CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
66. Galaunya Dean


__ADS_3

Dean kembali menggandeng tangan isterinya yang masih mengenakan kain basahan menuju pintu dapur. Waktu hampir menunjukkan pukul 8 malam.


"Pak, udah ngantuk? mau tidur sekarang?" tanya Winarsih pada suaminya.


Dean menatap isterinya yang sedang mengalungkan daster ke leher. Pertanyaan Winarsih sangat ambigu di telinganya.


Sebenarnya isterinya itu hanya perlu bertanya apakah dia sudah mengantuk saja. Tak perlu ditambah dengan susulan kalimat 'mau tidur sekarang?'


Apa di daerah sana, untuk tidur saja harus dijelaskan nanti atau sekarang? atau Winarsih bermaksud bertanya soal lain?


Bukan tanpa alasan Dean jadi galau sekali karena hal sepele itu. Sejak tadi dia sedang menimbang-nimbang apakah malam ini akan mengunjungi anaknya atau tidak.


Dia khawatir Winarsih akan menganggapnya keterlaluan dan tidak mengerti situasi.


"Saya masak dulu ya, Pak Dean kan belum makan malam. Tapi malam ini kita makan seadanya ya. Apa yang ada di dapur," ujar Winarsih yang telah berganti pakaian dan menyisir rambutnya.


Dean mengangguk.


"Aku temenin,"


Meski telah melepaskan kain basahannya dan telah mengenakan daster. Dengan kondisi rambut basah, Winarsih malah tampak semakin cantik malam itu.


Dean sedang meratap dalam hati.


Winarsih memasak nasi terlebih dahulu. Kemudian menurunkan keranjang yang tersangkut di langit-langit untuk mencari telur ayam yang biasa selalu tersedia.


Malam itu Winarsih membuat telur dadar, sambal kecap yang diberi irisan cabe, bawang, tomat serta mengupas dua buah timun untuk dijadikan pengganti sayur.


Aroma dapur dipenuhi oleh aroma telur dadar yang menggugah selera.


Hampir satu jam kemudian, Dean yang duduk di sebuah kursi kayu telah menghadapi sepiring nasi yang masih mengepul dan sepiring telur dadar.


Winarsih meletakkan sepasang sendok garpu di piring suaminya.


"Malam ini saya yang menanggung hidup Pak Dean cuma bisa masakin ini sekarang. Besok-besok saya masakin yang lebih enak,"


Dean tersenyum menghadapi hidangan sederhana itu tak sempat menjawab perkataan isterinya karena tangannya langsung membelah telur dadah itu tepat di tengah. Sangat simetris.


Dean memang dikenal sebagai pribadi yang selalu rapi dan detil sejak kecil.


Setelah Dean menyiapkan nasinya ke mulut, Winarsih baru memulai makannya.


Hati Winarsih malam itu sangat bahagia sekali. Yanto telah mendapatkan kepastian pengobatan di rumah sakit yang baru. Wajah Ibunya pun sudah terlihat lebih segar seakan bebannya telah terangkat sebagian.


Meski tetap harus menunggu hasil operasi Yanto beberapa hari ke depan, tapi Winarsih sudah sangat bersyukur.


Dan malam ini, Dean duduk di meja makan kecil rumah orang tuanya sedang menikmati makan malam sederhana hasil masakannya dengan wajah ceria.


Terlepas dari perlakuan Bu Amalia padanya, Winarsih sangat bersyukur Tuhan mengirimkan Dean kepadanya.


Selesai makan malam, Winarsih membentangkan sebuah selimut tebal untuk melapisi tikar tipis sebagai alas tidur mereka.


"Begini saja nggak apa-apa Pak? atau mau tidur di kamar?" tanya Winarsih pada Dean yang sedang duduk bersandar pada dinding.


"Ngga apa-apa," jawab Dean.


Winarsih kemudian mengambil selembar kertas dari dalam laci dan mulai membuat lipatan.

__ADS_1


"Mau bikin apa Win?" Dean kembali penasaran dengan kegiatan isterinya.


Winarsih menarik sebuah piring kaleng dari bawah lemari dan meletakkan lipatan kertas di atasnya.


"Untuk ini Pak," Winarsih membakar sebuah obat nyamuk dan meletakkannya di atas kertas.


"Biar nggak banyak nyamuk" sambung Winarsih seraya menyorongkan kembali piring kaleng ke bawah lemari.


Melihat Dean yang sejak tadi hanya memperhatikan pekerjaannya dengan sedikit gelisah. Winarsih mendekati suaminya.


"Mau tidur sekarang?" Winarsih berjongkok di sebelah Dean dan memegang lengan suaminya.


"Kamu ngantuk? Ayo kita tidur," ajak Dean menggamit lengan isterinya untuk menuju lokasi tidur mereka yang sudah bersih dengan dua buah bantal dan dua sarung kotak-kotak yang terlipat di dekat bantal.


Dean mengambil piyama dan boxernya yang sejak tadi teronggok di atas koper, "Aku ganti pakaian dulu."


Sesaat kemudian Dean telah berbaring di sebelah Winarsih dengan wajah tegang. Winarsih membuka lipatan sarung dan menjulurkannya ke kaki.


Wanita itu memiringkan tubuh menghadap suaminya. Dean melingkarkan tangan kirinya dan mengusap-usap punggung isterinya.


