CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
88. Cinta Winarsih


__ADS_3

"Kamu ada lihat berita tadi malam nggak? beritanya kurang jelas tapi itu kayaknya anaknya Pak Hartono deh. Kecelakaan tunggal karena ugal-ugalan. Mabuk."


Utomo yang malam itu baru selesai makan mendatangi Jaka yang sedang menonton televisi di ruang tamu mess mereka.


"Nggak ada ngeliat. Ini di tv juga nggak ada," jawab Jaka yang memindahkan channel televisi satu persatu.


"Kok kayaknya Winarsih salah ya dapet suami. Baru aja beberapa waktu yang lalu suaminya digiring ke Kantor Polisi ama perempuan lain terjaring razia narkoba. Sekarang udah ugal-ugalan karena mabuk," ujar Utomo pada Jaka.


"Lah tapi paginya kan Winarsih yang jemput suaminya di Kantor Polisi. Winarsih keliatan di televisi santai saja. Malah makin cantik," jawab Jaka.


"Winarsih itu menutupi kelakuan suaminya Jak! ya agar bayinya lahir ada Bapaknya. Perempuan mana yang mau dapet suami kayak anak Pak Hartono itu," sinis Utomo.


"Banyak Ut! lambemu itu hati-hati kalo ngomongin anak atasan. Biasakan objektif dan nggak berspekulasi. Isi periukmu tergantung isi mulutmu Ut," jawab Jaka yang sedang memutar acara dangdutan di tv swasta.


"Cuma pendapat loh Jak, apa anak Pak Hartono itu nggak ada kerjaan atau gimana ya. Percuma kalo ganteng dan sekolahnya tinggi tapi kelakuannya minus." Utomo menghempaskan tubuhnya di kursi sebelah Jaka.


"Lah ini--omonganmu ini. Kayak kelakuanmu plus aja Ut. Denger omonganmu ini aku jadi paham kata-kata yang sering aku denger belakangan ini," ucap Jaka.


"Apa itu?" tanya Utomo.


"Jangan mengurusi dirimu sendiri, karena ada tetanggamu yang akan melakukannya. Lah kayak kamu sekarang ini. Sibuk ngurusin orang." Jaka memasukkan sepotong ubi goreng ke dalam mulutnya.


"Aku penasaran, apa Winarsih nyesel nikah sama anak Pak Hartono ya?" tanya Utomo menatap televisi dengan pandangan merenung.


"Enggak Ut, penyesalan itu kayaknya cuma milikmu seorang. Mending kamu konsen ke pedekate dengan Bu Dewi itu," tukas Jaka memandang sahabatnya.


"Udah aku chat kemarin. Pake hape baru, tapi belom dibales. Mungkin lagi nggak ada kuota," ujar Utomo.


"Bu Dewi? nggak ada kuota? yang bener itu nggak ada rasa." Jaka kembali menatap televisi. Utomo meninju lengan sahabatnya itu.


"Nanti aku coba ajak makan siang lagi," ujar Utomo.


"Jangan terlalu hemat Ut, perempuan itu nggak mesti dapet pria kaya. Tapi setidaknya mau berbagi. Kamu itu sama Winarsih dulu, ibarat nanem satu biji, tapi pengen dapet panen satu truk. Ya berat Ut!"

__ADS_1


Utomo kembali merenungkan perkataan Jaka soal kepelitannya selama ini. Sebenarnya Bu Dewi ada membalas pesannya, tapi Utomo yang sedikit ciut nyalinya karena melihat penampilan wanita itu menjadi sedikit urung meneruskan pendekatannya.


**********


"Dicari ke beberapa bengkel, nggak ada yang terima SUV hitam rusak bagian depan," ujar Ryan dari tepi ranjang Dean.


"Berita kecelakaan gua cukup sepi makanya nggak ada masyarakat yang ngeh kalo ada mobil SUV hitam masuk bengkel karena bagian depannya penyok. Terlebih lagi, laporannya gua ngalamin kecelakaan tunggal." Dean menggeser layar tablet dengan jari tangan kanannya.


"Iya nih, beritanya Pak Dean mabok berkendara sendirian ugal-ugalan," tukas Ryan menunjukkan satu laman berita.


"Cari mantan pegawai si Dennis Atmaja Yan. Mungkin dia punya mantan sopir atau mantan tukang kebun. Cari semuanya. Kalo pemikiran gua bener, salah satu mantan karyawannya, pasti dia bayar untuk nusuk gua. Selidiki mantan karyawan yang keluar baru-baru ini, selidiki aliran dana rekening tabungannya. Sampaikan itu ke agen yang kita sewa."


