CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
89. Like a Baby


__ADS_3

"Dislokasi bahu ini bisa sembuh dalam beberapa hari aja. Paling lama dua minggu pake penyangga. Tapi kalau untuk sembuh total itu biasanya bisa sampai 3-4 bulan," ujar Dokter Orthopedi yang pagi itu sedang visit ke kamar Dean.


Dokter Orthopedi sedang mencoba menggerakkan bahu kiri Dean. Bahu itu masih terlihat sangat bengkak. Winarsih yang berdiri di sisi kanan Dean terlihat meringis saat melihat Dokter melakukan hal itu pada suaminya.


"Kalau untuk fraktur tibia atau tulang keringnya ini sebenarnya kan bukan fraktur baru ya, ini fraktur lama yang kembali bergeser. Aslinya kalau fraktur itu bisa sampai 4-6 bulan. Tapi untuk kasus Pak Dean, saya kira 2 bulan saja sudah bisa berjalan tanpa penyangga. Bahkan lebih cepat. Nanti bisa dibantu proses fisioterapi," jelas Dokter Orthopedi tadi.


Memasuki hari ketiga, kondisi Dean terlihat jauh lebih segar. Dokter Bedah mengatakan akan membuka jahitan Dean pada hari ke tujuh jika lukanya benar-benar menutup sempurna.


"Kan aku udah bilang kalo suamimu ini udah perkasa dari sananya Bu," ujar Dean pada Winarsih ketika Dokter telah pergi meninggalkan ruangan.


"Ya tetap aja belum bisa jalan-jalan sekarang, masih harus banyak istirahat Pak. Nggak boleh banyak bergerak dulu," jawab Winarsih menatap kaki suaminya.


Dean cemberut, "tapi udah hampir 4 hari Win."


"Iya, udah 4 hari di rumah sakit. Tapi kan keadaannya semakin membaik, pokoknya harus banyak istirahat" ujar Winarsih setengah mengomel karena Dean yang uring-uringan tak jelas.


"Ganti baju dulu ya," pinta Winarsih sembari mendekap sepasang seragam pasien yang baru diantar ke ruangan.


"Di kamar mandi ya Win, sekalian." Dean mengusap perut istrinya.


"Sekalian apa?" tanya Winarsih dengan raut bingung.


"Aduh Bu Winar," keluh Dean semakin cemberut.


Dean yang bersikeras tak mau ada orang lain di ruangan itu selalu meminta Ryan atau Novi pergi meninggalkan kamar rawatnya pagi dan sore hari.


Bu Amalia yang mendengar keadaan Dean telah pulih, benar-benar tak mengunjungi anaknya itu. Wanita itu mendapat laporan dari Ryan yang mengatakan bahwa Dean tak mau ditinggalkan barang sejenakpun oleh isterinya.


Winarsih sedang mendorong sebuah kursi roda mendekat ke sisi kiri ranjang Dean agar pria itu bisa memindahkan kaki kiri lebih dulu untuk menumpu tubuhnya.


Tiba-tiba pintu kamar rawatnya terbuka,


"SURPRISE!!" seru Toni, Langit dan Rio di ambang pintu.


Dean yang telah memiliki rencana menuntaskan hasratnya sesaat lagi, seketika menghela napas panjang ketika melihat Genk Duda Akut muncul di ambang pintu.


Langit yang juga pengantin baru, datang dengan tangannya memeluk sebuket besar bunga warna-warni yang dibungkus dengan kertas dan pita heboh berwarna mencolok.


Toni muncul di pintu dengan menggenggam simpulan benang banyak balon warna-warni sembari tertawa tawa.


Dan Rio, memegang sekotak besar benda yang terlihat seperti cake.


"Apa kabar Pak Pengacara? gimana keadaannya?" sapa Langit yang langsung meletakkan buket bunga di atas tubuh Dean yang kini kembali bersandar di kepala ranjang.


"Lu harus pandangi balon-balon ini sebelum tidur biar nggak overthinking," ujar Toni seraya mengikatkan benang balon di kepala ranjang Dean.


"Ini kue yang banyak untuk cemilan Pak Pengacara dan nyonya yang pastinya membutuhkan nutrisi lebih merawat suaminya," tukas Rio menyerahkan sekotak besar cake ke tangan Winarsih.


Rio melihat Winarsih yang berjalan menuju sofa meninggalkan mereka semua di dekat suaminya.


"Udah gede banget hamil istri lu, udah deket harinya ya?" tanya Rio kembali melirik sekilas ke arah Winarsih.


"Belom, kurang lebih dua bulan lagi," jawab Dean.


"Udah gede banget, kalo hamil segitu bini gua biasa udah mo lahiran." Rio duduk di kaki ranjang Dean.


