CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
58. Keresahan Winarsih


__ADS_3

Pagi itu Winarsih menerima telepon Ibunya melalui pesawat telepon yang berada di ruang makan pegawai.


Winarsih paham betul bagaimana Bu Sumi yang selama ini jarang sekali meneleponnya dengan alasan tak mau mengganggu anaknya dengan kabar-kabar tak penting. Terlebih sejak dia menikah dengan Dean.


Tapi pagi itu, Bu Sumi meneleponnya dengan terbata-bata mengabarkan kalau Yanto, adiknya yang memang memiliki penyakit jantung bawaan karena kelebihan kromosom, jatuh pingsan di rumah seusai remaja itu mengupas sekeranjang besar kayu manis.


Dalam usia kandungannya yang sudah menginjak 20 minggu, dengan cepat membuat perasaannya langsung gelisah saat mendengar berita itu.


Winarsih tahu kalau ibunya pasti meminjam telepon genggam tetangga mereka yang terbilang hidup paling lumayan dibanding sesama tetangganya di gang.


Sesaat lamanya Winarsih berjalan mondar-mandir mengenakan sebuah terusan berwarna kuning dengan model yang sederhana namun sangat elegan di tubuhnya.


Sudah hampir siang saat Winarsih menghubungi Dean untuk bertanya tentang nomor ponselnya sendiri.


Sebenarnya dia tak mau mengganggu suaminya itu, tapi sudah hampir setengah jam dia mengotak-atik ponselnya namun tak berhasil menemukan.


Setelah Dean mengirimkan sederet angka melalui pesan singkat, Winarsih kembali menghubungi tetangganya untuk memberitahukan nomor ponselnya.


Dia meminta bantuan kepada tetangganya, agar segera menghubungi jika ada kemajuan atau berita lain soal Yanto.


Winarsih pergi ke dapur untuk membantu Tina memasak. Tujuan Winarsih sebenarnya hanya ingin mengalihkan pikiran dari Yanto yang sedang berada di rumah sakit kabupaten.


"Win, nggak usah di sini. Kamu di kamar aja. Nanti kalau Pak Dean tau, kami yang habis dimarahi," ujar Tina saat dia duduk di kursi kecil dan mulai memetik cabai.


"Enggak, nggak apa-apa Mbak. Saya lagi mau masak sesuatu," jawab Winarsih.


Memasak sesuatu yang sebenarnya dia juga tidak tahu apa itu.


Pikirannya masih tertuju kepada sang ibu yang sendirian menghadapi Yanto. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya itu.


"Win--win--" panggil Mbah.


"Eh? Ya Mbah?" Winarsih tergagap.


"Ngelamun kamu. Kenapa?" tanya Mbah.

__ADS_1


"Tadi ibu saya nelpon Mbah. Adik saya pingsan dan masuk rumah sakit. Dia memang mengidap penyakit jantung bawaan. Pernah beberapa kali pingsan tapi kemudian baik-baik aja," ujar Winarsih.


"Kalau mendesak, kamu bilang aja ke Pak Dean. Dia pasti ada solusi," ujar Mbah lagi.


"Tapi kata ibu tadi, nggak apa-apa. Dia bakal ngasi kabar lagi soal adik saya. Saya juga sudah menitipkan nomor ponsel ke tetangga," jawab Winarsih.


Padahal, bukan dia yang khawatir memberitahukan hal itu pada Dean. Dia hanya khawatir jika dia pulang untuk melihat keadaan Yanto ibunya akan marah.


Karena sesaat sebelum menutup telepon tadi, ibunya terdengar sedikit menekankan kata-kata,


"Kamu tenang saja, nggak usah panik. Ibu cuma memberi kabar. Jangan berpikiran macam-macam. Ibu ngasi tau kamu, biar kamu berdoa untuk adikmu. Ibu akan kembali menghubungi sekiranya ada berita apapun. Jaga kesehatan dan urus suamimu dengan baik."


Bahkan Winarsih tak sempat mengucapkan kata-kata penghiburan untuk ibunya.


Dan beberapa hari ke depannya, Winarsih terus menunggu kabar soal Yanto.


