
Entah kenapa rasanya Winarsih tak sanggup jika berada di ruangan kerja Pak Hartono lebih lama lagi.
Mendengar kedatangan seorang wanita; tunangan dari pria yang memiliki hubungan darah dari makhluk kecil yang sedang tumbuh di perutnya terasa begitu menyakitkan.
Winarsih tak ingin mengganggu saat-saat bahagia keluarga itu merencanakan pesta pernikahan yang menurut dugaan Winarsih pasti akan diselenggarakan sangat besar.
Dean adalah putra bungsu dan satu-satunya dari keluarga itu. Bagaimanapun tak sukanya kedua orangtua Dean pada calonnya, mereka harus melaksanakan pesta besar-besaran karena kolega mereka begitu banyak.
Membayangkan seperti apa jadinya nanti, tak sadar Winarsih menangis terisak-isak saat kembali ke dapur yang beruntungnya saat itu sedang kosong.
Saat melihat tumpukan piring kotor di bak cuci, tangannya segera bekerja. Dia merasa perlu melakukan kesibukan. Sesekali dia menunduk untuk mengusap wajahnya ke lengan karena air matanya belum juga berhenti.
Dean kini tampak semakin jauh. Jika dirinya tak sedang hamil, pastilah perasaannya tak sesedih ini. Dia masih bekerja di rumah itu dan bisa melihat Dean dari jauh sesekali.
Kemudian Winarsih mulai berpikir bagaimana jika dia mengatakan pada Dean tentang keadaannya sekarang.
Tentang dirinya yang sedang mengandung darah daging pria itu. Apakah Dean akan semakin lembut padanya? Atau Dean akan menolak dan menyingkirkannya agar tak sampai ke telinga orangtua atau tunangannya itu?
Kemudian telepon ruang makan pegawai berdering.
Winarsih mengelap tangannya dan pergi bergegas menghampiri pesawat telepon.
Ternyata itu telepon dari Bu Amalia yang memintanya untuk membuat teh bunga Pak Hartono.
Buru-buru Winarsih mencuci wajah dan mengeringkannya dengan tisu pengering tangan.
Setelah menyeduh teh dan menyiapkannya dengan rapi di atas nampan, kepala Winarsih celingukan. Dia mencari sosok Tina.
Siapa tahu wanita itu mau menggantikannya untuk mengantarkan teh itu ke ruang kerja Pak Hartono. Winarsih merasa belum sanggup untuk bertemu dengan Dean lagi saat itu.
Setelah beberapa kali memanggil dan mengetuk pintu kamar Tina namun tak juga dijawab, Winarsih bergegas mengangkat nampan itu dan berjalan menuju ruang kerja Pak Hartono.
Sebelum mengetuk pintu, Winarsih menelan ludah beberapa kali untuk mempersiapkan dirinya.
Namun saat telinganya terfokus, terdengar perkataan Bu Amalia soal Dean yang harus menolong papanya.
__ADS_1
Cepat-cepat Winarsih mengetuk pintu agar tak terlalu banyak mendengar hal yang tak seharusnya dia dengar.
Dean sedang berdiri dengan tangan kanannya yang berada di punggung Bu Amalia.
Winarsih bisa merasakan tatapan tajam Dean yang tertuju padanya. Dia tak akan melihat wajah pria itu. Dia tak mau membuat Dean goyah karena kasihan melihat dirinya.
Dan saat Pak Hartono mengatakan bahwa malam itu dia tak perlu lagi kembali ke ruang kerja, Winarsih sangat lega.
Malam itu dia akan secepatnya kembali ke kamar dan tidur.
*******
Dean terkejut melihat kedatangan Winarsih dengan sebuah nampan berisi teh bunga papanya.
Dia mengingat-ingat apa yang baru saja mereka bicarakan. Terutama, apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya.
Saat berhasil mengingat dengan tepat, matanya memejam sesaat. Winarsih pasti sudah mengerti situasinya saat ini.
Sejak wanita itu berjalan memasuki ruangan, mata Dean tak lepas memandangnya.
Memandang tubuh wanita yang sekarang tengah menjadi bahan gunjingan sesama pegawai di rumahnya.
