CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
49. Dia, Suamiku


__ADS_3

Hari itu Winarsih melihat sisi lain dari Dean yang selama ini sama sekali tak pernah dilihatnya.


Winarsih yang sepanjang pengalamannya bekerja di rumah Keluarga Hartono sama sekali tak pernah melihat Dean tertawa lepas, hari ini menyaksikan hal itu berulang kali.


Sejak pria itu mengikrarkan sumpahnya sebagai seorang suami, Dean seperti tak berhenti tersenyum.


Genggaman tangannya hanya terlepas saat pria itu pergi mengurus sesuatu atau berbincang dengan teman-temannya.


Mengamati Dean yang sedang bercanda dan bersenda gurau bersama sahabat-sahabatnya menimbulkan suatu perasaan berbeda dalam hatinya.


Dean, yang memiliki kulit seputih gading dan bermata sipit yang selalu terlihat angkuh itu adalah suaminya sekarang.


Sesaat yang lalu, saat para tamu sudah pulang, Winarsih permisi kepada Dean untuk pergi ke kamarnya lebih dulu. Kebaya yang dipakainya saat itu sudah terasa sangat menyesakkan perutnya. Terlebih sejak tadi dia sudah menahan hasrat buang air kecilnya cukup lama.


Sesampainya di kamar, Winarsih segera membuka kebaya dan kain yang terlilit di tubuhnya dan berganti dengan sebuah daster batik miliknya.


"Leganya ...," gumam Winarsih saat berhasil melepas semua yang terasa menyesakkan di tubuhnya. Dia baru saja duduk di kursi meja rias dan berniat menghapus riasan saat pintu kamarnya diketuk tiga kali.


Winarsih bangkit untuk membuka pintu dan langsung berhadapan dengan Dean yang masih mengenakan beskap.


Dean melangkah masuk dan menduduki kursi meja rias. Sambil celingukan ke sana kemari Dean mengutarakan maksudnya untuk mengajaknya menginap di hotel malam itu.


Winarsih sedikit terkejut karena tak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Bahkan dia tak memikirkan akan di mana dia tidur.


Malah sebelum acara pernikahan itu berlangsung, Winarsih hanya mengira bahwa Dean melakukan itu hanya sekedar memberi status pada anak yang dikandungnya.


Dia benar-benar tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih banyak dari itu. Karena dalam pikiran Winarsih saat itu yang terpenting memang hal itu saja. Selain juga untuk membuat hati ibunya tenang.


Kehidupan apa yang akan dihadapinya di rumah Keluarga Hartono, Winarsih tak terlalu memikirkannya.


Dean yang hingga kemarin malam masih memasang wajah dingin saat berada di ruang kerja Pak Hartono, kini duduk di depannya dengan ekspresi setengah tersipu. Kulit wajahnya yang seputih gading sekarang tampak merona.


Winarsih mengatakan belum merasa nyaman jika berada di luar rumah. Dan itu memang benar. Meski kehamilannya sudah menginjak empat bulan, Winarsih merasa tak bisa tidur nyenyak di tempat lain.


Bahkan kemarin saat dia pulang ke Jambi, dia terbangun beberapa kali. Berpindah tempat tidur dan perubahan suasana dari kamar pembantunya itu ternyata tak mengenakkan.


"Tidur di sini? Boleh--boleh. Kenapa nggak boleh?"


Winarsih menarik nafas lega saat mendengar jawaban suaminya itu.


"Mmmm ... Win," panggil Dean.


"Ya, Pak?"


Dean bangkit dari kursi dan berpindah ke sebelahnya.


"Aku nggak suka leher kamu keliatan. Rambut kamu harus selalu digerai kalo berada di luar," perintah Dean sambil membuka gulungan rambut Winarsih.

__ADS_1


"Iya, Pak." Winarsih menjawab dengan mata yang tertuju pada genggaman tangannya yang berada di pangkuan.


"Sekarang aku suami kamu."


"Iya, Pak," jawab Winarsih masih dengan posisi pandangan yang sama. Dia merasa canggung sekali untuk melihat langsung wajah Dean yang berada di sebelahnya.


"Ayo coba sini liat aku," ucap Dean ketika telah selesai membuka gulungan rambutnya.


Kedua tangan pria itu menangkup wajahnya dan membawa wajah mereka agar berhadapan.


Saat pandangan mereka bertemu, Dean menggenggam kedua tangannya. Winarsih sekarang sedang memandang alis mata Dean yang hitam dan terbentuk rapi.


*******


Sejak Dean tiba di kamar Winarsih, istrinya itu masih memandangnya seperti anak majikan. Bukan sebagai suaminya.


Dean menggenggam tangan istrinya yang sejak tadi terlihat mengepal gelisah. Dean ingin Winarsih bisa santai saat berada di dekatnya.


"Kenalin, nama lengkapku Dean Danawira Hartono. Danawira itu artinya dermawan. Papaku kayaknya nggak salah ngasi nama itu untuk aku. Tinggi badanku 184 senti, dengan berat 79 kilo. Jadi, anak kita nanti sudah bisa dipastikan punya kaki yang jenjang seperti kakiku. Aku lahir di Samarinda tanggal dua Mei, Sabtu legi. Soal weton, kamu nggak perlu cek-cek lagi karena kita udah jodoh," jelas Dean memperkenalkan diri lengkap beserta wetonnya.


