CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
125. Anak Dan Ibu


__ADS_3

Like dulu ya... :*


Selamat membaca :)


************


"Tangannya di sini pokoknya jangan ke mana-mana." Dean menahan tangan Winarsih untuk tetap berada di atas pahanya saat ia menyetir.


"Aku merasa kita kayak pengantin baru Win, tapi yang nikahnya dijodohin paksa," ucap Dean.


"Ha? Kok gitu?" tanya Winarsih menoleh suaminya.


"Ya lirikan mata kamu aja kayak gitu ke aku. Kayak terpaksa." Dean mengatupkan mulutnya sedikit cemberut.


Winarsih sedikit menahan senyumnya saat mendengar Dean mengatakan hal itu. Ryan telah kembali ke kantor sesaat setelah mereka selesai makan di restoran. Dan sore itu Dean mengajaknya berkeliling dari satu toko pakaian ke toko pakaian lainnya.


"Enggak terpaksa," gumam Winarsih.


"Enggak terpaksa, tapi kalo udah ngambek susah sembuhnya. Aku udah babak-belur loh demi Bu Winar," ujar Dean.


"Langsung main pukul aja, orang mengejek kita sampe serak kita juga nggak luka Pak," jawab Winarsih.


"Harga diriku yang luka Win," ucap Dean.


"Sama. Begitulah kira-kira," sambung Winarsih.


"Ampun Win." Dean mengambil tangan isterinya dan meletakkan punggung tangan itu di mulutnya.


Menjelang malam itu, Winarsih turun dari mobil melenggang dan Dean berjalan di sebelahnya membawa banyak kantong belanjaan.


Winarsih berjalan langsung ke ruang keluarga tempat di mana Uti Dirja biasa sedang duduk menonton televisi seraya mengawasi Babysitter yang mengemong bayinya.


"Mama udah mandi?" tanya Winarsih pada ibu mertuanya.


"Udah, tapi keramasnya kurang enak. Kepalanya kurang dipijat." Bu Amalia sedang mengeluh pada menantunya.


"Besok saya yang keramas rambut Mama. Besok kan saya di rumah aja." Winarsih duduk di sofa merentangkan tangannya meminta Dirja dari Babysitter.


"Anak ibu gimana seharian ditinggal?" tanya Winarsih pada bayinya. "Susu dulu sama ibu ya?" Winarsih membuka kancing bajunya dan mulai menyusui Dirja yang sudah menggeliat menyadari kehadiran ibunya.


"Ibu rindu sama Dirja, tadi habis dari salon rasa-rasanya mau pulang langsung ke rumah. Tapi Bapak dateng, ngajak makan." Winarsih berbicara pada bayinya.


"Nyusulin kamu ke salon? Dean nyusulin ke salon?" tanya Bu Amalia seolah ingin meyakinkan pendengarannya. Winarsih mengangguk.


"Udah bener kayak anak SMA aja, main terus. Sidang Papanya entah gimana itu dibikinnya. Santai aja. Entar kalau dikasi tau, pasti bilang Mama yang cerewet." Bu Amalia masih mengomel soal Dean di depan Winarsih dan bayinya.


Selama duduk mendengarkan ibu mertuanya yang berkeluh kesah soal anak laki-lakinya, Winarsih hanya duduk santai mendengarkan.


Winarsih menyadari, terkadang seseorang itu tak perlu lawan bicara, tapi hanya butuh telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya.


Pukul 8 malam Dean sedang menggendong puteranya berkeliling ruang makan sambil menunggu Winarsih menata lauk-pauk di atas meja. Makan malam harinitu sedikit terlambat karena mereka baru tiba di rumah sejam yang lalu.

__ADS_1


Bu Amalia telah duduk di posisi kursinya yang biasa. Sedangkan Dean, biasanya akan menggantikan posisi duduk Pak Hartono di kursi makan utama.


