
Beberapa saat yang lalu, Dean baru saja melakukan pelepasan di dalam tubuh Winarsih yang dipangkunya di atas kursi roda. Setelah 4 hari yang terasa begitu panjang, akhirnya Dean bisa bernafas sedikit lega dan kini merasa lebih percaya diri.
Jika orang lain menganggap hal itu sebagai pemenuhan belaka, berbeda dengan Dean. Ada perasaan minder pada diri pria itu ketika membiarkan isterinya tak disentuh begitu saja.
Selain memberikan kebutuhan lahir yang lebih dari cukup, dia juga harus memastikan bahwa kebutuhan batin istrinya bisa dia penuhi. Dia tak ingin istrinya harus meminta atau memendam keinginan yang mungkin terlalu sungkan untuk dikatakan.
Entah apa yang salah dengan tatapan Irman kepada Winarsih, tapi memang Dean tak menyukainya. Tak ada alasan khusus, Dean hanya tak menyukai cara ajudan Pak Hartono itu memandang istrinya.
Winarsih masih berada di hadapan suaminya dengan pakaian yang bagian depan terbuka sepenuhnya. Dean telah selesai, tapi suaminya itu masih bermanja-manja di dadanya.
Tiga bulan lebih menikah dengan Dean, Winarsih sudah cukup maklum dengan kebiasaan pria itu. Seperti tak ada cukupnya Dean masih menyesap dan memilin puncak dadanya pergantian.
Winarsih sebenarnya sama sekali tak keberatan, tapi kondisi Dean yang memang belum sembuh membuatnya sedikit risau.
Lebih-lebih lagi mengingat biasanya setelah mencapai puncak pelepasan yang pertama, Dean akan mengambil jeda dengan berlama-lama memainkan dadanya sebelum kembali memulai lagi.
Winarsih khawatir jika Dean akan mengambil jatah doublenya seperti biasa. Bergerak di atas tubuh suaminya dengan bertumpu kursi roda bukanlah hal yang nyaman. Apalagi dengan perutnya yang sudah sangat besar.
Saat suara bibir Dean yang menyeruput puncak dadanya begitu keras, tiba-tiba pintu kamar rawat terbuka.
"De! lagi di mana?" panggil Pak Hartono.
Bagai tersetrum, Winarsih menegakkan diri menarik dirinya. Tapi tangan Dean dengan cepat menangkap lengan isterinya.
"Toilet Pa!" jawab Dean.
"Istrimu mana?"
"Ini di dalem sama Dean," jawab Dean dengan menyunggingkan senyum penuh arti.
Pagi itu, Papanya pasti mampir ditemani oleh Irman, ajudannya. Dean bahagia sekali bisa memproklamirkan dirinya sedang berada di kamar mandi bersama Winarsih.
Dean berharap bahwa Irman yang saat itu bersama Papanya, cukup mengerti soal kegiatannya berada di kamar mandi bersama isterinya.
Tangannya masih mencengkram lengan Winarsih, puncak dada istrinya itu hanya beberapa senti di depan mulutnya.
Saat kembali mengecup dada itu, Winarsih sedikit menjauh.
"Kenapa?" tanya Dean.
"Nanti ada orang lain lagi yang masuk. Ini juga harusnya Pak Dean mandi, tapi sekarang belum bisa mandi." Winarsih menatap mata suaminya.
"aku kan masih kangen win," keluh Dean.
"Tapi ini rumah sakit, Pak Dean harus sembuh dulu" Winarsih mulai membenarkan letak pakaian dan mengkancing bajunya.
__ADS_1
Perlahan Dean melepaskan cengkeraman pada tangan isterinya itu. Dengan wajah cemberut dia mengawasi Winarsih yang mulai mengelap sekujur tubuhnya dengan air hangat.
"Siapa Ara?" tanya Winarsih tanpa menoleh, tangannya sedang membuang air hangat dari dalam baskom stainless steel.
"Eh?" Seketika Dean membisu.
Seperti menunggu jawaban suaminya, Winarsih mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Dean.
Setelah memakaikan pakaian lengkap dan rapi kepada suaminya, Winarsih mengambil sebuah sisir dan menyerahkan kepada pria itu.
Dean menyisir rambutnya dalam diam belum menjawab pertanyaan istrinya barusan. Sepertinya dia sedang menimbang ingin mengatakan hal apa soal nama yang baru ditanyakan oleh Winarsih.
Winarsih mendorong kursi roda suaminya ke luar dari kamar mandi menuju ranjang. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi Dean sudah berkali-kali melirik isterinya.
Setelah mengatur posisi bantal suaminya dan memastikan bahwa pria itu bersandar dengan nyaman, Winarsih beranjak menuju sofa dan meraih ponselnya.
"Novi katanya sedikit terlambat karna membereskan sesuatu di rumahnya," ujar Winarsih pada suaminya.
"Ya udah nggak apa-apa kalo kamu di sini lagi nggak ada keperluan," jawab Dean.
"Makan sekarang ya?" Winarsih menarik overbed table ke depan Dean.
Dean mengangguk dan sedikit menegakkan tubuhnya. Winarsih mulai membuka plastik wrapping yang menutup tiap piring berisi lauk di atas nampan.
"Nanti, itu nampan pendamping pasien saya letak di meja sofa." Winarsih menunjuk sebuah nampan yang juga berisi satu set makanan yang diperuntukkan bagi pendamping pasien.
