
Dari atas panggung pelaminan, Dean terus melirik Ryan yang terlihat sibuk menelepon dengan wajah sangat serius.
Dean merasa malam itu Ryan sedang tidak memiliki tugas apa pun darinya.
Disty yang sejak tadi sepertinya sangat menikmati memakai gaun mewah dan berkilauan tak henti-henti tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah tamu yang ia kenal.
Bu Amalia berlaku hampir sama seperti Disty. Wanita itu tak henti bercipika-cipiki dengan wanita-wanita setengah baya yang berdandan heboh.
Setiap kali akan melakukan sesi foto, Bu Amalia selalu melemparkan pandangan 'Jangan macem-macem' pada Dean.
Waktu resepsi yang cukup panjang itu pum menjadi semakin terasa sangat panjang. Dean sudah sangat lelah, bosan dan merasa kalau berbaring di sebelah istrinya merupakan hal yang paling melegakan setelah hari yang panjang.
Dari kejauhan, Ryan sedikit tergesa menuju tangga pelaminan yang terletak di sisi kiri Dean. Raut wajah sekretarisnya tak bisa menyembunyikan bahwa telah terjadi suatu hal hari itu.
Penasaran dengan hal apa yang akan dikatakan sekretarisnya itu, sebegitu Ryan mendekat Dean langsung menunduk. Menunggu Ryan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Pak, nanti kalau acaranya sudah selesai kita ngobrol sebentar ya," bisik Ryan.
Setelah mengatakan hal itu Ryan sedikit menoleh ke kiri tempat di mana Bu Amalia sedang tertawa-tawa sambil berpelukan dengan seorang teman wanitanya.
Dean sudah sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan Ryan. Tapi sepertinya dia masih harus bersabar sebentar lagi.
Pukul dua belas malam, Ryan masih mendampingi atasannya di sebuah Vellfire hitam yang berhias pita. Di dalam mobil itu Dean hanya bersandar memejamkan mata, dengan tangan terangkat memijat dahinya.
Satu pun teman-teman Dean tak ada yang menghadiri resepsinya tadi. Karena hal itu, Disty yang merasa perlu validasi akan hal itu, beberapa kali mencoba menanyakannya pada Dean. Meski pada akhirnya Disty harus kembali diam karena tak mendapat jawaban apa pun dari Dean.
Saat mobil berhenti di teras lobi, Dean langsung melompat keluar tanpa melihat ke belakang. Ryan lalu dengan sigap mengikuti langkah kaki atasannya itu hingga menuju ke sayap kiri rumah.
"Pak, Bu Winarsih enggak ada di rumah," ujar Ryan sembari menjajari langkah kaki Dean.
Langkah kaki Dean seketika terhenti. Dengan wajah lelah, Dean menatap sekretarisnya.
"Winarsih kemana, Yan?" Dean terlihat menahan napasnya sedetik menunggu jawaban Ryan. Sekretarisnya bergeming. "Winarsih bisa pergi ke mana dengan perutnya yang udah besar itu? Dia pergi sendirian? Naik apa? Dia hamil besar Yan." Nada putus asa tak bisa disembunyikan dari suara Dean.
__ADS_1
Pikiran Dean sudah terbang ke mana-mana. Winarsih pasti marah padanya. Winarsih pasti kecewa dan memutuskan pergi untuk meninggalkannya. Istrinya pergi dengan membawa calon bayi mereka. Dean mengusap wajahnya berkali-kali dengan telapak tangan.
"Tunggu. Dengar dulu, Pak." Seperti dugaannya, Dean pasti akan sekalut ini. "Tadi sewaktu saya baru meninggalkan rumah ini menuju gedung resepsi, Bu Winarsih menelepon saya dan minta bantuan untuk membelikan tiket pesawat dengan penerbangan sore tadi. Dia bilang, adiknya yang selama ini dirawat di rumah sakit, kondisinya memburuk dan harus dipindahkan ke ruang ICU. Dia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan adiknya. Ibunya Bu Win sendirian," terang Ryan panjang lebar. Wajah Dean terlihat semakin pucat di bawah cahaya bulan.
"Selama ini adiknya sakit, Yan? Dan gua enggak tau. Lu liat sendiri, kan? Sampai istri gua aja ngerasa gua tuh enggak pantes untuk tau masalahnya. Dia enggak mau gua pusing, Yan. Gua yang kebanyakan ngeluh ke dia. Gua yang terlalu sering minta pengertiannya tanpa gua pernah nanya apa yang dirasainnya selama ini. Gua bener-bener bajin**n ya, Yan?" Dean menendang sebuah batu yang tak jauh dari kakinya.
"Karena Bu Winarsih tau kalo Bapak juga sedang pusing. Niat Bu Win baik. Cuma enggak mau membebani suaminya," ujar Ryan, mengulas senyum untuk sedikit menghibur atasannya.
"Bapak enggak usah khawatir ... Novi sekarang sedang bersama Bu Winarsih, kok. Tadinya dia akan langsung pulang setelah mengantarkan Bu Winarsih ke rumah sakit. Tapi baru aja dia ngirim pesan akan menemani Bu Winarsih mengurus soal pengobatan adiknya itu."
