CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
SPECIAL PART : 3.0


__ADS_3

Apa yang membuat rasa percaya diri seorang Dean merosot hingga hampir menyentuh titik nol? Jawabannya adalah ancaman bahwa ia bisa kehilangan istrinya.


Hal yang paling ia takutkan, yang menjadi momok tiap kali Winarsih sakit. Ia dan anak-anaknya sangat membutuhkan keberadaan Winarsih, istrinya, ibu dari lima orang anaknya yang pintar-pintar, sehat-sehat dan cantik-ganteng.


Baginya, Winarsih adalah pusat kehidupan mereka semua. Istrinya itu merawat mereka hampir dua puluh empat jam setiap hari. Meladeni semua kebutuhan ia dan anak-anaknya dengan sangat sabar. Mendengarkan semua keluh kesah mereka semua, hingga terkadang lupa menanyakan keluh kesah istrinya itu sendiri.


Winarsih juga meladeni kedua orang tuanya dengan begitu telaten. Winarsih orang yang selalu menerima dan mempercayainya dalam keadaan apa pun. Ia sudah mempersembahkan semua yang dimilikinya untuk wanita itu. Harta, cinta, dan semua rasa bersalah yang mengawali hubungan mereka dulunya. Dean juga sudah meletakkan semua semangat hidupnya pada Winarsih. Ia membutuhkan wanita itu lebih dari apa pun di dunia ini.


Sore itu Dean membelah jalanan ibukota dengan kecepatan motor yang ia maksimalkan. Berbagai pikiran buruk sudah berseliweran dalam kepalanya sejak mendapat telepon dari Ryan tadi.


Tiba di rumah sakit, ia menitipkan kunci motor pada satpam untuk memarkirkannya sebaik mungkin. Teringat kalau motor itu adalah hasil pinjaman dari seorang teman yang baru ia kenal.


Dean melangkah terburu-buru melewati lorong rumah sakit menuju instalasi gawat darurat yang berada di sisi paling kiri gedung Menjadi pelanggan tetap rumah sakit itu, membuat langkah Dean begitu mantap langsung menuju UGD.


Pandangannya tertuju ke depan, sedang tangannya sibuk membuka lilitan dasi di leher serta menggulungnya dan memasukkan ke saku. Dasi itu terasa sangat mencekik. Ia sedang butuh menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru dengan oksigen sebanyak-banyaknya.


“Bapak!” teriak Widi saat melihat kehadiran Dean. Gadis kecil itu sedang berdiri bersama Handaru, juga dua orang babysitter yang salah satunya sedang menggandeng Aruna.


Dean langsung mengangkat Aruna dalam gendongannya. “Ayo, kita liat Ibu,” ucap Dean langsung menuju tirai di mana Novi berdiri menunggunya.


“Kehamilan ektopik, Pak. Harus operasi segera,” ujar Novi.


Dean mendengar, tapi tak sempat menjawab. Ia langsung menyibak tirai dan melihat Winarsih yang berbaring ditunggui Dirja dan Dita di sebelahnya.

__ADS_1


“Win …,” panggil Dean. “Kamu, kok, gini?” Air matanya sudah mengambang. Ia meletakkan Aruna di tepi ranjang dan menunduk untuk menempelkan dahinya dengan dahi Winarsih. Ia menciumi pipi Winarsih yang saat itu bibirnya nyaris tak berwarna.


“Perutku nyeri, Pak. Kepalaku belakangan sering pusing, tapi tadi rasanya enggak tahan lagi. Tiba-tiba aku udah di sini.”


“Ibu pingsan waktu baru selesai suapin Nuna. Aku yang kasi tau Uti, tapi Uti enggak mau ikut ke rumah sakit katanya takut,” jelas Dita.


Dokter Azizah yang sudah menjadi dokter kandungan Winarsih sejak mengandung Dirja, masuk menyibak tirai dan mendekati ranjang. Dean menegakkan tubuh dan Aruna yang masih duduk di tepi ranjang meletakkan kepala di dada Winarsih.


“Ibu …,” lirih Aruna.


“Bu Winarsih mengalami kehamilan ektopik, ya, Pak. Tadi barusan di USG dan ditest manual hasilnya positif. Tapi … ya, hamilnya enggak bisa diterusin.” Dokter Azizah berdiri di sisi kiri Winarsih sambil memegang selembar hasil pemeriksaan USG yang dilakukannya sebelum Dean datang. “Sel telur tidak menempel tepat di rahim, tapi menempel di tuba falopi,” jelas Dokter Azizah.