"Sekarang pasiennya dulu yang makan," ujar Winarsih menyendokkan nasi lembut kepada suaminya.
Dean mengunyah makanannya dengan perlahan sembari memandang wajah isterinya yang menunduk. Winarsih tak ada menanyakan soal Ara lagi.
"Ara itu pacarku waktu SMA. Pacaran hampir tiga tahun trus pisahnya gitu aja. Aku nggak tau dia ke mana, aku langsung berangkat ke luar negeri untuk kuliah. Kayaknya saat itu Mama menemui Ara dan ngasi peringatan. Karna Ara langsung ngilang nggak ada ninggalin jejak sama sekali. Aku cukup lama nyari dia."
Winarsih hanya diam menyimak tiap perkataan Dean sambil terus menyuapkan makanan perlahan-lahan.
"Kaki kananku ini bekas kecelakaan naik sepeda motor sepulang aku mengantarkan Ara suatu malam. Ibu semakin membenci Ara sejak saat itu," ujar Dean dengan wajah muram yang seharusnya tak perlu ditunjukkannya.
"Masih sedih sampai sekarang?" tanya Winarsih memandang mata suaminya.
"Eh? bukan--enggak. Ya nggak lah, udah lama. Tadi kamu nanya jadi aku cerita. Aku nggak mau kamu sampe nanya lagi," tukas Dean.
CEKLEK!!
Pintu terbuka dan Pak Hartono kembali muncul di ambang pintu. Ternyata memang sudah kebiasaan Pak Menteri yang memiliki otorisasi tinggi itu masuk ke ruangan tanpa mengetuk.
"Oh sedang makan rupanya, kali ini kita berdua nggak ganggu ya De?" sindir Pak Hartono pada Dean.
__ADS_1
"Kirain udah balik Pa," ujar Dean melirik Irman yang berdiri di belakang Pak Hartono.
"Tadinya udah mau balik tapi Papa ada dapet pesan dari Fika yang sekarang lagi di kantor pusat. Jadi Papa mau ngomong sesuatu ke kamu." Pak Hartono menoleh ke belakang dan Irman buru-buru menarik sebuah kursi dan meletakkannya di sisi kanan Dean.
Winarsih yang menyadari bahwa Pak Hartono akan membicarakan suatu hal yang nampaknya penting dengan putranya, kemudian bangkit menarik overbed table dan menjauhkannya dari Dean.
"Saya duduk ke sofa dulu ya," ucap Winarsih pada suaminya. Dean mengangguk dan lagi-lagi matanya menatap Irman yang sedikit melirik ke arah Winarsih yang menuju sofa.
"Tadi Fika kirim foto ke Papa, katanya demo LSM di tambang batubara yang baru semakin memanas beberapa hari belakangan ini. Kayaknya penyandang dana demo sedang mengucurkan dana jor-joran." Pak Hartono menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Masa jabatan Papa enggak sampai 2 tahun lagi De. Papa cuma pengen Datang Tampak Muka, Pulang Tampak Punggung. Papa masuk ke kabinet dengan catatan baik, Papa juga pengen mengakhiri masa jabatan ini dengan baik. Tapi kayaknya semakin kesini semakin memanas. Papa sudah minta Fika kumpulkan semua berkas yang kita kerjakan kemarin. Sudah Papa kirim ke Ryan,"
"Tapi kalo seandainya semua meledak sebelum masa jabatan Papa berakhir, Papa siap?" tanya Dean pada Pak Hartono.
"Harus siap. Nggak ada pilihan lain De! Papa ngomong ini ke kamu juga agar kamu tau dan kamu siap. Bisa-bisa kantormu nanti tutup. Nggak ada klien yang percaya kamu lagi,"
"Aduuhhh," pekik Winarsih tiba-tiba dari arah sofa.
Ketiga pasang mata langsung tertuju padanya.
"Kenapa Win??!!" seru Dean. Tubuhnya sudah condong hendak turun dari ranjangnya.
"Tegang banget perutnya, sakit." Winarsih setengah merintih memegang perutnya.
Dean menurunkan kaki kirinya dari ranjang dan mencoba menarik kursi roda yang berada di kaki tempat tidurnya.
"Enggak-enggak, kamu baring aja. Biar Irman yang bantu Winarsih." Pak Hartono berdir menarik lengan kanan anaknya agar kembali ke ranjang.
"Pa--" erang Dean dengan wajah memelas.
"Man, bawa istri Dean dengan kursi roda itu. Pergi ke lantai tempat di mana Dokter Kandungan berada. Bilang itu menantu saya biar cepat diperiksa," perintah Pak Hartono pada Irman.
"Baik Pak," jawab Irman segera mengambil kursi roda dan membawanya ke dekat Winarsih. Dengan wajah meringis Winarsih memandang suaminya.
"Pa, itu istri Dean," gumam Dean dengan wajah benar-benar pias.
"Kamu nopang tubuhmu sendiri aja nggak bisa! gimana mau bawa Winarsih pergi memeriksakan kandungannya," ujar Pak Hartono sedikit kesal karena melihat anaknya yang merengek.
"Sudah Man! cepat sana bawa!" perintah Pak Hartono lagi.
"Win.." panggil Dean dengan tatapan merana.
Dean memandang punggung Irman yang menghilang di balik pintu bersama isterinya.
To Be Continued.....
__ADS_1