CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
130. Anggi Nisakara Hartono


__ADS_3

Seperti biasa, penulis haus like ini minta dilike dulu.


Selamat Membaca XD


************


"Mama... Anggi kangen banget," ucap Anggi memeluk Bu Amalia yang duduk di kursi roda menunggunya di teras.


"Maafin Anggi nggak bisa langsung pulang waktu denger Mama sakit." Terdengar isak tangis dari perempuan berusia 39 tahun itu saat memeluk ibunya.


"Nggak apa-apa, udah... Mama udah sehat. Ada istri Dean yang nemenin mama kemarin." Bu Amalia menoleh ke arah Winarsih yang berdiri di sebelahnya.


"Saya Winarsih Mba, isterinya mas Dean. Ini Dirja anak kami." Winarsih mengulurkan jabat tangannya pada Anggi.


Anggi tersenyum menatap Winarsih. "Kenapa harus salaman, aku mau peluk kamu. Makasi Win..." Anggi memeluk Winarsih dengan setengah badan karena terhalang bayi laki-laki montok yang sedang didekap ibunya.


"Makasi karena udah jagain mama, udah banyak sabar dengan keluarga kita." Anggi menepuk-nepuk pelan punggung Winarsih.


"Hai Dirja.... Sama kakak yuk," ucap Aya, remaja perempuan 14 tahun yang merupakan anak sulung Anggi.


"Sama Ica aja kak," ujar anak perempuan lainnya yang lebih kecil pada kakaknya. "Ibu Dirja..." panggil Ica pada Winarsih. "Adik Dirja boleh Ica yang gendong?"


Winarsih tersenyum memandang dua keponakan perempuan Dean yang berebut untuk menggendong Dirja yang sekarang jadi menggeliat gelisah karena melihat orang asing.


"Belum boleh, nanti anak om jadi penyet kalian uwel-uwel." Dean mengambil Dirja dari tangan Winarsih.


"Sini, ayo kita ke belakang. Biar mami ngobrol dulu sama Uti dan Tante." Dean berjalan ke sayap kiri rumah untuk membawa dua keponakan perempuannya ke arah kolam renang.


"Bapak anak-anak kok nggak ikut Mba?" tanya Winarsih pada Anggi.


"Iya Win, Mas Vino lagi perjalanan bisnis ke Belgia. Jadi karena waktunya mepet, ya udah Mba aja yang pulang ke sini bawa anak-anak. Ini juga nggak bisa lama karena anak-anak sebenernya belum libur." Anggi mendorong kursi roda ibunya ke dalam rumah.


"Papa belum pulang?" tanya Anggi pada ibunya.


"Belum, mungkin malam baru sampai rumah. Kasus tuduhan penggelapan pajak itu juga masih diperiksa. Kasian papamu sebenarnya. Ke sana kemari setiap hari. Tapi syukurnya sekarang udah mau selesai. Tuduhan penggelapan pajak nggak bisa dibuktikan karena memang perusahaan selalu taat bayar. Tinggal tersisa kasus lahan tambang. Sudah sampai kasasi. Kalo Dean nggak bisa menang juga, Hartono Coil pasti melayang. Habis Nggi," jelas Bu Amalia saat mereka tiba di meja makan.


"Pasti bisa, Dean pasti bisa" tambah Anggi.


Winarsih menyongsong nampan yang dibawakan Mba Tina untuk nona muda yang dulu tinggal di rumah itu.


"Diminum dulu Mba," ucap Winarsih meletakkan beberapa gelas sirup dingin di atas meja makan.


"Makasi Win," sahut Mba Anggi mengambil segelas air sirup kemudian meneguknya. Siang itu cuaca di luar memang cukup terik. Dan tiba kembali di Indonesia saat biasa berada di suatu tempat yang memiliki suhu cukup sejuk segera membuat keluarga kecil itu kegerahan.


"Mama percaya aja sama Dean. Dia kan bukan anak kecil lagi. Udah bapak-bapak," tambah Anggi tertawa.


"Itu keliatannya aja yang kayak bapak-bapak. Tanya istrinya gimana. Namanya juga Dean anak mama. Mama tau betul dia itu. Kalo diingetin sesuatu jawabnya mama tenang aja--tenang aja. Tau sendiri kamu masalah yang udah dibuatnya." Bu Amalia sedikit cemberut saat mengatakan hal itu pada Anggi.


Winarsih yang mendengar hal itu hanya diam berpura-pura menyibukkan dirinya dengan mengelap embun air es di gelasnya yang mulai menetes.


