
Sabtu pagi, dalam keadaan hati dan pikiran yang masih mengambang, Winarsih menyiapkan sarapan lengkap untuk Dean yang sejak subuh tak mau bangkit dari tempat tidur.
"Pak, bangun. Itu sarapannya sudah dari tadi di atas meja. Sudah jam 8. Suara pak Hartono juga sudah sejak tadi terdengar dari meja makan." Winarsih duduk di tepi ranjang mengusap-usap punggung Dean yang masih tidur menelungkup.
"Aku nggak usah ikut sarapan deh Win, lagi gak mood. Kamu udah makan? Kamu yang harus makan," ucap Dean sembari berbalik melihat isterinya.
Rambut panjang Winarsih dikepang mengendur ke samping. Poninya yang sekarang lebih panjang, terselip rapi di belakang telinganya. Sebuah terusan berwarna krem bermotif bunga kecil-kecil yang terjulur hingga ke betisnya membuat tampilan Winarsih pagi itu sangat segar.
"Cantik banget kamu... aku belum mandi," ucap Dean memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Winarsih.
"Hei Boy--kamu udah bangun?" Dean menempelkan telinganya ke perut Winarsih.
"Bu Winar kecapekan ya?" tanya Dean yang mengamati nafas istrinya terasa lebih cepat seperti seseorang yang habis berlari.
"Engga kok. Perutnya tambah besar jadi mulai gini," jawab Winarsih membelai rambut Dean.
"Pak, nanti sore berangkat jam berapa ke lokasi acaranya? Apa nggak sebaiknya bapak berangkat dari kamar atas aja?" tanya Winarsih yang mengkhawatirkan soal acara yang akan dilalui Dean.
Dean selalu menghindar tiap Winarsih akan membahas soal resepsi itu. Sedangkan Winarsih, hanya mau resepsi itu cepat berlangsung dan jas yang tergantung di kenop lemarinya bisa segera disingkirkan.
Dia sedikit lelah dengan teror bu Amalia soal resepsi itu. Apalagi baru tadi pagi Winarsih kembali menelepon tetangganya untuk menanyakan kabar Yanto, tapi lagi-lagi tetangga mengatakan bahwa ibu dan adiknya masih berada di rumah sakit.
Jika tak ada kemajuan soal Yanto, seusai resepsi nanti, Winarsih berencana akan memberitahukan hal itu pada suaminya.
"Win, kamu beneran gak apa-apa aku pergi ntar sore?" tanya Dean ragu masih menumpukan dagunya di pangkuan Winarsih.
"Enggak, nggak apa-apa." Winarsih tersenyum.
"Kamu kayaknya beberapa hari ini agak beda deh. Ada sesuatu yang belum kamu sampein ke aku?" tanya Dean.
"Engga Pak, ngga ada. Saya baik-baik aja," jawab Winarsih.
"Yakin?"
"Yakin."
__ADS_1
"Atau kamu masih tersinggung dengan apa yang mama bilang kemarin?" tanya Dean lagi.
"Engga Pak. Bapak bangun sekarang ya... langsung ke meja makan," pinta Winarsih pada suaminya.
"Udah bangun kok, kamu mau bangunin yang mana lagi?" ucap Dean bercanda. "Hmmm--" Dean menegakkan tubuhnya melihat ke arah jendela yang seperti biasa tirainya masih tertutup jika dirinya belum bangun.
"Malam ini aku pasti pulangnya lama. Melepaskan diri dari mama dan Disty pasti gak gampang. Kamu percaya aku nggak bakal ngapa-ngapain 'kan Win?" tanya Dean yang kini telah duduk.
"Percaya Pak, saya percaya sepenuh hati bahwa bapak nggak akan macem-macem."
"Kamu cemburu Win?" lirih Dean menatap istrinya.
Pertanyaan singkat yang sebenarnya tak perlu dilontarkan lagi. Tapi demi melihat reaksi dan jawaban Winarsih yang selalu tenang itu, Dean merasa perlu mengetahui isi hati wanita yang akan menjadi ibu anaknya.
Winarsih menatap suaminya lekat-lekat, kemudian mengangguk.
