CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
129. Mesra


__ADS_3

juskelapa minta Likenya dulu, belakangan jadi haus like. Tapi nggak apa-apa ya ktimbang haus kasih sayang dan kekuasaan.


Selamat Membaca :*


**********


"Siapa yang ngajarin kamu jadi begini?" tanya Dean terheran-heran saat matanya memejam kembali menikmati ciuman dan sapuan lidah Winarsih di leher dan bibirnya.


"Siapa lagi yang ngajarin?" Winarsih balik bertanya.


"Iya juga," gumam Dean. "Kamu memang murid yang cepet belajar."


"Mas..."


"Aduh Win, aku merinding-merinding ini." Dean gantian menciumi leher isterinya.


"Merinding kenapa?" tanya Winarsih geli. Tubuh Dean masih terasa lebih hangat tapi tak sepanas tadi.


"Aku jadi ngerasa kayak pengantin baru, hmmm--" Dean menggigit dan menyesap bahu isterinya.


"Aku belum selesai ngomong,"


"Dik Winar mau ngomong apa? Mas-mu ini siap dengerin. Hihi..." Dean terkikik geli saat mengucapkan hal itu.


"Kok gitu..." rajuk Winarsih.


"Aku suka sayang... Aku suka kamu panggil begitu. Lebih mesra, aku udah bangun lagi loh di bawah sana. Coba pegang." Dean menarik tangan isterinya dan meletakkan tangan Winarsih di atas kelelakiannya.


"Bangun lagi, cepet ya."


"Akumulasi," ucap Dean.


Kemudian ia menempelkan hidungnya tepat di depan hidung Winarsih. Dalam remang cahaya kuning itu, Dean memandang mata isterinya.


"Kamu cantik banget Dik Win, Mas jatuh cinta lagi. Sekali lagi yuk. Mumpung Dirja belum bangun." Dean kembali mencium dan meremas dada isterinya.


"Nggak mau makan obat panas dulu?" tanya Winarsih pada Dean yang masih menyibukkan diri dengan kegiatan meremas dan menyeruput di dada isterinya.


"Hmmm--" Dean hanya bergumam sambil menggeleng. Mulutnya masih sibuk. Setelah menghabiskan beberapa waktu dengan menekuni hobinya.


Dean mengangkat satu kaki Winarsih ke atas pinggangnya. Dan mulai kembali memasuki tubuh isterinya.


Winarsih terlihat meringis.


"Kenapa? Nyesek? Berasa sampe ke jantung ya jangkauannya?" Dean terkekeh karena melihat ekspresi wajah isterinya yang berubah menjadi mencibir karena mendengar perkataannya.


Winarsih yang berbaring miring menghadap Dean terus memperhatikan wajah suaminya saat kembali mendesah dan meringis karena gerakannya sendiri.


Rambut Dean yang lurus hitam jatuh menutupi dahinya. Winarsih melihat peluh mulai menetes di cambang suaminya itu. Tangannya kemudian bergerak hendak memegang pipi Dean untuk merasakan suhu tubuh pria itu. Tapi kemudian gelombang rasa kenikmatan datang menghampirinya.


Tangan Winarsih berhenti di lengan Dean dan mencengkeramnya keras. "Mas..." pekik Winarsih.


"Aduuuhhh..." Dean mengerang kemudian menyentak tubuhnya berkali-kali. Nafas pria itu terengah-engah. Pandangannya langsung tertuju pada isterinya.


"Kamu panggil Mas, aku jadi cepet." Dean berbicara masih sambil mengatur nafasnya.


"Bisa gitu," sahut Winarsih.


"Seksi Win, wajah kamu ngomong gitu bikin aku kewalahan." Dean menarik tubuhnya dan menurunkan kaki Winarsih.


"Udah?" tanya Winarsih.


"Udah, takaran obatnya udah pas. Aku bisa tidur nyenyak nggak mimpi buruk lagi." Dean kembali menarik tubuh isterinya ke dalam pelukan.


