
Winarsih sudah mengalungkan sarungnya menutupi kaki hingga ke batas perut. Sebuah obat nyamuk bakar dengan lipatan kertas dan dialasi piring seng teronggok tak jauh dari tikarnya.
Malam ini pemandangan tidurnya kembali kepada langit-langit seng tipis berwarna coklat yang termakan usia.
Meski dikata Tina kamarnya di rumah Pak Hartono adalah kamar pembantu paling kecil dan sering dibilang angker, tapi dibanding dengan rumahnya ini sudah barang tentu kamar itu jauh lebih mewah.
Malam ini dia hanya ingin tidur untuk melupakan sejenak beban yang terasa semakin menghimpit dada saat melihat ibunya begitu terpukul.
Winarsih tak bisa mencegah ingatannya yang berlari terbang mengingat Dean. Mengingat rupa dan sikap anak majikannya itu. Tatapan mata Dean yang awalnya begitu dingin hingga menjadi sendu tiap menatapnya.
Jari-jari tangan Dean yang begitu bagus dan hangat saat menggenggam dan mengajarinya menggunakan alat-alat makan.
Pria itu, yang terlihat angkuh dan membangkang kepada orangtuanya, nyatanya adalah seorang anak yang sangat berbakti.
Winarsih mengusap perutnya saat merasakan sesuatu seperti bergerak di dalam sana. Apakah anaknya sedang merasakan apa yang sedang dirasakannya?
Tak terasa air matanya kembali mengalir. Membayangkan seorang anak yang entah itu laki-laki atau perempuan bakal memiliki kemiripan dengan ayahnya yang tampan.
Saat hendak kembali mengingat-ingat kenangan indahnya bersama Dean, telinganya menangkap suara yang tak asing lagi. Suara yang belakangan sering didengarnya dari pagar Pak Hartono.
Utomo.
Sebelum suara cempreng Utomo membangunkan ibunya yang sudah terlelap, Winarsih cepat-cepat bangkit dan meraih gerendel pintu rumahnya yang menyerupai kunci gudang di rumah Pak Hartono.
__ADS_1
Tak sadar Winarsih berlari ke luar dengan mengikatkan sarung di atas dada untuk melapisi daster yang dikenakannya.
"Mas Ut! Jangan teriak-teriak. Ibuku udah tidur," sergah Winarsih langsung saat menghampiri Utomo dan menggeret lengan pria itu untuk menepi sedikit dari depan pintu rumahnya.
"Win, kamu ke mana aja? Aku nyariin kamu sudah dua minggu tapi kamu nggak ada kabar. Kemarin malam aku ke rumah Pak Hartono, tapi kata satpam di sana kamu baru pulang. Aku khawatir Win. Dan kamu-- kamu kenapa?" tiba-tiba Utomo berhenti untuk melihat tubuh Winarsih dari ujung kaki hingga kepala.
Di bawah lampu teras 5 watt bercahaya kuning, Utomo menatap tubuh dan wajah Winarsih lekat-lekat. Pria itu menilik sesuatu yang berbeda dengan mantan kekasihnya itu.
"Kamu hamil Win? Benar kamu hamil? Kamu seperti sedang hamil. Perutmu besar nggak seperti biasanya. Dan tubuh kamu berubah. Jadi ini maksud perkataan satpam di rumah Pak Hartono kemarin? Setelah memutuskan hubungan denganku, siapa pria yang berkencan denganmu Win?" desak Utomo.
Winarsih masih terdiam tak menyangka kalau Utomo langsung menanyakan hal itu padanya.
"Ini alasan kenapa kamu memutuskan hubungan denganku. Karena kamu telah pergi dan tidur dengan laki-laki lain? Enam tahun pacaran denganku, kamu sok jual mahal. Tapi ketemu dengan cowok di kota sebentar saja kamu sudah mau menyerahkan diri," emosi Utomo dengan kata-katanya yang mulai meninggi.
"Bagaimana bisa Win? Seisi kampung ini sudah tau kalau kamu itu pacar aku! Kita pergi ke kota sama-sama. Enam tahun aku menjalin hubungan dengan kamu, menahan diri untuk nggak nyentuh kamu, agar aku bisa dapat istri perawan! Tapi kamu pulang dengan perut besar seperti ini! Mau ditaruh ke mana mukaku Winarsih? Kenapa kamu bisa begini Winarsih?" Wajah Utomo memerah. Pria itu mulai terisak.
