
"Lu di mana? Udah nyampe? Oke sebentar gua ke luar." Dean menutup teleponnya.
"Win, aku masuk ke rumah dulu ya. Ryan dateng bawa barang-barang belanjaan tadi dan pesananku." Dean mengecup kepala Winarsih yang sedang berbaring memejamkan mata di sebelahnya.
Sudah pukul 8 malam dan mereka baru kembali dari ruang makan yang kosong setelah Dean berhasil memaksa istrinya untuk makan di sana.
Bu Amalia masih tak beranjak dari tempat tidur. Dan Pak Hartono seharian ini berada di kamar membujuk istrinya agar mau makan.
Winarsih merasa sedikit uring-uringan setelah pertemuan Mereka dengan Disty di mall tadi. Berkali-kali dia bertanya soal ancaman yang dilontarkan Disty.
Winarsih yang terlihat berani tadi, kini memandang Dean dengan sorot mata resah. Dia benar-benar khawatir dengan nasib suaminya. Keresahan itu bertambah dengan telepon Bu Amalia berkali-kali ke ponsel Dean yang selalu diabaikan oleh pria itu.
Winarsih tak suka jika suaminya mengabaikan panggilan sang ibu. Tapi sejak mereka tiba di kamarnya sore tadi, Dean seperti selalu menghindar membicarakan hal itu.
Dean tetap mengajaknya bercanda dan menggumulinya.
"Pak!" Suara panggilan Ryan terdengar dari teras rumah. Dean yang menuju ke sana dari bagian samping mendapat tatapan aneh dari sekretarisnya.
"Kok nggak dateng dari dalem?" tanya Ryan pada atasannya yang memasang wajah ketat.
"Gua di belakang. Di kamar bini gua," jawab Dean yang kini berdiri di teras rumahnya.
"Jadi sekarang ada kamar istri dan kamar suami?" tanya Ryan mengajak atasannya bercanda.
"Udah deh Yan, pusing gua. Ini udah semuanya? Trus yang gua minta tadi udah ada?" tanya Dean kembali ke wajah asalnya selama ini. Dingin.
"Iya, ini udah semuanya. Ini ponsel yang bapak minta, nomornya atas nama Pak Dean, cuma beda satu digit angka belakangnya." Ryan menyerahkan paperbag yang bertuliskan sebuah brand ponsel.
"Tolong bantu angkat belanjaan itu. Ikut gua ke belakang," pinta Dean.
Sesaat kemudian tumpukan paper bag yang menggunung telah berpindah ke depan pintu kamar Winarsih.
"Semua berkas yang Bapak minta urus kemarin udah selesai ya. Pak Dean memang pikirannya selalu berada selangkah di depan orang lain," ujar Ryan.
"Meski selangkah di depan, tapi gua tetap harus noleh ke belakang sesekali. Takut ada yang bawa pisau buat nikam gua," balas Dean dengan wajah sangat serius.
Setelah mencoba berjinjit dan melirik ke dalam kamar Winarsih namun tak berhasil, akhirnya Ryan pamit pada Dean.
"Makasi ya Yan, besok gua udah masuk kantor. Ada dua klien yang nggak bisa ditunda lagi" ucap Dean.
Ryan mengangguk kemudian melangkah pergi menyusuri jalan setapak yang mengarah ke samping rumah.
Ryan benar-benar tak menyangka kalau Dean yang merupakan anak kesayangan yang biasanya arogan di rumah besar itu kini mau berdesak-desakan tidur di kamar pembantunya demi istrinya.
"Bu Winar--coba liat bapak bawa apa...." Dean masuk ke kamar menenteng paper bag yang berisi ponsel.
Winarsih membuka matanya dan berbalik menatap Dean yang sedang tersenyum ceria. Suaminya itu berjalan mendekati dan duduk di tepi ranjang mengeluarkan isi paper bag satu persatu.
"Aku beliin handphone untuk kamu. Besok aku udah masuk ke kantor dan aku harus bisa denger kabar kamu setiap saat." Dean mengeluarkan sebuah ponsel terkini dan menyalakannya.
"Coba Ibu duduk dulu, bapak mau ajarin pake benda ini. Biar kalo bapak lagi meeting di luar trus Ibu pengen sate tiba-tiba, bapak bisa langsung pulang"
Winarsih bangkit dan ikut bersandar di kepala ranjang sembari tersenyum mendengar penuturan suaminya.
Hampir satu jam Dean mengajari Winarsih menggunakan semua fitur penting di ponsel itu. Sesekali Dean mengirimkan pesan teks atau pesan dari sebuah aplikasi. Kemudian mencoba menelepon istrinya dari jarak yang cukup jauh untuk mengetes suaranya.
"Halo--?" ucap Dean yang berdiri di dekat kamar mandi menggunakan ponselnya.
"Ya halo?" jawab Winarsih dari atas ranjang.
