CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
60. Pelukan Untuk Ibu


__ADS_3

"Aku masih suamimu Win. Kamu masih satu-satunya istriku. Makasih karena kamu tetap ada di sisiku, di saat aku merasa paling hina. Nangis dan marahi aku sesuka kamu. Tapi jangan pergi tinggalin aku," gumam Dean kemudian mengecup dahinya.


Winarsih duduk membeku bersandar di kepala ranjang. Dean pergi setelah menyandarkan tubuhnya dan memberi bantal di balik pinggang.


Rumah itu sekarang sedang kosong ditinggalkan oleh pemiliknya yang sedang bersukacita menikmati sebuah kebahagiaan yang bahkan belum tentu akan menjadi milik mereka.


Winarsih tak ingin melihat Dean memasuki mobil yang berhias pita dan bunga-bunga segar yang bahkan tak pernah disentuhnya.


Hatinya ikhlas meminta suaminya pergi demi menunaikan baktinya kepada orangtua. Tapi Winarsih tak bisa memungkiri rasa sakit yang teramat sangat mengingat suaminya akan berjalan di sebuah lorong dengan tangan wanita lain yang melingkari lengannya.


Anaknya kembali serasa gaduh di perut seolah mengerti apa yang ia rasakan.


Terdiam beberapa lama membuat Winarsih terkejut dengan deringan ponselnya yang terletak di atas meja rias.


Tak mungkin Dean bisa begitu cepat menghubungi untuk mengecek keadaannya.


Saat matanya menangkap sederet nama yang tertulis, cepat-cepat Winarsih menjawab telepon itu.


"Ya, gimana Pak De?"


"Kasian Yanto, kasian Ibu." Winarsih mulai terisak.


"Winar segera pulang. Hari ini Winar langsung pulang."


Setelah menutup telepon, Winarsih menangis sejadi-jadinya sembari mengambil sebuah tas yang biasa dipakainya mengemas pakaian.


Pak De Rustam tetangganya mengabarkan pada Winarsih kalau kondisi Yanto memburuk dan telah dipindahkan ke ruang ICU.


Ibunya masih terus mendampingi Yanto, tapi ibunya itu juga meminta pakde Rustam untuk mengabarkan padanya keadaan Yanto saat itu.


Bu Sumi khawatir Winarsih tak sempat bertemu lagi dengan Yanto.


Setelah mengemas beberapa pakaian, Winarsih kembali mengotak-atik ponselnya beberapa kali dengan gugup untuk menemukan nomor ponsel Ryan.


"Pak Ryan? Ini Winarsih. Maaf kalau mengganggu. Saya mau minta tolong, saya mau pulang ke Jambi sekarang. Adik saya masuk ruang ICU--" Winarsih kembali menangis.

__ADS_1


"Jangan--jangan. Jangan beritahu Pak Dean sekarang. Nanti saja kalau acaranya sudah selesai. Saya cuma mau minta tolong belikan saya tiket pesawat yang paling awal berangkatnya. Saya minta tolong ya Pak. Saya tunggu kabarnya segera."


Masih dengan terisak-isak Winarsih duduk di tepi ranjang. Jari tangannya mengusap nomor 2 di ponsel beberapa kali. Itu adalah panggilan cepat ke nomor ponsel suaminya. Tapi mengingat reaksi apa yang akan dilakukan Dean selanjutnya, membuat Winarsih mengurungkan niat.


Tidak. Tak boleh. Dean tetap harus berada di sana sampai acara itu selesai.


Itu adalah acara pernikahan seorang anak menteri yang bahkan tak bisa dimasuki oleh tamu tanpa undangan.


Penjagaannya sangat ketat karena yang hadir pastilah semua dari kalangan pejabat.


Memberi kabar kepada Dean saat itu juga pasti akan menimbulkan kepanikan pria itu.


Beberapa menit menggenggam ponselnya, ponsel itu kembali berdering. Ryan kembali menghubunginya.


Sekretaris suaminya itu mengabarkan bahwa sesaat lagi akan ada seorang pegawai wanita yang akan menjemput dan mengantarnya hingga tiba di Jambi.


Winarsih hanya sempat mengatakan terima kasih beberapa kali kemudian dengan cepat mengakhiri pembicaraan dan segera berganti pakaian.


Berbagai bebunyian singgah di telinganya berganti-ganti dengan cepat. Mesin mobil, arus lalu lintas, serta hiruk pikuk manusia yang disertai suara troli yang beradu.


