CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
45. Pengakuan


__ADS_3

Ruang kerja itu kini hanya berisikan Dean dan Pak Hartono setelah Winarsih dan Bu Sumi pergi.


Fika yang dipanggil ke ruangan itu belum datang.


"De..." panggil Pak Hartono.


"Ya Pa," sahut Dean maju sedikit mendekati sisi meja.


"De, papa nggak tau semuanya kok bisa jadi kayak gini. Kamu yang awalnya belain pacarmu mati-matian malah berujung menghamili Winarsih. Papa nggak ngerti. Dan papa rasa juga nggak etis nanyanya karena kamu sudah mengakuinya. Tapi kita sudah berada di posisi ini De. Mamamu sudah sibuk dengan pesta pernikahan impiannya untuk kamu selama ini. Masalah papa juga masih bergulir dan papa ngerasa nggak adil kalau nggak memberi kamu pilihan. Papa juga nggak mau kamu terjebak dalam pernikahan paksa hanya demi menyelamatkan kedudukan papa. Besok pagi, nikahi Winarsih. Anak yang dikandungnya itu cucu papa. Dan papa lihat sejak tadi, kamu nggak berhenti mandangin dia. Kita pasti ribut dengan mama kamu. Dan sudah pasti posisi kita semakin terpojok kalau Disty tau. Untuk saat ini, papa cuma baru bisa ngasi kamu hal ini. Selanjutnya, papa cuma minta kamu bertahan. Kamu denger De? Doakan papa sehat-sehat." Perkataan Pak Hartono yang lembut namun mengandung perintah yang tegas menyusup ke dalam hatinya.


Dean hanya diam dan mengangguk pelan beberapa kali mendengar seluruh ucapan papanya.


Dengan kata lain, papanya juga meminta bukan hanya dirinya yang bisa bertahan. Tapi juga Winarsih.


Tok! Tok!


"Masuk," sahut Pak Hartono.


Fika masuk ke ruangan memakai satu setelan pakaian olahraga. Asisten Pak Hartono itu datang dengan sebuah tablet yang selalu berada di tangannya.


"Maaf mengganggu jam istirahat kamu Fik. Saya ada urusan yang harus disegerakan. Dean kamu kembali ke kamar aja untuk istirahat. Pagi-pagi sekali Fika akan hubungi kamu," perintah Pak Hartono pada Dean.


Dengan wajah ragu Dean berjalan menjauhi kerja Papanya.

__ADS_1


"Tapi Dean bisa ikut bantu kok Pa. Dean bisa hubungi Ryan," ujar Dean yang khawatir karena disuruh pergi meninggalkan ruangan.


"Enggak usah. Kamu istirahat aja. Percayakan pada papa dan Fika," jawab Pak Hartono yang kemudian disambut oleh senyuman dari Fika.


"Ya udah, kalo gitu Dean balik ke kamar." Dean melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan sesekali menoleh ke belakang seolah masih ragu.


Saat pintu menutup, Pak Hartono memajukan letak duduknya dan menatap Fika.


"Duduk Fik, saya ingin kamu mencatatkan sesuatu. Malam ini juga selesaikan semua urusannya, dan besok pagi semuanya selesai seperti yang saya harapkan. Kamu bisa catatkan sekarang, saya akan mulai."


Fika menekankan sidik jarinya di layar tablet kemudian menggulir layarnya.


********


"Anakmu sudah mengakuinya Ma! Apa mungkin laki-laki sepintar Dean itu mau dibohongi perempuan? Jangan panggil Dean sekarang, dia sedang bersiap-siap. Sebentar lagi dia akan turun ke bawah. Papa juga mau siap-siap. Mama juga harus siap-siap," perintah Pak Hartono kemudian pergi ke kamar mandi.


"Enggak! Mama nggak mau! Mama panggil anak itu sekarang. Gimana mau nikahi perempuan lain yang sedang hamil. Mama sedang persiapkan pernikahan mewah untuk pertengahan bulan depan sesuai mau perempuan itu. Mama sudah mengalah dengan pilihan dia itu. Sekarang malah ganti lagi. Hamil pula! Dean pasti dijebak!" Bu Amalia setengah menjerit meraih ponselnya.


