CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
149. Paguyuban Winarsih


__ADS_3

Pukul 10 malam, Dean masih menggenggam tangan Winarsih untuk pergi dari satu gerobak ke gerobak pedagang kaki lima yang lain. Mereka mencicipi semua makanan yang terlihat menggugah selera.


Yanto terlihat berjalan bersama beberapa orang temannya dan asyik mengobrol. Kesulitan Yanto memperoleh teman untuk bergaul pun sekarang sepertinya telah teratasi.


Toni yang berangkat seorang diri ke Jambi, tampaknya menikmati kesendiriannya itu. Dengan cepat pria blasteran Jawa - Amerika 31 tahun itu menjadi favorit ibu-ibu.


Rio dan Langit beserta istri mereka langsung berangkat menuju hotel di kota Jambi setelah menikmati beberapa macam hidangan di pasar malam.


Bu Amalia dan Pak Hartono duduk di sebuah bangku dekat gerobak yang menyajikan mie celor. Pasangan suami istri itu bercakap-cakap dan tertawa dengan tangan yang masing-masing memegang piring.


Bu Sumi sedang menggendong Dita yang belum mau tidur malam itu di dekat stand arena ketangkasan melempar bola. Bayi itu kelihatan senang melihat stand yang berhias lampu warna-warni dengan puluhan bola yang dilemparkan neneknya bergantian.


Mbak Anggi dan mas Vino sedang menikmati santapan di gerobak nasi gemuk. Kalau di Jakarta nasi gemuk itu serupa dengan nasi uduk. Pasangan itu bersantai makan sementara kedua putri mereka bergabung bersama Yanto dan teman-temannya sedang mengantre untuk masuk ke rumah hantu.


Dean berkeliling menggandeng tangan Winarsih dengan sebelah tangannya membawa gula kapas yang masih terbungkus plastik. Winarsih tadi ngebet meminta gula kapas itu pada suaminya. Meski tak langsung dimakan karena memang sudah kenyang, alasan wanita hamil tetap klasik. Disimpan untuk nanti katanya.


Malam itu Dean berkencan di pasar malam bersama istrinya. Meski penggagas pesta itu adalah bu Amalia, ibunya. Tapi Dean patut bangga karena bisa membiayai pesta itu murni dari jerih payahnya bekerja sebagai advokat. Danawira's Law Firm kini sedang kembali bangkit dengan kembali menerima tawaran-tawaran pekerjaan dari perusahaan besar yang berkantor di ibukota.


"Mas," panggil Winarsih.


"Hmmm?" sahut Dean.


"Itu pak Ryan kapan melamar Novi? Apa mau gitu-gitu aja? Aku sebagai wanita nggak suka. Pengalaman pacaran lama itu nggak enak. Apalagi Novi kan udah cukup berumur."


"Kamu tenang aja...aku udah menurunkan ilmuku ke Ryan," jawab Dean.


"Ilmu apa?"


"Kamu tenang aja pokoknya."


Di lain tempat, di sebuah bangku panjang yang terletak di gerobak makanan paling pojok dan remang-remang, Ryan duduk berduaan bersama Novi.


"Kamu nggak ngecek email? Sapa tau ada kerjaan dari kantor yang masuk," tukas Ryan pada Novi.


"Kan malem Minggu, libur gini."


"Coba cek aja."


"Kayaknya sinyalku agak susah di sini," jawab Novi membuka ponselnya dan melihat pojok layar dengan garis sinyal tipis. "Mungkin email baru juga susah masuk karena sinyalnya jelek," sambung Novi lagi.


"Pake WiFi dari aku aja. Provider-ku lancar nih," tawar Ryan.

__ADS_1


"Boleh, sebentar." Novi mengaktifkan wifinya dan langsung mengklik nama WiFi 'punya Ryan nih'.


"Udah?" tanya Ryan.


"Udah, minta password. Password-nya apa?" tanya Novi.


"Will you marry me (maukah kau menikah denganku), jawab Ryan.


"Hah?" tanya Novi yang mengira Ryan bercanda.


"Iya, password-nya will you marry me." Wajah Ryan sangat serius saat mengatakan hal itu.


Saat Novi mencoba password itu, wajahnya sedikit merona. Ternyata setelah ia mencobanya, password dari Ryan benar. Sebuah email baru langsung masuk, email itu ternyata dari Ryan.


Sedikit heran Novi menoleh kekasihnya kemudian mengklik email itu. Tulisan yang muncul kemudian adalah sebuah banner berwarna merah bertuliskan, YES OR NO?


Novi tak bisa menahan senyumnya. Ia tahu benar dari mana Ryan belajar hal picisan namun sangat manis itu. Novi langsung mengklik reply untuk menjawab email itu.


'YES, OF COURSE' kemudian ia mengklik tombol kirim.


Ponsel Ryan seketika berdenting. Dengan senyum tertahan Ryan mengklik email baru dari Novi dan membaca jawabannya.


