
Like dulu, baca kemudian.
Disarankan untuk membaca setelah rebahan di kasur.
************
Bu Amalia kini telah mampu berjalan dengan bantuan tongkat tunggal dan mencapai semua penjuru rumah. Wanita tua itu telah sangat luwes memakai tongkat yang menyangga sebagian berat tubuhnya meski ia tetap harus menggunakan lift di sisi kanan rumah jika hendak naik turun dari dan ke lantai dua.
Seiring dengan Utinya yang semakin lancar berjalan, Dirja pun tampaknya tak mau ketinggalan memperlihatkan kemampuannya.
Balita itu telah menjadi rekan tandem Utinya mengetes kekuatan kaki.
Dirja yang semakin hari semakin dekat dengan Bu Amalia, kini sudah bagai pinang di belah dua. Wajah keduanya semakin mirip satu sama lain. Nenek dan cucu itu bagai tak terpisahkan. Winarsih sebagai ibu Dirja terkadang malah merasa kesepian karena setiap siang bayi itu selalu tidur bersama Utinya.
Dean yang terkadang mendatangi kamar Bu Amalia untuk mengambil Dirja di waktu libur kantornya sering kembali dengan tangan hampa.
"Sama Mama aja, kamu nemenin ibunya Dirja sana. Hamilnya udah makin besar. Dikit-dikit cemberut kalo kamu pulang kemaleman. Makanya jangan nongkrong aja, istrinya dibawa." Dean seringnya malah keluar kamar Bu Amalia dengan dibekali omelan.
Winarsih masih menjalani proses belajar kejar paket C-nya dari rumah. Dengan keistimewaan tertentu yang berhasil diurus Dean untuk isterinya, Winarsih tak harus keluar rumah setiap hari. Novi membantu semua urusan administrasi yang menyangkut pendidikan isteri atasannya itu.
Kian hari Winarsih kian cantik dan pintar berdandan. Walaupun begitu, kehamilannya yang semakin besar membuat rasa percaya dirinya semakin menurun.
Winarsih menjadi lebih sering mematut tubuhnya yang terlihat membengkak di mana-mana. Ia merasa dirinya gemuk dan jelek. Meski Dean meyakinkannya bahwa meski ia sekarang gemuk, tapi bagi suaminya itu, ia semakin cantik.
Setiap pagi Winarsih melepas Dean pergi ke kantor bagai melepas suaminya itu pergi ke medan perang. Terkadang terlihat ceria sekali, namun seringnya bersungut-sungut mengatakan kalau suaminya itu berdandan terlalu tampan hanya untuk ke kantor.
Dean sudah menjalani siksaan kecemburuan luar biasa selama 6 bulan belakangan ini. Ia tak sabar bayi mereka cepat lahir dan Winarsih kembali bijaksana seperti biasanya.
Suatu pagi yang mendung dan cuaca sangat dingin. Winarsih berdiri di teras mengenakan sebuah terusan bercorak bunga putih dan sebuah cardigan wol berwarna hijau daun.
Pagi itu rambutnya terjepit di puncak kepala dengan ujung-ujung yang setengah melingkar hasil duduknya di salon setengah hari kemarin.
"Aku udah terlambat ini, ada meeting dengan klien baru." Dean masih berdiri di teras memeluk isterinya yang belum mau dilepaskan.
"Dingin Mas," sahut Winarsih masih membenamkan wajahnya di dada Dean.
"Masih mau lagi? Lututku udah pegel kayak sepedaan ke Bogor bolak-balik," ucap Dean.
"Semoga anakku yang perempuan ini nggak keras kepala kayak ibunya," balas Dean.
"Kayak bapaknya nggak keras kepala aja."
"Bapaknya semua keras."
"Nanti aku mau ke salon lagi, bolehkan?" tanya Winarsih mendongak mencium ujung dagu suaminya yang sangat wangi dan tampan pagi itu.
