
Minta di-like dulu.
Selanjutnya selamat membaca....
************
Winarsih tersenyum geli saat meletakkan ponselnya setelah baru saja menerima balasan pesan dari Dean yang berisi : 'Iya Sayang, tunggu Mas-mu di rumah. Memang sesungguhnya tak ada hasil yang mengkhianati usaha.'
"Udah diingetin ke Bapak Dirja?" tanya Bu Amalia pada Winarsih.
"Udah Ma, pasti langsung pulang katanya." Winarsih sedang duduk di sofa ruang keluarga memangku Dirja sambil menemani ibu mertuanya menonton televisi.
"Soalnya kalau nggak diingetin, dia bisa belok entah ke mana. Biasa kalau ulangtahun batang hidungnya nggak pernah keliatan. Pasti pergi bareng temen-temennya." Bu Amalia berbicara seraya sibuk memindahkan channel televisi.
"Nanti pasti pulang cepet Ma," tambah Winarsih kemudian mengatupkan mulutnya gemas menatap Dirja yang sedang berusaha mengangkat kepalanya berlama-lama untuk duduk.
"Tina sudah pulang belanja? Titipannya ada semua?" tanya Bu Amalia lagi.
"Udah Ma, ada semua kok. Sebentar lagi saya ke dapur ngeliat kerjaannya udah sampe mana."
"Ya sudah, tapi kalau kamu ke dapur sini Dirja sama Uti-nya aja. Siang ini tidur sama Uti aja ya?" tanya Bu Amalia pada Dirja yang sebenarnya itu adalah pernyataan untuk Winarsih.
"Bapak Dirja temenan dengan tiga orang temennya itu sudah lama Ma?" tanya Winarsih.
"Dari kelas 1 SMA. Yang temen sekelas itu cuma Rio dan Dean, yang dua lagi ketemu di hari pertama masuk sekolah. Sejak itu ampun deh. Memang nggak bolos sekolah yang gimana-gimana, syukurnya nggak ada yang sampe nakal narkoba. Tapi kerjaannya ada aja di sekolah. Dean itu kecelakaan motor entah udah berapa kali. Yang terakhir itu kelas 3, kakinya sampai patah. Sebelum-sebelumnya dirawat di rumah sakit. Tapi belum sembuh bener, pergi sekolah pakai tongkat tapi masih naik motor gedenya." Bu Amalia mengangkat Dirja dari pangkuan ibunya.
"Ya itu, bapaknya bayi ini. Nanti Dirja jangan gitu ya ti?" ucap Bu Amalia pada Dirja yang sedang membulatkan mata menatap neneknya.
"Jangan kayak bapak yang rewelnya minta ampun kalau sakit," sambung Bu Amalia. "Dulu kalau Dean sakit, mama nggak bisa ngapa-ngapain. Itu Si Mbah ampun dibikin Dean. Kalau udah sakit banyak mintanya. Tapi kalau sehat, nggak pernah keliatan." Ternyata curahan hati wanita yang melahirkan suaminya itu masih berlanjut.
"Tapi bapak Dirja kan pinter ya Ma sekolahnya?" pancing Winarsih yang di hari ulangtahun suaminya ingin mendengar hal-hal positif.
"Pinter memang. Dia nggak pernah kesulitan soal pelajaran. Tapi berita dari sekolah yang dateng suka aneh-aneh" tukas Bu Amalia.
"Aneh gimana Ma?" tanya Winarsih penasaran.
"Hmmm-- Ya gitu deh, aneh pokoknya. Nanti sekali-sekali kamu sendiri yang tanya sama Bapak Dirja." Bu Amalia hampir saja kelepasan bicara soal kelakuan masa remaja anak bungsunya yang memang kadang susah ditolerir.
Winarsih belum mengatakan pada ibu mertuanya bahwa ia kini tengah mengandung 5 Minggu. Saat mengalami keterlambatan menstruasi beberapa hari yang lalu, ia bercerita pada Novi dan asistennya itu langsung membeli beberapa test pack untuk langsung digunakannya.
Saat melihat hasil tes keempat yang tetap memunculkan dua garis merah, Novi tak bisa menahan senyumnya. Winarsih sampai malu saat Novi mengucapkan selamat padanya dua hari yang lalu.