Ryan kemudian terkekeh dan merangkul bahu Novi dan mencium kepala kekasihnya itu. Dalam hati ia mengakui bahwa cara Dean memang tak pernah gagal dalam menaklukkan hati wanita.


"Ke mana bapak dan ibunya Dirja?" tanya bu Amalia di Minggu pagi.


"Pergi naik sepeda Pakde-nya Winarsih dari pagi tadi belum kembali," sahut Pak Hartono.


"Boncengan berdua?" tanya Bu Amalia setengah tak percaya.


"Ya iya, namanya anakmu." Pak Hartono kembali membentang korannya menikmati secangkir kopi dan duduk di teras menghadap pemandangan hamparan sawah dan kebun cabai milik tetangga.


Winarsih masih duduk di belakang boncengan sepeda seraya memeluk erat pinggang Dean. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada sebuah papan tulisan 'Paguyuban Winarsih'. Itu adalah tempat penggilingan padi yang dibuatkan oleh Dean sebagai kado untuk istri tercintanya.


"Kamu suka?" tanya Dean.


"Suka sekali," jawab Winarsih.


"Kenapa kepikiran mau buat kayak gini?" tanya Dean lagi. Ia merasa Winarsih mengeratkan pelukan dan meletakkan kepala di punggungnya.


"Aku mengutip satu pernyataan yang pernah kubaca. Menurutku pernyataan dalam bahasa Inggris itu sangat cocok dengan pemikiranku," tukas Winarsih.

__ADS_1


"Apa itu?"


"That's why in life you should do good things, people will not remember how rich or poor you are but they will remember how you are as a person." Winarsih tersenyum menoleh Dean yang tadi melirik sekilas padanya.


"Artinya itu kenapa dalam hidup kamu harus melakukan hal-hal baik, orang tidak akan mengingat seberapa kaya atau miskinnya kamu, tapi mereka akan mengingat bagaimana kamu menjadi orang. Bener begitu kan Mas artinya?" tanya Winarsih pada Dean yang tersenyum lebar karena dalam di dalam hati ia mengakui bahwa istrinya memang pintar.


"Bener Win, itu artinya."


"Aku nggak pernah kepikiran untuk bisa punya ini-itu. Bagiku dulu, bisa mengisi perut dengan kenyang dan membelikan Yanto jajan sudah lebih dari cukup. Tapi saat Tuhan memberiku lebih, aku ingin melakukan sesuatu yang berguna. Aku ingin sedikit yang kumiliki itu bisa bermanfaat untuk sekeliling. Itu makanya, setiap hari aku nggak pernah absen berdoa.... Aku berdoa supaya Mas selalu sehat dan terus mencintai aku dan anak-anakku. Aku bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan, telah diberi jodoh yang terbaik menurut versi-Nya. Dan versi Tuhan nggak pernah salah." Winarsih memeluk pinggang suaminya semakin erat.


Dengan perut yang semakin membesar di usia kehamilan melebihi 5 bulan, ia semakin membulatkan tekadnya untuk mengabdikan hidup pada keluarganya.


Pagi itu, airmata harunya kembali menetes. Cuma Tuhan yang tahu seberapa besar rasa cintanya pada Dean.


"Aku makin merasa beruntung kamu jadi istri," ucap Dean. "Kita pulang sekarang? Besok kamu bawa bakul temenin aku macul di sawah ya..." ujar Dean tertawa.


"Pegang pinggang Mas-mu erat-erat." Dean mengusap lengan Winarsih di pinggangnya kemudian melajukan sepeda untuk kembali ke rumah mereka.


...CINTA WINARSIH...


...TAMAT...


...Terimakasih pada seluruh pembaca Cinta Winarsih yang sejak awal mengikuti kisah cinta Cinderella versi juskelapa ini. Ambil pelajaran baiknya, tinggalkan yang buruk....


...Terimakasih pada Dean dan Winarsih yang telah mengisi hari-hariku dalam menulis perjalanan kisah cinta mereka....


...Penulis meminta maaf jika ada kesalahan istilah ataupun informasi yang disampaikan dalam novel ini. Sama seperti kalian, penulis hanyalah manusia biasa yang berusaha memberi bacaan romantis sekaligus tetap berisi dan bisa menyampaikan sedikit pengetahuan dengan kemasan yang manis....


...Sebelum juskelapa selesai menyusun outline Gank Duda Akut, mari dukung juskelapa menulis kisah PENGAKUAN DIJAH....


...Terimakasih sebesar-besarnya pada pembaca setia novel juskelapa sejak kali pertama masuk ke Noveltoon....


...Nantikan Extra Part CINTA WINARSIH dalam bentuk epilog....


...Jangan lupakan jargon Pak Dean :...


..."Yuk Win,"...


..."Sini cium dulu,"...


..."Pegang Win,"...

__ADS_1


..."Peluk aku Win,"...


..."Cium aku Win,"...


__ADS_2