CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
53. Bu Winar


__ADS_3

Hari itu Disty berniat membeli sepasang-dua pasang sepatu untuk acara resepsi pernikahannya yang akan diadakan bulan depan.


Dia sudah mencoba segala cara untuk menghubungi Dean yang sepertinya menghilang bagai asap.


Berkali-kali Disty menghubungi nomor ponsel kekasihnya itu, namun tak pernah dijawab. Bahkan beberapa kali Disty mendatangi kantornya, Ryan sekretaris yang sama bangsatnya dengan bos-nya tak pernah berkata jujur.


Bahkan saat Disty menghubungi Bu Amalia berniat untuk mendatangi rumah itu, wanita itu hanya mau bertemu dengannya di luar.


Beberapa kali mereka bertemu di luar membahas tentang acara pernikahan di cafe-cafe. Disty benar-benar penasaran tentang keberadaan dan kabar Dean saat ini.


Disty sedih, kenapa Dean begitu berubah sejak malam itu. Padahal dia sudah sedikit mengurungkan niat untuk mempermalukan keluarga kekasihnya.


Dia hanya ingin seperti pasangan-pasangan lain yang merencanakan hari bahagia mereka bersama-sama. Dan kemarin, saat Disty menelepon Bu Amalia, wanita itu mengatakan bahwa dirinya sakit dan belum bangkit dari tempat tidur.


Jadi siang itu, Disty berangkat ke mall terbesar di Jakarta untuk membeli sepatu sebagai pasangan gaun mewahnya nanti. Bu Amalia menitipkan sebuah kartu kredit untuk membayar semua tagihannya nanti.


Disty merasa sedikit geli dengan wanita yang melahirkan Dean itu. Begitu takutnya wanita itu nama baik keluarganya tercoreng dan menjadi omongan di kalangan pergaulannya.


Setelah menitipkan kunci mobilnya pada petugas valet, Disty melenggang memasuki lobby mall.


Langkahnya langsung menuju ke sebuah eskalator dari lantai Ground menuju ke lantai 1.


Siang itu Disty masih mengenakan seragam kantornya berupa rok span super pendek dengan atasan blazer berwarna abu-abu.


Sepasang stocking berwarna gelap dan heels 10 senti membungkus tungkainya yang jenjang.


Disty sudah terbiasa dengan pandangan wanita atau pun pria-pria padanya. Dia menyadari jika kata seksi adalah salah satu daya tariknya. Dan Disty menyukai pandangan pria yang terlihat mendamba saat dirinya melintas di depan mereka.


Seperti Dean saat mereka bertemu pertama kali. Pria itu begitu tergila-gila padanya. Dean yang sangat mahir berciuman dan bisa membuatnya terbang ke langit meski mereka masih berpakaian lengkap.


Disty menaiki eskalator dengan tangan kanannya mengecek pesan penting yang baru masuk ke ponsel. Kepalanya terus menunduk sejak dia melangkahkan kakinya ke eskalator.


Namun saat dia mendongakkan kepalanya, dia melihat satu sosok yang dicari-carinya selama ini. Berdiri tepat di depannya hanya berjarak satu anak tangga sambil menggandeng tangan kiri seorang wanita yang tak mengenakan alas kaki.


Jantungnya seperti diremas. Bagaimana mungkin Dean yang masih kekasihnya dan akan menikahinya bulan depan tapi kini berdiri di sebelah seorang wanita berpakaian kampungan sambil menenteng sepatu busuk wanita itu.


Disty langsung menyadari siapa wanita yang berada di sebelah kekasihnya. Meski lututnya lemas, Disty berusaha kuat mengikuti langkah Dean yang sepertinya memiliki tujuan yang sama dengannya.


Dari belakang mereka, Disty mengamati tiap senti tubuh dan pakaian yang dikenakan wanita itu.


Sejak kapan Dean yang dijuluki 'Raja Komplain' bisa menerima seorang wanita seperti itu untuk berjalan di sebelahnya.


