CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
143. Sungsang


__ADS_3

Minta like-nya dulu,


baru baca kemudian.


Bab ini aman dibaca saat berpuasa :D


*************


Kehamilan kedua Winarsih telah menginjak usia 35 minggu. Kurang lebih 5 Minggu lagi ia akan menyambut kehadiran anak keduanya yang diketahui dari Dokter Kandungan adalah seorang puteri.


Hari itu adalah hari Sabtu, dan Dean yang libur pergi ke kantor berjanji akan membawa isterinya mengecek kandungannya ke Dokter.


Winarsih masih di kamar sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit sesaat lagi. Dean telah sejak tadi sudah rapi dan terlihat tampan dan kinclong seperti biasa.


Di luar jam kantor, biasanya Dean tak memberi Pomade pada rambutnya. Ia membiarkan rambut lurusnya jatuh menutupi sebagian dahinya.


Di umurnya yang baru menuju 31 tahun, penampilan Dean masih jauh dari kesan seorang pria yang sudah berkeluarga. Saat menggendong Dirja pun ia masih seperti seorang om yang menggendong keponakannya.


Dean sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menimang Dirja dan bercanda. Tak jauh darinya Babysitter bayi itu duduk menunggui bayi itu sambil sesekali pandangannya mengarah ke televisi.


"Anak siapa sih ini? Cakep banget... Anak siapa coba?" tanya Dean pada bayinya yang tertawa-tawa melihat wajah bapaknya yang tengah tersenyum menatap.


"Ayo... Anak siapa ini? Anak siapa?" canda Dean lagi.


"Ya anak kamu Mas... Jadi anak siapa lagi? Sekarang juga udah lupa sama anak sendiri?" tanya Winarsih yang baru datang tiba-tiba. Wajahnya sedikit cemberut.


"Aku bercanda Sayang... Kan biasa bercanda kayak gitu. Kamu ih..." sungut Dean menurunkan Dirja yang mulai merosot mencari lantai untuk menjejak.


"Aku juga bercanda Mas, jadi langsung gitu mukanya." Winarsih tertawa melihat perubahan wajah suaminya seketika menjadi serius.


Dean menyentil pelan dahi Winarsih yang masih tertawa melihat raut wajahnya yang memang seketika khawatir kalau-kalau isterinya itu kembali merajuk karena hal sepele.


"Ayo pergi sekarang? Nanti keburu macet," ajak Dean seraya bangkit menyerahkan Dirja pada mbak-nya.


"Ibu pergi dulu ya Nak, jangan rewel. Ibu nggak lama-lama," tukas Winarsih.


Setelah mencium anaknya berkali-kali dan meninggalkan noda lipstik besar di pipi putih gembul anaknya, Winarsih pergi dalam gandengan tangan suaminya.


Sore itu jalanan sangat padat. Hari Sabtu dan semua orang sibuk keluar rumah lebih awal untuk menghabiskan malam Minggu di luar lebih cepat untuk menghindari kemacetan.


Hampir satu jam kemudian Dean baru bisa memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Meski itu hari Sabtu, tampaknya peminta poliklinik tak pula sepi. Mencari parkiran pun butuh waktu beberapa menit lamanya.


"Aku udah didaftarin Novi, jadi nggak perlu daftar lagi." Winarsih menoleh suaminya yang berjalan santai memeluk pinggangnya menuju lobby rumah sakit.


"Sekarang Novinya mana?" tanya Dean tanpa menoleh pada isterinya. Langkahnya terus menuju ke sebuah eskalator yang terletak di sisi kanan untuk menuju lantai dua tempat di mana poliklinik spesialis kandungan berada.


"Novinya pacaran. Kan ini malem Minggu," tukas Winarsih.


"Pacaran..." gumam Dean.


"Ya kan nggak apa-apa. Wajar pacaran, kan masih sama-sama sendiri. Dan pacarannya di tempat baik-baik. Novi kan nggak suka ke tempat yang muter musik keras-keras dan minum alkohol. Jadi Pak Ryan aman," ujar Winarsih santai.


Sekali lagi Dean menyentil pelan dahi isterinya yang terkekeh.


"Ko Dean!!" Tiba-tiba suara seorang wanita cantik berwajah oriental dengan rambut panjang lurus berkacamata melambaikan tangan beberapa meter di depan mereka.


"Eh Vero! Apa kabar?" Dean mengulurkan tangannya pada perempuan cantik yang juga tengah hamil itu.


"Baik-baik... Udah lama banget. Masih sering main ke INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa)?" tanya Vero pada Dean.


"Mama yang aktif di sana. Tapi sejak sakit udah jarang deh," jawab Dean. "Suami kamu mana? Ini anak pertama?" tanya Dean.