"Ma... Ada istri Dean di sini. Dean udah dewasa. Dikasi kepercayaan aja. Dean juga cerita kok ke Anggi, dia udah buat apa aja. Percaya aja Ma, Dean udah banyak berubah dari yang Anggi liat. Dulu kalo ada siapa-siapa yang dateng suka nggak peduli. Pulang kerja main terus sama temannya. Sekarang udah ada Winar dan Dirja. Dean itu kebiasaan manja dari dulu. Mungkin sekarang sejak menikah udah ilang manjanya. Ya kan Win?" tanya Anggi menoleh pada Winarsih.


Winarsih tak menjawab perkataan kakak iparnya. Ia hanya tertawa mendengar penuturan wanita itu barusan.


"Apanya yang ilang manjanya. Tanya aja istrinya." Bu Amalia masih teringat akan peristiwa melihat anaknya yang sedang digandeng wanita lain di depan sebuah gedung.


Dean memiliki rentang usia 10 tahun lebih muda dari kakaknya. Jadi pada saat Anggi sudah memasuki dunia kuliah, Dean masih seorang bocah kelas 4 SD yang sangat manja pada kakak dan keluarganya di rumah.


Tak lama kemudian Aya dan Ica berlari masuk dari pintu samping melewati ruang keluarga dan menuju ke ruang makan.


"Panas banget ya ma ucap Icha." Wajah Ica yang tadinya putih, kini telah memerah seperti tomat.


"Dua anak gadis ini pada kepanasan Mba," tukas Dean yang datang dengan Dirja yang merengek di tangannya. Bayi 4 bulan itu menggeliat di tangan bapaknya dengan wajah yang ikut memerah.


"Dirja Mba pegang sebentar De, gemes banget. Cucu laki-laki pertama, dari anak laki-laki satu-satunya. Dirja ini penting banget posisinya ya Ma? Cucu dalam." Anggi menyebutkan soal silsilah kekerabatan yang dianut dalam keluarga etnis Tionghoa ibunya.


Saat mendengar perkataan Anggi mengenai posisi Dirja dalam urutan kekerabatan, Bu Amalia hanya diam mematung. Pandangannya terpaku pada bayi montok yang sedang berada di dalam gendongan anak sulungnya.

__ADS_1


Benar kata Anggi. Dirja adalah cucu dalam dalam kekerabatan Tionghoa. Bu Amalia mengingat betapa iya menolak kehadiran Winarsih beberapa saat yang lalu. Menolak bagaimana mantan pembantunya itu bisa mengandung cucunya.


Tapi Dirja seperti hendak memperlihatkan siapa dirinya di dalam keluarga itu. Wajah bayi itu sangat mirip anak bungsunya, Dean. Dan Dean, sangat mirip dengannya.


Usia Dirja 4 bulan, dengan kulit putih, tubuh montok dan rambut lurus hitam legam yang mencuat ke mana-mana membuat bayi laki-laki itu semakin mirip bapaknya di waktu bayi.


Saat pertama kali melihat Dirja yang berusia tiga hari ditunjukkan Dean padanya, Bu Amalia seperti melihat Dean yang masih bayi.


Sampai sekarang, kalau Winarsih sedang keluar, Bu Amalia akan membawa Dirja ke kamarnya dan mengeloninya hingga mereka tertidur bersama.


Bu Amalia sedang memandang teduh ke arah Dean dan kakaknya yang sedang membicarakan bayi montok yang terus menggeliat dalam gendongan kakaknya itu.


"Udah, kasi ibunya. Dia nangis itu. Kalian nggak liat apa? Dirja haus? Cucu Uti haus? Sini Nggi, mama pangku dulu." Bu Amalia merentangkan tangannya pada Dirja.


Setelah mencium pipi Dirja berkali-kali dengan dibantu Anggi yang memegangi keponakannya, Bu Amalia menyerahkan Dirja pada Winarsih untuk disusui.


Dean yang sejak tadi berdiri di dekat kursi kakaknya, berjalan menuju anak isterinya yang berada di seberang meja. Pria itu kemudian menarik satu kursi di sebelah isterinya dan menatap Dirja yang sedang menyusu.


"Mesti diliatin gitu anaknya minum?" tanya Anggi.


"Halah nggak usah heran. Kerjaannya dia ya gitu aja. Genitnya di mana-mana.


