CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
52. Berpapasan


__ADS_3

Keesokan harinya di barisan meja karyawan Grup Cahaya Mas.


Utomo tiba lebih pagi di kantor dan langsung duduk di kursinya. Pria itu mengeluarkan sebuah cermin kecil yang disandarkan di sebuah kalender meja.


"Ut, pantes aku cariin di rumah nggak keliatan. Kirain kamu kabur ke luar negeri." Jaka menepuk pundak Utomo yang masih menatap cermin.


"Kok luar negeri?" tanya Utomo.


"Yah orang-orang lain kalau patah hati kan kaburnya ke luar negeri," ujar Jaka sembari menarik sebuah kursi ke untuk duduk di sebelah sahabatnya.


"Sayang ah, mending aku mudik ketimbang kabur ke luar negeri," jawab Utomo.


"Eh Jak, gimana penampilanku? Wajahku sudah glowing? Aku tadi beli sunscreen di mini market. Aku pengen move on dari Winarsih. Jadi aku harus bisa glow up." Utomo kembali mematut wajahnya.


"Glowing? Muka kamu berminyak Ut, kayak tanah di Irak. Kemarin aku denger kamu kayaknya nangis sampe lewat tengah malem. Hari ini mau glowing. Kamu nggak lagi buang-buang toh Ut?" Jaka menatap khawatir sahabatnya.


"Enggak, aku sudah berpikir matang-matang. Aku mau pedekate sama--" Ucapan Utomo terhenti.


Dewi, seorang HRD Manager berusia 36 tahun melintas menuju ruangannya.


"Sama dia. Bu Dewi. HRD Manager kita Jak...."


"Umur kamu baru 24 tahun Ut, beda 12 tahun lebih dengan Bu Dewi. Kalah pengalaman kamu," ujar Jaka.


"Nggak apa-apa. Aku harus dapetin dia. Dia masih single Jak, Aku ingin memantaskan diri. Makanya mulai sekarang aku ingin menaikkan seleraku. Jam makan siang nanti, jangan ajak aku makan di kantin pegawai ya. Aku mau makan siang di mall. Seperti Bu Dewi dan teman-temannya." Utomo merapikan rambutnya kemudian memasukkan kacanya ke laci.


"Makan di mall? Makan steak? Daging doang? Nggak pake nasi? Gayamu itu Ut--Ut.... Biasa kalo nggak makan nasi pake daun-daunan seisi bumi, kamu bilang bisa oyong. Memantaskan diri? Yang ada kamu memaksakan diri. Ngeyel!" Jaka bangkit meninggalkan Utomo.


"Nanti siang aku traktir kamu makan di mall dekat sini," teriak Utomo pada Jaka.


*******


Winarsih terbangun pukul 4 pagi di sebelah Dean yang sejak malam tadi melingkarkan tangan di pinggangnya.


Di bawah cahaya lampu tidur, Winarsih menatap wajah suaminya dengan teliti. Karena jika Dean tidak dalam keadaan tidur seperti ini, Winarsih merasa sulit sekali menatap pria itu.


Dean tidur dengan sepasang piyama berwarna coklat dengan posisi miring menghadapnya.


Bagaimana bisa dalam keadaan tidur pun Dean tetap serapi itu. Tangan kanannya terselip di bawah bantal dan saat ini Winarsih harus berhati-hati mengangkat tangan kiri pria itu dari tubuhnya.


Winarsih merasa perutnya sedikit kembung dan mual. Sejak tadi dia merasakan bayinya terus menggelitik.


Perlahan dia bangkit dari ranjang dan pergi menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Winarsih berusaha untuk tak menimbulkan suara agar Dean tak terbangun. Ia merasa iba kepada Dean. Sehari menikah dengannya, Dean menjadi seperti anak terbuang karenanya.