"Enggak, ini anak kedua. Itu yang pertama lagi sama Ayahnya. Cowok, 3 tahun lebih. Sayang--" panggil Vero pada suaminya yang baru saja selesai menuliskan sesuatu di meja pendaftaran.


Seorang pria tinggi dengan wajah mirip blasteran arab bercampur Eropa datang mendekat dengan menggandeng seorang balita laki-laki tampan.


"Dam... Kenalin, ini Ko Dean. Mama Ko Dean ini temennya Mama di INTI. Jadi kita dulu beberapa kali ketemu kalo INTI ngadain acara." Vero menggamit lengan suaminya untuk berjabat tangan dengan Dean.


"Saddam," ucap suami Vero. Saddam tersenyum tipis menyalami kenalan lama isterinya itu.


"Dean, eh Ver, kenalin ini isteriku, Winarsih. Udah mau lahiran bulan depan. Anak kedua juga, tapi anak kami yang pertama baru mau setahun usianya." Dean terkekeh.


Winarsih yang masih terkagum dengan penampilan kontras suami isteri kenalan Dean barusan menyalami Vero dengan mata berbinar.


"Hei Win... Lu ane sui cekoe a (Kamu sangat cantik sekali)," ujar Vero. Dean yang mendengar perkataan teman lamanya tertawa.


"Cin e (serius)?" tanya Dean tertawa lagi.


"Cin e la (Serius dong)," sahut Vero.


"Ha?" Winarsih sedikit bengong menatap Vero dan Dean bergantian.


"Kamsia (Terimakasih)," balas Dean.


"Dokter Azizah juga Win?" tanya Vero.

__ADS_1


"Iya Mba. Mba Vero sudah berapa bulan?" tanya Winarsih sedikit antusias karena merasa bertemu dengan rekan seperjuangannya.


"Baru masuk 4 bulan. Panggil Cici aja. Mama aku dan Dean deket banget tapi beda marga. Kita dulu hampir dijodohin. Ya kan Ko?" tanya Vero tertawa.


"Eh iya," sahut Dean tertawa sedikit kaku memandang wajah isterinya dan Vero bergantian.


Dean yang khawatir akan reaksi cemburu Winarsih ternyata tidak mendapati raut aneh pada isterinya. Winarsih masih tengah asyik sibuk memandang wajah Vero, suaminya dan balita tampan itu bergantian.


"Dapet nomer antrian berapa Ci?" tanya Winarsih mengurai kecanggungan di antara mereka.


"Masih lama nih, aku sekalian nunggu temenku. Udah mau lahiran juga, kayaknya sama ama kamu. Mungkin entar lagi dia dateng. Suaminya kerja di rumah sakit ini, Bang Firza. Temenan juga ama suamiku." Vero menoleh pada Dean saat mengatakan hal itu.


"Dokter Firza? Bedah?" tanya Dean.


"Iya... Kok tau? Kenal juga?" tanya Vero pada Dean.


Dean tertawa. "Enggak kenal, tapi pernah jadi pasiennya."


"Ya udah, kasian istri Koko lama-lama berdiri. Zach... Sini!" panggil Vero pada anak laki-lakinya.


"Ganteng banget," ujar Winarsih sedikit menunduk untuk mengelus pipi Zach dengan punggung tangannya.


"Kami duduk di sofa itu ya, kayaknya antrian aku masih lama." Vero menunjuk sebuah sofa yang letaknya berseberangan dengan ruang praktek Dokter Azizah.


"Ya udah, antrian isteriku kayaknya sebentar lagi nih." Dean melihat ke arah pintu ruang praktek yang masih tertutup terisi oleh pasien lama.


"Bye Zach..." Dean melambaikan tangannya pada balita yang berada di gandengan ibunya.


Dean menggandeng Winarsih menuju sebuah sofa yang menempel di dinding ruang praktek.


Seperti biasa Dean meletakkan tangan Winarsih di pahanya kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengecek email lebih dulu.


Mata Winarsih masih tak lepas memandang keluarga Vero yang terlihat sangat unik di matanya.


Secara tak sengaja, Winarsih mulai memasang telinganya untuk mendengar percakapan keluarga kecil yang duduk hanya beberapa meter dari tempat mereka.


Vero berbicara dalam bahasa Inggris dengan anaknya. Sedangkan suaminya, menggunakan bahasa Indonesia. Herannya, balita itu terlihat santai dan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya.


"Tadi Ci Vero bilang apa? Aku nggak ngerti bahasanya," ujar Winarsih.


"Dia bilang aku makin ganteng. Trus aku jawab, dari dulu kan emang ganteng."