“Istri saya pakai IUD, Dok. Kan, Dokter sendiri yang pasangin. Kok, bisa?” Dean memandang Dokter Azizah dengan wajah bingung. Rambutnya yang biasa tegak tersisir rapi, sore itu sudah turun sebagian menutupi dahinya.


“Bisa saja, Pak. Mungkin ada pergeseran, Banyak penyebab kehamilan ektopik. Dilihat dari perdarahannya ini cukup parah. Saya sudah minta disiapkan ruang operasi. Bapak tinggal tanda tangani surat-suratnya. Kalau bisa segera, ya, Pak. Kita harus segera hentikan perdarahannya. Bisa bahaya,” jelas Dokter Azizah.


“Ibu …,” panggil Handaru dari luar tirai.


“Operasi, ya, Win … aku keluar dulu. Kamu … jangan sampai kenapa-napa, Win …. Kasiani aku dan anak-anak,” lirih Dean. Ia mengusap-usap pelupuk matanya, lalu melangkah keluar tirai.


“Saya temani, Pak,” ujar Novi.


“Enggak usah, Nov. Di sini aja sama istriku. Aku beresin secepatnya,” tukas Dean, menuju meja administrasi dan meminta surat yang harus ditandatanganinya segera.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, Winarsih sudah bersiap mau didorong menuju ruang operasi. Dean mendekati Novi dengan wajah muram.


“Kenapa semuanya ikut?” tanya Dean, memandang wajah anaknya satu persatu.


“Enggak ada yang mau ditinggal. Widi nangis paling kenceng liat Bu Win pingsan. Karena Widi nangis sampai teriak-teriak, Nuna juga ikutan. Karena Dirja dan Dita ikut, semuanya mau ikut.” Novi menjelaskan dengan nada rendah karena khawatir salah seorang dari kelima anak-anak itu bisa mendengar ucapannya.


“Sekarang kamu pulang aja bawa anak-anak kami, ya. Operasinya bakal lama. Ibunya anak-anak bakal dibius total. Udah malem pasti pada ngantuk.”


“Bapak di sini—” Ucapan Novi terpotong.


“Aku enggak apa-apa. Anak-anak juga belum makan malam. Sekalian bilang ke Bapak dan Ibu kalo aku udah nyampe sini. Tolong, ya, Nov ….” Dean melirik Aruna yang sejak tadi bergelayut di lehernya. “Nuna pulang, ya …. Malam ini bobok sama Uti dulu, ya. Bapak temeni Ibu.” Dean lalu mencium pipi Aruna. Gadis kecil itu semakin mengetatkan pelukan tangannya di leher Dean.


“Mau sama Bapak …,” lirih Aruna.


“Aku juga mau sama Bapak,” ucap Widi tak mau kalah.


“Aku juga mau sama Bapak, tapi aku laper,” celetuk Handaru.


“Ayo, semua pulang. Uti udah nelfon Mas, katanya semua diminta pulang. Besok pagi kita semua ke sini lagi buat jenguk Ibu. Bapak udah dateng buat nemenin Ibu.” Dirja menggamit lengan Widi yang sejak tadi mencantolkan tangannya di saku celana Dean.


“Bawa adik-adiknya, ya, Mas … Malam ini Bapak minta bantuan ke Mas Dirja dan Mbak Dita buat jagain adik-adiknya. Bapak temeni Ibu di sini sampai sembuh. Mungkin Ibu terlalu capek ngerawat kita, jadi Ibu perlu istirahat sebentar.”


Dean memegang bahu Dirja yang mengangguk tanda mengerti. Setelah Novi dan dua babysitter berpamitan, Dean berdiri sejenak mengamati anak-anaknya keluar dari ruangan UGD. Novi berjalan lebih dulu untuk memimpin langkah. Aruna berada dalam gendongan salah seorang babysitter dan Dita berjalan di sebelahnya. Sedangkan Dirja berjalan sambil menggandeng Handaru dan Widi di kanan kirinya. Seorang babysitter lainnya berjalan paling belakang untuk mengawasi langkah kaki kakak beradik di depannya.

__ADS_1


“Anak kita banyak, Win. Udah gede-gede. Semuanya pinter-pinter. Kamu jangan sampai kenapa-napa.”


To Be Continued


__ADS_2