Bu Amalia yang berada di sisi kiri Dean sejak tadi memperhatikan anak bungsunya itu. Sudut bibir kiri anaknya terlihat memerah seperti bekas pukulan. Apa di kantor sekarang sudah ada yang namanya tawuran juga? Wajah Dean yang biasa tampak tak memiliki noda sedikit pun membuat luka itu jadi begitu kentara.


"Sudah Ma, Mama udah bisa makan." Winarsih berdiri menyendokkan nasi ke piring Dean lebih dulu agar nasi itu cepat dingin. Dan Dean yang melihat makan malam telah dipersiapkan, menyerahkan Dirja kembali pada Babysitter-nya dan menuju kursi Pak Hartono.


"Mama segini nasinya cukup?" tanya Winarsih pada Bu Amalia.


"Cukup," jawab Bu Amalia. Matanya tak lepas memandang tangan kanan anak laki-lakinya yang sejak duduk tadi meremas bokong isterinya.


"Ikan untuk Mama belum dibawa ke sini juga, sebentar saya ambil dulu." Winarsih meletakkan tempat nasinya dan pergi ke belakang. Sejak terserang stroke, menu makan wanita tua itu memang sedikit berbeda. Kini Bu Amalia lebih banyak memakan menu yang direbus tanpa garam.


Saat Winarsih berjalan menuju dapur, Bu Amalia mengambil sebuah sendok dan memukul punggung tangan kiri Dean.


"Aduh! Apa sih Ma? Sakit tau," sungut Dean mengelus punggung tangannya.


"Genit banget! Dari tadi kerjaan kamu godain ibunya Dirja aja. Nggak malu ama mama," tukas Bu Amalia meletakkan sendoknya.


"Namanya kangen..." jawab Dean santai.


"Dia lagi ngeladeni kita makan, jangan diganggu. Mama suka karena dia tuh nggak bawel kayak kamu. Nurut anaknya. Mama jadi ngerasa diperhatiin," tutur Bu Amalia.


"Halah Mama ini, kalo sama orang benci jadinya benci banget. Kalo udah suka, suka banget." Dean mengambil sepasang sendok garpu karena merasa nasinya sudah dingin.


"Kan sama kayak sifat kamu. Kalo udah suka sama orang dari dulu nggak bisa dilarang. Itu awas aja kalo perempuan yang hobi gelantungan itu Mama denger deket-deket kamu lagi ya! Malu sama anakmu nanti. Genit banget! Kayak bakal langsung mati aja kalo nggak dikagumi banyak perempuan. Niru siapa kamu begitu? Papa kamu aja nggak gitu!"


"Tapi kayak sifat Mama," ujar Dean. Bu Amalia kembali meraih sendoknya dan memukul lengan Dean.


"Aduh!! Kan Mama yang bilang tadi. Salah lagi Dean jadinya. Sakit tau Ma... Win... Aku dipukul Mama, sakit." Dean memeluk perut Winarsih yang baru tiba di meja dan mengisi lauk di piring ibu mertuanya.


"Win, nanti abis makan malam, kamu ke kamar Mama ya. Mama mau ngasi liat sesuatu," pinta Bu Amalia yang mulai menyendok nasinya ke mulut.


"Mau ngapain sih Ma? Besok aja ah, Dean juga mau ngasi liat sesuatu ama ibu Dirja." Dean menarik lengan Winarsih agar lebih mendekat padanya.


"Mau ngasi liat apa kamu?" tanya Bu Amalia lagi.


"Ya nggak boleh tau. Entar nggak surprise, ya kan Bu?" Dean kembali meremas bokong isterinya.


"Nanti saya ke kamar Mama dulu," jawab Winarsih saat duduk di kursi dan mengisi piringnya sendiri.


"Jangan lama-lama Win," gumam Dean seraya melirik ibunya.


Sudah pukul 10 malam, Winarsih baru saja meletakkan Dirja yang sudah tertidur ke dalam boxnya.


"Anak ibu yang ganteng, jadi anak baik ya. Sayang ibu untuk Dirja sebanyak udara yang bisa kamu hirup."