Pemeriksaan kehamilan yang harus dijalaninya untuk mendapat selembar surat layak terbang pun dilakukannya nyaris tanpa sadar.


Ketika pegawai wanita kantor Dean yang memperkenalkan diri bernama Novi itu mengaitkan safety belt-nya, Winarsih sejenak menyadari bahwa dirinya benar-benar akan meninggalkan Dean untuk sesaat.


Penerbangan berdurasi 1 jam 15 menit itu dihabiskan Winarsih dengan diam dan memandang ke luar jendela.


Ketika mereka tiba di Bandar Udara Sultan Thaha Saifuddin, Winarsih mengatakan kepada Novi, bahwa dia sudah bisa kembali ke Jakarta. Tapi pegawai Dean itu bersikeras bahwa Ryan memintanya untuk mengantarkan sampai di rumah sakit barulah dia bisa kembali ke Jakarta.


Masih dalam diam Winarsih dan Novi telah berada di dalam sebuah taksi yang membawa mereka ke rumah sakit kecil di kabupaten.


Setelah tiba di rumah sakit itu, langkah Winarsih cepat dan terburu-buru meninggalkan Novi yang berjalan di belakangnya dengan membawa tas pakaian.


Ketika seorang perawat menunjukkan sebuah lorong yang terlihat paling sepi, Winarsih kembali membawa kakinya yang semakin lama terasa semakin berat.


Matanya mengenali punggung seorang wanita tua yang terlihat begitu ringkih dari belakang sedang berdiri menatap seseorang di balik dinding kaca.

__ADS_1


Perlahan Winarsih mendekati wanita itu dan memeluknya dari belakang. Winarsih mengalungkan kedua tangannya ke tubuh bu Sumi. Sedikit terperanjat, wanita itu tak berbalik menatap anak perempuannya.


Kedua tangan bu Sumi hanya mengusap tangan yang melingkari tubuhnya berkali-kali.


"Winar pulang Bu, ibu sekarang ada teman untuk menangis. Ada Winar. Ibu sudah boleh menangis sekarang." Tangis Winarsih pecah di belakang tubuh ibunya.


Winarsih ingin merengkuh tubuh tua itu dalam pelukannya semalaman. Tubuh bu Sumi berguncang mengeluarkan tangis yang sudah hampir seminggu ditahannya.


Tanpa menoleh kepada anak perempuannya yang baru datang, bu Sumi menumpahkan semua tangis seraya terus mengusap tangan Winarsih yang melingkari tubuhnya.


Rambut bu Sumi yang nyaris memutih semua dan tergulung berantakan di belakang leher, kini basah oleh air mata anaknya.


"Ibu, Winar kangen. Kangen ibu, kangen Yanto. Jangan minta Winar cepat-cepat kembali ke Jakarta. Winar mau menemani ibu, mau tidur dengan ibu." Winarsih kembali meraung di belakang tubuh ibunya.


Matanya kemudian menunduk dan menangkap pemandangan yang membuat hatinya semakin teriris. Bu Sumi hanya mengenakan sepasang sepatu kain tipis yang jahitan tepinya telah terlepas di beberapa bagian.


Kaki ibunya pasti selalu kedinginan.


"Yanto harus cepat sembuh. Yanto harus cepat sembuh," lirih Winarsih di belakang kepala ibunya.


"Yanto harus sembuh. Kakak akan menepati janji kakak ke Yanto. Cepat sembuh Yanto, kita ajak ibu beli sepatu baru. Nggak perlu yang mahal Dik, yang penting surga kita nggak tergores batu dan nggak kedinginan."


Winarsih terus memanggil Yanto di dalam kepalanya. Dia yakin adiknya akan segera membuka mata kalau mendengar kehadirannya.


**********


Beberapa langkah dari tempat Winarsih yang sedang menangis memeluk ibunya. Terlihat Novi yang sedang menyeka sudut matanya berkali-kali.


Sudah lewat tengah malam, dan harusnya dia sudah bisa kembali ke Jakarta dengan pesawat paling awal besok pagi.


Tapi saat Ryan meneleponnya barusan, Ia malah mengatakan bakal menemani Winarsih beberapa hari ke depan sembari melihat perkembangan adiknya.


Novi merasa tak sanggup meninggalkan sebuah keluarga yang tampaknya sedang sangat rapuh itu.


Terlintas ingatan soal Dean tadi, atasannya yang malam ini tetap terlihat sangat tampan berdiri menyalami ratusan tamu meski dengan wajah terlihat sangat kosong.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2