"Mba Anggi lusa nyampe kata mama," ucap Winarsih tiba-tiba.


"Iya, emang kenapa?"


"Aku agak khawatir Mba Anggi kaget ketemu aku. Aku mungkin jauh dari bayangan adik ipar yang nikah dengan adiknya," ujar Winarsih.


"Kamu udah melewati perempuan nomor satu di rumah ini, itu artinya Mba Anggi bukan hal yang harus kamu khawatirkan. Dia baik kayak adiknya." Dean mengelus-elus punggung isterinya.


"Adiknya baik gimana? Pertama aku dateng kerja di sini, udah dimarah-marahi. Aku dibilang tolol karena lambat. Padahal aku masih baru kerja. Kenapa dulu mesti marah-marah kayak gitu? Kalau inget itu aku masih sakit hati."


"Kenapa marah-marah ya? Hmmm-- Itu mungkin karena belakangan aku sering berantem sama papa. Tiap ada kerjaan pegawai yang nggak bener, aku yang disemprot papa. Makanya aku nyemprot kamu waktu itu. Sampe sekarang ternyata aku makin sering nyemprot Dik Winar," ucap Dean kemudian terkekeh.


"Bercanda terus, aku serius."


"Aku seneng, kita baikannya udah afdol. Lagian sekarang kan udah kebalikannya. Kamu diemin aja, Mas-mu ini bisa demam. Kurang sakti apa kamu Dik?"


"Kalo ngomong pinter banget," ujar Winarsih menutup mulut suaminya. Dean meraih tangan Winarsih dan mengecupnya.

__ADS_1


"Mulut Mas-mu ini modal cari uang untuk bayar belanjaan kamu kemarin. Uang itu bukan hasil dari nungguin lilin atau ngusap-ngusap teko Dik."


Winarsih tertawa mendengar ucapan Dean yang selalu licin dan sulit sekali dicari celahnya.


************


"Bangun, hari ini ngantor nggak? Badannya udah nggak panas," ujar Winarsih yang subuh itu tengah mengenakan handuk baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku nggak ke kantor Win, pengen di rumah aja sama kamu. Sorean mau ngajak Dirja ama ibunya keluar." Dean kembali bergulung di dalam selimutnya.


"Ya meski enggak kerja tetap harus bangun, mandi, biar sarapan. Masa turun ke bawah nggak mandi? Udah begituan sampe 2 kali." Winarsih membuka lemari dan mengambil pakaiannya.


Kemudian ia membelakangi ranjang dan melepaskan handuk untuk mengenakan pakaian dalam. Dean membuka matanya untuk menikmati pemandangan yang rasa-rasanya sudah lama sekali tidak ia lihat.


"Mas..." panggil Winarsih.


Dean langsung menegakkan kepalanya, "Ya?"


"Aku perlu bantuan." Tangan Winarsih memegang dua pengait bra di belakang bahunya. "Katanya aku nggak boleh terlalu mandiri..."


Dean bangkit dari posisi berbaringnya dan menuju Winarsih yang berdiri menghadap meja rias.


Dean berdiri tepat di belakang isterinya untuk membantu wanita itu mengaitkan bra.


"Mas bilang, suka hal-hal begini..." gumam Winarsih.


Dean meletakkan dagunya di puncak kepala isterinya itu seraya mengaitkan bra dan memandang pantulan tubuh isterinya melalui kaca.


Dean hanya diam masih menatap pantulan isterinya yang hanya mengenakan pakaian dalam. Setelah selesai mengaitkan bra isterinya, Dean memeluk wanita itu dari belakang dan mencium aroma wangi sampo dan sabun yang masih melekat.


"Iya, aku suka kalo kamu butuh sama aku..." Dean mencium leher isterinya. "Wangi banget," gumam Dean.


"Ya udah mandi, aku mau turun ngeliat menu sarapan. Tadi Dirja bangun tapi udah nyusu sampe kenyang trus tidur lagi."