"Waaah... Menunya banyak. Deannya mana?" tanya Pak Hartono saat baru tiba bersama Fika dan Irman di ruang makan.
"Lagi di jalan kata istrinya. Papa naik dulu mandi, trus langsung turun ya," pinta Bu Amalia.
__ADS_1
"Iya. Ya sudah papa mandi dulu. Fika dan Irman juga, nanti ke sini lagi. Kita makan sama-sama. Dean ulangtahun ke 30. Hari ini juga hari pendidikan. Nggak nyangka Dean akhirnya ulangtahun bisa makan di rumah bareng anak-istrinya." Pak Hartono mengangguk pada Fika dan Irman yang kemudian juga pergi meninggalkan meja makan.
Beberapa saat setelah Pak Hartono menaiki tangga menuju lantai 2, Winarsih menoleh ke lobi rumah karena mendengar langkah kaki memasuki ruangan itu.
Tampak olehnya Dean dan sekretarisnya baru saja tiba di rumah pukul 7 malam lebih sedikit.
Dari kejauhan Dean yang bertemu pandang dengan Winarsih sudah tersenyum-senyum simpul. Senyuman suaminya itu tampak penuh arti hingga rasanya wajah Winarsih pun ikut memerah karena tatapan suaminya itu.
"Dik Winar... Mas-mu pulang," bisik Dean lembut di telinga Winarsih saat berdiri di belakang tubuhnya. Dean masih tersenyum jahil menempeli isterinya dari belakang.
Winarsih masih menggendong Dirja di dekat meja makan. Dean yang baru tiba juga masih sibuk menciumi bayi laki-laki yang sedang menempel di pundak ibunya itu.
"Mandi. Biar turun terus langsung makan. Eyangnya juga udah naik. Cepet sana. Nanti nggak enak kalo eyangnya malah nunggu," bisik Winarsih khawatir terdengar oleh ibu mertuanya. Dia agak sedikit was-was suaminya mengatakan sesuatu soal kehamilannya sekarang.
"Aku masih kangen ih. Sebentar. Naik dulu yuk, aku pengen ciuman. Kan tadi pagi kamu nggak ada ngucapin apa-apa. Hari ini nggak ada yang nyium aku Win," jawab Dean.
"Biasanya selalu ada yang nyium gitu?" tanya Winarsih masih berbisik.
"Ya enggak, ayo ke atas sebentar. Aku gendong Dirja. Atau aku cium kamu di sini? Mau? Deket mama?" tanya Dean yang kini suaranya terdengar jelas oleh Bu Amalia.
"Naik dulu ke atas Dean, mandi. Nanti aja acara kamu itu diagendakan sesudah makan malam." Bu Amalia yang masih duduk di kursi rodanya berbicara sambil menunjuk susunan lauk-pauk agar Mba Tina memindahkan sesuai dengan perintahnya.
Mendengar hal yang baru saja dikatakan ibunya, Dean mencibir dan mencium pipi Winarsih sekilas sebelum kemudian bergegas menaiki tangga.
Winarsih kembali merasakan wajahnya memerah. Dia benar-benar belum terbiasa dengan tingkah Dean yang bersikap santai saja jika berlaku mesra dengan dirinya di depan Pak Hartono ataupun Bu Amalia.
Fika datang sesaat kemudian dengan setelan santainya. Pak Hartono yang baru tiba langsung menggeser kursinya dan duduk menatapi hidangan satu persatu.
Melihat semua orang hampir lengkap berada di meja makan, Winarsih memberikan Dirja pada Babysitter-nya dan menuju kursinya.
Winarsih langsung menyendok nasi ke piring Dean agar nasi yang masih mengepul asapnya itu menjadi hangat saat suaminya tiba nanti.
Dari kejauhan terdengar suara sandal Dean mendekati ruang makan.
"Eh udah pada lengkap semuanya?" sapa Dean tersenyum lebar. Pria itu tampak sangat segar dengan sebuah kemeja lengan pendek berwarna cerah bermotif daun dan bunga yang biasa dipakai ke pantai dan sebuah celana pendek hitam.
"Udah yuk, mulai makan. Papa udah laper," ucap Pak Hartono.
