
Jalan-jalan pergi ke Medan
Jangan lupa beli durian
Karena durian Medan, bener-bener beda rasanya.
#bukanpantun
Likenya jangan lupa.
Selamat membaca.
************
(Beer Garden SCBD Sudirman, Hari Senin pukul 16.00)
"Lu betiga pada bisa dateng nggak?" tanya Dean pada tiga orang pria yang duduk mengelilingi sebuah meja persegi.
"Hari Sabtu pestanya?" tanya Rio.
"Iya," jawab Dean.
"Kenapa harus hari Sabtu?" tanya Langit kemudian.
"Kalo di Jambi tuh sekarang lagi musim panen rakyat. Yang merantau pada pulang. Dan kalo ada yang pesta pasti bikinnya hari Sabtu. Biar pada bisa begadang semalam suntuk, besoknya hari Minggu masih pada libur. Itu yang gua denger dari bini gua. Paham lu?"
"Gimana ya.... Gua ada urusan kantor penting Sabtu depan," ujar Toni.
"Ya udah, nggak usah--nggak usah. Gak penting banget gua ngerayu temen yang nggak niat."
"Halah Toni paling ada janji nginep ama cewenya," omel Rio.
"Ya udah, gua ikut. Lu semua pada bawa bini, 'kan? Gua sendiri aja. Gua nggak mau mematikan pasar gua sendiri, berbagai kemungkinan masih terbuka untuk gua. Lagian gua takut diceramahi mamanya Dean kalo bawa cewe ganti-ganti terus."
"Bilang aja lu lagi laris-larisnya," sahut Dean. "Eh gua nggak bisa lama-lama ya di sini," sambung Dean lagi.
"Dean susah nih sekarang, ngumpul paling lama cuma bisa dua jam, itu juga udah gelisah kayak ayam mau bertelur." Rio mendorong bahu Dean yang berada di sebelah kirinya.
"Bini gua lagi uring-uringan, ampun deh." Dean mengaduk minumannya.
"Kenapa? Sakit? Atau bini lu baca-baca chat setan di hape lu?" tanya Toni.
"Enggak, bini gua nggak mau buka-buka hape. Meski gua kadang pengen liat dia posesif periksa-periksa hape gua. Tapi selama ini nggak pernah," tukas Dean.
"Nggak pernah di depan lu, kalo lu mandi atau masih tidur bisa aja dia buka-buka." Langit mengangkat alisnya meminta persetujuan untuk sesuatu yang baru diucapkannya barusan.
"Ya bisa aja emang. Tapi gua rasa bini gua nggak tipe yang gitu. Kalo dia mau nanya, ya dia nanya aja."
"Ya udah deh, gua bayar tagihan hari ini." Dean bangkit dari duduknya. "Hari Sabtu pestanya. Jangan lupa. Gua ke Jambi hari Kamis."
"Entar lagi napa sih," pinta Rio.
"Entar bini gua ngambek kalo pulang lama. Tadi gua udah ditelfon. Dia nitip beli sate Madura," jawab Dean cepat.
__ADS_1
"Di rumah ada satpam, pembantu bejibun, supir juga ada, yang beli mesti elu?" tanya Toni sedikit tak percaya.
"Iya harus gua. Harus gua katanya Toni.... Bini gua lagi ham--" Dean terdiam seketika.
"Apa? Kenapa bini lu? Ham? Hamil?" tanya Rio.
"Iya," jawab Dean pelan sekali.
"Hah?? Serius? Kita nggak salah denger? Hamil?" tanya Langit lagi.
"Iya, berisik banget kayak nggak pernah denger kata hamil aja."
"Anak lu masih bayi, bini lu udah hamil lagi. Berapa bulan?" tanya Rio.
"Empat lebih" Dean terkekeh.
"Yang bayi baru 6 bulan lebih 'kan? Dita?" tanya Rio lagi.
"Iya," jawab Dean seraya bangkit dari duduknya.
"Gua masih satu, lu udah mau tiga. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dulu mulut lu ngatain Rio nomer satu. Sekarang lu juaranya," tukas Langit.
"Artinya peluru gua semuanya berisi. Udah, titik."
"Banyak anak entar nggak enak lagi De," tukas Toni.
"Hei Toni Setyo Anderson, kamu itu tau apa sih! Peluru lo aja belum tau ada isinya atau nggak. Kalo nggak enak lagi, nggak mungkin anak gua udah mau tiga aja. Ya udah gua balik, gua ke kasir sekarang."
Dean kemudian melangkah pergi menuju kasir. Sore itu dia harus buru-buru membeli sate Madura dan mempersembahkan pada istrinya.
************
"Kenapa khawatir?" tanya Dean.
"Perutku udah besar. Ibu nggak tau aku hamil anak ketiga. Gara-gara Mas ini," ujar Winarsih memberengut.
"Iya Win...sampai 5x ganti presiden pun itu tetap salahku seorang," jawab Dean santai seraya memangku Dita yang sedang tertawa-tawa.
"Aku ada khawatir lagi mas," ujar Winarsih.
"Apa itu Win? Ungkapkan semua kekhawatiran kamu. Dua telingaku ini diciptakan memang untuk mendengar segala kekhawatiran istriku," sahut Dean terkekeh.
"Aku serius," sergah Winarsih.