"Aku mandi dulu ya," kata Dean. Dia kembali menunduk untuk mencium pipi isterinya.


Pukul 06.30 pagi Dean baru turun sambil menggendong Dirja yang telah membuka lebar matanya.


"Udah lama bangunnya?" tanya Winarsih mencium pipi pada puteranya.


"Udah dari tadi, aku ajak main dulu baru turun," jawab Dean.


"Sini sama ibu" Winarsih mengambil Dirja dari tangan bapaknya.


Saat tiba di meja makan itu, Dean menarik sebuah untuk isterinya dan Winarsih duduk masih dengan Dirja dalam dekapannya.


Pak Hartono dan Bu Amalia saling pandang melihat tingkah manis anaknya itu.


"Nasi atau roti Win?" tanya Dean.


"Nasi goreng aja," jawab Winarsih sekilas melihat pada mertuanya yang masih menatap Dean heran.


"Dirja kasi ke mbak-nya dulu, biar kamu bisa makan dulu Sayang." Dean memanggil babysitter Dirja yang berdiri di dekat situ. Setelah Dirja berada di gendongan babysitter-nya Dean memajukan letak kursi isterinya dan membenarkan letak piring wanita itu.


"Air putih?" tanya Dean lagi.


"Iya Pak," jawab Winarsih.


"Kok sekarang Pak? Tadi malem manggilnya Mas..." tukas Dean. Winarsih melihat ke arah Bu Amalia yang sekarang sedang mencibir melihat Dean.


Di bawah meja Winarsih mencubit paha suaminya untuk menghentikan tingkah konyolnya itu.


"Kamu kenapa nyubit-nyubit paha aku? Namanya suami istri ya harus mesra gini," sambung Dean.


"Halah, biasa kamu begini pasti karena udah dapet apa yang kamu mau. Dulu aja begini baiknya kalo udah minta apa-apa diturutin. Pasti deh." Bu Amalia semakin mencibir melihat anaknya.


"Nggak ke kantor?" tanya Bu Amalia kemudian.


"Enggak, Dean pengen me time sama Dirja dan ibunya" jawab Dean.


"Urusan sidang udah beres De?" tanya Pak Hartono.


"Udah, mudah-mudahan semua udah beres. Tinggal dijalani aja. Semoga menang," ujar Dean nyengir pada papanya.


"Yah kalo menang berarti masih rejeki," sambung Pak Hartono. Bu Amalia hanya diam mendengar perkataan suaminya.


"Besok Anggi nyampe kan Ma?" tanya Pak Hartono.


"Iya, lusanya dia mau dateng ke sidang itu. Mau liat adiknya bikin pembelaan. Katanya udah lama nggak liat Dean pamer. Biasanya kalo diliatin kemampuan Dean meningkat katanya," ujar Bu Amalia tertawa.


"Nggak diliatin juga Dean hebat loh jadi pengacara. Gelar pengacara kondang itu kan nggak dateng hanya dalam satu malam." Dean memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Yang bilang kondang siapa?" tanya Bu Amalia sedang menggoda anak bungsunya yang cemberut.


"Ya klien dong," tukas Dean lagi.


"Bukan cewe-cewe?" Bu Amalia tertawa geli karena melihat Winarsih yang ikut tersenyum-senyum melihat Dean yang cemberut.


"Jangan bawa cewe-cewe dong Ma, baru tadi malem Dean disayang-sayang ibunya Dirja lagi." Dean menoleh pada Winarsih dan mengusap-usap punggung isterinya itu.


Winarsih mendelik melihat suaminya.


"Dik Win malu ya? Padahal tadi malem manggilnya Mas..." ucap Dean seraya mengedipkan matanya pada Winarsih.


Pak Hartono tertawa terbahak-bahak.


"Anakmu itu Pa," sungut Bu Amalia kemudian kembali menatap piringnya.


