CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
107. Teman Lama


__ADS_3

Dean mengumpulkan segala kesadaran dan fakta yang akhir-akhir ini diabaikannya. Winarsih dan Novi memang sering terlihat sibuk belakangan ini.


Ia tak tahu bagaimana atau gagasan dari siapa Winarsih bisa membeli saham Grup Cahaya Mas yang sedang anjlok saat ia sedang sibuk-sibuknya dengan masalah lain.


Dean tak memikirkan soal berapa banyak uang yang telah dihabiskan Winarsih untuk mengambil alih sebagian besar saham yang sedang hancur pada saat itu.


Pikirannya hanya fokus tertuju pada bagaimana Winarsih berani berspekulasi untuk menyelamatkan ribuan lembar saham itu di saat-saat terakhirnya.


"Halo Pak? ada apa? kok nelponnya pakai HP Pak Ryan? ada apa lagi?" ulang Winarsih dengan nada cemasnya.


"Enggak Bu, aku tadi minta Ryan menelpon orang lain. Enggak tau kenapa kok Ryan nyambunginnya ke kamu." Dean merasa harus berbicara dulu dengan Ryan sebelum dia berbicara pada isterinya nanti.


"Memangnya Bapak mau nelpon siapa?" tanya Winarsih sedikit curiga.


"Ya enggak, emang mau nelpon siapa lagi Sayang?" Dean menggaruk puncak kepalanya. "Aku udah kangen, cuma mau bilang itu aja."


"Masa sih?" tanya Winarsih tak percaya.


"Sekarang Bu Winar udah gitu ya sama aku. Udah nggak percaya lagi," ujar Dean sedikit geli mendengar Winarsih yang menjadi lebih ceriwis sejak memiliki bayi.


"Ya udah, udah ada panggilan boarding pesawat. Aku berangkat dulu ya, teleponnya bakal enggak aktif."


"Iya, jangan telat makan. Jangan makan sembarangan," pesan Winarsih.


"Iya Bu," jawab Dean mulai memasukkan tabletnya ke dalam tas.


Kemudian pembicaraan itu berakhir dan ia segera bangkit dari duduknya dan menonaktifkan ponsel. Pak Hartono, Fika dan Irman telah berjalan lebih dulu mendahuluinya dan Ryan.


"Kamu kok nggak cerita bini gua borong saham Grup Cahaya Mas segitu banyak? duit gua habis banyak kalo gitu," tukas Dean seraya berjalan menuju pintu masuk prioritas kelas bisnis.


"Bukannya duit Bu Winarsih ya Pak? katanya udah dikasi, gimana sih?" sungut Ryan.


"Ya itu juga, siapa yang gagasin? lu yang minta dia beli saham itu? kok berani lu kayak gitu? jangan-jangan lu yang mau ngabis-ngabisin uang gua."


"Enak aja. Waktu itu kita lagi ngobrol berdua dengan Novi, Bu Winar denger. Terus dia minta dijelasin. Ya udah, saya jelasin semuanya," tutur Ryan.

__ADS_1


"Terus Bu Winar juga keinget dengan kerjaan yang pernah diminta Pak Hartono dulu. Waktu dia bantu-bantu Pak Hartono yang sakit. Katanya dia dulu duduk berjam-jam menekuni nama-nama perusahaan yang bertransaksi dengan Grup Cahaya Mas selama 5 tahun terakhir," lanjut Ryan.


Dean membayangkan kondisi Winarsih yang saat itu sedang hamil Dirja tanpa diketahuinya. Isterinya itu masih sempat-sempatnya membantu Papanya di ruang kerja.


"Kayaknya Bu Winarsih mencerna setiap perkataan Pak Hartono saat itu. Terus dia keinget dengan daftar belasan perusahaan milik Dennis Atmaja yang sudah dicatatnya dalam selembar kertas."


"Satu pertanyaan sederhana Bu Winar yang ditanyakannya ama saya. 'apa jadinya kalo perusahaan-perusahaan di dalam daftar itu yang membeli saham?' itu yang ditanyakan pertama kali ama Bu Winar. Soalnya, Bu Winarsih bilang, Pak Hartono benar-benar khawatir dengan belasan perusahaan itu." jelas Ryan.


"Saya cuma mengatakan kalo perusahaan-perusahaan itu yang memborong saham Grup Cahaya Mas yang melingkupi semua perusahaan milik Pak Hartono, maka Grup Cahaya Mas akan jadi satu atap dengan pesaingnya. Ibarat memasukkan musuh ke dalam rumah sendiri. Perusahaan Dennis Atmaja bisa memiliki hak mengatur jalannya perusahaan dan keputusan-keputusan direksi."


"Terus?"


"Ya udah, Bu Winarsih tanya lagi, Gimana kalo dia yang beli. Karena dia liat di berita ekonomi, kalo saham Grup Cahaya Mas berada di titik terendah sekarang ini. Berhari-hari Bu Winar mempelajari soal harga jual-beli saham ama Novie. Dan dalam tiga hari aja, Bu Winar memantapkan keputusannya untuk beli semua saham yang dijual oleh pemiliknya. Bu Winar bilang, tampung semua yang jual. Jangan jatuh ke orang lain. Sederhana ya?" Ryan melirik atasannya yang tengah duduk memakai safety belt. Dean tampak tercenung mendengar penuturan Ryan barusan.


