CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
44. Kebahagiaan Dean


__ADS_3

Akhir-akhir ini Dean tak pernah pulang awal ke rumahnya karena urusan kantor yang memang sangat padat.


Sore itu, setelah meeting dengan kliennya di kantor, Dean mengatakan kepada Ryan bahwa dia akan segera kembali ke rumah.


Rasanya sudah lama sekali dia tak melihat langit sore dari balkon kamarnya.


Dengan masih mengenakan sebuah kemeja berwarna navy yang tergulung hingga ke siku serta celana bahan berwarna krem, Dean berdiri berpegangan pada besi pagar balkon menatap langit jingga yang menyemburat.


"Seandainya Win, seandainya... Sebelum melakukan kesalahan terbesar itu aku sempat untuk lebih mengenal kamu," gumam Dean menatap langit dengan wajah murung.


Saat ini dia benar-benar merasa rindu pada Winarsih. Wanita itu pergi meninggalkannya dengan begitu banyak perasaan yang menggantung di hatinya.


Dan sialnya, Dean tak memiliki alasan untuk mencari dan meminta wanita itu kembali.


Malam itu, Dean melewatkan makan malam dan hanya berada di kamarnya. Bu Amalia yang menelfonnya berkali-kali tak diacuhkannya.


Dean menyalakan lampu tidur. Walau matanya belum mengantuk, tapi dia tak ingin diganggu oleh omelan-omelan ibunya karena malam itu dia tak hadir di meja makan.


Pak Hartono kembali menghadiri acara di kementerian malam itu. Dan sudah bisa dipastikan pria tua itu akan tiba di rumah larut malam.


Tak tahu sudah terlelap berapa lama, lamat-lamat dalam mimpinya. Dean mendengar suara ponselnya yang bergetar menyentuh meja nakasnya terus-menerus.


Tangan Dean meraba-raba permukaan meja nakas. Matanya menyipit memfokuskan pandangan untuk melihat nama yang tertera di layar. Papanya.


"Ya Pa--, di kamar. Tidur Pa. Ada apa? Penting? Apa sih Pa? Iya--" jawab Dean menutup telepon.


Dean bangkit dari ranjang mengenakan sandalnya dan pergi menuju pintu. Ruang kerja Pak Hartono terletak di sisi kanan kamar Dean.


"Tengah malem gini di ruang kerja. Ngapain sih?" gumam Dean mendekati pintu ruang kerja Pak Hartono dan langsung masuk ke dalamnya.


"Ya Pa?" Dean langsung bertanya pada Pak Hartono yang terlihat duduk bersandar di kursinya.


Dean merasa ada orang lain yang sedang berada di ruangan itu. Pandangannya langsung beralih ke sebelah kanan. Tampak olehnya Winarsih berdiri dengan rambut basah tergerai dan pakaian yang juga basah kuyup.


Matanya yang sedikit sipit dan tadi terasa lengket kini dilebarkannya.


Bukan mimpi. Itu memang Winarsih yang sedang berdiri dengan seorang wanita yang duduk di hadapan Pak Hartono.


Siapa wanita tua itu? Pembantu baru yang direkomendasikan oleh Winarsih?


Tunggu, kenapa harus tengah malam? Kenapa harus memanggilnya? Apa ini karena kebawelannya tadi pagi yang mencegah mamanya mencari pengganti Winarsih?


"Win? Kamu--" Dean menyapa Winarsih yang bahkan tak memandangnya.

__ADS_1


Selanjutnya, semua perkataan Papanya bagai lewat begitu saja di telinganya. Kilatan kata-kata Winarsih hamil anaknya dan usia kehamilan wanita itu sudah menginjak 4 bulan.


Dean terkejut sudah tentu saja. Winarsih yang selalu bersamanya akhir-akhir ini bahkan tak pernah memberitahunya apapun meski ditanya berkali-kali.


Winarsih hamil anaknya. Peristiwa malam itu ternyata berbuntut panjang. Kemudian pertanyaan Pak Hartono yang bernada tinggi menyadarkannya.


"Anak kamu atau bukan?" tanya Papanya dengan intonasi tinggi.


"Iya Pa--Iya. Kalau Winarsih hamil itu udah pasti anak Dean," jawabnya cepat.


Iya. Sudah tentu itu anaknya. Anak siapa lagi? Malam itu Dean menyadari kalau Winarsih benar-benar masih perawan. Bahkan selimut yang terkena noda Winarsih masih tersimpan di bawah lemari dalam kamarnya.


Hingga detik ini, Dean tak berani mengeluarkan selimut itu untuk diberikan kepada pegawai laundry. Dean yang berdiri dengan sebuah setelan piyama berdiri di seberang meja kerja mendengarkan segala cecaran Pak Hartono kepadanya.


Dean tak berani menjawab. Dia khawatir perkataan Pak Hartono selanjutnya akan di luar dugaan. Dia khawatir Pak Hartono mengatakan sesuatu yang tak enak didengar Winarsih dan seorang wanita yang ternyata adalah ibu wanita itu.