"Ayo sini Dik Winar duduk, jangan sibuk ngeladeni orang aja." Dean menggeser kursi untuk Winarsih yang masih berdiri. "Atau perlu Mas pangku?" tanya Dean menepuk-nepuk pahanya.
Winarsih hanya mengatupkan mulutnya tak menjawab godaan Dean. Sesaat kemudian mereka semua telah duduk menyendokkan lauk pauk pilihan mereka masing-masing saat itu.
"Surat hasil sidangnya udah dikirim ke kantor kamu De?" tanya Pak Hartono pada Dean yang duduk di sisi kanannya.
"Udah Pa, hasilnya kasasi kita dikabulkan dan membatalkan putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Banjarmasin. Hartono Coil kembali ke tangan papa dengan aman sentosa berkat ketangkasan kantor advokasi Pak Dean Danawira. Meski masih ada sedikit surat-surat lagi yang harus Dean lengkapi, but overall, that's finish. Selamat Pak Hartono dan Bu Amalia Lim." Dean tersenyum sumringah menatap kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kok agak aneh ya? Dari awal kesannya susah banget bukti-bukti kita diterima. Kok bisa tiba-tiba jadi lunak?" tanya Pak Hartono.
"Rahasia perusahaan Pak, klien nggak boleh tau. Saya sekolahnya mahal," ujar Dean tertawa.
"Gayamu..." gumam Bu Amalia tersenyum.
"Anggi udah dikasi tau?" tanya Pak Hartono lagi.
"Udah, udah Dean telfon dan dikirimin salinan surat putusannya by email. Aman pokoknya." Dean yang menghentikan makannya sejenak saat berbicara pada Pak Hartono, tangan kanannya memijat-mijat ibu jari kiri Winarsih yang berada di atas meja.
"Eh Dirja mana?" tanya Dean tiba-tiba yang menyadari bayinya tak berada di dekat situ lagi.
Winarsih ikut menoleh mencari anaknya. "Itu dia dibawa ke depan. Mungkin merengek karena bosan," ujar Winarsih memandang anaknya yang sedang digendong menggunakan kain panjang batik.
"Dirja..." panggil Dean pada anaknya. Babysitter bayi itu menoleh dan mendatangi meja makan.
"Kenapa Mba?" tanya Winarsih merentangkan tangan meminta anaknya yang terlihat merengek tak nyaman dalam gendongan.
"Haus?" tanya Dean pada anaknya. Semua mata yang berada di meja makan itu kini tengah ikut memperhatikan bayi yang sedang tampak suntuk itu.
"Dirja sebentar lagi bakal jadi kakak, masak rewel sih..." ujar Dean mengambil bayinya dari tangan babysitter.
"Hah? Kakak?" tanya Bu Amalia meyakinkan pendengarannya.
"Iya, kakak. Entar lagi Dirja bakal jadi kakak. Ibunya sedang hamil lagi," ucap Dean santai.
Pak Hartono yang mendengar perkataan anaknya tertawa terbahak-bahak.
"Anakmu Ma," ujar Pak Hartono pada isterinya kemudian kembali tertawa.
"Apa sih pa..." gumam Dean masih dengan Dirja yang berada di pangkuannya.
"Kamu itu sama Anggi jaraknya 10 tahun karena papa sibuk. Kamu juga kelihatannya sibuk," ujar Pak Hartono lagi.
"Dibanding papa dulu, Dean nikah kan termasuk telat. Jadi Dean ama ibunya Dirja mau kejer target. Ya kan Dik Winar?" Dean menyenggol Winarsih dengan bahunya. Winarsih lagi-lagi mengatupkan mulutnya karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kalo diibaratkan dengan kebun sawit. Kita berdua produksi kilogram per hektarnya tinggi Pa." Dean terkekeh.
"Ya udah nggak apa-apa. Biar mama banyak temennya. Nanti permintaan mama bisa ditunda," ujar Bu Amalia.
"Permintaan apa?" tanya Dean.
"Ya sudahlah, nanti aja. Nggak apa-apa. Nanti kalau waktunya udah tepat, mama ngomong ke kalian." Bu Amalia kembali menunduk melanjutkan makan.
To Be Continued.....
__ADS_1
Akan segera dilanjutkan.
Btw, pengen bales-bales komentar belum sempet XD