
Minta dilike dulu seperti biasa.
Di part ini aku pinjem nama-nama pembaca untuk jadi cameo ala-ala ya. Buat kenang2an kalo besok-besok mau baca ulang kisah Winarsih-Dean.
Selamat membaca :*
************
"Pak, pakai kemeja warna putih?" tanya Winarsih.
"Kemarin Mas, hari ini Pak," sungut Dean.
"Nanti merinding-merinding, jadi genit."
"Aku suka. Lebih mesra, meski merinding. Kan genitnya sama kamu. Jadi aku genitin siapa lagi?" tanya Dean yang baru keluar dari kamar mandi.
Winarsih menyampirkan kemeja putih, celana bahan hitam, dasi dan pakaian dalam suaminya di atas ranjang.
Kemudian ia pergi membuka pintu tengah lemari kamar yang terhubung dengan ruangan kecil tempat Dean menyimpan koleksi sepatu dan jam tangan dulunya.
Kini ruangan kecil itu sebagian besar telah berisi dengan berbagai pasang sepatu, tas dan aksesoris Winarsih. Hanya dalam setahun lebih saja, namun Winarsih telah berhasil menjajah isi ruangan itu dengan benda-benda miliknya.
Winarsih telah selesai berpakaian setengah jam yang lalu, Dirja juga sudah tertidur kembali di dalam boxnya setelah kenyang disusui.
Winarsih duduk di tepi ranjang sedang menikmati pemandangan Dean yang baru saja melepaskan handuknya jatuh ke lantai dan meraih sebuah boxer yang telah dipilihkannya.
Dean mengenakan pakaiannya dengan wajah santai tapi pandangannya tak lekang dari mata istrinya.
"Dik Winar pasti sedang terpesona sekarang ini. Aku bisa ngelihat dari tatapannya," ujar Dean tersenyum saat mengambil kemeja putih yang disodorkan isterinya.
"Aku sedang menikmati," sahut Winarsih tersenyum menatap Dean yang sedang membuka kancing kemejanya satu persatu. Rambut Dean masih basah dan aroma sabun menguar dari tiap gerakan yang dilakukan pria itu.
Dean berbalik mengambil botol body scent dan menyemprotkan ke seluruh tubuhnya.
Winarsih mendekati suaminya dan ikut mengancingkan kemeja itu satu persatu.
"Yakin berhasil hari ini Pak---eh Mas?"
"Yang konsisten manggil aku maunya apa?" Dean memeluk pinggang isterinya.
"Kalo manggil Pak itu lebih hangat sebenarnya," ujar Winarsih merapikan kemeja putih yang telah selesai dikancingkan.
"Tapi kalo kamu mendesah manggil aku Mas, bikin aku makin tinggi Win." Dean terkekeh mencium leher isterinya.
"Mas..."
"Hmmm--" Dean masih menciumi telinga dan leher isterinya. "Kamu mau lagi? Aku bisa cepet ini kalo cuma sekali," sahut Dean kemudian mencium rahang Winarsih.
"Iya, cepet... cepet pake bajunya. Di bawah sana semuanya udah nungguin, kita sarapan dulu." Winarsih melepaskan pelukan Dean dan mengambil celana bahan yang sudah dipersiapkannya tadi.
Dean memberengut, "kirain mau nambah. Yang dibawah sini juga lagi nungguin sebenarnya."
Winarsih menepuk pelan lengan suaminya. "Maunya nambah terus," gumam Winarsih membuka gulungan dasi hitam.
"Kondisiku lagi bugar-bugarnya dari abis demam kemarin," sahut Dean mengenakan celananya.
"Demam aja masih dua kali kok," sela Winarsih.
"Kan jatahnya segitu, nggak diambil semua ya rugi." Dean tertawa kecil dan mulai merapikan pakaiannya. Winarsih mencibir mengalungkan dasi dan mulai menyimpulkannya.
Winarsih mengenakan sebuah setelan blazer berwarna gelap dan memoleskan make up tipis di wajahnya. Pagi itu ia tampil cukup segar untuk menemani suaminya menyelesaikan perkara ayah mertuanya yang sudah mencapai tahap akhir.
Pukul 7 pagi mereka telah selesai sarapan dan menuju mobil Van hitam yang telah terparkir di depan teras. Pagi itu, mereka akan diantar dan ditunggui oleh Pak Noto.
Saat masuk ke mobil, Ryan dan Novi telah duduk di jok paling belakang. Dean yang melongok ke dalam mobil mendengus.