Winarsih membelai pipi montok putih kemerahan bayi laki-laki itu sebelum menutupkan kelambu tile putus tipis yang mengelilingi boxnya.


"Kalo sayang untuk bapaknya Dirja sebanyak apa Bu?" tanya Dean yang baru keluar dari kamar mandi.


Winarsih menoleh pada suaminya dan pergi menuju meja rias. Dari laci paling bawah ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih berisi sedikit obat-obatan.

__ADS_1


"Sini," panggil Winarsih pada suaminya seraya menepuk tepi ranjang tempat ia duduk.


Dean menuruti isterinya dan duduk di depan wanita itu.


"Lain kali jangan sembarangan gebukin orang, kalau orang ada bawa senjata tajam atau sejenisnya, Bapak bisa luka. Inget di rumah ada anak yang tiap hari nungguin Bapaknya pulang." Winarsih menheluarkan sebuah cotton buds dan memencet salep luka ke ujungnya.


"Iya Bu." Dean menyodorkan bibirnya yang terluka pada Winarsih.


"Saya nggak mau liat Bapak ditempel-tempeli perempuan lain. Saya cemburu. Coba Bapak bayangin kalo saya yang diem aja ditempeli Irman. Perasaan Bapak gimana?"


"Hih!! Amit-amit!" Dean seketika melotot menjauhkan wajahnya dari Winarsih.


"Sini," panggil Winarsih lagi agar suaminya mendekat.


"Oh iya," gumam Dean kembali mendekatkan wajahnya. "Tapi aku nggak maksud diem aja, aku cuma nggak sadar aja kalo ada yang mega--ngin aku Win."


"Ckk!!" Winarsih berdecak sedikit kesal dan menekan luka di bibir suaminya.


"Aduh!" Dean melihat ekspresi kesal isterinya. Dengan wajah manja dia kembali menunjuk luka dibibirnya yang sedang ditotoli salep. "Pelan-pelan Bu Win... Sakit..."


"Ini juga sakit..." Dean menunjukkan punggung tangan kanannya yang lecet dan memerah.


Setelah selesai mengobati luka kecil yang didapat oleh suaminya, Winarsih kembali menyimpan kotak obatnya dan kembali ke ranjang.


Dean langsung memeluk Winarsih dan membenamkan wajahnya di dada wanita itu. Winarsih mengenakan daster batik berwarna coklat yang memiliki kancing depan untuk memudahkannya menyusui.


"Yuk Win," ajak Dean genit.


"Ke mana?" tanya Winarsih.


"Ke Jambi tempat mbahnya Dirja---masa gitu aja nanya lagi. Aku kangen." Suara Dean teredam karena ia masih membenamkan wajah di dada isterinya.


"Nggak bisa, saya lagi itu." Winarsih menarik selimut menutupi kakinya.


"Tapi aku pengen," rengek Dean mulai membuka kancing daster batik isterinya. "Biasa kamu cium-cium aku Win," rengek Dean lagi.


"Dicium aja Win," pinta Dean.


"Capek Pak, seharian di luar." Winarsih memejamkan matanya.


"Kamu nggak kangen apa sama itu aku?" tanya Dean.


"Jadi itu yang mau dikasi liat tadi?" Winarsih tersenyum geli masih dengan mata terpejam.


"Bu Winar jahat ih.." Dean menarik turun bra isterinya dan melihat puncak dada merah jambu kesukaannya.


"Win..." bujuk Dean lagi. Lidahnya mulai menyapu puncak dada Winarsih. Winarsih hanya memejamkan matanya berusaha keras untuk tidur dan tak mengacuhkan suaminya.


"Bu Winar..." panggil Dean lagi. "Aku udah siap ini Win," rengek Dean mendongak menatap wajah isterinya yang mulai tertidur.


"Tega banget sih Win," gerutu Dean cemberut.

__ADS_1


Dean yang biasanya selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, sejak malam itu harus mulai mengubah motto dalam hidupnya.


To Be Continued.....


__ADS_2