"Boleh, apa aja boleh asal perginya sama Novi. Jangan kelamaan di luar. Meski Dirja nggak nyusu lagi, nanti dia kecarian ibunya."
"Iya..."
"Ya udah aku pergi sekarang."
"Cium lagi,"
"Kamu nggak kenyang-kenyang ya."
"Mas yang ajarin begini. Cium--" Winarsih masih mendongak memandang suaminya. Dean tertawa kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Winarsih yang semakin berisi dan mencium bibir penuh itu sangat dalam dan cukup lama.
Di teras rumah, sepasang suami istri itu masih mengeluarkan desahan halus saat menautkan bibirnya satu sama lain. Padahal, pagi tadi Dean baru saja kembali memuaskan hasrat isterinya di ranjang.
Pak Lutfi yang sedang berada di pos satpam melihat pemandangan mesra pagi mendung itu dengan mata syahdu penuh kemakluman. Ia sekarang mengerti mengapa Dean, majikannya begitu mencintai Winarsih yang awalnya gadis biasa-biasa saja.
Meski dulunya beberapa kali melecehkan wanita itu dengan kata-kata, Winarsih tetap bersikap seperti biasa kepadanya. Hal itu membuat Pak Lutfi semakin malu pada dirinya sendiri.
Bu Amalia berjalan pelan dengan tongkatnya dari arah ruang makan menuju lobby rumah. Pandangannya tertumbuk pada anak dan menantunya yang berciuman mesra di teras rumah seolah kamar tidur mereka masih kurang luas.
"Padahal sore juga udah pulang dari kantor, tapi ciumannya kayak mau pergi seminggu aja," gumam Bu Amalia kemudian berputar kembali ke arah ruang keluarga.
Menjelang siang, langit terlihat cerah dan Winarsih tengah bersiap pergi mengunjungi salon langganannya bersama Novi.
"Nanti selesai dari salon kita ke kantor Pak Dean ya Nov," tukas Winarsih pada asistennya.
"Baik Bu. Ada mau bawaan sesuatu untuk Pak Dean?"
"Saya pengen beli sponge cake Jepang itu. Di toko kue deket salon," jawab Winarsih.
"Iya, nanti saya ingatkan lagi sepulang dari salon."
Setelah memesan tempat di salon langganannya, Winarsih mengajak Novi untuk makan siang terlebih dahulu karena perutnya kembali lapar.
Dan seusai menghabiskan sepiring steak dan semangkuk salad buah-buahan Winarsih bersandar ke sofa dan menghembuskan nafas berat.
"Capek Nov," ujarnya.
__ADS_1
"Makan aja capek ya Bu," jawab Novi tertawa.
"Iya... Hamil yang ini agak aneh. Bawaannya gampang kesel. Kasian Pak Dean. Makanya ini mau bawain cake kesukaannya. Ngomong-ngomong, kamu sama Pak Ryan gimana Nov? Sudah dilamar?" tanya Winarsih lurus tanpa tedeng aling-aling.
"Ha? Belum kok Bu..." jawab Novi tersipu.
"Gimana sih itu Pak Ryan, udah lama pacaran. Bosnya juga masa nggak ngingetin," sungut Winarsih. Meski Dean tak ada sangkut pautnya dengan hubungan percintaan sekretarisnya, tapi siang itu Dean turut kecipratan bersalah karena Ryan sekretarisnya tak juga melamar Novi.
Treatment yang diambil Winarsih siang itu hanya mencuci rambut dan merapikan kuku kaki dan tangannya. Seusai mematut-matut dirinya di depan sebuah cermin besar, Winarsih tersenyum karena merasa lebih cantik untuk menemui Dean.
Pukul 4 sore mereka telah kembali di dalam mobil untuk menuju perkantoran Sudirman tempat di mana Danawira's Law Firm berada.
"Pak Ryan! Bapaknya Dirja nggak lagi ada tamu kan?" tanya Winarsih saat baru tiba di depan meja sekretaris suaminya.