"Pesan tiket kita, Yan. Penerbangan paling awal besok pagi ke Jambi," perintah Dean.
"Baik Pak," jawab Ryan segera.
"Yang paling awal, jangan lupa."
"Besok pagi-pagi sekali, saya langsung jemput Pak Dean ke sini. Sekarang saya permisi dulu,"
Dean langsung memutar langkahnya untuk menuju kamar di lantai dua. Dia akan mengemas beberapa potong pakaiannya ke koper kecil dan membuat daftar kecil soal pekerjaan yang akan ditinggalkannya selama beberapa hari ke depan.
"Saya jemput Pak Dean jam tujuh pagi." Setelah mengatakan itu, Ryan langsung mengakhiri pembicaraan.
Langkah Dean kemudian tergesa-gesa menaiki anak tangga. Setelah tiba di anak tangga paling atas, dia melihat Disty berada di depan pintu kamarnya dengan sebuah koper besar.
"Mau ngapain kamu di sini?" tanya Dean heran.
"Aku, kan, tinggal di sini sekarang. Dan kalau enggak salah ... suami-istri itu harusnya berbagi kamar," jawab Disty. Jarinya mengetuk-ngetuk pintu kamar Dean.
"Jangan mimpi kamu. Enggak akan ada perempuan lain yang aku bawa ke kamar ini selain istriku. Di kamar ini juga pertama kali aku tidur dengan dia. Berkat kamu, Dis." Dean tergelak sesaat. Bibirnya lalu melengkung membentuk cibiran. "Makasih, ya. Sekarang minggir," pinta Dean, menyingkirkan tangan Disty dari pintu kamarnya.
Dean mengeluarkan kunci dari kantong celana, kemudian membuka pintu kamar. Ia menutupi bagian depan pintu kamar dengan tubuh untuk tak memberi celah sedikit pun pada Disty.
"Jadi, aku tidur di mana, Dean? Kamu enggak ada perasaan banget, sih! Beberapa bulan yang lalu kita masih mesra. Masih bercumbu. Kamu masih bisa.... Itu karena aku!" Disty setengah memekik karena kesal.
__ADS_1
"Sebelum memutuskan masuk rumah ini, kamu udah nanya bakal tidur di mana? Itu urusan kamu Dis." Dean masuk ke kamar dan menghempaskan pintu hingga nyaris tertutup.
BRAKK
Suara pintu menghantam koper besar yang sengaja didorong Disty ke depan pintu.
Sedetik setelah suara yang menggema ke seluruh ruangan, terdengar suara pintu kamar yang berada di sebelah ruangan kerja Pak Hartono terbuka. Itu adalah kamar Pak Hartono dan Bu Amalia. Nyonya besar rumah itu keluar menjengukkan kepalanya.
"Apa ada ini, Dean? Sudah tengah malam berisik! Kayak anak kecil aja! Biarkan Disty Malam ini tidur di kamar kamu! Selama ini kamu, kan, enggak tidur di situ. Kamu pergi aja sana tidur di kamar pembantu!" Setelah berseru begitu, Bu Amalia kembali masuk dan membanting pintu kamarnya.
Dean tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya melirik kamar ibunya dengan sudut mata. Ekspresi wajah Disty bersama koper besarnya lebih mengesalkannya saat itu. Rumahnya benar-benar telah berubah menjadi neraka.
Disty menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ekspresi wajahnya penuh ejekan.
"Aku enggak akan semudah itu membiarkanmu hidup tenang bersama pembantumu itu, Dean," desis Disty.
"Sekali lagi aku bilang ke kamu ... Winarsih adalah istriku. Dia adalah wanita yang sedang mengandung anakku. Buatku, kamu bukan siapa-siapa, Dis. Ini rumahku. Enggak akan pernah jadi milik kamu. Kalau kamu niat mengganggu hidupku di rumah ini, kita lihat siapa setannya sekarang." Dean tak perlu berteriak mengatakan hal itu. Jarak Disty cukup dekat darinya dan ia yakin wanita itu bisa mendengarnya dengan jelas.
Dean menyeret koper besar Disty hingga mencapai tepi anak tangga paling atas. Dengan sekali dorongan kakinya, koper besar itu jatuh berguling dan memantul di tiap anak tangga dengan suara hantaman yang sangat keras.
Disty memekik sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kamu berengsek! Kamu berengsek!" maki Disty. Air mata amarah dan kesedihan sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Mbak Tina! Mbak Tina!" Teriakan Dean menggelegar ke seluruh penjuru rumah. "Mbak Tin...."
"Dean!" jerit Bu Amalia. Wanita itu sudah kembali berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah memerah. Putra yang dipanggilnya tak sedikit pun menoleh.
Mbak Tina muncul dengan rambut berantakan. Berdiri di bawah tangga dengan sebuah daster batik dan wajah mengantuk.
"Antarkan tamu ini ke kamar yang semestinya. Saya capek! Mau istirahat! Jangan biarkan lagi orang asing naik ke lantai dua." Masih dengan setelan jas putihnya yang mengilap dan mewah Dean berdiri menunjuk Disty dengan tangan kirinya.
Sedetik kemudian, Dean pergi meninggalkan Disty yang masih terisak dengan bunyi bantingan pintu kamar.
__ADS_1
To Be Continued