"Tapi Bu Winarsih mengajukan permintaan untuk jangan ngasi tau Pak Dean dan Pak Hartono. Katanya Pak Hartono dan Pak Dean sedang dalam urusan yang lebih rumit lagi. Jadi untuk urusan saham ini, biar nanti saja dibahas lagi. Yang penting semua saham itu telah aman di tangan Keluarga Hartono dan Grup Cahaya Mas tetap di bawah kendali Keluarga Hartono. Gitu Pak." Ryan menarik nafas setelah penuturan panjang lebarnya.


"Istri gua emang luar biasa ya Yan? dia bisa ngambil keputusan dalam beberapa hari aja dan menghabiskan hampir semua uangnya untuk borong saham milik keluarganya sendiri." Dean terkekeh geli.


Gurat wajahnya menampilkan kelegaan yang tak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Sekarang dia tak perlu lagi mengkhawatirkan soal saham Grup Cahaya Mas.


Pak Hartono yang melihat anaknya tertawa di kesunyian kabin pesawat sedikit penasaran. Apa yang membuat Dean tertawa dengan raut bahagia itu.


Beberapa jam kemudian Dean mengirimkan pesan pada Winarsih kalau ia baru saja tiba di hotel dan akan melakukan pertemuan kecil dengan Penasehat Hukum lainnya yang telah tiba di Kalimantan lebih dulu dari mereka.


"Papa mana?" tanya Dean pada sekretarisnya.


"Sudah naik ke kamar. Mbak Fika dan Irman juga udah naik. Kita naik dulu atau nunggu di lobby aja?" Ryan balik bertanya.


"Kok mereka nggak ngambil hotel yang sama aja sih? ribet banget mesti pisah-pisah." Dean mengomel karena harus menunggu penasehat hukum yang mereka sewa tiba di hotel itu.


"Ya nggak tau. Mungkin sungkan aja kalo mesti sering-sering ketemu Pak Hartono," tukas Ryan.


Dean menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa yang terletak persis di sebelah rak koran yang tersedia di lobby. Tangannya menarik salah satu koran dari rak dan ia menyilangkan kaki serta mulai membaca halaman depan koran itu.


Ryan duduk di sebelah Dean masih sibuk berkutat dengan tablet yang tak henti-henti digulir layarnya.

__ADS_1


"Lu jangan lupa delegasiin tugas lu di kantor sedetil-detilnya. Jangan sampe kabur kliennya. Kita lagi sepi. Entar kalo kliennya kabur, gaji lu yang gua potong."


Mendengar perkataan atasannya yang nyinyir itu, Ryan hanya mencibir. Bertahun-tahun bekerja menjadi bawahan Dean, dia sudah terbiasa dengan ketajaman mulut pria itu.


"Dean!!" seru sebuah suara dari arah meja resepsionis.


Dean langsung menegakkan kepalanya dari koran yang berada di pangkuannya. Suara wanita itu menggema sangat jelas di lobby.


"Apa kabar? ya ampun. Kamu nggak bales-bales pesan aku tiba-tiba udah nyampe sini aja," ujar Ara yang berjalan dengan elegan mendekatinya.


Dean terdiam membisu melihat mantan pacarnya semasa SMA yang pesan-pesannya selalu diabaikan olehnya, kini tiba-tiba berada di depan mata.


"De!!" panggil Ara membuyarkan lamunannya.


"Ya, baik--baik. Kamu apa kabar?" Dean mengulurkan jabat tangan kepada wanita itu. Seperti tersadar, Ara menyambut uluran tangan Dean layaknya seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Kamu kok gitu sih? aku mau nanya soal perusahaan yang ditinggalkan suamiku. Lagi ada perpecahan di dalamnya, jadi aku mau mengurus kepemilikan sebenarnya. Sekarang lagi dalam proses gugatan. Kemarin aku mau konsultasi aja. Soalnya kata Rio kamu sekarang udah jadi pengacara kondang dalam dunia bisnis." Ara tertawa renyah tapi Dean mulai gelisah. Lirikan mata Ryan yang teralih padanya terasa seperti sedang membedah isi kepalanya. Ryan duduk bagai sebuah CCTV hidup di sana.


"Boleh aku duduk sebentar ya?" tanya Ara pada Dean.


"Ya bolehlah," jawab Dean cepat.


Ya tentu saja boleh. Hotel itu bukan miliknya dan sofa-sofa itu juga bukan dibawanya dari rumah. Tentu saja Ara boleh duduk di sana.


"Kamu udah nikah kata Rio. Ama siapa? anak pejabat mana? atau pemilik perusahaan mana?" tanya Ara penuh rasa ingin tahu. Dia benar-benar penasaran mantan kekasihnya itu menikah dengan siapa pada akhirnya. Masih terekam jelas diingatannya bagaimana Ibu Dean yang menentang keras hubungan mereka dan mengatakan bahwa ia tak cukup baik bagi anaknya.


"Istriku?" Dean balik bertanya.


Ara mengangguk, "iya istri kamu."


"Istriku Pemilik Saham terbesar di Grup Cahaya Mas. Tapi dia masih mempertimbangkan untuk duduk di jajaran direksi atau nggak. Soalnya, yaahh..kamu tau sendiri, bayi kami sedang butuh ASI ibunya." Dean sangat puas dengan jawaban yang baru saja diucapkannya.


Dalam kasus ini, dia tak berbohong. Dia juga tak memaksa atau meminta isterinya itu untuk menjadi salah satu pemegang saham. Winarsih yang menaikkan level dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula, tanpa disadari oleh isterinya itu.


Ara terlihat mengatupkan mulutnya dan mengangguk kecil.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2