Setelah memijat-mijat tengkuknya sendiri di atas closet, Winarsih keluar kamar mandi dan pergi menuju lemari. Dia sedang mencari minyak kayu putih yang biasa ditelannya setetes dua tetes tiap dia merasa masuk angin.


Winarsih duduk di tepi ranjang menghadap ke lemari yang terbuka dan membelakangi Dean.


Saat tangan Winarsih mengangkat botol minyak kayu putih menuju mulutnya, "Win! Kamu minum apa?" Dean sontak bangkit merampas botol minyak kayu putih dari tangan Winarsih.


"Minyak kayu putih Pak, saya ngerasa kembung. Anaknya dari tadi bergerak terus. Saya nggak bisa tidur" ujar Winarsih kepada Dean yang sekarang menatap botol minyak kayu putih di tangannya.


"Ini minyak kayu putih sejak kapan dikonsumsi Win? minyak kayu putih setau aku dioles--dioles...." Dean menatap minyak kayu putih dan wajah istrinya bergantian.


"Tapi biasa minum itu lebih enakan Pak." Winarsih memandang suaminya.


"Winar sayang, ini obat luar. Minyak gosok. Besok kita ke dokter ya, sekarang kamu tiduran di sini." Dean menepuk ranjang. "Biar bapak balur pake minyak kayu putih," sambung Dean.


Winarsih menghela nafas dan mengulum senyum mendengar perkataan suaminya. Dean kembali meloloskan daster istrinya dan menarik selimut hingga menutupi batas pinggang Winarsih.


"Bu Winar ngadepnya ke sana aja," perintah Dean agar Winarsih tidur miring membelakanginya. Winarsih kembali tersenyum mendengar ucapan Dean.


"Aku mau ngomong ke anak baik yang sedang dalam perut ibunya biar dia tidur. Kasian ibu yang seharian udah lelah direpotin bapaknya." Dean memeluk tubuh istrinya yang hanya tertutup selimut sembari mengoleskan sedikit minyak kayu putih.


Setelah mengoleskan minyak kayu putih, bertumpukan sebelah tangan kanan di kepalanya, Dean menepuk-nepuk pelan paha Winarsih yang tidur membelakanginya.


Sesekali Dean mencium kepala wanita itu dan meletakkan wajah di dekat telinga istrinya.


"Dulu, kalo aku terbangun tengah malam karena mimpi buruk, aku selalu nyari Mbah. Dia bakal datang ke kamarku dan nepuk-nepuk gini sampe aku ketiduran."


"Kenapa nyarinya Mbah?" tanya Winarsih.


"Karena dulu mama sering ikut papa ke luar kota, aku dan mbak Anggi selalu di rumah. Jadi nanti, kamu jangan tinggalin anak kita ya. Bawa dia kemana pun kita pergi," bisik Dean kembali mencium kepala istrinya.

__ADS_1


"Eh, tapi jangan-jangan--" tukas Dean tiba-tiba dengan nada suara yang berbeda.


"Jangan-jangan apa?" tanya Winarsih sedikit terkejut dan berbalik menatap suaminya.


"Jangan-jangan anak kita pengen ketemu bapaknya lagi," bisik Dean kemudian menarik turun sisa pakaian yang dikenakan Winarsih di dalam selimut.


Perlahan tapi pasti, Dean mulai kembali merentangkan kaki Winarsih untuk segera membuka untuknya.


Dean masih sangat penasaran dengan situasi di bawah sana yang dirasanya tak lagi kondusif. Setelah dua kali mengunjungi anaknya, tampaknya sekarang ibunya pun jadi ingin sering-sering dikunjungi.


Tak sampai tiga menit mengecup bagian itu, Winarsih ternyata sudah siap menerima kedatangannya.


Seandainya Pak Hartono memelihara ayam jago, mungkin ayam itu akan minder dengan Dean. Karena Dean sudah mulai mengayun di atas badan istrinya di saat ayam jago pun masih bermimpi.