Mendengar perkataan Bu Amalia Winarsih mengedikkan bahunya agar Dean tak terlalu dekat.


"Napa sih..." gumam Dean cemberut.


"Itu..." gumam Winarsih memberitahu apa maksudnya.


"Mama? Mba Anggi? Biarin aja, nggak apa-apa. Emang kenapa?" Dean balik bertanya menolah wajah ibu dan kakaknya yang sedang mencibir menatapnya.


"Kan istri sendiri, bukan istri orang yang diliatin." Dean cemberut. Dean kemudian kembali menatap dan mengelus pipi putranya yang sedang lahap terkantuk-kantuk menyusu dari Winarsih.


"Udah lama kayak gitu?" tanya Anggi dalam bisikan pada ibunya.


"Udah. Sejak punya anak," jawab Bu Amalia yang juga dalam bisikan. Anggi yang mendengar jawaban ibunya kembali menoleh ke arah Dean dengan pandangan kasihan.


"Ngomong-ngomong, Mbak ada denger kalo ibunya Dirja belum sempat jalanin SMA--maaf ya Win," ucap Anggi menganggur sedikit ke arah Winarsih yang tersenyum. "Gimana kalo Winar ikut kejar paket c aja? Mba denger dari papa kalo Winarsih pinter. Papa juga bilang dia cepet belajar, cepet ngerti. Bisa ikut kejar Paket C De istrimu. Trus selesai Paket C ambil kuliah bisnis. Biar nanti bisa ikut ngurus sahamnya di Cahaya Mas. Itu kan peluang, kamu kok nggak bilang ke istrimu?" tutur Anggi panjang lebar.


Mendengar perkataan kakaknya yang seorang dosen di Belanda, Dean tercenung sejenak. Dia menatap kakaknya dan Winarsih bergantian.


Winarsih yang merasa sedang dibicarakan ikut menoleh mendengarkan perkataan kakak suaminya. Kemudian Winarsih memandang wajah Dean yang terlihat kurang antusias mendengarkan usul barusan.


"Kuliah? Winarsih kuliah? Masuk ke kampus gitu? Jadi mahasiswi?"


"Iya. Kuliah ngambil bisnis. Ya jadi mahasiswi. Kan sayang masih muda, masih 22 tahun. Kamu juga harusnya dukung. Kan untuk kamu juga, untuk anak-anak kalian. Nantinya kalo kamu nggak mau ke perusahaan papa, biar Winarsih aja yang pegang. Setidaknya dia ngerti dengan saham yang dibelinya kemarin."


"Yah meskipun dia udah belajar dari Novi sedikit-sedikit, tapi menurut Mbak jalur formal juga diperlukan De biar Winarsih bisa mengikuti perkembangan yang terjadi belakangan ini. Menurut kamu gimana?" sambung Anggi lagi masih menatap adik laki-lakinya.


Saat Anggi selesai menanyakan hal itu, Bu Amalia ikut memandang wajah Dean yang memang tidak terlihat tertarik sama sekali dengan usul kakaknya.


"Kalo untuk ikut kejar Paket C Dean setuju, tapi kalo untuk ibu Dirja masuk ke kampus jadi mahasiswi, duduk, ikut belajar masuk di kelas, Dean nggak mau ah," sergah Dean.


"Loh memangnya kenapa? Kan lebih bagus kalo Winarsih ikut langsung belajar di kelas. Lagian kan kuliah itu cuma sejam dua jam. Kamu ini kayak nggak pernah kuliah aja. Dia itu masih muda lo," tukas Anggi.


"Ya karena ibu Dirja masih muda makanya Dean keberatan," potong Dean dengan wajah suntuk.


"Kamu kenapa sih? Kok jadi kayak gini?" tanya Anggi.


"Kan udah Mama bilang Nggi, liat sendiri kan dia gimana? Mama sih udah tau dia pasti nggak akan mau istrinya sekolah ke luar rumah. Dia mau ibunya Dirja di rumah aja, nggak boleh kemana-mana. Kalo pergi maunya sama dia aja," tukas Bu Amalia menaikkan alisnya menatap Dean.


Mendengar perkataan ibunya Dean kembali cemberut.


"Ya udah deh, ntar Dean pikirin gimana baiknya. Lagian Dirja kasian sering-sering ditinggal kalo ibunya keluar. Dia kan masih perlu nyusu langsung dari ibunya." Dean kembali menunduk menatap bayi laki-laki yang telah tertidur di pangkuan isterinya.