"Ada tamu sih, tapi bukan tamu yang penting banget. Bu Winar bisa masuk," jawab Ryan berdiri dan tersenyum ke arah Novi.
"Untuk Mas Ryan..." Novi meletakkan sebuah kotak cake kecil di meja pacarnya.
"Makasi ya, kamu duduk di sini aja. Bu Winar kan mau masuk ke dalem. Masuk aja Bu, nggak apa-apa. Cuma orang asuransi perusahaan." Ryan kembali menunjuk pintu.
"Perlu saya antar ke dalam?" tanya Ryan.
"Nggak perlu sebenarnya. Tapi saya mau masuk sekarang juga takut ganggu." Winarsih menatap pintu dengan ragu. "Ya sudah. Saya masuk dulu ya Nov," ujar Winarsih menekan handle pintu dan mengayunkannya ke arah dalam.
Dean memang sedang kedatangan tamu. Dua orang wanita berpakaian minim yang kata Ryan tadi adalah orang asuransi perusahaan.
Dean yang menoleh ke arah pintu sedikit terkejut saat melihat isterinya berdiri menenteng tas dan sebuah kotak kue kecil.
Pegawai asuransi yang tadinya sedang menjelaskan isi lembaran kertas di map dengan jarak wajah tak lebih dari 10 sentimeter dari wajah kliennya juga sedikit terlonjak dan seketika menjauhi Dean.
Wajah Dean terlihat lelah dan sangat serius. Dan pria itu juga tak bisa menyembunyikan sedikit rasa terkejutnya karena kemunculan wanita paling sensitif nomor satu di rumahnya saat ini.
"Mampir ke sini rupanya..." sapa Dean memandang Winarsih yang matanya tak lepas menatap dua orang wanita di sofa.
"Iya, mampir ke sini. Urusannya udah selesai? Kalau belum aku mau ngasi ini aja." Winarsih berjalan ke meja kerja Dean dan meletakkan kotak cake di atasnya.
"Belum selesai, dikit lagi. Duduk sini dulu," ajak Dean pada isterinya menepuk sofa kosong di sebelahnya.
"Enggak ah, aku capek. Mau langsung pulang. Mas terusin aja urusannya," tukas Winarsih seraya berjalan ke luar pintu kantor suaminya.
"Saya tinggal sebentar ya," ucap Dean kemudian bangkit menuju daun pintu yang baru saja ditutup oleh Winarsih.
"Pulang bareng aku aja yuk, sebentar lagi. Aku masih perlu cek berkas itu sebelum tanda tangan. Kamu sabar kan nunggu sebentar lagi?" tanya Dean lembut. Dia sudah mengenali gelagat merajuk isterinya itu.
"Nggak sabar, aku mau pulang sama Novi aja. Mas kurang deket duduknya ama perempuan itu. Jelasin dokumen segitu aja mesti sedekat itu. Emangnya pendengaran Mas sudah terganggu? Ga bisa minta perempuan itu lebih jauh dikit?" kesal Winarsih cemberut melihat suaminya.
Wajah Dean terlihat sangat serius memandang isterinya. "Win... Aku kerja. Nggak ada pikiran yang begitu," jelas Dean mengernyitkan dahinya.
"Mas yang kerja, perempuan sedang mikir yang lain apa Mas tau? Udah ah, aku mau pulang. Ayo Nov, saya udah capek. Berat bawa-bawa anak di perut," sungut Winarsih menggandeng lengan Novi dan pergi dari hadapan Ryan yang sedang meringis menatap atasannya.
"Pak..." panggil Ryan.
"Jangan cepat-cepat kawin," tukas Dean kembali masuk ke ruangannya.
Itu adalah kejadian untuk kesekian kalinya Winarsih ngambek karena Dean terlihat sedikit dekat dengan lawan jenis dalam urusan pekerjaannya.