************


"Mas..." panggil Winarsih saat selesai mematut dirinya di depan kaca tinggi di sudut kamar.


"Ya Sayang---" Dean masih tidur-tiduran di ranjang menunggu isterinya selesai berdandan.


"Dirja masih tidur, aku udah selesai tapi sebelum pergi aku mau ke dapur dulu liat hasil rebusan jamu. Jadi aku ke bawah duluan ya, nanti aku tunggu di teras langsung. Mas bawa Dirja. Sekitar 20 menitan lagi."


"Iya Sayang--" Dean menjawab tapi pandangannya masih terarah ke ponselnya.


Dean sedang membalas pesan di grup chat Gank Duda Akut. Teman-temannya itu menyangka kalau dirinya ngambek seusai kejadian di Beer Garden kemarin.


"Aku ke bawah duluan," ucap Winarsih kemudian menutup pintu kamar. Sore itu Dean mengajak anak-isterinya pergi ke sebuah mall untuk berkencan bertiga dan makan malam di restoran pilihannya.


Sekitar 20 Menit menghabiskan waktunya di dapur, Winarsih telah mengambil satu tas perlengkapan Dirja dari tangan babysitter-nya dan pergi ke teras rumah.


Dia mengatakan pada babysitter Dirja bahwa hari ini dia akan membawa bayinya tanpa perawat. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama suami dan anaknya saja.


"Bu Win, naik ke mobil aja. Tunggu Dirja di mobil." Pak Noto membuka pintu mobilnya.


"Oh iya, bilang ke Pak Dean saya udah di mobil ya Pak." Winarsih masuk ke mobil dan duduk di kursinya. Ia mengambil sebuah selimut bayi empuk sebagai alas untuk Dirja di pangkuannya nanti.


Tak sampai lima menit kemudian Dean naik ke mobil dan langsung menutup pintu.


"Pak Noto, yuk berangkat sekarang" pinta Dean.


"Pak!" pekik Winarsih.


"Ya Sayang... Kenapa?" jawab Dean sedikit terkejut dengan nada suara isterinya.


"Anaknya mana? Anakku ditinggal di kamar sendirian." Winarsih bangkit hendak membuka pintu mobil.


"Ya ampun Win aku lupa, aku aja yang ambil." Bagai terbang dari mobil Dean berlari kembali masuk ke dalam rumah. Baru saja berbaikan kemarin malam, tapi sore ini dia sudah meninggalkan anaknya tidur di dalam box bayi sendirian.


Setelah kembali sesaat kemudian dengan Dirja yang berada dalam dekapannya, Dean melihat takut-takut ke arah Winarsih saat meletakkan bayi itu di pangkuan ibunya.


"Anakku ditinggal sendirian di box sama bapaknya," omel Winarsih.


"Maaf Win, abis dia nggak ada suaranya." Dean membela diri.


"Gimana emangnya orang tidur? Ada suaranya?" tanya Winarsih.


"Maaf Sayang, maafin bapak ya Nak," Dean mencium kepala Dirja yang langsung disusui ibunya.


"Baru sebentar dipanggil Mas udah lupa punya anak," sungut Winarsih lagi. Pak Noto telah melakukan mobil meninggalkan halaman rumah.


"Maaf Sayang,"


"Kasian anakku,"


"Maaf ya Nak,"


"Megang HP terus, diomongin nggak didenger."


"Maaf Sayang,"


"Kasian anakku dilupain bapaknya,"


"Maaf..."


Dean memajukan letak duduknya untuk memeluk pinggang Winarsih dan menontoni Dirja yang sedang menyusu.


"Padahal masih di rumah udah lupa. Gimana kalo di luar,"


"Enggak mungkin lupa kalo di luar. Dik Winar kan rumahku. Jadi Mas Dean nggak mungkin lupa rumahnya." Dean menggigit bibir bawahnya menatap Winarsih yang sedang cemberut menatapnya.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2