*******


"Pakaian saya cuma ada yang ini Pak, nggak apa-apa kan?" tanya Winarsih setelah memakai pakaian yang dikenakannya saat basah kuyup dua malam yang lalu.


"Enggak, Gak apa-apa. Emangnya kenapa?" tanya Dean berbalik menatap Winarsih setelah menyelipkan sedikit kemeja body fit-nya ke dalam celana chinos hitam semata kaki yang telah dikenakannya.


Winarsih memandang suaminya. Dia tersenyum tapi sebenarnya merasa minder. Mendengar Dean hari ini akan mengajaknya ke sebuah mall, Winarsih menjadi ragu berjalan di sebelah pria itu.


"Memangnya ke mall mau ngapain Pak?" tanya Winarsih hati-hati.


Dean menilik penampilan istrinya dari atas hingga ke bawah. Rambut Winarsih tersisir rapi. Pakaiannya layak dan pantas untuk bepergian meski modelnya terlalu klasik. Sepasang flat shoes kulit tipis, membungkus kaki istrinya.


Dean mengerti apa yang sedang dipikirkan istrinya saat ini. Setelah menyambar parfumnya sekilas dan menyemprotnya beberapa kali ke belakang telinga dan pergelangan tangan, Dean mendekati istrinya.


"Bu Winar udah cantik. Kalo orang ngeliat Pak Dean jalan gandeng Bu Winar, semua orang pasti tau kalo Pak Dean itu beruntung." Dean berbicara seraya merapikan rambut istrinya.


"Cuma pakaian Bu Winar udah terlalu ngepas, kita ke rumah sakit dulu trus ke mall. Mau kan? Aku pengen liat calon bayi kita dengan mata kepalaku sendiri lewat layar mesin USG. Bukan dengan itu aja--" Dean tersenyum genit.


Winarsih sudah tergelak melihat wajah suaminya. Dean yang selalu berusaha membuatnya tersenyum, meski sebenarnya hatinya sedang gelisah.


Winarsih menyadari hal itu.


*******


(Pukul 11.00 pagi di Rumah Sakit P kawasan Kebayoran Baru)


Dean mendapatkan rekomendasi Dokter itu dari Rio yang sudah sangat berpengalaman dalam soal mengecek kandungan istri.


Beberapa saat kemudian nama Winarsih dipanggil oleh seorang perawat, dan Dean yang lebih bersemangat dari istrinya langsung mengangkat lengan Winarsih dan menggandengnya masuk ke ruangan.


Sementara Winarsih berbaring di atas ranjang dan harus menurunkan roknya hingga nyaris ke pangkal paha, Dean melirik barisan rambut halus yang membuat darahnya berdesir.


Tak menyesal dia mendengar saran Rio soal dokter kandungan perempuan itu. Dean tak membayangkan jika Winarsih berbaring telentang dan membuka pakaiannya di depan seorang dokter pria.


"Semuanya normal dan sehat ya Pak, jenis kelaminnya juga sudah keliatan nih. Sudah jelas kelihatan ini. Mau tau sekarang atau saya rahasiakan aja untuk surprise lahiran?" tanya Dokter Azizah sembari melirik Dean yang berdiri di belakangnya menatap layar mesin USG.


"Saya mau tau sekarang aja Dok, hidup saya udah terlalu banyak surprise. Saya mau tau sedang berhadapan dengan calon bayi laki-laki atau bayi perempuan untuk menyesuaikan--" Dean menghentikan perkataannya karena merasa geli sendiri.


"Baik Pak Dean, dokternya ngerti." Dokter Azizah terkekeh.


"Calon bayinya laki-laki ya Pak. Kalau bayi laki-laki memang lebih terlihat jelas. Kandungannya ibu sudah masuk 18 minggu." Dokter Azizah meletakkan alat USG dan mengklik beberapa tombol untuk mencetak foto hasil USG. Seorang perawat wanita kemudian membantu Winarsih mengelap gel sisa USG dan merapikan pakaiannya.


