CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
108. Obrolan


__ADS_3

"Emang kenapa Bu?" tanya Novi.


"Enggak tau nih, tiba-tiba Pak Dean nelfon pakai nomornya Pak Ryan. Ada apa ya?" gumam Winarsih.


"Apa kira-kira Pak Dean udah denger berita soal saham itu ya Nov? tapi kok nggak langsung ngomong ya?" sambung Winarsih seperti bicara pada dirinya sendiri.


"Bisa jadi Bu," sahut Novi.


"Ya udah nih, Novi simpan saja dulu catatannya. Saya mau nanya ke Bu Amalia, apa hari ini mau ditemani ke rumah sakit atau berangkat dengan perawat aja. Kasihan kalo berangkat sendiri Nov. Suaminya lagi ke luar kota. Saya juga kalo sakit sendirian rasanya sedih. Kayak mau lahiran Dirja kemarin," tutur Winarsih.


Ya, benar apa yang dikatakannya barusan. Winarsih tak tega kalau sore itu melepaskan Bu Amalia pergi berangkat terapi ke rumah sakit sendirian. Meski ada perawat, asisten pribadi dan seorang supir yang selalu berada di sisinya, tetap saja Winarsih merasa perlu menemani ibu mertuanya itu.


Dia merasa harus benar-benar menanyakan apakah Bu Amalia mau ditemani ditemani olehnya atau tidak.


Saat sedang sakit dan diharuskan sendirian tanpa keluarga atau sanak saudara yang menemani, siapapun pasti akan berkecil hati. Semangat berobat pun bisa luntur begitu saja. Sama seperti ketika ia hendak melahirkan Dirja sebulan yang lalu.


Meski ia diam saja dan hanya beberapa kali menanyakan soal suaminya. Tapi hatinya diliputi kecemasan dan rasa sedih yang tak bisa digambarkannya saat itu. Anak mereka akan ke luar melihat dunia, tapi ayahnya tak ada kabar.


Saat mengingat hal itu pikiran Winarsih kembali lagi ke beberapa bulan yang lalu saat ia menolak ibunya yang memaksa berangkat ke Jakarta untuk menemui Keluarga Hartono.


Saat pulang ke Jambi, dengan naifnya Winarsih mengatakan pada ibunya bahwa ia akan sanggup membesarkan anak itu sendirian meski tanpa seorang suami.


Betapa naifnya ia berpikir bahwa keberadaan seorang suami saat melahirkan bisa begitu saja digantikan.


Sekarang Winarsih juga menyadari hal baru. Meski uang yang diberikan Dean sangat lebih dari cukup padanya, tapi ketidakhadiran Dean saat dia mulai merasakan sakit kontraksi, menjelma menjadi bentuk rasa sakit lain di hatinya saat itu.


Maka ketika Dean datang, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Winarsih berterima kasih pada Dean yang selalu berusaha menepati janjinya menjadi seorang suami dan seorang ayah yang bisa diandalkan.


Langkah Winarsih pelan-pelan menaiki anak tangga menuju kamar ibu mertuanya.


"Ma, nanti sore terapi ke rumah sakit mau saya temani?" tanya Winarsih sembari duduk di kursi sebelah Bu Amalia.


Bu Amalia yang sedang menonton film kartun menoleh padanya.


"Enggak usah, Mama sendiri aja. Kasihan Dirja. Jangan ke rumah sakit, banyak virus," tutur Bu Amalia sangat pelan dan intonasi bicara yang sangat lambat.


"Dirja nggak usah dibawa. Saya bisa memompa ASI untuk persediaan minumnya. Enggak apa-apa, ada susternya kok. Biar saya temani ya," bujuk Winarsih.


Bu Amalia kemudian mengangguk pelan dan kembali mengalihkan pandangannya ke televisi.


"Dirja lagi tidur nyenyak. Pak Dean dan Pak Hartono sudah tiba di hotel dan sekarang sedang istirahat. Kata Pak Ryan, mereka sedang mempersiapkan pertemuan kecil dengan Penasehat Hukum yang lain," ujar Winarsih tanpa diminta.