"Beda bibit bro! ini bibit unggul ekspres. Segitunya ketemu indung telur, dia langsung nggak ragu bertumbuh dan berkembang," jawab Dean terkekeh.


"Bangga lu njing!" Toni menyenggol bahu Dean yang terbebat.


"Shit!" maki Dean meringis.


"Tapi serius, hamil istri lu emang gede. Sehat-sehat deh anak ama istri lu sampe lahiran." Rio yang lebih berjiwa kebapakan menyampaikan harapannya.

__ADS_1


"Iya, bayinya udah gede banget di dalem. Subur banget ibu dan bayinya. By the way, Amin. Tengkyu doanya Papa Rio," ucap Dean nyengir.


"Lu puasa dong De? istri lu hamil gede, kondisi Lu begini," tukas Langit tersenyum penuh arti.


"Gua baru aja mau buka puasa sebelum lu bertiga dateng kemari gangguin kita," sergah Dean.


"Duuuhhh... produktif amat Pak Dean!" ejek Langit.


"Omong-omong De, ini kaki kanan lu yang bekas patah kecelakaan pulang nganterin Ara dulu kan?" tanya Toni memegang ujung gips kaki Dean.


"Cinta sejati banget ya De, sampe ninggalin bekas kayak gini. Tiap kaki lu ngilu pasti ingetnya Ara," sambung Toni lagi.


"Mulut lu--mulut lu, bini gua duduk di sana. Dia nggak tahu apa-apa soal itu. Jangan gara-gara mulut lu, jadwal gua yang rusak," gumam Dean seraya melemparkan pandangan pada Winarsih yang tadi dilihatnya sempat menoleh saat Toni berbicara.


"Katanya gengsi kalau nurut banget sama bini. Tapi gua nyebut nama Ara aja, langsung pucat lu." Toni tertawa terbahak-bahak.


Dean memasang ekspresi seolah ingin membekap mulut sahabatnya itu. Pandangan Dean sejak tadi gelisah, menatap bergantian sahabat-sahabatnya dan Winarsih yang sedang duduk di sofa memegang ponselnya.


"Lu semua nggak ada yang ngantor pagi ini?" tanya Dean akhirnya.


"Ya ampun De, sadis banget. Kita telat ngantor cuma buat liatin lu di sini. Pagi ini gua nggak iya-iyain bini gua karena buru-buru mau jenguk elu. Sampe disini sambutannya dingin banget karena lu nggak sabar mau buka puasa," tukas Langit dengan nada mengejek.


"Ya udah deh, kita balik aja. Yuk Ton, Lang! Pak Dean mau buka puasa!" Rio tertawa-tawa menggeret lengan kedua sahabatnya menuju pintu untuk ke luar.


Dean menatap tajam ketiga sahabatnya seraya mengatakan "get out!*" tanpa suara.


(*enyah!)


"Win, yuk aku udah gerah mau ganti baju." Dean melangkahkan kaki kirinya yang sehat menjejak lantai. Setengah berlari Winarsih menghampirinya dari arah sofa.


"Kamu jangan lari-lari, nanti anakku pusing di dalem. Cukup bapaknya aja yang pusing di luar," ujar Dean yang berpegangan pada sisi ranjang dan menumpukan berat badannya pada kaki kiri.


Winarsih kembali mendekatkan kursi roda kearah Dean yang perlahan memindahkan tubuhnya.


"Aduh--" erang Dean ketika telah berhasil duduk di kursi. Winarsih dengan sigap mengambil pakaian ganti dan meletakkannya di atas pangkuan suaminya.


Seperti biasa Winarsih membuka seragam atasan pasien rumah sakit perlahan-lahan, untuk menghindari gerakan pada bahu Dean.


Setelah melepaskan atasan suaminya, Dean kembali berdiri bertumpu dengan satu kakinya untuk memudahkan Winarsih melepaskan bawahan seragam rumah sakit itu.


Saat Winarsih telah berhasil meloloskan semua bawahan Dean, pria itu menatap isterinya yang sedang melipat pakaian kotornya.


Winarsih mempersiapkan sebuah washlap untuk mulai membasahi tubuh suaminya.


"Win," panggil Dean.


"Hmm," sahut Winarsih masih menunduk memeras washlap-nya


"Kamu nggak mau sekalian gitu Win? aku pengen," ujar Dean melihat bagian bawah tubuhnya yang sudah mulai menegak.


"Hari ini kamu aja yang--" perkataan Dean terhenti menatap wajah isterinya yang sedang mendongak ke arahnya.


Dean benar-benar berharap isterinya mengerti apa yang dimaksudkannya.


"Tapi nanti kalo ada orang gimana?" tanya Winarsih polos.


"Kan aku udah lama nggak itu, pasti cepet. Sekali aja, nggak double kok Bu Win. Kamu peg--" Dean memejamkan matanya. Dia telah merasakan mulut isterinya di bawah sana.


