
Jangan lupa di-like dulu ya,
Membaca kemudian XD
************
"Mas aku mau yang kayak kemarin itu," ujar Winarsih pada pukul 4 pagi pada Dean yang masih terkantuk-kantuk.
"Yang gimana Sayang?" tanya Dean lembut membelai lengan Winarsih yang sedang bertumpu di dadanya.
"Yang kayak kemarin, masa nggak inget." Winarsih sedikit cemberut.
"Ya ampun, tapi rohku belum ngumpul semua. Kamu tinggal bilang aja mau yang gimana," ucap Dean penuh kesabaran.
"Ya udah, kamu baring aja." Dean bangkit dari tidurnya dan menarik lepas boxer longgar yang tadi digunakannya.
"Mas deket ke aku dulu," pinta Winarsih menarik tepi kaos suaminya. Dean memandang isterinya sedikit terbengong-bengong. Dia memang menginginkan Winarsih menjadi lebih aktif di ranjang, tapi perubahan terlalu signifikan ini juga sangat membingungkannya.
Winarsih menarik kaos Dean hingga pria itu lebih mendekat padanya.
"Aduh Win," Dean mengelus perut isterinya.
"Aku belum Mas," ujar Winarsih.
"Udah aku aja yang nyium kamu. Biar kamu cepet. Nanti belum memulai pertempuran yang sebenarnya, aku udah ke mana-mana duluan." Mata sipit yang tadinya masih mengantuk itu kini terbuka lebar saat menarik lepas pakaian isterinya.
Winarsih memejamkan matanya menikmati ciuman dan pijatan jemari suaminya di saat bersamaan. Tak perlu waktu lama tubuhnya mengejang diserang gelombang puncak kenikmatan.
"Udah?" tanya Dean.
"Buka ini semuanya, jangan halangi pemandanganku." Dean menarik daster isterinya ke atas. Winarsih segera membuka kancing dan meloloskan dasternya melewati kepala.
"Tapi maksudku bukan yang begini Mas,"
"Jadi yang bagaimana Dik Win Sayang, rasanya kan sama aja." Dean menatap isterinya dan menghela nafas.
"Yang aku suka itu," gumam Winarsih pelan.
"Yang gimana... Oh! Gitu. Ngomong yang jelas. Kamu dari tadi ngedumel gitu aku nggak ngerti. Sini--" Dean menarik tangan isterinya.
Beberapa saat yang sedikit lama.
"Udah Win?," ujar Dean yang bergerak mulai cepat.
"Belum Mas, sebentar lagi."
Dean meringis. Tak mungkin pagi ini rasanya dia mengambil jatah dua kalinya. Kemarin sore dia sudah mengeluarkan separuh persediaan tenaganya dalam kecupan Sang Isteri. Pagi ini tak seperti biasanya, Winarsih menuntut lagi.
Harusnya Winarsih pasti sedang lelah-lelahnya karena aktifitas padatnya yang nyaris seharian di acara panen ibunya. Tapi wanita itu berbaring dengan wajah segar dan ekspresi menggoda minta dipuaskan.
Dean merasa harus mengulur waktu dengan kembali memberi pijatan pada isterinya. Winarsih kembali mencapai titik maksimalnya dengan sebuah erangan keras. Dean melirik box Dirja khawatir bayi itu akan terbangun karena suara berisik ibunya.
__ADS_1
"Udah?" tanya Dean lagi. Hampir satu jam dan wajah isterinya sudah memerah dengan mata sayu yang menatapnya.
Dean merapikan sebagian rambut yang menutupi pipi isterinya. Ia segera menunduk dan mencium pipi wanita yang ingin kembali merasakan puncak kenikmatan ketiga kalinya.
"Kenapa jadi begini kamu?" bisik Dean yang bertumpu dengan kedua tangannya di atas bantal dan mulai menyatukan tubuh mereka.
"Aku cinta..." bisik Winarsih.
"Aku juga cinta, tapi kamu biasa nggak seagresif ini. Apa aku makin enak? Hmmm??" tanya Dean di telinga isterinya.
"Mas..." Winarsih mencengkeram lengan Dean yang berada di dekat kepalanya. "Mas..."
"Aduh Win... Hmmm--" Erang Dean.
Dean menghempaskan tubuhnya di sebelah Winarsih yang masih tengkurap di atas bantalnya.
"Mas Dean enak," tukas Winarsih tiba-tiba.
"Hah?" Dean memutar tubuhnya untuk memandang wajah Winarsih yang tengah tersenyum-senyum.
"Kayaknya aku makin selera liat Mas," ujar Winarsih lagi.
"Selera?" Dean masih menatap wajah Winarsih yang tersenyum menggemaskan.
"Iya, Bapaknya Dirja makin lama makin seksi. Mungkin ini perasaan wanita-wanita tiap ngeliat Mas basahin bibir."
"Ih apa sih kamu," jawab Dean mencubit pipi isterinya.
