
Winarsih masih menatap wajah suaminya seakan tak percaya. Tangannya masih berada di genggaman Dean yang meletakkannya di aset yang dibanggakan suaminya itu.
Benar yang dikatakan suaminya, benda itu memang perlahan semakin mengetat sempurna di balik seragam pasien Dean.
"Aku bukan nggak mau digantiin baju tadi. Tapi aku malu, kalo kamu tuh ngeliat aku begitu. Kalo deket kamu, aku susah nahan pagi ini. Kan kita udah beberapa hari nggak itu. Aku tidur juga nggak bisa nguwel-nguwel kamu. Aku kangen, tapi aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku khawatir kamu capek lagi. Apalagi seharian kamu udah ngerawat, nyuapin makan aku, gantiin baju. Keadaan kamu lagi hamil besar. Aku nggak mau bikin kamu capek, tapi kalo nggak deket kamu, aku nggak bisa. Sampe Papa bilang berkali-kali, aku ini rewel kayak bayi." Dean memandang lurus ke wajah Winarsih yang masih tekun mendengar tiap perkataannya barusan.
"Pak Hartono nggak salah, Pak Dean memang rewel kayak bayi," tukas Winarsih.
"Jadi menurut kamu aku memang rewel?" tanya Dean memandang isterinya.
"Iya, kan emang rewel." Winarsih memandang mata Dean.
Merasa isterinya menjadi sedikit berbeda, "kamu nggak pernah lo Win, bilang begitu sama aku. Aku sekarang lagi sakit." Dean cemberut.
"Makanya bapak itu nurut," ujar Winarsih.
"Tapi aku tadi memang malu Win, masa iya kamu buka celanaku, trus kamu ngeliat aku lagi begitu itu," ujar Dean.
"Biasanya emang gimana kalau mau itu? kan diliat juga itunya," jawab Winarsih polos.
Dean merona mendengar perkataan isterinya.
"Ya udah, kamu jangan ngomel terus dong. Kita tidur nggak deket-deket, kan aku nggak bisa macem-macem. Masa kamu ngomelin aku terus. Aku kan sakit win--" Dean kembali meremaskan tangan Winarsih di atas kelelakiannya.
"Kangen tau Win." Dean mengerucutkan bibirnya. Winarsih hanya menatap suaminya dengan pandangan iba.
"Ya udah, besok kan udah bisa pulang. Besok tidurnya deket-deketan lagi"
"Besok aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," ucap Dean.
"Kemana?"
"Kan kamu minta kemarin, anak kamu belum beli perlengkapan apa-apa. Kita pergi belanja besok, mau?" tanya Dean memandang wajah isterinya yang mulai terlihat ceria.
"Tapi kan masih sakit,"
"Nggak apa-apa. Besok kan ada Ryan yang bantuin. Ajak Novi juga." Dean mengelap sisa air mata di pipi Winarsih dengan harinya.
"Udah nggak ngambek lagi sekarang?" tanya Dean.
Winarsih tersenyum dan menggeleng. Kemudian Winarsih mengangkat tangannya dari atas benda kelelakian Dean.
"Jangan diangkat dulu, kan kamu udah tau sekarang. Pegang sebentar aja, kan nggak ada yang liat."
Dean kembali meremaskan tangan istrinya ke bawah sana. Winarsih semakin menatap iba kepada suaminya.
**********
__ADS_1
"Udah dicek lagi semua barangnya Pak Ryan? siapa tahu ada yang ketinggalan," pinta Winarsih pada Ryan yang masih berada di dalam kamar rawat.
"Oke, sudah kok. Kita sudah bisa berangkat semuanya udah beres." Ryan memegang satu tas dan 1 buah koper kecil milik Winarsih.
Dean yang masih duduk di kursi roda berjalan menyusuri lorong dengan didorong isterinya.
"Kata Dokter tulang tadi, tiga hari ke depan udah bisa dibuka gips bahunya. Tapi Pak Dean belum boleh terlalu banyak bergerak," tutur Winarsih sembari berjalan.
Mendengar perkataan belum boleh terlalu banyak bergerak, Dean kembali sedikit cemberut.
"Yan, kita ke baby shop ya," seru Dean pada Ryan sedikit menoleh ke belakang.
"Nggak ke mall aja sekalian Pak?" balas Ryan yang kemudian sedikit mempercepat langkahnya menyusul Dean di depan.
"Nggak usah, mall kan luas banget kasian istri gua kalo jalan," jawab Dean
"Iya ya, harusnya Bu Winarsih yang pakai kursi roda." Ryan berbicara sembari berjalan mendahului Atasannya menuju ke sebuah mobil yang terparkir di valet parking.
"Mobil baru? Mobil siapa ni?" tanya Dean bawel saat melihat Ryan membuka pintu sebuah Vellfire putih.
"Mobil elu Yan? cuma jadi sekretaris aja bisa beli mobil begini, banyak korupsi lu ya di kantor gua?" tanya Dean ceriwis dan turun dari kursi rodanya terpincang-pincang melangkahkan kakinya.
