CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
47. Dia, Istriku


__ADS_3

Rasanya Dean sudah duduk seharian di kursi itu tapi Winarsih tak juga muncul menampakkan dirinya. Sejenak timbul kekhawatiran bahwa wanita itu akan kembali lari meninggalkannya.


Tapi seperti mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikiran anaknya, Pak Hartono menepuk-nepuk lengan kiri Dean yang sedari tadi terlipat di atas meja dengan jari mengait satu sama lain.


Dean yang gugup kembali menggoyang-goyangkan kakinya seperti penjahit hingga Pak Hartono harus menepuk paha Anaknya untuk berhenti membuat getaran di meja.


"Gugup banget ya?" tanya Pak Hartono tanpa menoleh pada Dean.


"Enggak Pa," jawab Dean singkat sembari membasahi bibirnya berulang-ulang.


Pak Hartono hanya tersenyum melirik tingkah Dean yang mengingatkannya dengan Dean yang masih kanak-kanak.


Tentu saja Pak Hartono amat marah dengan apa yang dilakukan Dean pada Winarsih. Tapi di sisi lain dia juga bangga karena Dean telah dewasa dan berani bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya.


Di dalam hatinya, Pak Hartono memuji Dean yang sedang berusaha menjadi anak yang berbakti dan pria yang bertanggungjawab dalam satu waktu.


Selain menikahkan Dean dengan wanita yang begitu diinginkan anaknya saat ini, apalagi yang bisa dilakukannya sebagai orang tua?


Meski tanpa kehadiran istrinya dan hanya dihadiri oleh beberapa orang, setidaknya Pak Hartono bisa lega karena telah memberikan status jelas kepada Winarsih dan calon cucunya.


Ryan yang ditelepon Dean dini hari tadi harus mendengar perkataan atasannya berulang-ulang soal pernikahan dadakan yang akan diadakan di kediamannya.


Berkali-kali Ryan menanyakan soal kenapa bisa? Siapa calon mempelai wanitanya? Kapan terjadinya? Sudah yakin atau belum?


Hingga Dean harus sedikit membentak sekretarisnya itu untuk segera melaksanakan apa yang dimintanya tanpa banyak bertanya.


Ryan muncul di pintu kamarnya subuh tadi dengan sebuah kotak berisi kalung dengan liontin berlian mungil yang akan digunakan Dean untuk menikahi Winarsih.


Ryan setengah bersungut-sungut saat menceritakan usahanya yang harus menelepon manajer outlet perhiasan agar memperkenankannya berbelanja saat dini hari.


Kini Ryan duduk di sebelah Fika dengan wajah merona dan berkali-kali melirik ke arah Asisten Papanya itu. Rasa-rasanya Dean ingin sekali menepuk jidat sekretarisnya itu.


Tiba-tiba Fika berdiri menghampiri Pak Hartono ke meja bertaplak putih. "Calon pengantin wanitanya sudah selesai dan sedang menuju ke sini Pak."


Leher Dean rasanya menegang karena kepalanya dengan cepat langsung menoleh ke arah ruang makan.


Dean mengatupkan mulutnya seperti sedang menatap pemain sirkus yang sedang melakukan pertunjukan keseimbangan dengan meniti sebuah tali.


Winarsih muncul mengenakan sepasang kebaya sederhana yang membalut tubuhnya sedikit ketat. Dengan dipegangi oleh ibunya dan seorang wanita lain yang Dean tak tahu itu siapa, Winarsih melangkah perlahan-lahan menaiki tiga tangga menuju ruang keluarga.


Kain yang terlihat begitu sempit dan menyulitkan langkah Winarsih membuat Dean sedikit khawatir. Dean menggigit bibirnya karena takut kalau-kalau Winarsih bisa tersandung dan melukai calon anak mereka.

__ADS_1


Saat mengucapkan kata 'anak mereka' di dalam pikiran, Dean merasa ratusan kupu-kupu sedang senam pita di dalam perutnya.


Dean menarik nafas panjang sembari melirik ke sekelilingnya. Jika papanya sedang tak berada di sebelah, mungkin Dean akan mendatangi Winarsih dan mengangkat wanita itu agar segera tiba di dekatnya.


Langkah Winarsih semakin mendekat. Dan Dean yang tak pernah melihat wanita itu dalam balutan pakaian lain, selain pakaian bekerjanya yang itu-itu saja serta beberapa potong daster batik yang sudah memudar, kini memandang Winarsih dengan tatapan sayu dan mendamba.


Rambut wanita itu hanya digulung sederhana di atas tengkuknya, tapi hal itu malah membuat Dean semakin gelisah karena kini semua orang bisa melihat leher Winarsih yang jenjang.


Wajahnya hanya diberi sentuhan make up tipis dengan memakai warna merah jambu muda sebagai dasarnya.


Saat Winarsih dituntun ke sebuah kursi di seberangnya, wanita itu terus-terusan menunduk. Tak berani menatap semua orang yang berada di ruangan itu.


