CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
46. Pria Dengan Beskap


__ADS_3

Winarsih yang seluruh pakaiannya basah kuyup tak bersisa kini harus berdiri di hadapan Pak Hartono yang memintanya untuk memandang Dean.


Sesaat yang lalu jantungnya nyaris berhenti saat Pak Hartono bertanya pada Dean apakah pria itu mau menikahinya atau tidak.


Selama di perjalanannya menuju Jakarta, meski tubuh dan matanya lelah tapi dia tak bisa memejamkan mata karena hal itu.


Winarsih benar-benar khawatir dengan apa yang akan dikatakan Dean. Tapi sesaat yang lalu, dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan, Dean mengakui soal anak yang dikandung olehnya.


Tubuhnya terasa lemah mendengar perkataan Dean yang terdengar tak bertele-tele di hadapan papanya.


Winarsih benar-benar tak menyangka, pria yang sedang terjerat masalah dengan tunangannya itu begitu enteng mengatakan akan menikahinya.


Bayangan akan nasib tunangan pria itu melintas berkali-kali di kepalanya. Apakah Dean dalam sekejab saja telah berubah perasaannya kepada wanita itu?


Saat Pak Hartono tadi menanyakan apakah dia mau dinikahi oleh Dean, tak mungkin dia mengatakan tidak mau.


Usaha ibunya yang mengajaknya jauh-jauh dari Jambi untuk menemui Keluarga Hartono haruslah berbuah manis. Dia tak ingin Ibunya yang berangkat dengan pakaian seadanya itu kembali pulang bersamanya untuk menanggung malu di desa.


Lagi pula, benar kata ibunya. Dia tak boleh egois dengan hanya memikirkan soal dirinya saja. Anak yang dikandungnya adalah seorang manusia yang nantinya memiliki kehidupan.


Saat Pak Hartono memintanya untuk memandang Dean, Winarsih mengumpulkan segenap keberaniannya. Pria yang berdiri di sisi kiri Pak Hartono itu kini memandangnya dengan wajah datar seperti biasa.


Winarsih tak tahu apa yang dipikirkan oleh Dean. Kenapa Dean dengan cepat mengatakan akan menikahinya jika sekarang pria itu memandangnya begitu dingin.


Dean berdiri santai dengan kedua tangannya berada di saku celana piyama. Menatapnya yang saat itu berpakaian basah kuyup nyaris compang-camping.


Winarsih malu sekali.


Malam itu, setelah Pak Hartono meminta mereka kembali ke kamarnya, hatinya lega sekaligus gelisah.


Benarkah pernikahannya dengan Dean akan bisa terjadi? Bagaimana dengan Bu Amalia yang begitu keras terhadap aturan di rumahnya?


Dean sangat menyayangi kedua orangtuanya. Mbah selalu menekankan berkali-kali bahwa Dean adalah anak yang penurut dan jarang sekali membantah sejak dulu.


Winarsih tak bisa memejamkan matanya di kamar. Pakaian yang mereka bawa benar-benar seadanya karena memang mereka tak berniat untuk berlama-lama di Jakarta.

__ADS_1


Letak tidurnya terasa begitu tak enak di ranjang. Ditambah lagi karena perutnya yang semakin membesar membuat Winarsih jadi lebih sering buang air kecil dan berkali-kali pergi ke kamar mandi.


Ibunya yang terlihat sangat lelah langsung jatuh tertidur setelah berganti pakaian kering.


Dan saat matanya masih akan terpejam, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Asisten Pak Hartono berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sudah bangun Win?" tanya Fika tersenyum. Dia bahkan belum ada tidur sama sekali, tapi Fika asisten Pak Hartono telah berdiri di depan pintu kamarnya pukul 5 pagi dengan pakaian yang sangat rapi.


"Sudah Bu," jawab Winarsih membalas senyuman Fika.


"Sebentar lagi ada yang datang untuk membantu kamu berpakaian. Jadi setelah saya pergi kamu bisa bersih-bersih dulu. Keperluan ibu kamu juga nanti akan dibawa ke sini. Kamu tunggu aja ya. Saya permisi dulu." Fika kembali tersenyum kemudian pergi menuju arah pintu dapur utama.


Winarsih beberapa saat berdiri termangu di depan pintu. Fika mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada orang yang membantunya berpakaian.


Benarkah secepat ini Pak Hartono melaksanakan pernikahan anaknya? Bukankah Bu Amalia juga tengah mempersiapkan resepsi pernikahan Dean? Bagaimana jadinya nanti?


Dengan wajah bingung penuh tanda tanya Winarsih kembali menutup pintu kamar dan membangunkan ibunya.


Seusai mandi, masih dengan mengenakan handuk, Winarsih melirik pintu kamar mandi memastikan ibunya yang masih berada di dalam.


Perlahan tangannya meraih pintu lemari. Saat tiba kemarin dan meletakkan tasnya, matanya menangkap paperbag yang berisi pakaian dalam pemberian Dean kini berada di dalam lemari.