Winarsih melihat air mata Utomo mulai jatuh membasahi pipinya.
"Kamu nggak tau diri apa? Enggak sadar diri? Kamu harusnya sadar kamu itu siapa bagi mereka! Jangan ngimpi kamu bakal jadi bagian keluarga itu!" pekik amarah Utomo semakin menjadi melihat Winarsih hanya diam berdiri tanpa berkata apapun padanya.
"Suara kamu Mas, nanti ibuku bangun." Winarsih menoleh ke arah pintu yang tertutup khawatir jika ibunya mendengar percakapan mereka.
"Kenapa? Kamu takut ibumu dengar tentang kelakuanmu di sana? Kalau nggak kamu yang menggoda anaknya Pak Hartono itu, mana mungkin dia ngelirik kamu. Kamu harusnya sadar diri! Inget keluargamu di kampung. Inget ibumu yang miskin dan adikmu yang idiot itu. Kamu kira anak menteri seperti Dean itu mau nerima kamu? Cuma aku Win... cuma aku yang nerima kamu itu apa adanya!" cecar Utomo dengan kemarahan yang belum juga surut.
__ADS_1
"Aku minta maaf Mas Ut, aku udah banyak hutang budi dengan Mas Ut. Aku yang salah, jangan bawa ibu dan Yanto dalam kata-kata Mas Ut" ucap Winarsih yang mulai terasa lelah dihujat oleh Utomo.
"Aku akan nikahi kamu! Biar aku yang tanggungjawab atas anak dalam perutmu itu!. Bilang pada semua orang kalau itu memang hasil perbuatanku. Harusnya kamu jujur ke aku sejak awal Win, bukannya malah pulang ke desa diam-diam. Apa kamu nggak punya malu?"
"Enggak Mas Ut, nggak perlu. Anakku bukan tanggungjawab Mas Ut. Lagian bapaknya masih hidup dan sehat. Jadi aku rasa Mas Ut, nggak perlu berbuat sampai sejauh itu. Aku baik-baik aja kok Mas," potong Winarsih cepat.
KREEKK! BRAK!!
Suara pintu rumah yang dibuka kemudian dihempaskan dengan keras mengejutkan Winarsih dan Utomo.
Mereka terdiam.
Bu Sumi berdiri di belakang Winarsih menghadap ke arah Utomo dan menatap tajam ke arah pria itu.
Winarsih beringsut mundur setengah mendekati Ibunya.
"Sudah cukup saya mendengar hinaan kamu sejak awal datang sampai yang baru kamu katakan Ut. Anak saya nggak pernah sekalipun menyulitkan hidup kamu. Enam tahun yang kamu bangga-banggakan itu nggak membuat saya menyetujui hubungan kalian. Kamu tau apa alasannya Ut? Kamu itu pria yang egois. Winarsih itu baru pacar kamu, belum ada hubungan apa-apa. Dia itu masih sepenuhnya tanggungjawab saya, ibunya. Wanita yang melahirkannya. Meski dia pulang dalam keadaan terhina sekalipun, saya yang akan menanggung malunya. Bukan kamu. Jadi kamu nggak ada hak untuk menghina anak saya seperti tadi. Sekarang saya sudah tau siapa ayah dari anak yang dikandung Winarsih. Saya sudah cukup menghajarnya mati-matian hari ini. Itu tugas saya sebagai orangtuanya. Besok saya akan antar Winarsih kembali ke keluarga majikannya. Anak yang dikandungnya itu sekarang tanggung jawab mereka. Bukan kamu. Sekarang kamu pulang saja, orangtuamu mungkin sedang menunggu di rumah. Ayo Win, masuk. Sudah tengah malam. Angin malam nggak baik untuk anakmu." Bu Sumi menarik lengan Winarsih dan menyeret anaknya masuk ke rumah.
Sesaat kemudian terdengar suara pintu yang digerendel.
To Be Continued.....
Jangan lupa like dan komentar yaaa...
__ADS_1