Walaupun ibu mertuanya tak menyahut sepatah katapun, tapi Winarsih tahu bahwa wanita itu pasti ingin mengetahui kabar berita dari Kalimantan.


**********

__ADS_1


"Istriku Pemilik Saham terbesar di Grup Cahaya Mas. Tapi dia masih mempertimbangkan untuk duduk di jajaran direksi atau nggak. Soalnya, yaahh..kamu tau sendiri, bayi kami sedang butuh ASI ibunya." Dean menanti reaksi yang akan ditunjukkan oleh Ara.


Wanita itu mengatupkan mulutnya dan mengangguk pelan. "Hmmm--" gumam Ara.


"Siapa yang ngenalin? dijodohin atau pacaran dulu?" tanya Ara yang ternyata masih penasaran dengan isteri Dean.


"Mama. Mama yang ngenalin kita dulunya," sahut Dean. Kali inipun ia tak sepenuhnya salah. Pada kenyataannya, memang ibunya lah yang memperkenalkan mereka.


Dean ingat betul kejadian siang itu. Winarsih yang berdiri di sebelah Utomo tersenyum manis dengan kedua lesung pipinya saat memperkenalkan diri pada Bu Amalia.


Dean ingat sebenarnya siang itu dia memiliki urusan akan bertele-conference setibanya di rumah. Tapi pembantu baru yang datang siang itu, sedikit menarik perhatiannya. Bu Amalia sampai bertanya padanya, apa yang sedang dilakukannya di teras saat itu. Karena sepanjang perjalanan pulang, Dean selalu berisik mewanti-wanti Pak Noto untuk menambah laju kendaraan agar cepat tiba di rumah.


Ternyata, Winarsih memang telah mengganggu pandangannya sejak hari pertama kakinya menginjak rumah mereka.


"Ternyata kamu bener ya ngikutin semua saran Mama kamu," tukas Ara. "Perkawinan tanpa cinta itu nggak enak De, kayak yang aku jalani kemarin. Aku menikah dengan pria yang usianya jauh di atasku."


"Masalah terbesarku sekarang cuma satu Ra," potong Dean.


"Apa?"


"Aku terlalu cinta isteriku--" sahut Dean. "Aku turut menyesal mendengar soal berita kamu. Meski kita udah lama nggak ada kontak, aku selalu berharap kamu selalu mendapat yang terbaik dalam hidup kamu."


"Suamiku cinta mati ke aku De,"


"Aku pengen ngebuktiin kalo aku bisa. Apa yang pernah dikatakan Bu Amalia denganku, udah jadi cambuk. Kapan-kapan aku pengen ketemu Mama kamu," tukas Ara seraya menyilangkan kakinya.


"Sekali lagi aku berharap kamu bahagia dengan pilihan-pilihan yang udah kamu ambil," jawab Dean. Dia harus berbicara aman dengan hanya mengatakan hal-hal umum pada mantan pacarnya itu.


Dean yang merasa kakinya sedikit nyeri karena telah menyilang terlalu lama, memindahkan letak duduknya. Dia merasakan pandangan Ara tak lepas menatapnya. Dean tahu Ara pasti masih sangat terpesona padanya saat ini.


Dean berdehem pelan saat melipat koran dengan elegan.


"Kaki kamu kenapa? luka kecelakaan itu belum sembuh juga?" tanya Ara memandang kaki kanannya.


"Udah sembuh lama. Luka yang dulu udah sembuh lama Ra. Ini luka yang disebabkan ama perempuan lain. Bukan isteriku. Dia nggak pernah buat aku terluka." Dean tertawa pelan menyadari apa yang baru saja diucapkannya.


Luka di kaki kanannya itu memang disebabkan oleh dua orang perempuan yang berbeda. Dan perempuan yang menanggung akibatnya adalah Winarsih. Seorang perempuan yang tak pernah melukainya.


"Sampai kapan di sini?" tanya Ara kemudian.