Winarsih tersenyum geli melihat ekspresi wajah Dean yang sangat serius, sangat bertentangan dengan hal yang baru saja dibeberkannya.


"Ketawa?" tanya Dean.


"Iya." Winarsih terkekeh geli. Dean kemudian ikut tertawa.


"Win," panggil Dean lagi seraya menggeser duduknya hingga berdempetan.


"Kamu jangan geser duduk lagi, nanti jatuh ke sana." Dean mengingatkan Winarsih agar jangan beringsut karena wanita itu telah duduk di ujung ranjang.


"Iya, Pak ...." Winarsih masih tersenyum dengan hal yang dikatakannya.


"Masih sore, tapi kayaknya lebih bagus karena masih terang."


"Bagus untuk apa, Pak?"


"Bagus untuk mengunjungi anak kita biar bisa lebih jelas liat penampakan bapaknya." Dean menarik wajah istrinya dan memberi wanita itu ciuman paling lembut yang pernah dilakukannya.


Beberapa waktu yang lalu dia telah memberi pengalaman yang buruk dan kasar kepada wanita itu.


Tapi hari ini, saat matahari masih tampak di langit, Dean ingin memberi Winarsih kenangan indah untuk menghapus kenangan buruk yang telah ditorehkannya di dalam ingatan wanita itu.


Dean merebahkan istrinya dengan lembut di atas ranjang kayu berukuran 160x200. Bibirnya belum berhenti menciumi tiap sudut wajah dan leher istrinya.


Sebelum tangan Dean mulai turun untuk meloloskan daster istrinya, sekilas dia sempat melirik ke arah pintu dan jendela kamar yang ternyata sudah aman.


Dean tak ingin kegiatannya ini menjadi hiburan tambahan bagi pegawai di rumahnya.

__ADS_1


Saat berhasil meloloskan daster batik itu, seluruh kesadaran Dean terkumpul menjadi satu untuk menikmati pemandangan yang beberapa bulan terakhir ini begitu ingin dinikmatinya.


Winarsih ternyata tak mengenakan bra.


Sekali lagi, Dean tenggelam saat berada di dada Winarsih. Tapi kali ini, dia melakukannya dengan sangat perlahan.


Helaan napas Winarsih yang mulai memburu membuat dirinya bersorak di dalam hati.


Dan Dean tak sanggup untuk berlama-lama lagi. Dalam hati dia sempat berpikir harusnya kancing baju pada busana pengantin berbentuk perekat saja agar memudahkan pemakainya di malam pertama.


Akhirnya dengan susah payah, Dean berhasil melepaskan seluruh pakaian yang membungkus tubuhnya.


"Win," panggil Dean pada istrinya.


"Ya, Pak?" jawab Winarsih yang tak menatapnya.


"Kamu nggak pengen liat aku gitu?" tanya Dean tersenyum geli karena istrinya sejak tadi selalu mengalihkan pandangan darinya.


Winarsih hanya mengatupkan mulutnya.


Dean bangkit dan menggeser tubuh istrinya sampai mencapai tepi ranjang.


"Harusnya begini, kan?" ucap Dean seorang diri. Dia ingin segera menemui calon anaknya tapi khawatir dengan perut Winarsih.


Sekali tarikan ringan, Dean telah membuat keadaan istrinya benar-benar polos.


Dalam keadaaan hari yang masih terang benderang, Dean mulai berekspansi ke tempat tujuannya.


"Aduh," pekik Winarsih pelan.


"Hah? Sakit?" tanya Dean khawatir.


Winarsih mengangguk.


"Maaf, ya, Win ... mungkin ini memang tandanya aku harus sering-sering berkunjung," ucap Dean seraya terus bergerak maju mundur perlahan.


Sudah setengah jam lebih Dean berkali-kali merubah posisi istrinya agar tak menyakiti wanita itu. Lagi-lagi dia kagum akan keperkasaannya.


Dan saat keringat mulai membasahi dahinya saat itu pulalah Dean berpikir untuk mengganti AC kamar Winarsih dengan yang baru.


Selanjutnya, sore itu telinga Dean mendengar suara paling merdu yang pernah didengarnya. Erangan, pekikan dan rintihan pelan Winarsih yang menikmati permainannya.


Saat Dean merasa dirinya semakin cepat mengayun, dia kembali membenamkan bibir di atas puncak dada istrinya. Dean sangat menyukai tempat itu.


Hentakan terakhir Dean membuat Winarsih sedikit mengejang. Dean telah mengirim sesuatu yang hangat untuk mengunjungi calon bayi mereka.


Seiring dengan Dean yang telah berbaring di sebelah istrinya dengan nafas yang masih memburu, seiring itu pulalah kaki tempat tidur kayu Winarsih berhenti berderit.

__ADS_1


Ternyata dia juga harus mengganti tempat tidur itu secepatnya.


To Be Continued


__ADS_2