
Setelah kejadian itu Bu Amalia semakin tak banyak bicara pada Winarsih. Tapi wanita itu selalu meminta Winarsih menemaninya untuk pergi terapi ke rumah sakit.
Anehnya, Bu Amalia juga meminta Pak Noto untuk selalu melalui teras gedung di mana Beer Garden tempat Dean dan teman-temannya nongkrong seusai jam kantor.
Seperti sedang mencari sesuatu, Bu Amalia mengamati teras itu. Winarsih hanya memperhatikan apa yang dilakukan ibu mertuanya tanpa menanyakan maksud dan tujuan mereka selalu melalui tempat itu.
Hingga suatu saat, sepertinya Bu Amalia mendapati apa yang ingin dilihatnya. Kembali bersama-sama mereka melihat Ara, Rio dan Toni berbincang-bincang di teras gedung itu. Tak ada Dean dan Langit bersama mereka.
Bu Amalia terus melakukan hal itu sedikitnya seminggu dua kali. Dan mereka melihat Ara beberapa kali berada di teras itu. Entah itu sendirian, atau bersama Rio. Winarsih mengambil kesimpulan bahwa Rio memang merupakan sahabat Dean yang paling dekat dengan Ara.
Terakhir kali memandang Ara dan Rio berdiri di teras itu dan berbicara sangat serius, Bu Amalia menghela nafas panjang dan segera meminta Pak Noto pergi dari tempat itu.
Winarsih menjadi resah. Tampaknya Ara semakin sering ikut mendatangi tempat di mana suaminya berkumpul bersama teman-temannya.
Dean memang tak lagi nampak ikut saat wanita itu ada di sana. Tapi Winarsih tetap saja khawatir. Ingatan Winarsih tentang bagaimana Ara yang menggelayuti lengan Dean dan cara wanita itu memandang suaminya, menimbulkan kegelisahan khusus.
***********
Dua bulan kemudian, kasus Hartono Coil telah disetujui untuk mengajukan kasasi dan mendapat jadwal sidang pada bulan berikutnya.
"Kamu denger berita nggak? Kalo minggu depan ada rapat pemegang saham Grup Cahaya Mas. Pemilik saham yang lama kan sudah pada menjual. Yang kemarin harganya anjlok. Jadi ini ada rapat pemegang saham ketemu sama Direksi," tutur Jaka yang duduk di sebelah Utomo.
"Emangnya kenapa? Kan sudah biasa kalau ada rapat," sahut Utomo polos.
"Kamu pacaran ama HRD Manager loh Ut, meski uangmu nggak nambah setidaknya isi kepalamu diupgrade. Rapat umum pemegang saham itu beda. Ini rapat tahunan. Ini semacam rapat dengar pendapat antara pemegang saham, direksi dan komisaris. Apalagi seluruh keturunan keluarga Pak Hartono biasanya bakal dateng."
"Memangnya siapa?"
"Ya anaknya Pak Hartono. Tapi anaknya yang di Belanda itu jarang dateng sih. Yang pasti datang ya Dean, suaminya Winarsih." Jaka semakin menggeser duduknya agar suaranya tak terdengar pegawai lain.
"Nanti deh coba kamu liat gimana kalau Dean itu dateng. Sekalian aku juga pengen liat siapa sih yang megang saham ini sekarang. Ini penting untuk masa depan perusahaan."
"Bukan apa-apa Ut, yang memegang saham itu juga memegang nasib kita. Kita ini kan buruh, jadi kebijakan mereka itu menyangkut dengan nasib kita juga," sambung Jaka lagi.
__ADS_1
"Yang lalu, pemegang sahamnya banyak?" tanya Utomo.
"Wah lumayan banyak, kan uangnya gede. Jadi mungkin bisa pas harga saham tinggi, ya harga perlembarnya juga mahal."
"Tapi sekarang beritanya lagi anjlok ya," sahut Utomo.
"Iya karena kasus di Kalimantan. Keadaan keluarga Pak Hartono juga sedang nggak kondusif karena kasus itu."
"Bu Dewi makin nempel ya sama kamu," ujar Jaka.
"Iya, tapi aku agak minder. Kuliahku masih lama selesainya."
"Dia kan ngerti kamu juga lagi kuliah. Kalau sama-sama cinta, pasti selalu ada jalan keluar Ut. Yang jelas kali ini kayaknya keluargamu bakal dukung. Bu Dewi kan kerjanya bagus," tukas Jaka.
"Jadi kalau rapat Pemegang Saham itu nanti, Pak Dean itu dateng juga?" tanya Utomo.