Siapa yang menaruhnya di sana? Padahal Winarsih telah mengira bahwa bungkusan itu pasti akan segera dibuang saat dia meninggalkan kamar itu.


Di pagi yang masih gelap itu, Winarsih kembali mengenakan pakaian dalam pemberian Dean. Dia tak punya pilihan lain karena pakaian dalam yang dibawanya semua telah kotor dan kini bertengger di sebuah jemuran kecil yang berada di luar.


Tok! Tok!


Pintu kamar Winarsih kembali diketuk, saat dia membukanya tampak dua orang wanita berdiri menjinjing beberapa pakaian yang tergantung pada hanger dan masih tertutup plastik.


Winarsih diminta memakai sebuah kebaya putih gading sederhana berbahan sangat halus dengan potongan mirip kuthubaru. Dia hanya diam saja ketika ibunya melilitkan sebuah kain panjang ke tubuhnya.


Bu Sumi yang telah berganti pakaian dengan sebuah kebaya bermodel nyaris sama dengan warna coklat muda, kini berjongkok di kaki anaknya demi merapikan lipatan kain yang dikenakan Winarsih.

__ADS_1


"Ini semua maumu Win, sudah jalanmu seperti ini. Kamu harus jalani. Jangan pikirkan soal ibu dan Yanto di desa. Kami pasti baik-baik aja. Yang penting kamu jaga kesehatan. Jaga anakmu lebih baik dari bagaimana ibu menjagamu. Setelah menjadi istri, ikuti apa kata suamimu. Percayai suamimu sepenuh hati agar hatimu tenang. Jadilah istri yang baik, jadi menantu yang baik. Rawat keluargamu dengan cinta. Karena cintamu itu yang bakal menguatkan keluargamu nanti." Bu Sumi berkata lirih sambil terus merapikan lipatan kain panjang yang dipakai Winarsih.


Air mata wanita itu telah turun membasahi sapuan bedak tipis yang dipakaikan kepadanya tadi. Dia tak segera bangkit karena tak ingin air matanya terlihat oleh anaknya.


Winarsih yang mendengar perkataan ibunya sudah sejak tadi menangis. Seorang wanita yang memakaikan make up tipis dan menggulung rambutnya tadi, sudah berkali-kali menotolkan tisu ke pipinya untuk menyeka air mata.


"Saya baru dikirimi pesan, kalau Mbak Winarsih sudah selesai bisa segera ke ruang keluarga," ucap wanita yang tadi mendandani Winarsih.


Winarsih mematut dirinya sejenak di depan kaca. Dia tak pernah melihat pantulan bayangannya secantik itu.


Rambutnya hanya digulung sederhana di atas lehernya. Bulu matanya dijepit dan dipoleskan maskara tipis. Bibir dan pipinya dipoleskan warna merah jambu muda yang menonjolkan rona wajahnya pagi itu.


Dan kebaya yang membalut tubuhnya sedikit ketat, tak bisa membunyikan perutnya yang menonjol.


Semua orang yang hadir pasti akan menyadari alasan pernikahan dadakan ini diselenggarakan. Winarsih mengusap perutnya beberapa kali saat berada di depan kaca. Calon bayi mungil di perutnya bergerak seolah mengetahui kegugupannya.


"Mba Winar sudah cantik. Saya nggak perlu banyak-banyak nambahin make up." Wanita yang sedang menggandeng lengannya itu tersenyum seraya melihat pantulan Winarsih di cermin.


Pagi itu, bahkan waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi lebih sedikit. Winarsih telah berjalan menyusuri tanaman bambu untuk menuju pintu dapur.


Lengan kanannya terasa dicengkeram lebih keras oleh ibunya. Tampaknya wanita tua itu kini juga sama khawatirnya dengan dia.


Dengan menebalkan muka yang dilanda malu serta rasa rendah diri yang teramat sangat, Winarsih tiba di ruang keluarga yang kini telah tersusun beberapa kursi dengan sebuah meja beralaskan taplak putih berada di tengahnya.


Winarsih tak berani mengangkat wajahnya. Dia tak ingin melihat siapa saja yang telah hadir di sana. Dia hanya ingin saat-saat itu cepat berlalu agar dia bisa bernafas lega.


Saat tubuhnya di arahkan untuk duduk di sebuah kursi, Winarsih masih menunduk memandang kedua tangannya yang saling menaut satu sama lain seolah ikut saling menguatkan.


Tak lama dia duduk masih dengan pandangannya yang mengarah ke pangkuan, terdengar panggilan lirih yang berasal dari hadapannya.


"Win...." Suara familiar yang sering terdengar di depan pintu kamarnya.


Winarsih langsung mengangkat wajahnya untuk melihat pemilik suara itu.


Dean, dengan setelan beskap putih gading sedang menatapnya tersenyum. Tak pernah rasanya Winarsih melihat pria setampan Dean. Dean yang beberapa hari lalu terasa sangat jauh di dalam khayalannya, kini duduk berseberangan dengannya dengan setelan pakaian yang sama.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2