Saat Dean mengatakan hal itu, Winarsih memandang lekat-lekat wajah suaminya yang berjarak beberapa senti darinya. Bibirnya sedikit menarik senyuman geli.


"Tahun depan udah bisa didaftarin De, kejar paket C-nya" Anggi kembali mengingatkan Dean.

__ADS_1


"Iya, ntar itu dari rumah aja juga bisa," pungkas Dean. "Besok jam 8 pagi harus udah siap-siap berangkat ya Mba," pinta Dean.


"Oh, iya. Oke. Besok berangkat ikut sidang jam 8 pagi. Mama nggak ikut?" tanya Anggi.


"Enggak, mama nggak mau. Mama takut nggak tahan liatnya. Entar denger Jaksa ngomong nyelekit-nyelekit mama makin sakit." Bu Amalia menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Iya, nggak usah ikut. Mama nggak usah ikut. Santai aja di rumah nonton tv," ucap Winarsih.


"Dirja nggak usah dibawa Win, tinggalin sama mama aja boleh?" tanya Bu Amalia. Dean dan Winarsih saling bertukar pandang.


"Besok cuma pembacaan memori kasasi aja, Dirja tinggal sama mama nggak apa-apa kan?" tanya Dean pada isterinya.


Winarsih mengangguk menyanggupi.


"Dean naik dulu ya, mau naruh Dirja ke boxnya." Dean merangkul bahu isterinya agar bangkit dan mengikutinya.


Setelah Dean dan Winarsih menghilang dari pandangan, Anggi memandang ibunya.


"Liat sendiri kan?" bisik Bu Amalia.


"Iya, jadi posesif banget."


"Kemarin nonjokin orang deket salon sampe dia sendiri luka bibirnya. Mama nggak mau nanya ama dia. Tapi mama telfon Ryan. Winarsih juga nggak mau cerita macem-macem kalo soal suaminya. Untung si Dean itu, istrinya nggak tukang ngadu," ujar Bu Amalia.


"Tapi geli ah, posesif banget. Untung Vino nggak kayak dia," ujar Anggi.


"Dia posesif mungkin karena udah bisa bayangin kerjaan dia di luar ngapain aja dulunya. Itu sama temen-temennya kalo kelayapan pasti urusannya dari dulu cewe terus. Makanya dia takut istrinya keluar. Sekarang dia yang nggak pede." Bu Amalia terkekeh.


************


"Win... Peluk aku sini. Ini guling ngapain di tengah--" Dean mencampakkan sebuah guling yang terletak di antara ia dan isterinya. "Suami istri kok tidur di pisah-pisah kayak bubur ayam ama sambelnya aja."


"Aku nggak mau kam--"


"Iya, nggak mau aku kuliah ke luar kan? Enggak boleh duduk belajar di kelas kan?"


"Kami kok tau aku mau bilang itu?" tanya Dean heran.


"Taulah, apalagi. Memangnya kalo aku makan bangku kuliahan kenapa?" tanya Winarsih sedikit jengkel.


"Ya jangan, nanti kamu sakit perut. Lagian serem amat kamu makan bangku." Dean memeluk Winarsih dan berbicara dari belakang tubuh isterinya.


"Kesel," gumam Winarsih.


"Nggak apa-apa, biasa itu kalo kamu kesel dan kita beda pendapat. Kalo manusia sependapat semua pengadilan sepi Win..."


"Aku pengen juga duduk belajar, sekolah lagi,"


"Kalo kamu jadi mahasiswi, mati aku Win."


"Mati kenapa?"


"Mati karena rasa cemburuku ini. Aduh bayanginnya aja aku nggak sanggup. Nanti kantorku bisa tutup, aku ikut daftar duduk di sebelah kamu terus. Kesejahteraan keluarga kita terancam. Dirja bisa-bisa nggak beli susu dan pakaian. Nasib keluarga kita ada di tangan kamu Win. Kamu belajar dari rumah aja." Dean masih berbicara dari belakang isterinya. Matanya terpejam dan kedua tangannya meremas dan membelai punggung isterinya.


"Hmmm--segitunya ya?" gumam Winarsih.


"Iya Win, segitunya."


"Besok sidang pake toga?" tanya Winarsih.


"Pake, biar ganteng."


"Udah ganteng,"


"Lagi yuk Win. Kan sayang kalo ada yang ganteng dan perkasa nggak dimanfaatkan." Tangan Dean sudah mencari tepi pakaian dalam isterinya di belakang sana.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2