Seminggu di Jambi terasa begitu singkat. Meski Dean merasa sangat menyenangkan saat menghabiskan waktu mengobrol di bawah pohon atau di tengah pondok sawah sembari menikmati air kelapa muda, namun ada kejadian tak mengenakkan yang dialaminya.
Tepat sehari sebelum mereka kembali ke Jakarta, anak Bu Sutri yang bernama Sari itu datang ke rumah Bu Sumi mengantarkan sepanci kecil bubur merah putih. Karena Bu Sumi dan Winarsih sedang berada di belakang rumah, Dean yang mendengar panggilan dari pintu depan datang menyongsong tamu mereka.
"Ini bubur untuk Bu Sumi dan Yanto," ucap Sari.
"Oh iya, nanti saya sampaikan. Terimakasih. Dari siapa ini?" tanya Dean yang memang tak mengenali siapa tamunya.
"Dari Sari, anak Bu Surti. Mas ini suaminya Winar ya?" tanya Sari tersenyum.
"Iya, saya Dean. Suaminya Winarsih." Dean tersenyum dengan sepanci bubur di tangannya.
"Siapa Mas?" tanya Winarsih yang datang dari belakang menuju pintu ruang tamu.
"Ini temen kamu nganter bubur," jawab Dean mengangkat panci.
Winarsih datang menggelayuti lengan suaminya dan berhenti sesaat menghirup lengan Dean yang sore itu mengenakan kaos bermodel fit di badan. Otot lengan itu terlihat jelas dengan potongan kaos yang hanya menutup sedikit di pangkalnya.
"Mas wangi..." ucap Winarsih tiba-tiba di depan Sari. Sari memandang wajah Winarsih sedikit menyunggingkan senyum.
"Hmm?" Dean memandang heran wajah isterinya yang semakin hari tampak semakin seperti remaja SMA yang sedang jatuh cinta pada kekasihnya.
"Udah kenalan dengan suamiku Sar?" tanya Winarsih.
__ADS_1
"Sudah," sahut Sari sedikit mengalihkan tatapannya ke arah Dean.
"Ya udah Mas, katanya mau itu..." ujar Winarsih.
"Mau apa? Maksudnya?" tanya Dean sedikit bingung.
"Mau itu..." Winarsih memeluk pinggang Dean dan mengusap perut pria itu.
"Eh iya... Ya udah Sari, saya ke belakang dulu ya. Makasih buburnya." Dean segera terburu-buru pergi ke belakang. Ia melihat arti tatapan Winarsih tak seperti biasanya. Isterinya itu sedang mencoba memberi peringatan padanya dan pada wanita yang bernama Sari itu.
Setelah meletakkan sepanci bubur di meja makan, Dean naik ke lantai dua menuju kamar dan merebahkan dirinya.
"Aneh banget... Udah kayak remaja lagi dia. Padahal anaknya udah mau dua." Dean bergumam dengan dirinya sendiri dan mengambil tablet yang terletak di atas meja nakas.
"Mas ngapain lama-lama ngobrol sama si Sari?" tanya Winarsih yang baru masuk ke kamar.
Dean sedikit terkejut dan meletakkan tabletnya di ranjang.
"Dirja mana?" tanya Dean.
"Sama Mbahnya, digendong mau tidur. Udah kenyang nyusu." Winarsih membuka lemari dan menurunkan susunan pakaian yang telah rapi di dalamnya.
"Nggak ngobrol lama. Dia kan baru Dateng. Lagian aku nggak kenal," jawab Dean. Dia mulai kembali melihat gelagat aneh isterinya.
"Nyari apa?" tanya Dean yang melihat Winarsih masih membalik tiap lembaran pakaian.
"Baju tidurku,"
"Itu kan daster ada. Bisa dipake untuk tidur." Dean menunjuk beberapa lembar daster yang dilewatkan Winarsih.
"Bukan yang itu."
"Baju tidur yang gimana?"
"Ini dia..." jawab Winarsih mengangkat sebuah lingeri tipis berbahan tile berwarna ungu.
"Bu Win... Mau pake itu?" tanya Dean penasaran. Dirinya sedikit antusias karena biasanya Winarsih sering terlihat geli jika memegang pakaian dalam sangat seksi itu.
"Nanti malem aku mau pake ini, biar Mas nggak bisa kebayang wanita lain," tukas Winarsih dengan polosnya.
"Kamu dulu masakin aku mie rebus pake daster di dapur aja aku nggak bisa tidur Win..." sahut Dean.
"Masak sih..."
"Sekarang malah Bu Winar kayaknya nggak pede gitu. Kamu itu seksi. Aku nggak pernah mikirin perempuan lain. Mikirin kamu aja aku udah kewalahan sekarang," jawab Dean.
"Tapi aku mau make ini entar malem." Winarsih mengangkat dua potong lingerie berupa bawahan berbentuk V tipis dan sebuah atasan berbahan tile yang panjangnya sepangkal paha tanpa bra.
"Iya--iya. Pake aja. Aku juga mau liat." Dean tersenyum geli melihat wajah kekanakan Winarsih yang meletakkan lingerie itu dan mematutnya di depan kaca.
To Be Continued.....
__ADS_1