Sesekali dia menelepon tetangganya untuk menanyakan kabar, tapi tetangganya mengatakan kalau Bu Sumi masih berada di rumah sakit menemani Yanto.


Meski penasaran dan bertanya-tanya, kenapa Yanto belum kunjung bisa pulang, tapi sebetik perasaan bahwa Yanto masih bernafas dan baik-baik saja membuat perasaannya sedikit lebih baik.


Meski tak pernah memerintahkan sesuatu apapun kepada Winarsih, tapi hal itu malah membuat perasaan Winarsih sedih.


Bu Amalia seolah tak pernah menganggapnya ada.


Winarsih berusaha mengerjakan seluruh tugasnya di rumah itu seperti biasa. Dia selalu memasak sarapan atau menu makan malam Dean dengan tangannya sendiri.


Dean sering melewatkan jam makan malam untuk menghindar makan bersama orangtuanya. Pria itu tak mau istrinya makan sendirian.


Karena hal itu, Winarsih beberapa kali harus memaksa Dean untuk duduk di meja makan bersama orangtuanya. Dia meyakinkan Dean bahwa pria itu bisa kembali menemaninya makan malam sesudah makan bersama keluarga.


Dua hari lagi resepsi pernikahan untuk Dean dan Disty akan diselenggarakan. Bu Amalia sudah sangat sibuk dengan dering teleponnya yang bersahutan tak henti-henti.


Pikiran Winarsih terpecah dengan dua hal yang membuat hatinya bersedih. Yanto yang masih berada di rumah sakit, dan Dean yang sebentar lagi akan meninggalkannya semalaman untuk berdiri di sebelah seorang wanita lain.


Berbagai pikiran positif dia tekankan kepada dirinya sendiri untuk menghalau semua kekhawatiran itu.

__ADS_1


Winarsih sedang menyajikan sepiring telur dadar dan acar timun-wortel yang diminta suaminya sebagai pelengkap makan malam.


Meja makan masih kosong, hanya Dean yang melipat rapi tangannya sembari mencium aroma masakan yang dihidangkan Winarsih satu persatu ke meja.


Malam itu, Winarsih meminta Dean untuk makan bersama orangtuanya karena Pak Hartono baru saja kembali dari luar kota.


Ketika Winarsih baru meletakkan sepiring telur dadar di hadapan Dean, pria itu meraih tangan istrinya dan mengecup telapak tangan itu.


Winarsih hanya seperti biasa, tersenyum dan berusaha cepat-cepat mengakhiri kemesraan Dean karena khawatir Bu Amalia akan turun menuju meja makan sewaktu-waktu.


Dan hal yang dikhawatirkannya pun terjadi,


"Masih di sini kamu? Saya sudah bilang dari pertama kamu masuk kerja. Saya nggak suka pembantu masih berkeliaran di sekitar meja makan kalau keluarga saya sudah berkumpul," ujar Bu Amalia sembari menarik kursinya.


"Ma, masih pagi. Mama baru keluar dari rumah sakit--"


"Mama nggak ngomong sama kamu De, mama lagi ngomong dengan pegawai mama" potong Bu Amalia lagi tanpa memandang anaknya.


"Mama enggak boleh--"


Dean masih ingin melanjutkan bicaranya tapi Winarsih memegang lembut pundak suaminya.


"Maaf Bu... saya pamit ke belakang dulu," ucap Winarsih mengambil nampannya dan berbalik menuju dapur.


"Kadang-kadang demi uang manusia rela ya ngapain aja. Dihina juga masih biasa-biasa aja," tukas Bu Amalia yang tak mungkin tak didengar oleh Winarsih.


"Dua hari lagi De, inget. Mama nggak minta apa-apa lagi sama kamu. Kalo kamu mau mama sehat-sehat, dengerin mama."


Perkataan Bu Amalia mengantarkan kaki Winarsih untuk terus menuju dapur utama dan berjalan menuju kamarnya.


Hari masih pagi, tapi hatinya lebih lelah dibanding tubuhnya sendiri. Winarsih membaringkan tubuhnya di ranjang. Anak di perutnya terus bergerak bergerak dari tadi.


Dan pandangannya beralih ke sebuah hanger yang berisi satu set jas putih Dean untuk dikenakannya lusa.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2