__ADS_1
"Gua kira belom dateng, taunya udah mojok aja lu di mobil." Dean kemudian membuka pintu mobil penumpang bagian depan dan duduk di depan. Setelah Anggi dan Winarsih masuk mengisi dua kursi tunggal di bagian tengah, Pak Noto mulai melajukan mobil menuju Mahkamah Agung.
Mahkamah Agung merupakan lembaga pengadilan tertinggi yang diberikan wewenang untuk memeriksa perkara Kasasi. Berbeda dengan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang memeriksa kebenaran fakta dan penerapan hukum dari perkara yang bersangkutan. Maka Mahkamah Agung hanya memeriksa mengenai ketepatan penerapan hukum saja.
Winarsih dan Anggi sedang berdiri tak jauh dari Dean yang sedang berkumpul dengan 4 orang Penasehat Hukum yang telah direkrut oleh Hartono Coil untuk mendampingi kasus itu sejak dari awal.
Ryan dan Novi berdiri masing-masing memegang tablet dan map berkas di tangan mereka. Winarsih tak lepas memandang wajah suaminya yang sedang sangat serius berbicara.
Dean yang beberapa saat yang lalu menawarkan akan memberinya layanan bercinta cepat sebelum berangkat ke sana, kini tampak bagai orang asing yang tak dikenalnya.
Dean terlihat benar-benar berbeda. Winarsih kembali seperti melihat seorang pria yang sedang beradu pandang dengannya dari dalam sebuah Range Rover pada hari pertama ia tiba di rumah Pak Hartono.
Tiba-tiba,
"Surprise!! Kami bertiga di sini untuk memberi dukungan pada Pak Dean Danawira Hartono, LL.M dari kantor advokat Danawira's Law Firm." Toni muncul dan berbicara dari jarak lumayan jauh menuju ke arah Dean yang menatap heran sahabatnya.
"Ih ngapain sih?" sergah Dean terkejut.
"Kita mau membujuk Pak Dean yang ngambek ama Gank Duda Akut dan nggak mau dateng ke Beer Garden lagi." Langit membawa sebuah poster kecil bertulisan "Chaiyyo Pak Dean!!"
"Mari kita berpelukaaaann" ujar Rio.
Winarsih dan Anggi tertawa melihat Dean yang tampak kesal dengan ulah tiga sahabatnya.
"Apaan sih? Gua lagi serius banget sekarang. Nggak sempet ngeladeni lu bertiga. Udah, pulang sana." Dean mengibaskan tangan dan kembali menatap kertas yang dipegangnya.
"Jadi kita diusir?" tanya Toni yang sedang memegang tiga balon berwarna hijau.
"Iya udah sana!" seru Dean lagi tanpa memandang sahabatnya.
"Beneran masih ngambek ternyata," tukas Langit.
"Ya udah kita balik dulu, besok-besok kita coba lagi. Gua punya ide," ucap Rio.
"Awas lu ya De," kata Toni cemberut.
Ruang persidangan itu lebih tepatnya disebut sebagai kantor sidang yang tidak sepenuhnya diperuntukkan untuk umum. Ruangan itu tidak luas. Mungkin ukurannya hanya setengah dari kamar tidur Dean di rumah.
"Ayo Win," ajak Anggi saat melihat Dean mengangguk ke arah mereka dan mulai berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.
Winarsih mengikuti langkah Anggi yang terlihat begitu percaya diri. Gesture tubuh kakak iparnya itu mirip seperti gesture tubuh Bu Amalia. Sangat anggun dan berkelas.
Meski yang dikenakan wanita itu tidak mencolok, tapi aura yang timbul dari penampilan wanita itu terlihat sangat mahal. Itulah yang diajarkan oleh ibu mereka sejak kecil dan hal itu juga yang telah diajarkan oleh ibu mertuanya itu padanya, pikir Winarsih.
Tiga orang hakim yang akan mendengarkan pembacaan memori kasasi Dean belum menampakkan diri di ruangan itu.
Winarsih telah duduk di salah satu dari sedikit kursi yang tersedia di depan meja panjang tempat para hakim akan duduk.
Winarsih melihat Ryan menyodorkan sebuah paperbag pada Dean yang langsung dibuka dan dikeluarkan isinya oleh pria itu.
