
Selama hampir dua jam Dean duduk di sebelah ranjang Winarsih dengan sebuah kursi. Tangan kanannya terlipat menjadi bantal bagi kepalanya. Sedangkan tangan kirinya, memegangi tangan kanan Winarsih yang ia letakkan di pipi.
“Jangan tidur lama-lama, Win … bangun dulu liat aku. Baru tidur lagi, ini emang udah tengah malem, tapi kamu harus bangun dulu buat liat suami kamu. Aku kangen, Win ….” Dean mencium telapak tangan Winarsih untuk yang kesekian kalinya.
“Pak …,” panggil Winarsih.
Dean tersentak, lalu berdiri untuk melihat wajah istrinya. “Akhirnya kamu bangun juga, Win ….”
“Bapak nangis …,” lirih Winarsih saat melihat air mata Dean.
“Iya, aku nangis. Pasti kamu seneng udah bikin aku nangis. Aku takut jadi duda. Meski kata orang-orang mudah cari pengganti, tapi buatku enggak mudah. Walau banyak yang bisa sayang aku, tapi nggak akan ada yang bisa sayang sama anak-anakku kaya kamu sayang ke mereka.”
“Jadi, maksudnya apa? Banyak yang bisa sayang Bapak itu maksudnya apa? Aku baru sadar tapi ngomongnya udah gitu,” ucap Winarsih, mengangkat tangan hendak memukul Dean.
“Apa aku ada salah ngomong? Kamu jangan ngambek dulu. Aku panggil dokter buat ngecek keadaan kamu.” Dean menekan tombol untuk memanggil perawat.
Selama dua hari ke depan, Dean membaktikan dirinya merawat Winarsih di rumah sakit. Anak-anak mereka datang dan pergi setiap hari untuk mengunjungi ibu mereka.
“Hari ini aku udah bisa ke toilet sendiri, enggak usah ditemenin. Enggak enak, aku malu.”
__ADS_1
“Sejak kemarin-kemarin aku cuma nunggu di luar. Kamu malunya di mana? Lagian jarang-jarang aku ngerawat kamu kaya ngerawat bayi. Kalau enggak sakit begini, kamu pasti enggak istirahat dan kita enggak semesra sekarang. Selama dua hari ini aku ngeliat kamu 24 jam penuh. Kita lebih deket, lebih sering ngobrol. Aku udah terima tidur enggak digaruk-garuk punggungnya. Aku juga terima bakal puasa begituan selama lebih dari sebulan. Dan aku enggak minta bayaran apa-apa selain kamu cepat sehat dan jangan sakit-sakit lagi. Jangan bikin aku cemas, Win. Jangan bikin aku nangis. Jangan bikin anak-anak nangis. Kami semua masih butuh banget sama kamu “
Dean berdiri di sisi ranjang dengan sebuah handuk yang tadi digunakannya untuk menyeka wajah Winarsih. Rambut lurusnya yang masih sangat hitam, turun terurai menutupi dahi. Dengan kemeja cokelat lengan pendek bermodel kerah piyama dan celana chinos berwarna krem, Dean terlihat seperti aktor Mandarin yang sedang bersedih. Wajahnya menekuk dan sedikit lelah. Dua hari itu dia berusaha menjadi perawat 24 jam buat istrinya.
Winarsih tersenyum seraya membenarkan letak bando tipis yang tadi dipakaikan Dean ke kepalanya. Semburat merah alami di wajahnya menunjukkan kalau hari ke hari kondisinya sudah semakin membaik.
“Jangan cemberut gitu, nanti enggak ganteng. Masa pengacara selebriti paling tersohor bisa cengeng?” Winarsih mengulum senyum.
Dean mendongak menatap istrinya. “Ngeledek,” ucap Dean.
Winarsih tertawa kecil, mengulurkan satu tangannya. “Mumpung dokter udah visit dan aku udah makan pagi … Bapak juga udah ganteng, ayo, sini peluk aku.”
“Ya, jangan disenggol. Peluknya di tempat lain. Ayo, cepet sini. Aku kangen dipeluk-peluk.”
Dean melepaskan sandalnya dan naik ke ranjang. Berbaring miring melingkarkan tangan di bawah dada istrinya. Ia mengecup pipi Winarsih, lalu memejamkan mata.
“Anak keenam kita enggak bisa diselamatkan, Pak. Aku sedih,” kata Winarsih.
“Kamu memang mau enam? Aku bisa kasi. Tapi tunggu kamu sembuh dulu,” sahut Dean, menaikkan pelukannya dan memijat pelan dada Winarsih.
__ADS_1
“Ya, enggak juga. Aku sedih karena tau janinnya ada, tapi harus diangkat.”
“Aku juga sedih kalau itu. Apalagi waktu ngeliat anak kita udah gede-gede. Enggak nyangka aku punya anak sebanyak itu dan ada satu lagi yang gagal tumbuh di rahim. Aku ngerasa bersalah, sama kamu, sama calon anak kita juga.”
Winarsih ikut memiringkan tubuhnya dan menjatuhkan kepala di dada Dean. Ia lalu mendongak dan mengecup dagu suaminya.
“Mmmm … nyaman banget. Aku cinta kamu, Win. Jangan sakit-sakit lagi. Enggak akan ada yang bisa gantiin kamu,” bisik Dean di telinga Winarsih, kemudian mengecup kepala wanita itu.
“Tapi kemarin katanya banyak yang bisa sayang Bapak—”
“Tapi yang paling aku butuhkan itu Cinta Winarsih. Bukan cinta orang lain.”
Dean menunduk, menyelipkan tangan di bawah lengan Winarsih dan menggeser tubuh wanita itu agar mereka sejajar. Tatapan mereka saling menaut. Telapak tangan Winarsih menyusuri dada Dean dan terus naik sampai tiba di pipi pria itu. Jarinya perlahan terangkat dan mengukir lekuk alis Dean yang hitam pekat. Alis yang dinilainya sangat bagus sejak pertama kali melihat Dean. “Aku cinta bapaknya anak-anakku,” ucap Winarsih.
“Kehidupanku sekarang adalah kehidupan terbaik yang pernah aku jalani. Dan itu semua karena kamu, Bu. Aku cinta kamu, ibu dari lima anak-anakku.”
Dean memejamkan mata, menyapukan kecupan lembut di bibir Winarsih yang menangkup wajahnya dengan telapak tangan hangat.
...SPECIAL PART SELESAI
__ADS_1
...