"Wah, nama belakang Hartono sebentar lagi akan dipakai oleh seorang bayi." Dean tersenyum puas. Dia tak sabar ingin memberitahukan langsung hal itu pada papanya.


Setelah berkonsultasi dan mendapatkan segala sesuatu untuk menunjang kehamilan istrinya, Dean ke luar ruangan dengan tangan kirinya merangkul bahu Winarsih dan tangan kanan memegang foto hasil USG.


"Tau nggak Win?" tanya Dean dengan matanya yang belum lepas dari foto hasil USG meski mereka sedang berjalan menuju pintu ke luar.


"Apa?" Winarsih mendongak menatap suaminya.


"Aku semakin kagum dengan keperkasaanku," ujar Dean. Winarsih tersenyum geli.


"Seorang bayi laki-laki bernama belakang Hartono. Bayangin Win, dia akan jadi cucu laki-laki pertama dalam Keluarga Hartono. Anak mba Anggi, kakakku, keduanya perempuan." Dean berjalan merangkul istrinya menuju mobil yang diparkirkan tak jauh dari lobby rumah sakit.


*******


(Pukul 13.00 di Sebuah Mall Kawasan Jakarta Pusat)


Dean mengantongi tiket parkir valet dan menggandeng Winarsih memasuki lobby mall.

__ADS_1


Ada sedikit kekhawatiran yang melintas di pikiran Dean tapi terasa sulit menanyakannya pada Winarsih tanpa dirinya merasa tak enak.


Saat menimbang-nimbang ingin menanyakan hal itu pada Winarsih, dia merasa istrinya sedikit terpincang-pincang.


"Kamu kenapa?" Dean menatap kaki Winarsih yang sedikit di miringkan istrinya.


"Kaki saya lecet Pak, sepatunya mulai kekecilan karna kaki saya jadi agak membesar sekarang. Tapi saya masih bisa jalan kok, kita pelan-pelan saja." Winarsih meringis menatap kakinya.


Dean menatap wajah istrinya sesaat kemudian matanya berkeliling mencari bangku yang biasa tersedia tak jauh dari lobby.


Serta merta menggandeng istrinya yang berjalan lambat sedikit terpincang-pincang dan mendudukkannya di bangku itu.


Dean meletakkan clutch coklatnya di bangku sebelah Winarsih, kemudian berjongkok membuka sepatu istrinya.


"Kaki kamu udah merah banget Win, kalau dipaksa make sepatu ini terus, bakal bisa berdarah meski kita jalan pelan-pelan." Dean melihat bagian belakang kaki istrinya.


"Apa kita kembali ke rumah aja Pak?" tanya Winarsih ragu-ragu. Dia sungguh tak tahu harus menjawab apa kepada seorang pria tampan yang sedang berjongkok mengusap bagian belakang kakinya berkali-kali.


Sementara itu dari kejauhan.


Utomo dan Jaka yang baru akan ke luar dari Mall itu setelah makan siang di restoran steak memandang ke satu tempat yang sama.


"Kamu pernah megang telapak kaki Winarsih seperti itu Ut?" tanya Jaka spontan.


"Enggak." Mata Utomo juga belum lepas menatap Dean yang sedang mengusap kaki mantan pacarnya.


"Karena pikiranmu pasti mau megang yang lain aja. Terkadang yang diperlukan perempuan itu, nggak perlu hal-hal besar Ut. Makin nggak nyangka liat Pak Dean yang ketus tapi bisa jadi seperti itu dengan Winarsih," ujar Jaka yang kemudian diseret pergi oleh Utomo.


"Besok aku nggak mau makan di mall lagi. Makanannya jauh lebih enak di kantin kantor. Daging apa itu dikasi saos segitu harganya ratusan ribu. Beli daging di pasar udah bisa dimasak sekuali. Mana rasanya nggak enak!" cerca Utomo berjalan terburu-buru menuju ke luar.