Matanya terpejam tapi pikirannya terbang ke mana-mana. Padahal Winarsih adalah isterinya. Sebelumnya dia tak pernah merasa canggung atau sungkan untuk menyentuh tubuh wanita itu.


"Pak," lirih Winarsih.


"Ya," jawab Dean masih dengan mata terpejam.


"Emm--saya--" perkataan Winarsih terhenti.


"Apa?" tanya Dean sedikit melepaskan dekapannya untuk menatap wajah Winarsih.


"Saya mau--"


Winarsih meletakkan telapak tangannya di pipi Dean. Kemudian tangan wanita itu turun ke dada suaminya dan berdiam lama di sana.


"Satu malam nggak ketemu Pak Dean, saya kangen sekali. Rasanya kayak ada yang kurang. Terima kasih karena sudah datang ke sini dan menerima semua hal dalam hidup saya. Terima kasih karena sudah peduli pada Yanto," suara Winarsih tercekat.


"Semua yang aku lakuin memang udah seharusnya Win,"


"Terima kasih Pak," sebutir air mata jatuh dari sudut matanya.


"Aku menikahimu beserta semua hal yang ada pada diri kamu Win. Begitu juga kamu. Kamu menikah denganku dan dengan semua yang kumiliki,"


Winarsih memeluk Dean sesaat kemudian melepaskan pelukannya. Dia kembali menatap suaminya.


"Ada yang mau kamu katakan lagi? bilang aja Win, jangan simpan sesuatu yang menyesakkan dada. Aku suamimu,"


"Itu Pak,"


"Apa?"


"Saya kangen--"


"Kan sekarang kita udah ketem---" Dean terdiam menyadari maksud isterinya.


"Maksudnya kangen itu? Lagi pengen dikunjungi?" tanya Dean.


Winarsih mengatupkan mulutnya dan mengangguk.

__ADS_1


"Jadi maksud tidur sekarang atau nanti itu, ini?" tanya Dean meyakinkan diri.


Winarsih kembali mengangguk. Dean tertawa terbahak-bahak.


"Kok ketawa?" tanya Winarsih cemberut.


"Nggak apa-apa. Ngomong yang jelas dong Bu Winar. Jadi Pak Dean kan nggak galau sendirian," Dean kembali tertawa.


"Soalnya Pak Dean juga kangen--" Dean mengangkat dagu Winarsih dan mendaratkan ciumannya dengan tergesa-gesa.


Tangan kirinya mulai mengangkat daster Winarsih dengan cepat. Dan seketika matanya disuguhi pemandangan yang dirindukannya semalaman kemarin.


Dean menarik kain sarung yang berada di kaki Winarsih untuk menutupi sebagian tubuh isterinya yang sangat terekspos.


"Oh, jadi ini fungsi kain sarung ini makanya kamu taruh di sini?" tanya Dean saat ciuman mereka terlepas.


"Enggak kok Pak, itu memang untuk kaki" sela Winarsih yang malu karena pertanyaan Dean.


"Ah iya juga nggak apa-apa Bu," Dean terkekeh.


"Aku kangen ini Win," sambung Dean seraya menunduk dan memijat pelan dada isterinya. Bibirnya mulai membasahi puncak dada yang kini lingkarannya sedikit menggelap.


Suara bibir Dean yang berdecak-decak di puncak dada Winarsih membuat wanita itu mengerang. Tangan wanita itu mulai membelai, menarik dan menggaruk belakang kepala Dean.


"Pak--" erang Winarsih.


"Belum Win," jawab Dean terburu-buru sembari mengubah posisi isterinya.


"Aku juga kangen yang ini," lirih Dean menarik lepas bawahan dan menunduk di antara kedua kaki isterinya.


"Pak--" kaki Winarsih mengejang seiring dengan gigitan lembut yang diterimanya di bawah sana. Nafas wanita itu sudah terengah-engah.


"Cepet banget Win, kangen banget ya sama aku," Dean terlihat semakin bersemangat kembali menghujani bagian sensitif isterinya dengan kecupan dan gigitan-gigitan kecil.


Winarsih berkali-kali mengejang dengan nafas tersengal-sengal dan menunduk untuk melihat suaminya di bawah sana.


"Pak--"


"Ga tahan ya--kangen yang itu?" Dean bangkit dan menarik turun bawahan piyamanya.


"Hmmm--kangen banget rasa ini," lirih Dean mulai mengayunkan tubuhnya. Tangannya berkali-kali merubah posisi kaki isterinya agar lebih nyaman.


Ketika semakin lama ayunannya semakin cepat, Dean menunduk untuk menggigit pelan puncak dada isterinya.


Mata Dean terpejam seiring dengan keluarnya sesuatu yang hangat dari tubuhnya menuju dalam tubuh Winarsih.


Bibirnya kembali menciumi dan mengigit kecil puncak dada isterinya hingga memerah.


"Emang bener ya Win, surga anak itu di bawah telapak kaki ibu. Tapi surganya bapak ada di antara kaki ibu," Dean terkekeh sembari meluruskan kaki isterinya.


Saat menarik kain sarung untuk menutupi tubuh isterinya, Dean berbisik :


"Ya udah, kamu tidur ya..." ucap Dean mencium kening isterinya.


"Biasanya dua kali--" gumam Winarsih nyaris tak terdengar.


"Wow. Bu Winar, kemajuanmu pesat sekali. Aku jadi merasa semakin dibutuhkan dalam hidupmu," Dean mengusap-usap perut isterinya.

__ADS_1


To Be Continued......


__ADS_2