Mungkin Pak Hartono melihat raut kekecewaan di wajahnya karena kemudian pria tua itu meyakinkan Dean bahwa papanya itu hanya butuh waktu sebentar lagi.
Dean yang juga melakukan penyelidikan tentang kaitan Disty dengan perusahaan-perusahaan milik Atmaja Grup tapi belum menampakkan hasil, sudah mulai putus asa.
Dia mulai kehabisan waktu.
"Pa, Dean pamit ke kamar ya. Dean capek" ucap Dean bangkit dari duduknya.
"Mama nggak mau tau ya Dean, ini pernikahan cuma sebentar atau lama. Mama akan buat ini seperti pernikahan yang sesungguhnya. Kita nggak tahu ke depannya bagaimana. Bisa jadi Disty malah membawa keberuntungan dan perusahaan papa kamu jadi lebih besar. Jodoh dan rejeki itu nggak ada yang tau. Lagian kan dia memang pacar kamu. Bukan dijodohin," ucap Bu Amalia yang berniat menghibur Dean dan membela dirinya dalam waktu bersamaan.
"Dean pamit." Dia menutup pintu ruang kerja Pak Hartono tanpa menyahuti perkataan Bu Amalia.
Langkahnya langsung menuju ke arah dapur untuk mencari Winarsih. Saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 11 malam. Biasanya itu adalah waktu di mana Winarsih sering ke luar mencari makanan.
__ADS_1
Dia berencana akan mengajak wanita itu untuk makan di luar.
Langkahnya menyusuri jalan setapak yang di kanan kirinya tanaman bambu kuning.
Saat tiba di depan kamar Winarsih, Dean melihat lampu utama ruangan itu baru saja dipadamkan dan berganti dengan lampu kuning.
"Win, kamu udah tidur?" tanya Dean pelan.
Dia bisa memastikan kalau wanita itu pasti belum tidur karena lampu kamar itu baru saja dipadamkan.
Dean melangkah mendekatkan dirinya ke pintu kamar hingga nyaris menempel.
"Win, ini aku. Dean. Aku mau ngomong. Kamu bisa keluar sebentar?" tanya Dean lagi.
Ruang di balik pintu itu masih senyap.
"Win, kamu kayak gini karena denger omongan mamaku tadi 'kan? Kamu sedih? Kasi aku alasan Win. Kamu harus bisa ngasi aku sebuah alasan," ucap Dean.
"Kasi tau aku harus gimana, kamu jangan kayak gini. Kalau kamu juga begini ke aku, aku harus ke mana lagi. Ngomong ke aku Win, buka pintunya. Aku cuma pengen meluk kamu. Sebentar aja...." Dean meletakkan tangannya pada daun pintu.
"Kamu denger aku 'kan? Aku cuma mau ngajak kamu makan ke luar. Aku pengen kita ngobrol kayak biasa. Aku bisa megang tangan kamu. Aku pengen cerita seberapa lelahnya aku hari ini. Aku juga pengen dengerin cerita kamu seharian ini. Aku pengen liat kamu senyum. Sebentar aja." Dean menarik nafas panjang.
Dia yang rasanya tak pernah memohon apapun pada seseorang apalagi seorang wanita, kini berdiri di depan kamar pembantunya memohon untuk dibukakan pintu.
"Win, maafin aku..." lirih Dean.
"Aku sayang kamu. Bukan karna kasihan," ucap Dean.
Senyap. Beberapa saat lamanya Dean terdiam kehilangan kata-kata.
Kemudian terdengar suara kunci yang diputar dari dalam dan perlahan pintu kayu itu terbuka. Winarsih berdiri di ambang pintu dengan sebuah daster batik seperti yang dipakainya tiga hari yang lalu.
Dean memandang Winarsih lekat-lekat. Wanita itu membalas tatapannya dengan teduh. Wajahnya telah basah oleh air mata.
Dan saat wanita itu merentangkan kedua tangannya, Dean menarik wanita itu ke dalam pelukan. Malam ini, sebenarnya Dean yang membutuhkan pelukan dan penghiburan dari wanita itu.
__ADS_1
Dean merengkuh tubuh Winarsih yang berguncang karena tangisnya.
To Be Continued.....