"Bapak boleh mengunjungi anak laki-laki kita malam ini?" tanya Dean.
__ADS_1
Tak sempat menjawab, Winarsih sudah terkekeh geli.
Kemudian Dean meletakkan ponselnya di ranjang dan meraih ponsel isterinya.
"Ayo kita foto berdua, untuk dijadiin gambar depan handphone kamu Bu."
Dean membuka kamera depan dan mengarahkan ponselnya ke mereka.
Winarsih tetap memasang wajah dengan senyuman tipis yang selalu membuat Dean luluh. Sementara dia mencium pipi istrinya, menggigit pelan, memasang wajah jelek sembari menekan tombol di kameranya.
Setelah menggulir layar mencari foto yang sesuai, Dean memutuskan menjadikan fotonya yang sedang menggigit pipi Winarsih menjadi gambar depan di ponsel wanita itu.
Dean kemudian meletakkan ponsel Winarsih dan mengambil ponselnya serta menyandarkan ponsel itu pada paper bag yang masih berada di ranjang.
Setelah membuka fitur kamera,
"Sekarang kita foto untuk ponselku ya, tapi aku mau gayanya begini--" Dean menangkupkan kedua tangannya pada wajah Winarsih dan mencium bibir wanita itu.
Tangannya turun mulai memijat dan mengusap puncak dada istrinya. Tangan Winarsih yang tak pernah bergerak saat Dean menggerayanginya, kini sudah mulai bergerak mencengkeram bagian pinggang kemejanya.
Kamera itu terus menyala dalam mode video.
Dan,
Drrrrrrttt Drrrrrrttt Drrrrrrrt
Ponsel Dean bergetar dan layarnya tertulis "PAPA".
Saat itu tangannya sedang asyik memijat bagian tubuh Winarsih yang menjadi favoritnya, Dean langsung melepaskan istrinya serta meraih ponsel.
"Ya Pa?" sahut Dean kepada suara papanya di seberang telepon.
"Di kamar pojok. Sakit Pa? Iya sebentar lagi Dean ke sana. Dean juga ada mau nunjukin sesuatu." Dean mengakhiri pembicaraan di telepon.
"Siapa sakit yang sakit Pak?" tanya Winarsih.
"Mama, nggak mau makan. Udah dua hari." Dean menjawab dengan senyum kecut kepada Isterinya.
"Ya sudah Pak Dean temui sekarang. Temui dan diajak makan. Biasanya kalau sudah dua hari makannya harus bubur biar nggak sakit perut. Kalau terus-terusan nggak makan, bisa masuk rumah sakit. Ayo sana." Winarsih bangkit dari ranjang dan menarik lengan Dean agar berdiri.
"Sebentar lagi," ucap Dean.
"Nggak boleh Pak, harus ke sana sekarang. Itu Pak Hartono yang udah nelepon Bapak," ujar Winarsih.
"Sebentar lagi Bu Winar--bapak mau jenguk..."
"Bu Winar ngga mau dijenguk kalau Bapak nggak pergi ke sana sekarang." Winarsih menekan handle pintu dan mendorong tubuh Dean ke luar kamar.
Setelah Dean pergi ke dalam rumah dengan wajah ditekuk, Winarsih segera mengganti dasternya untuk pergi ke dapur.
Dia berencana akan memasak sedikit bubur untuk ibu mertuanya.
*******
"Papa udah bujuk mamamu De, coba kamu bujuk lagi. Minta mama makan," ucap Pak Hartono yang duduk di tepi ranjang pada Dean yang baru masuk ke kamar.
"Ma, jangan kayak gini dong Ma. Mama harus makan, ini udah dua hari. Nanti Mama sakit. Dean juga bakal kepikiran. Dean sayang Mama, tapi Mama juga jangan buat Dean jadi serba salah." Dean menunduk untuk melihat wajah Bu Amalia yang membelakangi pintu.
Bu Amalia bangkit dari tidurnya dan duduk menatap tajam Dean.
"Kamu, udah puas jalan ke sana kemari di luar sana? Nunjukin ke orang-orang soal kelakuan kamu yang menghamili pembantumu? Kamu nggak tau setelah Disty ngeliat kamu di mall itu dia ada ngirim apa ke Mama? Video menjijikkan kamu yang sedang mencumbui perempuan itu Dean!! Mama nggak tau ada berapa banyak video semacam itu yang disimpan oleh dia. Gaya pacaran kamu selama ini juga nggak bener!! Mama tau kamu sudah dewasa dan berhak atas hidup kamu sendiri, tapi kalau hal yang kamu lakukan sampai membuat orangtuamu sulit, kamu nilai sendiri kelakuan kamu sebagai anak itu gimana. Jadi kalau kamu mau mama tetap bernapas, kamu nikahi Disty dua minggu lagi!" emosi Bu Amalia kembali memuncak.