Baju kampungan. Hidup di tahun berapa perempuan yang sedang digandeng Dean itu?


Mata Disty tak lepas mengamati langkah kaki Dean yang menuju sebuah outlet sepatu kenamaan yang hanya ada di Jakarta. Sepatu mahal dengan brand CL, yang harga satu pasang sandal saja bisa seharga sebuah motor.

__ADS_1


Dean yang selalu berusaha menghindarinya, tampak menuntun pembantu itu untuk duduk di sebuah sofa. Sementara Dean sendiri pergi berjalan menyusuri rak display dan mengambil tiga pasang flat shoes dengan corak berbeda.


Pria itu kemudian berjongkok di kaki wanita yang sejak tadi hanya duduk dengan mata tak lepas dari Dean. Disty nyaris tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah pembantu yang tampak sangat kagum dengan interior butik yang mungkin tak pernah ia lihat sepanjang umurnya.


Dean benar-benar pintar mencari wanita baru. Ternyata laki-laki ini sekarang sedang menjalankan mode hemat, pikir Disty.


Disty masih berada di luar butik, sesekali tangannya sibuk memotret apa yang sedang dilakukan Dean. Dia belum tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya.


Karena sejujurnya, Disty juga takut akan reaksi Dean kepadanya nanti. Dia juga khawatir dengan orang-orang di butik yang akan memandang aneh padanya. Seorang wanita yang cantik, seksi dan modis diselingkuhi. Dan perempuan saingannya adalah seorang perempuan kampung.


Disty menggelengkan kepalanya. Dia juga pasti akan malu.


Saat sedang berpikir dan menimbang, Disty melihat Dean yang tampaknya telah mendapatkan sepasang sepatu yang cocok untuk wanita itu kini tersenyum dan tangannya mengusap-usap perut wanita yang sedang menatapnya.


Disty menyadari suatu hal yang tak bisa menahan langkahnya untuk masuk ke butik itu.


*******


Dean menyusuri rak pajangan sepatu dan menemukan tiga model flat shoes yang dibayangkannya akan makin cantik di kaki kuning langsat Winarsih.


Dia kembali berjongkok di kaki istrinya dan mengusap telapak kaki itu berkali-kali memastikan bahwa tak ada pasir yang menempel saat sepatu itu dikenakan.


Ketika Dean membawa tiga pasang sepatu itu ke hadapan Winarsih, wanita itu sedikit terperanjat melihat harga yang tertera.


"Pak," panggil Winarsih dengan wajah resah saat tangan Dean memegangi pergelangan kakinya.


"Nggak usah yang begini-begini Pak. Yang biasa saja. Yang penting nyaman," ujar Winarsih.


"Bu Winar nggak usah khawatir. Yang ini pasti nyaman di kaki. Lagian aku beliin untuk ibunya anak laki-laki yang lagi ada di sini." Dean mengusap-usap perut Winarsih untuk mengendurkan kerutan di dahi istrinya yang tampak cemas karena melihat label harga.


Winarsih menunduk menatap kakinya kemudian mulai tersenyum ke arah suaminya.


Tiba-tiba...


"Dean!! Berengsek!! Dasar laki-laki bajingan! Bisa-bisanya kamu buat kayak gini! Ngapain kamu bawa perempuan kampung ini ke sini?? Perempuan murahan! langsung ijo mata kamu liat laki-laki kaya! Nggak malu kamu ya! Ngaca dong!" Suara Disty yang tiba-tiba berteriak di sebelah mereka sangat mengejutkan Dean.


Sesaat Dean dan Winarsih terdiam menatap perempuan yang berdiri melipat tangannya di dada dengan mata yang memerah nyaris menumpahkan air matanya.


"Eh apaan sih kamu?" Dean berdiri menatap tajam ke arah Disty.


"Apaan kamu bilang? Kamu ngapain di sini? Aku nanya!! Bulan depan kita nikah, tapi kamu ke sini bawa pembantu kamu! Maksud kamu apa Dean? Kamu bener ngajak aku ribut? Udah siap kamu dengan segala resiko yang udah pernah aku sampein?" teriak Disty lagi yang suaranya nyaris memenuhi satu ruangan butik itu.