Padahal seharian itu dia sudah sangat lelah meeting estafet sejak pagi tak henti-henti. Sore itu dia ingin kembali pulang ke rumah lebih cepat namun urusannya satu lagi belum selesai.
Dia harus menandatangani polis asuransi perusahaannya yang telah dijanjikannya dari minggu lalu.
"Gua balik dulu Yan, bini gua ngambek lagi." Dean melonggarkan dasinya dengan wajah datar. Langit sudah nyaris gelap.
"Semangat Pak De,"
"Kalo tiap hamil begini, anak gua dua aja nggak apa-apa deh. Udah dapet cewe juga. Nggak tahan gua, ampun." Dean masih mengernyitkan dahinya saat meletakkan beberapa map di meja Ryan.
"Separah itu?" tanya Ryan.
"Insecure, you know. Ngerasa nggak dicinta. Ngerasa nggak percaya diri. Bawaan hamilnya."
"Ya tanggung dong, yang menghamili kan Bapak." Ryan terkekeh.
"Gua siap-siap aja nih. Ntar dirumah kena omel nyokap gua. Di kamar gua didiemin. Capek ah. Pengen marah juga gua sekali-sekali. Ya udah, gua balik. Tuh map disimpen. Masa depan perusahaan gua di tangan lu." Dean berlalu dari meja sekretarisnya menuju lift.
Ryan hanya menatap atasannya dengan wajah prihatin. Memang benar, hari ini atasannya itu telah bekerja lebih keras dari biasanya. Dan isteri yang cemberut bukanlah hal yang ingin diterima oleh pria manapun saat merasa telah melakukan yang benar di luaran.
Hampir pukul 8 malam Dean tiba di rumah. Ia meninggalkan Range Rover putihnya di lobby teras begitu saja.
"Dirja mana Ma?" tanya Dean yang sebegitu tiba langsung melongok ke ruang keluarga.
"Udah tidur, di bawa ibunya ke atas." Pak Hartono yang sedang menonton televisi menjawab pertanyaan anaknya. Pria tua yang masa jabatannya tersisa lebih kurang 8 bulan lagi sekarang sering menghabiskan waktu malamnya di rumah.
__ADS_1
"Ibunya Dirja kenapa? Kok agak beda?" tanya Bu Amalia.
"Enggak apa-apa kok," jawab Dean.
"Sabar-sabar. Ibunya Dirja juga capek. Bukan kamu aja," tukas Bu Amalia pada Dean yang kemudian ngeloyor pergi tak menjawab perkataan ibunya.
Dean langsung menuju lantai dua untuk melihat isterinya yang saat ini pasti telah berbaring menghadap box Dirja untuk memberinya pemandangan punggung.
"Win..." panggil Dean dengan wajah lelah. Ia berjalan mengitari ranjang dan duduk di sebelah perut isterinya yang beralaskan bantal kecil. Lampu kamar telah disetel ke warna lampu tidur.
Walau belum tidur, Winarsih tak menjawab panggilan suaminya.
"Kamu jangan dikit-dikit ngambek Napa sih... Aku juga capek. Aku nggak ada ngapa-ngapain di luar sana. Itu cewek meski pakaiannya seksi aku nggak selera Win. Jauh lebih cantik kamu. Winar Sayang..." panggil Dean membelai punggung dan pinggul isterinya.
Winarsih yang mendapat sapuan di punggungnya bukan terhibur tapi malah memutar tubuhnya untuk memunggungi Dean.
"Ckkk!!"
Dean berdecak kesal Kemudian meninggalkan isterinya untuk pergi membersihkan diri ke kamar mandi. Ia perlu kesegaran dan ketenangan sejenak sebelum kembali berusaha merayu isterinya itu.
Dengan handuk yang masih berada di lehernya, Dean kembali mendekati Winarsih. Dia tahu bahwa isterinya itu akhir-akhir ini sulit tidur. Hal itu selalu dikeluhkan Winarsih hampir setiap malam dan saat berkunjung ke Dokter Kandungannya.