__ADS_1
"Ma--" sergah Pak Hartono
"Papa diem dulu..."
"Gak mungkin Ma, sekarang Dean pria beristri. Dean punya istri dan calon bayi laki-laki yang beberapa bulan lagi bakal lahir. Liat ini--calon cucu Mama nantinya laki-laki. Anak dari Dean Ma...." Dean menunjukkan hasil foto USG yang baru diambilnya dari kantong.
"Sampai detik ini mama nggak percaya itu anak kamu Dean!! Pembantu itu hanya mengambil kesempatan saat kamu sedang mabuk. Lagi-lagi kamu tertipu karena kasihan dengan perempuan. Nikahi Disty dua minggu lagi atau kamu nggak akan liat mama!"
"Ngga mungkin Ma," ujar Pak Hartono.
"Iya Ma, nggak mungkin."
"Kalau pembantu itu cuma kamu nikahi secara siri itu mungkin saja Dean," pekik Bu Amalia.
"Enggak Ma, Pernikahan Dean dan Winarsih udah Dean catatkan. Dan Dean juga nggak akan nikahin Disty meski hanya secara siri. Dean nggak mau. Winarsih perempuan yang mengandung anak Dean."
BUGG
Bu Amalia memukulkan sebuah guling ke punggung anaknya.
"Dua minggu lagi pesta pernikahan itu kamu harus ada!" Teriakan Bu Amalia membuat Pak Hartono berdiri dan memijat-mijat kepalanya berjalan ke luar.
Saat Pak Hartono membuka pintu, "Win, bawa apa itu?" tanya Pak Hartono pada Winarsih yang memegang sebuah nampan yang di atasnya ada mangkok bubur, sebuah sendok dan segelas air putih yang ditutup.
Dean terperanjat saat mendengar Pak Hartono menyebutkan nama Winarsih. Dengan cepat dia berdiri untuk memungut foto USG yang terjatuh di lantai saat terkena pukulan guling dari ibunya.
"Saya tadi buat bubur Pak, untuk ibu. Katanya sudah dua hari nggak makan. Jadi baiknya makan bubur," ujar Winarsih dari depan pintu.
"Masuk aja Win, letakkan di meja nakas" ujar Pak Hartono yang melebarkan pintu untuk Winarsih.
Dean kembali mengantongi foto USG dan berdiri untuk mengambil nampan yang terlihat berat dari tangan istrinya.
"Nggak apa-apa Pak, biar saya aja." Winarsih sedikit membungkuk meletakkan nampan di meja nakas.
Dean menatap was-was ke arah ibunya. Bu Amalia sekarang sedang mengamati Winarsih dari atas ke bawah.
"Kamu denger apa yang saya bilang ke Dean tadi?" tanya Bu Amalia menatap tajam Winarsih. "Gak mungkin kamu ngga denger teriakan saya," sambung Bu Amalia lagi.
"Denger Bu," jawab Winarsih.
"Bagus, sekarang gimana menurut kamu?" desak Bu Amalia.
"Ma! Tolong Ma, ini istri Dean. Dean udah--"
"Diem kamu! Mama lagi ngomong sama perempuan yang kamu sebut istrimu ini. Mama mau tanya pendapat dia," seru Bu Amalia berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian.
"Ma, ngomong ama Dean aja. Win, kamu ke kamar aku aja dulu."
"Kamu buatin bubur untuk saya, supaya saya makan kan?" tanya Bu Amalia yang kembali berjalan mendekati Dean dengan tangannya menenteng sebuah hanger dari dalam lemari.
"Iya Bu... saya mau Ibu makan," jawab Winarsih menatap Bu Amalia yang wajahnya sangat pucat.
"Baik. Saya makan apa yang kamu masak ini. Tapi minta suami kamu pakai jas ini dan hadiri resepsi pernikahannya dengan wanita itu. Ribuan undangan sudah disebar. Menikah atau tidak menikah suami kamu harus hadir di sana. Sekarang saya yang minta tolong sama kamu untuk menyelamatkan muka saya."
Bu Amalia mencampakkan satu set jas putih yang masih terbungkus di dalam kantongan hingga terhempas ke tubuh Dean dan jatuh ke lantai.
Winarsih membungkuk untuk memungut jas itu.
"Baik Bu... saya akan membujuk suami saya untuk memakai ini dua minggu lagi dan hadir di resepsi itu," ucap Winarsih memegang jas itu di dalam dekapannya.
"Bagus, saya akan makan masakan kamu. Kamu juga harus sabar kalau nantinya Disty tinggal di sini meski dia nggak menikah dengan Dean. Semoga kamu bisa bertahan setidaknya sampai masa jabatan Pak Hartono berakhir."
__ADS_1
Winarsih diam tak menjawab perkataan ibu mertuanya. Pak Hartono pergi membanting pintu.
To Be Continued.....