"Iya, aku juga serius. Kamu khawatir apa?" tanya Dean kemudian memasang wajah seriusnya. Ia memandang Winarsih lekat-lekat dari atas ke bawah. Dean lupa kapan terakhir kali melihat Winarsih bertubuh langsing. Hampir seluruh usia pernikahan mereka dipergunakan istrinya dengan efisien untuk mengandung anaknya.
"Mama dan papa tidur di mana. Itu Ryan sama Novi, nginepnya di mana? Rumah ibu 'kan nggak luas."
"Suruh tidur di pondok-pondok tengah sawah 'kan banyak," tukas Dean tertawa. Ia merasa bebas berbicara karena saat itu di mobil hanya ada dia dan Winarsih beserta anak-anak dan babysitter-nya.
"Mas! Ah, kesel aku." Winarsih menepuk kaki suaminya dan melengos memandang ke luar jendela.
"Heh, liat sini." Dean mengulurkan Dita kepada babysitter-nya yang duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Liat suamimu ini." Dean mencolek pinggang Winarsih yang mengedikkan bahunya.
"Males! Benci!" kesal Winarsih.
"Jangan benci-benci, nanti anakmu mirip aku lagi. Apa kamu nggak tersinggung? Kita gotong royong sama-sama tapi anakmu mirip aku semua," ujar Dean terkekeh.
"Udah ah, jangan colek-colek." Winarsih mengedikkan bahunya.
"Berapa menit kamu tahan nggak dicolek sama Mas Dean?" tanya Dean melingkarkan tangannya di pinggang Winarsih dan mencium pipi istrinya dari belakang.
"Kamu nggak usah khawatir soal papa mama nginep di mana. Soal Ryan juga nggak usah khawatir. Percaya sama kakangmu ini. Mas Dean, Koh Dean." Dean tertawa kemudian kembali mencium pipi Winarsih yang sudah tertawa geli melihat tingkah menyebalkan suaminya.
Dua jam kemudian dua mobil yang mereka tumpangi telah memasuki gapura bertuliskan 'Sugeng Rawuh Ing Desa Beringin. Adigang, Adigung, Adiguna' (Mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepintarannya). Itu adalah slogan Desa Beringin.
Saat mobil menepi di depan rumah bu Sumi, Winarsih sedikit terperangah. Hamparan ladang kangkung tempat kodok bernyanyi dan berkembang biak kini sudah tak ada.
Sebagai gantinya, sebuah rumah megah berlantai satu yang asri dengan halaman dan sebuah gazebo beratap ijuk berdiri dengan gagahnya.
"Win..." sapa bu Sumi terheran-heran melihat tampilan anak perempuannya.
"Rumah siapa Bu? Siapa yang beli tanah di sebelah? bapak Dirja bilang yang punya tanah nggak mau jual," cecar Winarsih pada ibunya.
"Hamil lagi kamu? Berapa bulan? Dita mana? Masih disusui atau nggak? Kamu ini gimana sih..." sungut Bu Sumi yang segera mengambil bayi perempuan berambut hitam legam bermata sipit dari gendongan babysitter-nya.
"Salahin bapak Dirja Bu, jangan ngomelin Winar. Bawa perut aja udah capek," tukas Winarsih.
Dean yang mendengar perkataan istrinya langsung beringsut mundur untuk menyambut mobil yang membawa Pak Hartono, Bu Amalia serta Ryan dan Novi.
"Rumah siapa Bu? Kayaknya adem," ujar Winarish. "Ibu punya tetangga baru."
"Apa kabar Bu?" sapa Pak Hartono yang baru saja keluar dari mobil seraya mengulurkan tangan Pada Bu Sumi.
Bu Sumi terlihat sangat sumringah melihat besannya yang tak pernah dibayangkannya bakal datang ke Desa Beringin hari itu benar-benar membuktikan perkataannya.
"Yang mana De? Ini?" tanya Pak Hartono pada Dean seraya menunjuk sebuah rumah baru pengganti ladang kangkung.
"Iya Pa. Win...itu rumah kita. Aku yang bikin untuk kita dan anak-anak kalo dateng ke sini. Aku yang bayar maksudnya, yang bikin tetep kontraktornya. Selama kita di Jakarta, rumah ini bakal dirawat. Aku udah urus semuanya. Kamu suka? Semua itu aku yang desain." Dean merangkul pundak Winarsih dan mengajak istrinya itu menuju ke pagar bambu berkilat setinggi pinggang.
"Mas ada-ada aja," gumam Winarsih.
"Ada-ada aja kenapa? Ini untuk kamu lho," sahut Dean mendorong pagar bambu dan melangkah masuk ke halaman rumah itu.
"Cantik Mas, aku suka. Rumah di desa." Winarsih menggenggam tangan suaminya. Dean masih berdiri di belakang istrinya.
"Untuk cinta Winarsih yang aku terima selama ini," bisik Dean lembut di telinga istrinya kemudian mengecup kepala wanita itu.
"Pak De! Ada orang WO mau ketemu," panggil Ryan saat memasuki pagar bambu. Dua orang pria mendekati Dean dengan selembar kertas di tangan.
"Ya?" tanya Dean memandang dua orang pria dengan seragam kaos polo berwarna hitam itu.
"Ini rundown acaranya Pak, semua oke. Hiburan gratisnya semua sudah terpasang. Tapi khusus hiburan tong setan-nya kita mulai malem hari aja," terang salah seorang pria.
"Hah? Pake Tong Setan?" Winarsih membulatkan matanya memandang Dean yang tertawa-tawa.
__ADS_1
To Be Continued.....