"Ah, nggak percaya aku. Nggak sepanjang itu tadi kata-katanya," sahut Winarsih menggeleng.


Dean tertawa mendengar jawaban cerdas isterinya.


"Kalo aku jadi dijodohin anakmu nggak bakal mau dua Win..." sahut Dean santai masih terpaku pada ponselnya.


"Mas yang nggak mau? Atau Ci Vero-nya?" tanya Winarsih penasaran.


"Coba tebak siapa yang nggak mau?" tanya Dean setengah tersenyum jahil pada isterinya.


"Ci Vero-nya pasti yang nggak mau. Kalau dari gelagat Mas kayaknya nggak mungkin nggak mau," sahut Winarsih polos.


"Kamu itu ya..." ucap Dean.


"Apa?" tanya Winarsih memandang mata sipit suaminya.


"Kamu bener," sahut Dean terkekeh. "Vero yang nggak mau," jawab Dean.


"Berarti Mas mau?" tanya Winarsih lagi.


"Belum sempet lah. Aku juga nggak kepikiran waktu itu. Soalnya aku ada pacar. Kamu nanya-nanya gini jangan cari penyakit sendiri ya. Nanti pengen tau, dikasi tau ujung-ujungnya ngajak perang," tukas Dean.


"Enggak, cuma nanya aja kok."


"Cuma nanya, tapi nanti mau dikeloni ngomongnya gerah. Jangan deket-deket. Padahal AC kenceng sampe bikin aku kisut." Dean sedikit mengomeli Winarsih soal kebiasaan ngambek isterinya itu.


Winarsih tertawa dan menutup mulut suaminya yang sedang mengomel tak henti-henti. Dean meraih tangan isterinya dan kembali meletakkan tangan itu di pahanya.


"Suaminya orang apa sih Mas? Kayak blasteran gitu ya," ujar Winarsih kembali mencuri pandang melihat Vero yang tangan kanannya kini tengah digenggam dan diletakkan di depan mulut suaminya seolah terus mengecup tangan isterinya itu.


"Ya nggak tau, aku juga baru ketemu ini. Apa perlu aku tanya?" tanya Dean bercanda tapi dengan mimik serius.


"Memang bisa Mas tanya?" sahut Winarsih polos.


Sekali lagi Dean menjentik pelan dahi isterinya.


"Kamu ngapain nanya-nanya suami orang? Apa lebih ganteng suami Vero dari aku?" tanya Dean sedikit kesal karena mendengar Winarsih terus menerus membahas keluarga temannya.


"Mas ganteng. Suaminya juga ganteng. Gantengnya beda-beda," ujar Winarsih.


"Ya jelas aku ganteng. Kalo aku nggak ganteng mana mungkin kamu nyolek-nyolek dan bukain boxer aku hampir tiap malem. 'Mau pegang dulu...' alesan kamu itu," sungut Dean menjawil pipi isterinya.


Winarsih tertawa mendengar perkataan suaminya yang sedikit mengesalkan tapi benar seperti kenyataan yang terjadi selama ini. Hampir setiap malam ia merasa tergila-gila dengan suaminya. Terutama setiap Dean baru saja tiba di rumah dan selesai mandi. Winarsih semakin gemas melihat suaminya yang makin hari terlihat semakin tampan.

__ADS_1


"Ci Vero itu cantik," gumam Winarsih lagi.


"Mata kami, eksotis. Bikin yang ngeliat pengen," sambung Dean.


"Nggak mau kalah," ujar Winarsih.


"Nggak mau," jawab Dean.


"Udah lama Ver?" Suara wanita yang menyapa Vero dari kejauhan mengangkat pandangan Winarsih dari wajah Dean menuju sepasang suami isteri yang juga sedang menggandeng balita perempuan.


"Lumayan, emang telat? Atau udah lama nyampe tapi di ruang praktek Bang Firza?" tanya Vero.


"Baru nyampe. Abang tadi masih ada operasi jadi ngepasin ama waktu selesainya aja," jawab wanita yang baru datang tadi.


"Itu istri Dokter Firza," gumam Winarsih meremas pelan paha suaminya.


"Entar kalo aku liat, kamu cemburu." Pandangan Dean kembali ke layar ponselnya.


"Duduk sini," ajak Vero pada isteri Dokter Firza seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya.


"Kamu duduk aja," pinta Dokter Firza pada isterinya. Pria itu kemudian berdiri di sisi isterinya dan mengalungkan tangannya di bahu wanita itu.


"Katanya baru balik dari luar kota Dam?" tanya Firza pada suami Vero.


"Iya, buru-buru. Nyonya nggak mau ke Dokter ama orang lain." Saddam melirik isterinya yang sedang mengobrol dengan balita perempuan Dokter Firza.


