. Pria itu berusia sekitar di awal 40-an.
"Pak Hendra..." sapa Dean.
"Kok tau saya di sini?" tanya Hendra santai. "Sepertinya ada urusan penting sampai harus ngejar saya ke sini." Hendra mendongak melihat wajah Dean yang berdiri bersandar pada bingkai pintu.
"Saya mau ngomong langsung aja, kebetulan saya juga lagi sedikit nggak enak badan. Mau ngasi liat ini," ucap Dean seraya menyodorkan amplop coklat.
Hendra Atmaja langsung membuka amplop itu dengan tangannya yang basah.
Hendra terus melihat lembar demi lembar foto yang disodorkan padanya. Mulutnya mengatup serius dan ekspresi wajahnya mengeras.
"Ini bukan urusan saya," tegas Hendra Atmaja.
"Tapi akan jadi urusan Anda kalau ibu Anda tau," sela Dean.
"Sampaikan pada Pak Dennis, hentikan intervensinya dalam persidangan kasus Hartono Coil. Kasus itu sudah bergulir sampai ke tahap kasasi. Biarkan pengadilan tetap netral dan menjalan fungsinya dengan benar. Harus Pak Dennis yang menangani itu langsung. Saya nggak mau nama saya dibawa-bawa lagi, terutama nama ayah saya. Sidangnya 4 hari lagi, saya harap sebelum hari persidangan tiba, Pak Hendra bisa bantu saya menyelesaikan itu. Ibu Anda tak akan suka melihat suaminya telanjang dengan banyak perempuan di ruang karaoke itu. Apalagi ada pejabat juga di sana. Kalo saya lempar ke wartawan, bakal buuummmm" Dean menjentikkan jarinya.
"Oke Pak, saya permisi dulu. Foto itu boleh di simpan, saya masih banyak pertinggalnya. Mari kita saling menjaga dari sekarang, apalagi saya nggak ada minta uang bengkel untuk range rover saya yang sengaja dirusak."
Dean keluar dari ruangan itu dengan satu tangan kanannya di saku, dan satu tangan kirinya menyeret lengan Ryan yang tampaknya masih ingin cuci mata.
"Udah selesai? gitu aja?" tanya Ryan.
"Sayang banget--udah bayar segitu mahal masak kita nggak ngapa-ngapain. Setidaknya kita bisa pijat biasa aja gitu Pak. Badan saya pegal-pegal." Ryan memijat-mijat bahunya sendiri.
"Pegal-pegal lu nggak ilang, yang ada lu malah tegang. Udah ah, badan gua kayaknya meriang deh. Gua mau pulang cepet, pengen tidur. Lusa Mba Anggi udah nyampe, trus gua mau finishing bahan kasasi. Letih gua Yan, siang ini aja gua nggak selera makan." Dean berjalan seraya mengendurkan ikatan dasinya.
Sepanjang perjalanan pulang diantarkan oleh Ryan, atasannya itu tertidur di kursinya. Dan saat turun dari mobil, Dean langsung pergi meninggalkan sekretarisnya tanpa mengucapkan apapun.
Dean langsung menuju kamarnya dan pergi ke kamar mandi. Winarsih dan anaknya sedang tak ada di kamar. Cepat-cepat ia membasahi sekujur tubuhnya dengan air hangat. Dean hanya ingin cepat tidur. Perutnya memang lapar, tapi saat ini rasa berat di kepalanya mengalahkan rasa itu.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Dean langsung membaringkan tubuh di ranjang dan memejamkan matanya. Tangannya meraba-raba meja nakas untuk mencari remote lampu dan menukar warna lampu ke cahaya lampu tidurnya.
Dia hanya butuh beristirahat. Di mana Winarsih dan Dirja pikirnya. Kemudian perlahan ia hanyut masuk dalam alam tidurnya.
30 menit.
60 menit.
Telinga Dean mendengar suara panggilan wanita yang dirindukannya belakangan ini. Ah, mungkin ini cuma bagian dari mimpinya.
"Pak, udah makan?" panggil Winarsih pada Dean yang tak seperti biasanya. Dean tak pernah tidur lebih dulu darinya.
Dean masih tidur. Winarsih berjalan ke sisi suaminya dan duduk di tepi ranjang.
"Pak..."
"Hmmm--"
"Udah makan?"
"Hmmm--"
Winarsih mengangkat rambut di dahi Dean dan merasakan suhu tubuh suaminya dengan punggung tangannya.
"Bapak demam," gumam Winarsih menunduk dan menempelkan pipinya pada pipi Dean.
"Win... Aku sakit... Jangan dingin lagi sama aku. Aku kangen. Kerja rasanya jadi lebih capek karena nggak semangat." Dean merasa suhu tubuhnya pasti sudah semakin naik. Matanya semakin terasa panas dan nafasnya menjadi sedikit sesak.
"Demam ini, sebentar saya cari obat demam dulu." Winarsih baru saja mau bangkit, tapi ia merasa tangan Dean menarik ujung dress-nya.
"Jangan tinggalin aku, aku kangen Win. Aku mau kamu manja lagi ke aku. Aku suami kamu. Aku suka kalo kamu manja-manja. Jangan terlalu mandiri, aku pengen kamu butuh sama kamu." Ujung jari Dean masih menggenggam dress yang dikenakan Winarsih.
Winarsih naik ke atas ranjang dan mengangkat tangan Dean untuk masuk ke dalam pelukan suaminya. Tubuh Dean benar-benar panas.
"Sayangnya Bu Winar..." panggil Winarsih mencium leher suaminya.
"Hmmm--" sahut Dean
"Cintanya Bu Winar..." Winarsih kembali mengecup lama leher suaminya.
"Saya butuh Bapaknya Dirja setiap hari. Bapaknya Dirja selalu jadi orang pertama yang saya pikirkan setiap pagi buka mata."
Winarsih mendongak dan menarik wajah Dean hingga pandangan mereka bertemu.
"Saya juga kangen sama Bapak." Winarsih kemudian mencium bibir Dean yang terasa panas dalam sapuan lidahnya. Perlahan tangan Winarsih meraba dada Dean dan membuka kancing piyama suaminya itu satu persatu.
Bibir Dean terasa panas dan manis.
Mereka tenggelam dalam ciuman panjang dan Dean menikmati setiap sentuhan Winarsih yang semakin berani menelusuri dan menyusup sampai ke dalam bawahan piyamanya.
__ADS_1
To Be Continued.....