Dean memeluk istrinya erat-erat.
"Aku nggak bisa ke meja makan. Aku perlu banyak waktu untuk menghabiskan tenagaku pagi ini. Memastikan bahwa yang kutinggalkan tercukupi dan aku pergi tanpa kekurangan sesuatu apapun," gumam Dean di telinga isterinya.
Pagi perlahan-lahan merangkak pergi tapi kamar belakang di bagian sayap kiri rumah masih tertutup rapat. Belasan kali panggilan telepon dari bu Amalia diabaikan oleh Dean.
Pria itu sedang sibuk menenangkan hati istrinya yang terlihat gelisah. Berkali-kali Winarsih menggeliat dan mengejang di bawah himpitan tubuhnya hanya demi menyiratkan keyakinan di hati wanita itu bahwa dia telah mendapatkan segalanya dari sang istri.
Dean tak membutuhkan wanita lain di sisinya.
Hampir satu jam Dean menghabiskan waktu untuk membalik, memutar, memiringkan badan Winarsih agar wanita itu merasakan semua kenikmatan yang bisa diberikannya sebagai seorang suami.
Rintihan, erangan dan pekikan istrinya yang terdengar lirih di telinganya, akhirnya mengantarkan Dean kepada kepuasannya yang kedua.
Beberapa hari sibuk dan pulang kerja terlalu larut membuat Dean mengeluarkan kehangatan yang melimpah ke tubuh istrinya.
Dean tersenyum puas melihat istrinya berbaring terengah-engah seperti baru saja melakukan lari satu putaran di Gelora Bung Karno.
*******
__ADS_1
Sabtu, pukul 17.00 sebuah mobil dengan hiasan pita telah terparkir di depan lobby rumah sejak tadi.
Bu Amalia telah mengatakan kepada Dean untuk segera bergegas menemuinya di ruang tamu, agar Dean dan Disty yang telah berada di sana, bisa sama-sama memasuki kendaraan itu.
Perintah bu Amalia semakin ketat seiring dengan beberapa orang wartawan terlihat telah bersiaga di depan pagar rumah sejak tadi.
Ryan mengatakan kepada Dean bahwa pak Hartono mengeluarkan pernyataan bahwa pernikahan telah dilakukan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat.
Wartawan mulai diperboleh meliput sejak keberangkatan dari rumah.
Dean berdiri telah memakai kemeja putih yang sudah berbalut sebuah vest warna senada dengan bahan sedikit mengkilap.
Pasangan suami istri itu diam seribu bahasa. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Winarsih telah berdiri dengan sebuah jas putih yang sejak tadi telah direntangkannya di belakang tubuh Dean. Dadanya sesak, tapi dia tak ingin menangis. Dean harus pergi dengan langkah tegap dan perasaan tenang tanpa diiringi ketidakrelaannya yang terlalu kentara.
Satu persatu Dean memasukkan tangannya ke dalam jas kemudian tubuhnya yang tinggi berputar menghadap istrinya.
Winarsih mengancingkan satu persatu kancing jas putih. Tangannya menyusuri dada suaminya merasakan kehalusan permukaan jas, hingga tangannya tiba pada dasi kupu-kupu yang sedikit miring.
Setelah membenarkan letak dasi itu perlahan, kedua tangan Winarsih mengusap dan menepis sedikit debu pada bahu Dean.
Dean menyadari bahwa istrinya sedang mengulur waktu.
"Kamu sedih?" tanya Dean.
Winarsih mengangguk masih dengan tangannya membenarkan segala sesuatu di jas meski sebenarnya tampilan Dean telah sangat sempurna.
"Kamu cemburu Bu?" tanya Dean lagi. "Mau nangis? Kalo Bu Winar mau nangis ngga apa-apa. Biar aku peluk." Dean menunduk menatap Winarsih.
Sedetik kemudian wanita itu telah memeluk suaminya dengan tubuh berguncang.
"Jangan tidur dulu. Tunggu aku pulang," ucap Dean dengan kedua tangannya merengkuh Winarsih yang menangis dengan suara tertahan.
To Be Continued.....
__ADS_1