Ternyata hal yang didengar selanjutnya oleh Dean adalah sebuah perintah papanya untuk menikahi Winarsih.


Dean membelalak tak menyangka. Masalah mereka dengan Disty bahkan belum menemukan titik terang. Tapi lewat tengah malam ini tanpa kehadiran mamanya yang mungkin saja sekarang tengah terlelap masuk ke alam mimpi, papanya mengatakan untuk menikahi Winarsih.


"Mau kamu nikahi dia?" tanya Pak Hartono lagi.


"Mau Pa," jawab Dean cepat kepada Papanya.


Bahkan Winarsih dan ibunya yang sedang berada di sanapun pasti menangkap nada jawaban Dean kepada Pak Hartono adalah bentuk rasa takutnya kepada pria tua itu.


Dan itu benar adanya. Dean takut Pak Hartono berubah pikiran.


"Jangan iya-iya aja kamu," kata Pak Hartono lagi.


"Iya Pa--jadi Dean mau jawab apalagi?" tanya Dean pura-pura lesu. Padahal hatinya sudah mau pecah karena rasa bahagia yang menyimpan.


Seketika urusan Disty menguap begitu saja. Siapa lagi yang lebih penting saat ini? Tentu saja anaknya yang sedang di kandungan Winarsih.


"Win, saya mau tanya kamu. Bisa liat saya?" tanya Pak Hartono pada Winarsih yang masih menunduk.


"Liat Pak Hartono Win," ucap ibunya pada wanita itu.


"Ya Pak," jawab Winarsih mengangkat wajahnya dan memandang Pak Hartono.


"Meski Dean telah mengakui, tapi saya tetap bertanya pada kamu. Keputusan berada di tangan kamu. Kamu mau dinikahi anak saya yang sifatnya jelek ini?" tanya Pak Hartono pada Winarsih yang kini telah menatap pria tua itu.


"Ih apa sih papa, pake acara ditanya-tanya lagi. Kalo katanya nggak mau gimana?" omel Dean dalam hati.

__ADS_1


Dia khawatir dengan jawaban yang akan diberikan Winarsih mengingat wanita itu berani pergi meninggalkannya meskipun tengah mengandung.


"Gimana Win? Kamu masih berpikir untuk menjawab pertanyaan saya? Apa anak saya ini terlihat terlalu buruk sampai kamu harus berpikir lama?" tanya Pak Hartono lagi sambil melirik Dean yang sudah memasang wajah cemberut.


Pak Hartono, Dean dan Ibu Winarsih menatap wanita itu bersamaan.


"Mau Pak," jawab Winarsih lirih hingga nyaris tak terdengar.


"Gimana? Saya nggak denger," ucap Pak Hartono lagi.


"Iya, saya mau Pak," jawab Winarsih lagi.


Dean nyaris melompat karena bahagia. Tapi reaksi yang bisa dikeluarkannya saat itu adalah memasukkan tangannya ke kantong celana piyamanya dan memasang ekspresi wajah datar.


"Sekarang coba kamu liat Dean. Saya nggak ngerti gimana cara kalian--yah, saya benar-benar nggak ngerti. Kalau malam ini kamu dan ibumu nggak ada di sini, mungkin Dean sudah saya hajar habis-habisan. Coba sekarang kamu liat dia." Pak Hartono meminta Winarsih untuk melihat Dean.


Dean berdehem pelan dan mulai menyisiri rambutnya yang berantakan agar terlihat rapi. Sedikit menyesal dia tak sempat melihat cermin saat menuju ruangan itu.


Winarsih perlahan mengalihkan pandangannya kepada Dean. Mata wanita itu takut-takut menatapnya.


Dean yang sedikit kesal karena Winarsih pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun, sekarang sedang berusaha memasang wajah dingin untuk membalas tatapan wanita itu.


Dean memandang Winarsih dengan wajah kesal meski sebenarnya dia ingin menarik Winarsih ke dalam pelukannya.


Pandangan Dean turun ke tonjolan di perut wanita itu. Dia berdoa semoga calon anaknya itu baik-baik saja.


Pak Hartono kembali meraih ponselnya.


"Fika? Sudah tidur? Kalau belum tolong ke ruang kerja saya sekarang ya" perintah Pak Hartono pada asistennya.


"Winarsih dan ibu kembali ke kamar saja untuk bertukar pakaian dan beristirahat. Besok pagi-pagi betul asisten saya akan datang ke kamar Winarsih." Pak Hartono tersenyum kepada Winarsih dan mengangguk.


Dean menatap punggung Winarsih hingga lenyap dari pandangan. Dia tak tahu Pak Hartono memperhatikannya sejak tadi.


"Papa masih nggak nyangka kamu bener-bener ngikutin omongan papa," ujar Pak Hartono.


"Ha?" Dean tersadar dan melihat Pak Hartono.


"Siap-siap aja kamu besok," ucap Pak Hartono.


"Siap apa Pa? Kawin?" tanya Dean bingung.


"Kawin aja pikiran kamu! Besok kita perang !" tukas Pak Hartono.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2