Beberapa tamu sudah mencurahkan perhatian mereka sepenuhnya pada Dean.


Seorang pramuniaga butik mendekati Disty dan memegang bahunya untuk menenangkan wanita itu agar tak mengganggu pengunjung lain.

__ADS_1


"Mbak, maaf. Bisa tenang dulu. Pengunjung yang lain bisa terganggu," ucap pramuniaga itu.


"Diem kamu! Aku juga nggak mau lama di sini" sergah Disty sambil menepis tangan pramuniaga yang berada di bahunya.


"Kamu laki-laki jenis apa sih? Udah puas enak-enakan sama aku sekarang jatuhnya ke pembantu. Turun selera sekarang? Udah ke pembantu?" sengit Disty.


"Mulut kamu! Emang urusannya sama kamu apa? Emang kamu siapanya aku? Keluarga?" ucap Dean setengah berbisik.


Dean lalu menoleh ke arah pramuniaga dan mengangguk untuk memanggilnya.


"Mbak, maaf. Saya ambil tiga-tiganya aja, ini kartunya, yang dua pasang dimasukin ke tas belanja aja. Yang ini biar dipake sama istri saya. Trus tolong masukin sepatu ini sekalian." Dean menyerahkan sebuah kartu dan sepasang sepatu kulit Winarsih kepada pramuniaga yang sudah berjongkok memasukkan semua sepatu terburu-buru.


"Istri kamu? Istri kamu? Sejak kapan dia jadi istri kamu? Ngapain kamu pake acara belanjain perempuan ini? NGAPAIN??" teriak Disty yang semakin kesal melihat Dean yang tak menghiraukannya.


"Ngapain apa? Emang kamu siapa ngatur-ngatur aku? Aku beliin sesuatu untuk istri yang sedang ngandung anak aku, ada yang salah? Di mana letak salahnya buat kamu?" tanya Dean tak kalah sinis.


Dean melirik tangan Winarsih yang mulai menaut gelisah di atas pangkuannya.


"Berengsek!! Kamu menghamili pembantu ini? Berengsek!!" Disty mendorong tubuh Dean.


Pramuniaga tadi kembali menghampiri Dean.


"Sudah Mbak? Oke. Terimakasih ya--" Dean menerima tiga paperbag disertai kartu dan potongan struk belanjanya.


"Ayo Bu, kita pulang." Dean mengulurkan tangan kanannya kepada Winarsih.


"Dasar berengsek--" tangan Disty melayang ke arah wajah Dean.


Tangan Disty sudah beberapa sentimeter lagi dari wajah Dean saat tangan Winarsih dengan cepat menangkap tangan wanita yang hendak menampar suaminya.


"Mbak, kalau cuma kata-kata penghinaan saja, saya nggak apa-apa dengernya. Tapi kalau Mbak sampai mau nampar Pak Dean, saya nggak akan biarkan. Sekarang dia suami saya. Dan kemarin malam kami sudah sepakat, kalau saya yang akan menanggung hidupnya." Winarsih melepaskan tangan Disty.


"Ayo Pak, kita pulang. Anak Bapak nggak suka denger yang berisik kayak gini." Winarsih menyeret tangan Dean keluar dari butik itu.


Dean membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.


Winarsih berjalan lurus dan mantap menuju ke eskalator. Dean masih menoleh memandang wajah istrinya yang tetap kalem seperti biasa.


"Wah, Bu Winar. Kamu hebat sekali. Bapak jadi makin sayang." Dean mengusap-usap pundak isterinya.


Kemudian Dean merasa ponsel di kantong celananya bergetar. Saat dia melirik ponsel yang sedang menyala itu, layarnya tertulis "MAMA".


Dean memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan lanjut mengusap-usap bahu dan punggung Winarsih.


To Be Continued.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya....


For visual check Instagram @juskelapa_


__ADS_2