"Win..." panggil Dean saat merangkak ke sebelah Winarsih. Dean mencium telinga isterinya.
"Udah ah, sana... Aku capek mau tidur." Winarsih kembali bergulung untuk memunggungi suaminya.
"Aku juga capek. Harusnya kamu nggak gini. Aku di luar sana bukan main-main lo. Ya untuk kamu juga. Kok kamu malah kayak anak kecil gini," omel Dean tak jauh dari telinga isterinya.
"Iya, aku salah. Terlalu cemburuan. Aku minta maaf. Ya udah aku mau tidur jangan ganggu." Winarsih memindahkan bantal yang digunakannya sebagai alas perutnya ke kepala untuk meredam suara Omelan Dean.
"Ih kamu kok gini sih? Aku nggak mau. Sini!" Dean mengambil bantal itu dan menyingkirkannya.
"Aku suami kamu, aku nggak mau tidur dipunggungi istriku. Sini deket aku." Dean menarik lengan Winarsih sekuat tenaga karena wanita itu tampaknya semakin mengeraskan hatinya.
"Ya udah tidur," sahut Winarsih masih memejamkan matanya meski kini telah menghadap Dean.
"Enggak! Aku nggak mau tidur. Aku mau itu," tukas Dean.
"Enggak ah, capek. Kemarin udah," balas Winarsih.
"Tumben banget aku ditolak," jawab Dean.
"Enggak mau," balas Winarsih lagi.
Dean mencium bibir isterinya sedikit keras dan lama. Tangannya meremas dada Winarsih yang malam itu mengenakan sebuah baju tidur bertali satu lengkap dengan cardigan yang tak dilepaskannya.
"Ini dibuka... Aku mau. Kamu nggak boleh nolak," bisik Dean di sela-sela ciuman mereka. Nafasnya telah memburu. Harga dirinya sedikit terusik dengan penolakan Winarsih barusan.
Dean menarik tali pengikat dari pinggang isterinya. Dan dengan satu tangan dia telah mengangkat daster tidur pendek itu melewati kepala Winarsih.
Pandangannya langsung tertuju pada sepasang dada yang kembali mengembang sempurna karena usia kehamilan yang semakin bertambah.
Winarsih yang masih kesal terhadap omelan suaminya mau tak mau memandang rupa Dean dengan rambutnya masih basah dari kamar mandi barusan.
Winarsih kini hanya mengenakan pakaian dalam bawahannya saja. Dean melepaskan boxer ketatnya dan melangkahi tubuh isterinya untuk berlutut di depan wajah wanita itu.
"Win... Aku mau..." Dean berbisik kemudian menunduk.
Winarsih seperti tersihir mantera. Ia tak bisa menolak benda yang sudah hampir bangkit sepenuhnya. Hasratnya kembali meronta malam itu. Kecemburuannya yang membabi buta membuat penampilan Dean semakin menarik baginya.
Dean memperhatikan raut isterinya yang memejam dan menggigit bibir bawah saat berusaha meredam pekikannya sendiri. Perlahan Dean melepaskan dirinya dan menoleh ke bagian bawah. Begitu banyak. Padahal hampir setiap malam pikirnya.
"Udah?" tanya Dean masih berada di antara kaki isterinya.
"Udah..." jawab Winarsih.
"Lagi??" tanyanya lagi.
"Enggak, aku udah lemes." Winarsih membuka matanya dengan wajah terkulai lemas.
"Empat kali ya Win..."
"Capek..."
"Biar nggak cemburu lagi, aku masih bisa nambahinnya."
"Ampun..." rintih Winarsih.
"Untung sama Mbah dan Mbak Tina kamu nggak cemburu ya," ujar Dean pada isterinya.
To Be Continued.....
Follow Instagram @juskelapa_ untuk update cerita terbaru. Yang mau difollow, komen aja di salah satu postingan @juskelapa_ "Folbek aku dong jus..." pasti langsung difolbek XD
__ADS_1