"Ya nggak enak. Buat lidah kita yang seringnya makan saos dari tomat busuk ya rasanya saos mahal kayak gitu Ut," ucap Jaka kalem.


Kedua sahabat itu pun pergi meninggalkan mall untuk kembali ke kantor mereka yang tak jauh dari sana.


Beberapa saat mengusap bagian kaki Winarsih yang memerah, Dean berdiri dengan sepasang sepatu Winarsih yang kini dipegangnya di tangan kiri.


"Kalo nggak pake sepatu nyaman nggak? kaki kamu masih merah, kalo dipaksa pake sepatu sekarang pasti masih sakit." Dean menatap istrinya.


"Enak Pak, tapi kan--" Winarsih menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Bu Winar takut Bapak malu?" tanya Dean menunduk tersenyum.


Winarsih tersenyum karena menyadari Dean mengerti apa yang dipikirkannya.


"Bu Winar nggak usah khawatir dengan hal-hal yang bahkan Bu Winar nggak perlu pikirkan. Ayo--" Dean mengulurkan tangan kanannya.


Winarsih menyambut tangan suaminya kemudian berdiri. Kini dia berdiri di sebelah Dean tanpa alas kaki.


"Kita naik ke lantai atas dengan eskalator itu. Bu Winar percaya aja sama Bapak ya--jangan pernah lepasin tangan Pak Dean." Dean mengutarakan hal yang sejak tadi sungkan diutarakannya.


Winarsih mengangguk beberapa kali kemudian mulai melangkah mengikuti Dean yang menggandengnya dengan penuh percaya diri.


(Playlist : FOR YOU - Chen, Baekhyun, Xiumin)


Siang itu, Dean pertama mengajak Winarsih ke sebuah restoran Thailand favoritnya. Dean berniat akan mengajarkan istrinya itu soal menu-menu makanan favoritnya serta cara memakannya.


Sebenarnya pertimbangan awalnya tadi, Dean ingin langsung mengajak istrinya membeli sepatu. Tapi, melihat kaki Winarsih yang masih sangat memerah dan nyaris terkelupas, Dean berpikir mungkin kaki Winarsih bisa beristirahat sejenak tanpa alas kaki.


Dengan tatapan aneh orang-orang yang mereka lewati, Dean semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Winarsih.


Tak sedikit wanita yang berbisik-bisik melihat Dean menggandeng Winarsih yang tanpa alas kaki sambil menenteng sepasang sepatu kulit lusuh istrinya.


Selesai makan, Dean mengajak istrinya mengunjungi beberapa outlet pakaian yang menjadi favorit wanita di mall itu.


Dia berencana mengisi penuh lemari kosong Winarsih yang sekarang hanya teronggok dua lembar daster.


Tak lupa Dean mengajak istrinya ke outlet lingerie yang belakangan menjadi favoritnya. Dia berencana membelikan beberapa model lingerie yang siang malam dibayangkannya dipakai oleh Winarsih.


Setelah menelepon Ryan untuk menuju mall dan mengambil semua kantong belanjaannya pada tiap outlet yang telah mereka singgahi, Dean menggandeng lengan Winarsih menuju eskalator ke lantai berikutnya. Dia akan membelikan Winarsih alas kaki terbaik dan ternyaman untuk kaki istrinya yang sedang hamil.


Outlet sepatu itu juga merupakan favorit Disty, mantan pacarnya. Itu adalah outlet sepatu mahal di mall itu. Bukannya malah menghindari, Dean berpikir bahwa istrinya sendiri lebih dari lantas memiliki beberapa pasang sepatu dari sana.


Dean yang sedang tersenyum sumringah menggandeng Winarsih tak menyadari jika Disty yang sedang menuju outlet sepatu yang sama telah sejak tadi berjalan di belakang mereka.

__ADS_1


To Be Continued.....


Kindly gives likes and your comments 😘


__ADS_2