Mata Winarsih tak lepas memandang suaminya yang dengan cekatan membuka dasi hitamnya dan mengganti dasi itu dengan sebuah dasi putih mirip sebuah pita yang diselipkannya di bawah kerah. Dean kemudian mengibaskan toga hitamnya yang terlipat dan mengenakan toga itu dengan segera. Dahi pria itu masih mengernyit. Dan pandangan mata Winarsih semakin teduh memandang suaminya.
Winarsih merasa kembali jatuh cinta dengan suaminya. Selama ini ia tak pernah merasakan kapan pertama kali jatuh cinta dengan Dean. Tapi hari ini ia benar-benar menyadarinya. Ia memang telah jatuh cinta kepada pria itu berkali-kali.
Sesaat kemudian dua orang hakim wanita dan seorang hakim pria masuk ke dalam ruangan. Empat orang pria masuk ke dalam ruangan.
"Hakim yang tengah itu adalah hakim perempuan yang namanya udah nggak asing lagi di dunia hukum. Namanya Bu Yeni. Dia juga Dosen di fakultas hukum universitas nomor satu di Indonesia." Anggi berbisik pada Winarsih menunjuk seorang hakim wanita yang duduk di posisi tengah.
"Mba dulu kuliah hukumnya di Indonesia?" tanya Winarsih.
"Iya, S1-nya di sini. Tapi magisternya di Belanda, makanya langsung dapet tawaran kerja di sana. Kenal dengan Mas Vino juga di kampus waktu sama-sama kuliah di sana," terang Anggi pada Winarsih.
"Udah mulai Mba," ucap Winarsih sedikit tegang.
Para hakim membuka persidangan hari itu dengan singkat dan menjelaskan hari itu adalah agenda untuk membacakan memori kasasi yang disampaikan oleh pemohon kasasi.
__ADS_1
"Dean Win..." bisik Anggi. Tak perlu peringatan dari Anggi, sejak tadi Winarsih memang tak lepas memandang suaminya.
Dean berdiri dari kursinya, sekilas ia menoleh ke arah Winarsih yang menatapnya. Tanpa ekspresi dan senyuman Dean sesaat pandangan pria itu menetap di wajah isterinya sebelum kemudian kembali menatap kertas yang dipegangnya.
"...Berdasarkan pertimbangan hukum sebagaimana yang diuraikan di atas, maka pemohon kasasi memohon kepada Majelis Hakim, pada Mahkamah Agung yang terhormat yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut dapat membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Banjarmasin Nomor : ...." Dean sudah membaca lembar terakhir dari kertas yang dipegangnya.
"... apabila Majelis Hakim pada Mahkamah Agung berpendapat lain, maka Pemohon Kasasi memohon putusan yang seadil-adilnya. Hormat Saya, Advokat Pemohon Kasasi, Dean Danawira Hartono." Dean kemudian mengangguk kepada tiga hakim dan menutup kertasnya.
Saat kembali menghempaskan tubuhnya di kursi, Dean memandang Winarsih. Pandangannya seolah berkata, 'aku sudah melakukan yang terbaik, mari kita tunggu hasilnya." Winarsih tersenyum lembut dan mengangguk pelan berkali-kali ke arah suaminya. Hatinya lega.
Keluarga Hartono telah berusaha keras mempertahankan hak perusahaan dan hak ribuan karyawan di Hartono Coil. Usaha dan doa keluarga itu telah mencapai titik maksimal. Terutama Dean. Dia berusaha membereskan kekacauan yang secara tidak langsung telah disebabkan olehnya.
Saat berjalan keluar dari ruangan itu, Hakim yang tadi diperkenalkan oleh Anggi bernama Bu Yeni tampak menghampiri Dean. Anggi sedikit menyeret lengan Winarsih untuk sedikit menjauhi percakapan para praktisi hukum itu.
"Biarin Dean ngobrol ama ibu-ibu itu dulu. Dia ahlinya kalo soal itu. Selanjutnya agenda pasti penyampaian kontra memori kasasi, bantahan dari pihak lawan. Setelah itu baru putusan. Biasa putusan MA itu cuma surat yang dilayangkan ke kantor Advokat. Jadi kita nggak perlu ke sini lagi," terang Anggi seraya menggandeng lengan Winarsih menjauhi Dean.
"Dean, udah lama nggak keliatan di Mahkamah Agung." Bu Yeni menyapa Dean yang tengah sibuk membuka dasinya. Ryan mengambil dasi dan toga hitam dari tangan Dean dan menyimpannya kembali ke dalam paperbag.