"Bu Win, kamu udah makin pinter." Dean melirik isterinya yang sedang hamil tua berjongkok di bawah sana.


"Aduh, enak Win. Tapi kakiku pegel, kamu pegel juga nggak? kalo jongkok gitu, anakku nggak kejepit Win?" tanya Dean rewel.


"Nggak tahan Win, kurang kalo gini aja," ujar Dean lagi.

__ADS_1


Winarsih yang tengah tenggelam dalam kegiatannya, menarik wajahnya menatap Dean.


"Jadi?" tanya Winarsih bingung dengan kemauan suaminya yang semakin terdengar tak masuk akal.


"Aku duduk aja, Bu Winar buka juga. Sebentar aja, udah nanggung." Dean perlahan duduk di kursi rodanya kembali.


"Nanti ada orang masuk Pak, malu ah. Ini juga buru-buru pasti," protes Winarsih yang selama ini jarang menyuarakan isi kepalanya.


"Kamu tega apa liat aku berada di pertengahan jalan begini? aku nggak bisa buka kancing baju kamu, bukain dong. Aku kangen banget pengen nyium itu," pinta Dean berbisik pada isterinya.


Winarsih membasahi bibirnya berkali-kali karena gugup. Konsentrasinya terpecah antara pintu masuk yang berada di seberang kamar mandi dan hasrat yang sebenarnya sama dengan suaminya.


Buru-buru Winarsih melepaskan kancing bajunya hingga Dean langsung menarik pembungkus dada itu untuk mendekat ke wajahnya.


Seperti bayi yang baru menemukan benda kesayangannya, beberapa saat lamanya Dean menyesap puncak dada isterinya.


Beberapa malam tak melihat benda itu membuat hasratnya semakin tak tertahankan.


"Udah di buka bawahannya?" tanya Dean lagi. Winarsih sebenarnya malu sekali tiap mendengar pertanyaan suaminya yang tanpa tedeng aling-aling itu.


"Udah," jawabnya perlahan.


"Sini Win." Dengan sebelah tangannya Dean memutar tubuh Winarsih untuk duduk di atas pangkuannya perlahan.


"Aduh Win, enak banget. Tapi perutku ngilu," ujar Dean lagi.


"Tuh kan! Bapak giman-" Winarsih terdiam karena jemari Dean telah mengusap bagian kewanitaannya.


"Di bantu gerak dong Bu Win, suamimu lagi nggak bisa" bisik Dean di telinga Winarsih.


Dean memejamkan matanya saat Winarsih yang mulai hafal gerakannya telah bergerak naik turun. Kursi roda yang mereka tumpangi berderit tiap kali Winarsih menumpukan seluruh tubuhnya.


"Dikit lagi sayang," lirih Dean yang nafasnya mulai terengah. Tangan kanannya terus berpindah antara memilin puncak dada isterinya dan memijat bagian sensitif wanita itu.


Tanpa disadari Winarsih, nafasnya pun sudah mulai memburu, konsentrasinya sekarang tercurah penuh pada benda yang sedang memasuki tubuhnya.


"Aku udah mau dapet Win," bisik Dean. Di saat pijatan jari Dean semakin gaduh di bawah sana, erangan lemah terdengar dari mereka nyaris bersamaan.


Dean menekankan dahinya pada punggung Winarsih.


"Banyak banget Win. Aku bener-bener buka puasa kayaknya. Sini kamu ngadep aku. Aku mau cium itu--" pinta Dean kembali mengangkat lengan isterinya agar berdiri.


Dean kembali tenggelam dengan kegiatannya menyesap dada Winarsih cukup lama. Sesapan bibir suaminya itu menimbulkan suara berdecak yang begitu kentara.


Hingga tiba-tiba,


CEKLEKK


Terdengar beberapa pasang langkah kaki memasuki kamar rawat.


"De! lagi di mana?" panggil Pak Hartono.


Mata Winarsih membelalak menarik dadanya dari wajah Dean. Tangan Dean secepat kilat menahan tangan isterinya.


"Toilet Pa!" jawab Dean.


"Istrimu mana?"


"Ini di dalem sama Dean," jawab Dean santai yang wajahnya masih menatap puncak dada isterinya.


Winarsih menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya seolah takut nafasnya terdengar oleh salah satu Menteri negara itu.


"Sudah sembuh bener ternyata! ayo Man! agak nyesel saya mampir ke sini pagi-pagi," ujar Pak Hartono yang sepertinya datang bersama Irman.

__ADS_1


Dean yang menaikkan alisnya sekali ke arah Winarsih kembali menarik tubuh isterinya itu. Sedikit kesal, Winarsih memukul pelan bahu suaminya yang masih terbebat gips.


To Be Continued.....


__ADS_2