CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
99. Bunga Untuk Winarsih


__ADS_3

Sudah tiga hari Dean berada di Kalimantan. Dan pagi itu, dia sedang bersiap-siap untuk mendengarkan sidang putusan hakim atas kasus perebutan lahan oleh Hartono Coil.


Sidang pidana perebutan lahan itu digelar untuk umum. Semua elemen masyarakat yang tinggal di sekitar pertambangan tampak menghadiri dan menyimak jalannya sidang.


Dukungan masyarakat kini terbagi dua. Separuh memihak Hartono Coil tempat di mana keluarga mereka menggantungkan nasibnya sebagai karyawan. Dan separuhnya lagi, masyarakat yang telah menerima uang siraman dari LSM yang didukung oleh perusahaan Dennis Atmaja menyudutkan Hartono Coil.


Puluhan wartawan memenuhi jalannya sidang setiap harinya. Dean dengan tongkatnya, telah berdiri di tengah ruang sidang memakai toga pengacara untuk memberikan eksepsi (nota keberatan), memaparkan bukti, menyampaikan pledoi (nota pembelaan), serta tanggapan atas jawaban Jaksa Penuntut Umum dalam pledoi Hartono Coil.


Pagi itu, dengan sedikit gugup. Dean melangkahkan kakinya memasuki ruang sidang. Kalau hari ini Hakim memutuskan Hartono Coil bersalah, maka Dean akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Dia akan kembali ke Jakarta untuk menyiapkan berkas baru.


Hari itu adalah ulang tahun Winarsih. Dean berencana akan memberikan kejutan kepada isterinya itu untuk langsung kembali ke Jakarta seusai Hakim membacakan putusannya.


Sebelum berangkat ke pengadilan tadi, Dean telah menelepon istrinya yang ternyata sedang berada di luar bersama Novi. Setelah memastikan bahwa istrinya itu dalam keadaan sehat, Dean menutup telepon dengan lega. Setelah mendengar suara Winarsih, Dean merasa sudah siap dengan apapun keputusan hakim hari itu.


Pak Hartono, Ryan, Fika dan Irman sudah duduk dengan wajah tegang menanti putusan pagi itu.


Dan seperti dugaan Dean, keputusan hakim hari itu tidak membawa angin segar bagi Hartono Coil. Meski kecewa, Dean mengangguk mantap menghormati keputusan panjang lebar tapi memiliki makna menyakitkan bagi mereka.


Dean membereskan berkasnya terburu-buru untuk segera langsung menuju Bandara.


"Buruan Pak, penerbangannya 1.5 jam lagi," ujar Ryan yang ikut memasukkan semua kertas-kertas dari atas meja.


"Pasti keburu, kalo lu bantuin. Mobil udah siap?" tanya Dean yang meraup semua kertas sekalian dan menjejalkannya ke dalam tas.


"Udah, udah ready dari tadi." Ryan kemudian mengambil tas berkas itu dari tangan Atasannya agar Dean leluasa berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya.


Dan tepat 40 menit sebelum keberangkatan pesawat, mereka semua telah duduk di executive lounge dengan wajah lega karena berhasil mendaftarkan penerbangan mereka di menit-menit terakhir.


Hari sudah beranjak sore, Dean mematikan ponselnya sesaat setelah masuk dan duduk memakai sabuk pengaman di dalam pesawat.


Matanya sudah berbinar-binar membayangkan bagaimana raut Winarsih yang pasti bahagia melihat kedatangannya.


Dean telah meminta Ryan untuk memesankan sebuah buket bunga cantik untuk istrinya itu. Dan sesuai janji mereka, dalam perjalanan pulang dari bandara nanti, mereka akan singgah ke toko bunga untuk mengambil pesanannya itu.


Dean menyadari, bahwa dalam usia perkawinannya yang masih sangat muda dan seumur jagung, Dean belum pernah memberikan Winarsih barang sekuntum bungapun.

__ADS_1


Pernikahannya yang tergolong darurat, membuat Dean banyak melewatkan hal-hal yang sering dilakukannya sewaktu masih berpacaran dengan wanita lain.


Kejutan-kejutan kecil, makan malam romantis, Dean ingin melakukan semua itu untuk isterinya saat badai kencang ini berhasil mereka lewati.


Banjarmasin dan Jakarta memiliki waktu selisih 1 jam. Tentu saja Banjarmasin yang berada di Tengah Indonesia, menjalani waktu 1 jam lebih cepat dibanding Jakarta.