"Eh Bu Yeni," sahut Dean mengulurkan jabat tangannya. "Bukannya bagus kalo saya udah lama nggak keliatan di Mahkamah Agung? Artinya klien saya udah berhasil di tingkat Pengadilan Tinggi. Saya nggak perlu capek-capek debat di sini," jawab Dean tertawa yang disambut oleh tawa hakim wanita di sebelahnya.
"Bisa aja kamu. Kasus ini spesial ya sampe kamu dari perdata megang kasus pidana. Berapa lama belajarnya?" seloroh Bu Yeni tertawa karena mengetahui Dean hari itu mewakili kasus orangtuanya.
"Nggak belajar Bu, saya kan pinternya alami. Kayak ibu-ibu berdua. Saya liat karirnya makin cemerlang, makin awet muda aja. Ini pasti ibu Mey kan? Hari ini saya beruntung ya hakimnya wanita-wanita yang cantik nggak cuma penampilannya aja. Tapi juga hatinya..." Dean sedikit melembutkan intonasi bicaranya di kalimat terakhir. Kedua wanita itu tertawa mendengar candaan Dean barusan.
"Bisa aja nih dari dulu," ucap Bu Mey.
"Doain kasus orangtua saya cepet beres ya Bu, biar tarif saya jadi makin mahal. Biar saya bisa traktir ibu-ibu berdua. Amin nggak nih?" tanya Dean terkekeh.
"Amiin..." ucap kedua Hakim wanita tersebut serentak dan tertawa.
Melihat percakapan Dean dan kedua Hakim wanita itu telah selesai Winarsih dan Anggi berjalan kembali ke mobil. Novi telah kembali duduk di kursi mobil paling belakang.
"Bisa aja deh ngegombalin ibu-ibu," ujar Ryan yang menjajari langkah atasannya.
"Itu bentuk usaha gua yang paling akhir," jawab Dean terkekeh.
"Pak Dean!" Seruan suara seorang pria dari belakang menghentikan langkah Dean untuk menoleh.
"Pak Hendra," sahut Dean melihat Hendra Atmaja sedang berada di sana. Pria itu berdiri dengan seorang wanita cantik berkulit putih dengan setelan blazer merah ketat yang tampak seperti sekretarisnya.
Dean berbalik dan melangkah mendekati Hendra Atmaja.
"Sudah selesai?" tanya Hendra padanya.
"Sudah. Makasi perhatiannya. Menurut Pak Hendra, bagaimana hasilnya nanti?" tanya Dean dengan senyuman ramah yang mengandung arti pertanyaan akan tanggapan atas aksinya di SPA khusus pria beberapa hari yang lalu.
"Hasilnya bisa saya pastikan baik-baik saja. Semua akan kembali normal seperti biasa. Saya ke sini mau mengabarkan itu. Dan juga, siapa tau kita bisa menikmati waktu luang di SPA sambil bicara bisnis. Bener nggak Shel?" tanya Hendra pada sekretarisnya.
"Bener banget. Kenalin, saya Shelly." Wanita cantik itu mengulurkan tangannya pada Dean.
"Dean," jawab Dean singkat. "Oke, makasih kalo gitu. Saya kembali ke mobil dulu. Istri saya udah nunggu dari tadi." Dean mengangguk dan berbalik melangkah cepat menuju mobil.
"Buru-buru banget, basa-basi dulu kek." Ryan melihat wajah Dean yang terlihat serius.
"Basa-basi apaan. Senyum aja gua nggak berani sekarang. Itu bini gua pasti ngeliatin dari dalem mobil. Makanya lu kawin dan punya anak biar ngerti. Bini itu lebih serem dari hakim di pengadilan. Udah lu jangan bahas-bahas aneh-aneh ya di mobil. Gua turuni di jalan lu kalo nyinggung sekretaris si Hendra tadi."
Dean buru-buru menuju pintu mobil dan membuka pintu tengah untuk duduk di sebelah isterinya.
"Dik Win... Aku capek banget." Dean yang baru duduk langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Winarsih dan memeluk erat pinggang isterinya itu.
Winarsih tersenyum risih memandang Anggi dan Novi yang sedang tersenyum geli duduk di kursi belakang.
To Be Continued.....
Catatan :
__ADS_1
Semua sidang dan percakapan dalam bidang hukum yang dimuat dalam novel ini dituturkan sepanjang pengetahuan penulis dan sedikit dramatisasi demi kepentingan novel.