"Iya, kenapa? Pasti jadi kepingin liat lagi. Kita emang gitu. Suka liat saingan dari deket. Meski nyesek pas udah liat, tapi tetep mau diliat ya Ut?" Jaka menutup mulutnya menahan tawa.
"Kan aku udah pernah bilang. Jamannya kampanye dulu, Pak Dean dateng pake kaos partai aja bisa seganteng itu. Kalau kita yang pakai, pasti mirip kuli bangunan. Makanya--masalah kita itu bukan di baju Ut." Jaka terkekeh-kekeh pergi menuju mesin fotokopi yang terletak di sudut ruangan.
**********
Rapat Umum Pemegang Saham akan dilangsungkan tiga hari lagi. Winarsih yang merupakan salah satu pemilik saham di sana, sebenarnya harus mengikuti rapat itu.
Meski hampir dua bulan ia mempelajari soal perusahaan-perusahaan yang berada di bawah Grup Cahaya Mas, tampaknya itu belum cukup membuat ia lebih percaya diri untuk datang ke rapat itu.
"Mama mau dateng? Mba Anggi kan gak bisa ikut rapat tahun ini." Dean berbicara sambil mengoleskan selai strawberry di rotinya.
"Enggak usah, Biar Anggi ikut keputusan Direksi aja. Bulan depan dia pulang ke Indonesia, mau ikut hadir di sidang kasasi tambang," jawab Bu Amalia sambil menyendok makanannya pelan-pelan.
"Mba Anggi pulang bulan depan?" tanya Dean lagi. Bu Amalia mengangguk. "Wah, bakal rame. Dirja ketemu kakak-kakak sepupu ya--" Dean mencolek pipi Dirja yang sedang berada di pangkuan Winarsih.
"Iya nih, anak-anak pada sibuk minta ngumpul selesai rapat pemegang saham itu. Apalagi Rio, berisik banget ngajak Dean ketemu. Mungkin karena belakangan ini Dean emang sibuk nggak pernah ikut gabung lagi.
__ADS_1
"Hmmm--" Bu Amalia hanya bergumam menjawab omongan anaknya.
Tak lama kemudian Dean sudah memeluk isteri dan menciumi anaknya di teras rumah sesaat sebelum memasuki mobilnya.
"Win," panggil Bu Amalia pada Winarsih yang baru berjalan masuk masih menggendong Dirja.
"Ya Ma?"
"Mama mau ngomong sebentar." Bu Amalia menoleh ke arah babysitter Dirja yang berdiri tak jauh dari mereka. Seperti mengerti apa yang dikatakan nyonya besar rumah itu, wanita muda itu langsung mengambil Dirja dari gendongan Winarsih.
Winarsih mendorong kursi roda ibu mertuanya menuju ke ruang keluarga.
"Kamu ikut rapat pemegang saham itu?" tanya Bu Amalia yang kini sudah tahu bahwa Winarsih memiliki sebagian saham di Grup Cahaya Mas.
"Belum tau Ma, saya kok rasanya kurang percaya diri." Winarsih duduk di sofa berhadapan dengan ibu mertuanya. Tangannya terlipat di atas pangkuan.
Bu Amalia memandang wajah menantunya yang dipenuhi keresahan itu. Saat ini Winarsih seperti sedang dipaksa mengejar banyak ketertinggalannya.
"Kamu harus ikut. Saham Papa Dean masih yang terbesar di sana. Kamu nggak perlu mikirin soal keputusan-keputusan itu. Apa yang kamu pelajari selama ini, cukup dimengerti. Jawab pertanyaan seperlunya saja di sana. Kalau ada pertanyaan yang nggak kamu mengerti kamu diem aja. Jangan tersenyum. Kamu denger Mama?" tanya Bu Amalia dengan suara tajam.
"Denger Ma," jawab Winarsih menatap wajah ibu mertuanya.
"Kamu harus menegakkan kepalamu setiap kali jalan. Jangan tersenyum sama setiap orang. Kamu denger tadi Dean ngomong apa? Setelah rapat pemegang saham, Rio ngebet ngajak ketemu." Bu Amalia yang raut wajahnya kini telah kembali menjadi wanita yang disegani di rumah itu menatap lurus Winarsih.
"Siang ini kita pergi toko pakaian. Setelah selesai rapat pemegang saham itu, Mama mau kamu melakukan sesuatu. Kali ini kamu harus ikut apa kata Mama. Mengerti?" tanya Bu Amalia lagi.
"Mengerti Ma,"
To Be Continued.....
Minta Likenya ya... Winarsih-Dean bakal selesai sebelum Ramadhan :*
Next Up Segera
__ADS_1