Dean berbicara pada Ryan dengan tangan kanan yang mencoba menaikkan seragam pasien yang tersampir begitu saja di bahunya yang mengalami dislokasi.


"Agen yang kita sewa sekarang lagi nungguin Disty yang baru ke luar dari rumah sakit," ujar Ryan.


"Bilang sama Agen tolol itu! nggak perlu lagi ngikutin dia. Udah jelas dia baru ngegugurin kandungannya. Bayarannya ya pasti penusukan gua! Jadi agen mata-mata kok tololnya minta ampun! ngapain nungguin perempuan abis--"


"Dari mana Win?" tanya Dean pada isterinya.


"Beli cemilan. Sekarang makin sering laper. Makan nasi aja rasanya nggak cukup," jawab Winarsih meletakkan belanjaannya di atas meja.


"Kenapa nggak nyuruh Novi aja? kan kamu capek mesti turun lagi ke lobby," tukas Dean.


Winarsih berjalan mendekati suaminya dan berdiri di sisi kiri tempat di mana Dean sejak tadi berusaha menaikkan seragam pasiennya menutupi bahu.


"Novi udah capek Pak, sejak kemarin dia pasti kurang tidur. Saya kasihan. Lagian kalo cuma untuk turun ke lobby aja, saya masih bisa kok," ujar Winarsih seraya menyangkutkan seragam rumah sakit itu ke bahu Dean yang terbebat oleh gips.


Dean melirik kepada Ryan dan sedikit gerakan kepalanya meminta sekretarisnya itu mengakhiri topik pembicaraan mereka tadi.


Ryan yang mengerti apa maksud atasannya langsung mengambil tablet yang disodorkan oleh Dean dan pergi menuju sofa meraih tasnya.


"Saya keluar dulu ya Pak. Menjelang sore, saya laper juga mau cari makan," ucap Ryan.

__ADS_1


"Lu ngomong ama gua tadi, juga sedang cari makan Yan," cibir Dean. Ryan yang mendengar hal itu hanya meringis seraya melangkah ke luar ruangan.


"Jadi sekarang Novinya mana Win?"


"Saya suruh pulang sebentar, biar dia bisa bersih-bersih sekalian ambil pakaian," ujar Winarsih yang duduk di tepi ranjang. Tangannya masih sibuk merapikan seragam rumah sakit suaminya.


"Kalo gitu, sekarang tinggal kita berdua aja," ujar Dean yang menoleh pintu sedang dalam posisi tertutup.


Itu adalah hari kedua Dean berada di rumah sakit. Dokter Bedah baru saja visit sore mengecek luka bekas operasinya yang sudah mengering dan mengalami kemajuan.


"Win, sini. Deket aku. Jangan jauh-jauh. Aku kangen. Udah dua malem nggak tidur nguwel-nguwel kamu. Masak kamu nggak kangen sih sama aku." Tangan kanan Dean yang bebas bergerak mengibas-ibas memberi isyarat agar Winarsih berpindah ke sisi kanannya.


Winarsih tersenyum melihat tingkah suaminya. Meski wanita itu tak bisa menyembunyikan raut muram di wajahnya.


Melihat Dean yang biasa ceria dan gesit kini terbaring dengan begitu banyak bebat di tubuh, membuat hati Winarsih sangat miris. Dia hafal betul Dean adalah tipe orang yang tidak betah berlama-lama duduk.


Pria itu suka berjalan kaki menggandeng tangannya tanpa terlepas sedikitpun.


"Cium aku Win," ucap Dean. Tangannya meraih pinggang Winarsih yang berjarak cukup jauh karena perut isterinya yang hamil tua.


Winarsih merapikan rambut Dean, kemudian menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya.


Winarsih mencium suaminya dengan lembut dan perlahan. Dean memejamkan mata dan menikmati bibir isterinya yang terasa manis dan hangat sore itu.


"Jangan tinggalin aku sendirian Win, aku nggak mau badanku disentuh perawat-perawat itu meski cuma untuk gantiin bajuku. Aku minta cinta-nya Winarsih untuk ngurusin aku di sini. Maaf banyak ngerepotin kamu," ucap Dean ketika melepaskan ciuman dan jarinya mengusap bibir Winarsih perlahan.


"Cinta-nya Winarsih enggak untuk Pak Dean minta. Tapi Winarsih yang kasi," jawab Winarsih menatap mata suaminya.


"Aku memang cinta kamu Bu," ucap Dean tersenyum.


Winarsih kembali meraih wajah suaminya dan kembali memberikan ciuman lembut seiring dengan lolosnya sedikit air mata haru sore itu.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2