"Tinggal naik aja Pak, tinggal duduk," gerutu Ryan yang setengah terengah membantu Atasannya itu duduk ke dalam mobil.
"Dikasi Pak Hartono," jawab Ryan menyalakan mesin mobil.
"Nih," Ryan menyerahkan pada Dean sebuah dompet kecil yang biasanya terisi STNK kendaraan.
"Apa nih? Ooo---" Dean yang menyadari apa yang diberikan Ryan, langsung membuka dompet kecil itu.
"Kok?" tanya Dean menoleh Asistennya melalui spion.
"Iya, atas nama Bu Winarsih. Kata Pak Hartono kalo atas nama Pak Dean, entar bisa dikasi ke cewek lain." Ryan terbahak-bahak mengingat apa perkataan Pak Hartono padanya saat menyerahkan kunci mobil itu.
"Apaan sih lu?" gumam Dean melirik Winarsih yang duduk santai di sebelahnya.
Dan hampir empat jam berikutnya, mereka menghabiskan waktu di sebuah Baby Shop besar menemani Winarsih yang seperti tak ada lelahnya pergi dari satu rak ke rak yang lain untuk membeli perlengkapan bayinya.
Wanita itu merunduk, berjongkok, serta berdiri bermenit-menit hanya untuk memilih pakaian bayi. Dean yang didorong oleh Ryan duduk di kursi roda dengan sesekali mengangguk, tersenyum, memberi pujian, serta memberikan semangat kepada istrinya itu.
"Kamu nggak capek?" tanya Dean pada isterinya yang sedang memakai sebuah gendongan bayi ke tubuhnya.
"Bagus ya Pak?" Winarsih balik bertanya.
"Bagus, tapi kan nanti anakmu bisa digendong susternya Bu."
"Kan Pak Dean bilang untuk selalu membawa anak kita kemanapun kita pergi. Jadi ya biar saya aja yang menggendong. Kan anak saya. Tenaga ibunya itu lebih kuat ketimbang tenaga orang lain saat menggendong bayinya sendiri." Winarsih kembali mengenakan sebuah gendongan dengan motif lain.
__ADS_1
Mendengar jawaban isterinya Dean tersenyum. Dia bahagia Winarsih sekarang mulai terlihat lebih ceriwis.
Hampir satu jam Dean dan Winarsih menunggu di dalam mobil selama Ryan dan Novi membayar semua barang belanjaan mereka tadi.
"Kamu nggak capek Win?" tanya Dean untuk ke sekian kalinya.
"Enggak." Winarsih menggeleng.
"Seneng?"
Winarsih tersenyum dan mengangguk.
"Cium aku dong kalo seneng," pinta Dean.
Wanita berusia 21 tahun yang baru dinikahinya hampir 4 bulan itu, kini terlihat lebih ceria. Puncak masa muda isterinya memang selalu membuat Dean merasa gemas tiap memandang wajah Winarsih yang terkadang masih terlihat kekanakan.
Winarsih memajukan letak duduknya dan menyambut tangan kiri Dean yang terulur padanya. Sembari berpegangan tangan dan dipisahkan lorong kursi mobil, Winarsih mencium bibir Dean yang selalu terasa manis baginya sejak dulu.
Setelah tertatih-tatih menaiki tangga dengan bantuan sebuah kruk dan menopangi tubuh Ryan, akhirnya Dean tiba di kamarnya dengan wajah lelah.
Winarsih langsung mengganti pakaian suaminya dan menumpuk bantal untuk membuat sandaran yang nyaman bagi pria itu.
Semua barang belanjaan mereka telah diangkut ke lantai atas dan sekarang menumpuk di kamar Dean. Setelah membereskan perlengkapan suaminya, Winarsih kembali membuka belanjaannya.
Wanita itu kembali mengagumi sebuah celemek bayi berwarna-warni yang sudah dipandanginya setengah jam di toko tadi.
"Bagus ya Pak? lucu."
Dean mendengar perkataan itu sudah ratusan kali hari itu. Dan dia sudah cukup memahami bahwa arti kata lucu bagi seorang wanita adalah membeli.
"Win," panggil Dean sedikit gelisah.
"Ya?" Winarsih menoleh menghadap suaminya yang sedang memasang wajah tegang.
"Sini, tiduran deket aku. Aku kangen," gumam Dean menepuk bantal di sisi kanannya.
Winarsih meletakkan semua belanjaan kemudian mengalihkan perhatian penuhnya pada Dean. Winarsih merangkak ke atas ranjang dan langsung menurunkan celan* Dean.
Pandangan Dean terlihat sedikit was-was menunggu Winarsih yang sekarang tengah menggenggam benda miliknya di bawah sana.
Dean langsung menarik nafas panjang. Kehangatan tangan isterinya langsung menyentuh kulitnya dan menjalar ke semua bagian tubuhnya.
"Ssshhhhhh..... tangan kamu aja enak Win, apalagi--"
Winarsih mendongak menatap suaminya, dan Dean langsung membuat isyarat mengecup dengan mulut.
To Be Continued.....
__ADS_1