"Paling lama 7 hari," jawab Dean. Sudah, cukup. Itu adalah jawaban singkat dan jujur. Dia tak perlu menambahkan jawabannya dengan kata 'kenapa?'.


Ara lagi-lagi mengangguk-angguk pelan seolah kehabisan bahan pembicaraan karena tak mendapat umpan balik.


Dean mengalihkan pandangannya pada Ryan yang terlihat asyik bekerja tak jauh darinya. Entah dia yang terlalu kelebihan percaya diri atau memang dugaannya benar. Ara masih menelusuri wajah dan tubuhnya dengan pandangan.

__ADS_1


Ara cantik. Malah semakin cantik. Apa memang sudah hukum alam bahwa seorang wanita menjadi lebih cantik ketika sudah menjanda? Dean tak tahu. Dia tak mau memikirkannya.


Dean sekarang bergidik membayangkan jika Winarsih yang menjadi janda. Dia pasti tak akan tidur tenang di dalam kuburannya.


Dean sedikit canggung. Jemarinya membenarkan beberapa gumpal rambut yang jatuh ke dahinya. Kemudian tangannya merapikan dasi yang pagi tadi dipakaikan oleh Winarsih.


Ara masih memandanginya. Dean menyadari hal itu. Dan sialnya, dalam kecanggungan itu Dean membasahi bibirnya.


"De!!"


Suara Pak Hartono yang menggelegar di lobby hampir membuatnya terlompat. Pria tua itu sedang berdiri memandang ke arahnya dan Ara bergantian.


"Ya Pa?" tanya Dean. Merasa salah karena hanya sekedar menyahut, Dean berdiri dan berjalan mendekati Papanya.


"Jadi meetingnya?" tanya Dean. Harusnya Pak Hartono yang menanyakan itu padanya. Dean merasa seperti anak kecil yang baru saja tertangkap berbuat salah. Dia jadi belingsatan sendirian.


"Harusnya Papa yang nanya itu ke kamu. Papa kira udah mulai meeting tapi masih duduk di lobby dengan wanita. Papa tau itu siapa De," sindir Pak Hartono.


Padahal ia tak membuat kesalahan. Ia hanya duduk di sofa dan Ara yang menyapanya lebih dulu. Jelas ia tak bersalah. Tapi tatapan Pak Hartono seperti tatapan Jaksa Penuntut Umum pada pelaku kejahatan. Dean gelisah. Apa Papanya melihat gayanya yang seperti sedang menebar pesona sesaat yang lalu?.


"Nggak sengaja ketemu, Dean disapa lebih dulu." Dean membela diri.


"Fik! mana berkas yang harus diperiksa tadi?" Pak Hartono memanggil Fika yang berdiri di dekat pintu ke luar. Fika bergegas mendekati Pak Hartono dan menyerahkan seikat kertas yang berada dalam tas yang ditentengnya.


Pak Hartono mengambil tas itu dari tangan Fika dan menyodorkannya kepada Dean.


"Apa nih Pa?"


"Kamu liat aja isinya. Itu harus selesai diperiksa besok pagi," tukas Pak Hartono.


"Kan ada Fika Pa, ada Ryan." Dean mengernyitkan dahi mengangkat tas yang cukup berat itu.


"Harus kamu yang mengerjakan," balas Pak Hartono.


"Kok Dean?" Dean kembali menoleh pada beberapa Penasehat Hukum yang baru masuk ke lobby.


"Biar kamu sibuk," ujar Pak Hartono santai. "Ayo Fik, kita makan di restoran yang kemarin. Saya suka masakannya," ajak Pak Hartono pada Fika.


Dean menatap tas berkas yang berada di tangannya. Sejak dulu, Pak Hartono selalu mengerti jalan pikiran tiap anak-anaknya. Malam itu Papanya ingin memastikan bahwa ia tetap berada di kamar untuk mengerjakan setumpuk berkas.


To Be Continued.....


Next Up sesaat lagi :*


Yang punya lebihan tiket vote, klik vote untuk Winarsih ya.. sedih amat nanya lebihan XD

__ADS_1


__ADS_2