Dean melihat kedua tangan Winarsih terkepal dan jari-jarinya bergerak gelisah. Wanita yang sedang duduk di seberangnya ini tampak begitu ketakutan.


"Win," panggil Dean.


Winarsih langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Dean. Pandangan mereka bertukar cukup lama. Dean tersenyum menatap calon istrinya. "Ada aku, jangan takut" bisik Dean.


Senyuman Winarsih yang sudah lama tak dilihatnya kini menghias tipis wajah wanita itu.


Pandangan Dean kemudian menelisik tiap sudut wajah dan tubuh Winarsih. Hingga pandangannya turun dari leher hingga ke dada dan tonjolan di perut wanita itu.


Dia tak menyangka kalau dirinya begitu perkasa dan begitu mudah menghamili Winarsih.


Apa dia harus berterimakasih pada Disty untuk hal ini?


Saat sedang tersenyum-senyum memandangi Winarsih, bahunya terasa dicolek. Pak Hartono yang sedang berdiri dan berbicara pada Fika menatap Dean.


"Berdiri De! Tuker tempat duduk. Kamu duduk di sebelah Winarsih. Kamu kira senyum-senyum aja terus bisa langsung sah gitu?" sungut Pak Hartono yang tampaknya sudah sejak tadi mengamati tingkah putra bungsunya itu.


"Iya Pa...." Dean berdiri dan berpindah tempat.


Ketika mengitari meja, selintas Dean melihat pandangan Irman yang menatap ke arah Winarsih. Sejak kemarin-kemarin, Dean memang sudah sebal sekali tiap melihat cara Irman memandang calon istrinya itu.


Dengan wajah yang sedikit cemberut, Dean duduk di sebelah kanan Winarsih yang masih menautkan kedua tangannya berada di atas pangkuan.


"Bisa kita mulai?" tanya seorang pria setengah baya yang duduk di sebelah Pak Hartono.


"Silakan Pak," jawab Pak Hartono dengan suara tenang dan berwibawa.


"Mari kita mulai--"

__ADS_1


Dan dalam beberapa waktu yang terasa sangat panjang mendengar pria paruh baya memperkenalkan diri dan memberikan segala nasihat dan petuah, akhirnya pria itu melakukan sesuatu yang dinanti-nanti Dean sejak tadi.


Pria itu mengulurkan jabat tangannya kepada Dean. Secepat kilat Dean menyambut uluran tangan pria setengah baya di seberangnya, yang namanya bahkan tak sempat diingat olehnya.


Dalam sekali nafas, Dean mengucapkan rentetan kata-kata yang harus disebutkannya dengan lancar bak sedang melakukan pembelaan di pengadilan.


Saat deretan kata-kata yang dirasa telah diucapkannya dengan benar, Dean menoleh ke arah Pak Hartono yang mengembangkan senyum di wajahnya.


"SAH" ucap orang-orang yang berada di sekeliling mereka nyaris bersamaan.


Pak Hartono menepuk-nepuk pundak Dean dan berkata, "Sudah sah De."


Dean mengedarkan pandangannya berkeliling menatap orang-orang yang hadir di sana satu persatu.


Ryan yang menatapnya dengan pandangan yang berarti 'cieeee' serta tiga orang pria sahabat terdekatnya yang menatapnya dengan pandangan berarti "How Can? (Kok bisa)?"


Dean nyaris tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Toni, Rio dan Langit yang terlihat impresif dan mengejeknya dalam satu waktu.


Ketiga manusia ajaib itu menurut saja ketika disuruh datang bersetelan rapi di pagi buta.


Ibu Winarsih tampak duduk tenang sambil sesekali menyeka air matanya. Dean sempat memikirkan apa yang sedang dilakukan mamanya di kamar saat dia tengah berbahagia seperti sekarang.


Saat pria setengah baya tadi menyodorkan beberapa kertas yang harus ditandatanganinya, tanpa perlu membaca isi yang tertera di dalam kertas itu, Dean membubuhi tanda tangannya dengan secepat kilat.


Kini pandangannya berpindah pada wanita yang sejak tadi duduk diam di sebelahnya.


Saat melirik kedua tangan Winarsih yang kini telah menjadi istrinya masih bertaut satu sama lain, Dean memindahkan tangan kirinya ke atas pangkuan wanita itu.


Merasa tangan istrinya begitu dingin, Dean sedikit menunduk untuk berbisik di telinganya.


"Win," panggil Dean pelan.


"Ya Pak," jawab Winarsih tak kalah pelannya.


"Entar malem kita tidur di mana?" lirih Dean.


"Ha?" Winarsih membulatkan matanya menatap bingung ke arah Dean yang sedang mengigit bibir bawahnya seraya menanti jawaban istrinya.


To Be Continued.....


Jangan lupa likes, comments ya...

__ADS_1


__ADS_2