"Jadi kapan?" tanya Saddam.


"Bulan depan," sahur Dokter Firza yang sore menjelang malam itu masih mengenakan pakaian hijau-hijau seragam operasinya.


"Beneran cewe Shen?" tanya Vero.


"Iya cewe lagi," sahut Shena nyengir.


"Masih Abang yang paling ganteng di rumah," sela Dokter Firza.


"Iya--iya Ayah," jawab Shena tertawa. Dokter Firza menarik kepala Shena hingga menyentuh perutnya saat mendengar jawaban isterinya itu.


"Ganteng semua..." gumam Winarsih kemudian. Ternyata ia masih menguping pembicaraan dua keluarga di seberangnya.


"Ih kamu ini," desis Dean memandang wajah isterinya.


"Bu Winarsih sudah bisa masuk ke dalam," panggil seorang perawat yang baru saja keluar dari pintu ruang periksa memegang sebuah sebuah kartu.


"Kebetulan dipanggil, ayo masuk. Udah selesai tontonan kamu." Dean menyeret lengan isterinya menuju pintu ruang periksa.


Winarsih langsung menuju ke ranjang periksa tempat di mana seorang perawat telah berdiri menunggunya dengan memegang sebuah selimut kecil.


Dokter Azizah telah duduk di depan mesin USG dan memegang kamera seraya menunggu Winarsih yang tengah membuka bagian perutnya.


Hampir sepuluh menit melihat layar berulang-ulang, Dokter Azizah mengangguk pada perawat untuk mengisyaratkan bahwa pasien telah selesai diperiksa.


"Ayo duduk sebentar, saya mau jelasin sesuatu." Dokter Azizah meletakkan kamera USG dan membuka sarung tangan sterilnya.


Dean membantu Winarsih turun dari ranjang periksa dan ikut menuju dua buah kursi di seberang Dokter Azizah yang telah duduk menunggu mereka.


"Pak... Bayinya belum masuk ke rongga panggul ibunya. Harusnya di usia kehamilan segini kan sudah ya, seperti anak yang pertama. Posisi kepala bayinya juga masih di atas. Kita lihat dalam dua Minggu ini ya, Ibunya harus sujud ke lantai seperti ini--" Dokter Azizah menunjukkan sebuah mainan boneka bayi gang sedang bersujud hingga dadanya menempel ke lantai.


"Lakukan itu sesering mungkin ya Bu, biar bayinya mau muter. Ini tali pusarnya saya liat juga melilit ke bawah tangan dan satu di lehernya. Kalau posisinya normal, lilitan tali pusar ini nggak ada masalah. Harusnya Bu Winarsih bisa melahirkan normal. Tapi kalau kepala bayi masi terus di atas, kita mau nggak mau harus operasi ya Bu... Kita liat dalam dua Minggu ini." Bu Azizah menatap wajah Winarsih yang kini pias karena mendengar penjelasan Dokter Azizah barusan.


"Sungsang?" tanya Winarsih.


"Iya, bukan masalah besar harusnya. Ibu nggak usah khawatir. Bisa operasi, sama aja melahirkan normal atau operasi. Yang penting ibu dan bayi selamat," ujar Dokter Azizah.


Winarsih kembali terdiam mendengar penjelasan Dokter Azizah kepadanya. Sebelum berlalu dari rumah sakit itu, Dean menuju ke loket apotek dan menebus beberapa vitamin yang harus diminum isterinya. Winarsih hanya duduk melamun di sebuah kursi.


Dean yang juga masih sedikit syok mendengar penjelasan tentang bayinya, menggandeng lengan Winarsih dalam diam menuju tempat dimana mobil mereka terparkir.


"Win... Kok diem aja?" tanya Dean sedikit khawatir.


"Mas..." panggil Winarsih.


"Ya Sayang," sahut Dean.


"Aku takut kalau sampai dioperasi Mas... Aku nggak mau," raung Winarsih.


"Enggak apa-apa. Kamu pasti baik-baik aja." Dean memeluk isterinya yang menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis dengan bahu berguncang.


"Aku takut Mas," raung Winarsih lagi. Tangis Winarsih pecah seketika. Bayangan menakutkan tentang berada di ruangan operasi untuk melahirkan bayi menghantui pikirannya saat itu.


To Be Continued.....


PS. Cerita Dokter Firza-Shena dan Saddam-Vero bisa dibaca dalam Stranger From Nowhere Dan sekuelnya ya... XD


Btw, bantu-bantu Winarsih sampai akhir bulan ini boleh nggak? Votenya jangan dikemana-manain dulu.

__ADS_1


Boleh ya... Sini dicium dulu :*


__ADS_2