"Di mana kamu? Ke kamar mama sekarang! Sekarang! Mama mau ngomong!" jerit Bu Amalia di telepon.


Pak Hartono yang tadinya hendak masuk ke kamar mandi kini berdiri di ambang pintu turut menantikan Dean yang dipanggil Bu Amalia.


Pintu kamar terbuka dan Dean muncul dengan sebuah setelan beskap putih gading. Warna beskap itu semakin membuat kulit Dean yang putih menjadi pucat.

__ADS_1


Rambutnya yang hitam legam tersisir rapi ke belakang. Wajahnya yang terlihat bahagia dan antusias tak mudah disembunyikan.


"Ganteng Kamu De," ujar Pak Hartono dari arah pintu kamar mandi.


"Sinting! Anak sama papanya sama-sama sinting!" jerit Bu Amalia.


"Apa sih Ma?" tanya Dean melirik ke pintu kamar untuk memastikan pintu itu tertutup rapat.


"Apa kamu bilang? Apa? Kamu yang apa? Apa-apaan kamu? Udah gila kamu sampai mau nikahin pembantu? Apa yang Winarsih bilang ke kamu sampai kamu percaya bahwa anak yang dikandungnya itu darah daging kamu? Mama sudah mulai terima kalau kamu bakal nikahin pacar kamu si Disty itu! Kamu yang dulu ngotot pengen nikah sama dia. Bukan Mama! Sudah Mama ikuti sesuai apa kata papa kamu. Mama urus pestanya. Undangan sudah dicetak ribuan. Tempat sudah dipesan. Pagi ini mau nikahin pembantu!! Kamu dan papa kamu mau bunuh mama?" Bu Amalia menjerit dan menangis.


"Ma, Mama tenang dulu. Jangan teriak-teriak gitu. Nanti semua orang di bawah sana bisa denger," sergah Dean.


"Biarin semua denger! Mama kan sudah bilang, kalau Disty masih bisa kita tutupi untuk jadi menantu keluarga ini dengan pantas. Lah pembantu itu bagaimana ceritanya? Mama yakin kalau bukan karena dia yang goda kamu, kamu nggak bakalan bisa menghamili dia! Rendahan betul kamu! Sekolah tinggi-tinggi kelakuan kamu murahan! Sama dengan pembantu itu!" teriak Bu Amalia lagi.


Wajah wanita itu sudah memerah dan tangannya bergetar. Pak Hartono berjalan mendekati istrinya.


"Winarsih nggak ada godain Dean Ma! Dean yang memperkosa dia waktu Dean dicekoki obat ama Disty. Dan anak yang sedang dikandung Winarsih memang anak Dean. Dan dia nggak ada nuntut apapun ke Dean meski udah jelas Dean yang salah. Dean harap Mama berhenti menghina dia karena itu memang sepenuhnya salah Dean. Salah Dean Ma, Anak Mama." Dean tersengal-sengal menahan amarahnya.


"Terserah apa kata kamu. Selama mama hidup jangan bawa dia masuk ke rumah ini! Dan pesta itu harus tetap kamu jalani. Sekarang mama nggak sudi turun buat ngeliat Kamu nikahin dia. Orang kampung nggak jelas. Keluarganya ada di mana juga nggak tau. Mimpi apa mama punya menantu seperti itu." Bu Amalia yang tadinya berdiri kini berjalan dan duduk di tepi ranjang. Sesekali wanita itu mengelap sisa air matanya.


"Kamu sudah selesai De? Pergi sana siap-siap. Papa juga mau mandi dan segera turun. Jangan biarkan Winarsih dan ibunya menunggu lama." Pak Hartono menggamit lengan anaknya dan membawanya keluar melewati pintu kamar.


"Papa siap-siap dulu Ma. Bagaimanapun jadinya nanti, papa cuma nggak mau disalahkan Dean di kemudian hari karena dia menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri." Pak Hartono kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2