Ketika Pilot menggumumkan bahwa sesaat lagi mereka akan mendarat, Dean melirik jamnya. Malam itu, dia tak akan terlambat mengucapkan selamat ulang tahun kepada isterinya yang ke-22.


Dean tersenyum mengingat bahwa begitu mudanya Winarsih saat mengandung anaknya yang pertama.


Saat tiba di Cengkareng, Dean terburu-buru melangkahkan kakinya mengikuti Ryan dan Irman yang telah berjalan mendahului mereka dengan menyeret koper.


"Kita ke toko bunga dulu ya Yan, jangan lupa," pinta Dean pada sekretarisnya.


"Aman," sahut Ryan.


25 menit kemudian mereka telah tiba di depan sebuah toko bunga. Sedikit berlari Ryan terburu-buru masuk ke dalam toko itu dan keluar beberapa saat kemudian dengan sebuket bunga tulip merah yang melambangkan cinta abadi.


"Beres, bunganya udah dapet. Sekarang langsung pulang," ujar Ryan.


Dean menarik nafas lega kemudian merogoh kantongnya untuk meraih ponsel dan menyadari bahwa ponsel itu belum diaktifkannya sejak turun dari pesawat.


Dean melirik jamnya di pergelangan tangan, panggilan Novi itu masuk beberapa menit sebelum mereka mendarat tadi.


Sedetik kemudian, Dean telah menekan tombol call untuk menelepon Novi. Namun beberapa kali panggilan ditujukan kepada asisten istrinya, Novi tak juga menjawab.


Sedikit resah, Dean meminta kepada supir untuk segera menambah kecepatan menuju rumahnya. Perasaannya tak enak, ditambah lagi lalu lintas lumayan padat.


"Tolong Yan, tas gua bawa turun ya. Gua mau langsung ke atas." Dean tertatih-tatih turun dari mobil dengan tongkatnya, langsung melangkahkan kaki menaiki undakan tangga.


"Pak Dean, Pak Dean," panggil Rojak yang berlari dari arah pagar yang masih terbuka.


Pak Hartono, Fika dan Irman telah turun dari mobil dan turut menantikan apa yang ingin disampaikan oleh Rojak dengan wajahnya yang sedikit cemas.


Langkah kaki Dean terhenti di atas teras rumahnya. Dengan mengenakan kemeja dan dasinya yang telah sedikit melorot serta dengan raut wajah lelah, Dean menatap Rojak yang berlari menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dean.


"Bu Winarsih udah ke rumah sakit bareng Novi dan Pak Noto. Katanya sudah pecah ketuban mau melahirkan. Saya cuma mau memastikan saja kalau Pak Dean sudah tau," terang Rojak.


"Enggak--nggak. Belum. Saya belum tau. Udah di rumah sakit ya? aduh-- udah lama?" tanya Dean dengan wajah panik.


"Lumayan Pak, hampir dua jam yang lalu," jawab Rojak.


"Ya udah, itu naik mobil aja. Langsung ke rumah sakit," pinta Ryan.


"Nggak, bisa nggak keburu kalo pakai mobil. Macet." Dean buru-buru kembali menuruni tangga dan berjalan ke sayap kiri rumah tempat di mana semua kendaraannya terparkir.


"Mau naik apa?" seru Pak Hartono.


Dean terus berjalan cepat tanpa mengindahkan pertanyaan orang tuanya.


"Mau naik apa dia? kambuh lagi keras kepalanya," tukas Pak Hartono.


"Kayaknya Pak Dean bakal naik--" perkataan Ryan terhenti karena melihat sebuah motor besar ke luar dari sayap kiri rumah.


Dean ke luar dari sayap kiri rumahnya mengendarai motor besar BMW G 310 R kesayangannya yang selama ini selalu dirawat baik oleh Noto.


"Kaki kamu belum sembuh bener itu," ujar Pak Hartono.


"Bisa kok. Yan! ambil buket tadi!" teriak Dean.


Dengan sigap Ryan membuka pintu mobil untuk meraih buket tulip merah dan memberikannya pada Dean.


"Ambil nih!" Dean mencampakkan tongkatnya ke pelukan Ryan yang sedang tertawa melihat kelakuan Atasannya itu.


"Good Luck Pak De!" seru Ryan saat melihat Dean sudah menggeber motornya meninggalkan halaman rumah.


"Anak itu. Memang nggak bisa dilarang," gumam Pak Hartono yang memandang bangga dan kagum pada putra bungsunya.


To Be Continued.....

__ADS_1


Segini dulu, mau bernafas sebentar.


Mungkin sesaat lagi bakal dilanjut :*


__ADS_2