
Ngeliat komentar part lalu 100, aku jadi makin semangat, makasi yaa XD
Lumayan panjang nih,
minta Likenya dulu yaa :*
************
"Kita pergi ke restoran tempat makan kemarin dulu. Kita ngobrol sebentar." Bu Amalia berbicara saat mereka sudah di dalam mobil menuju restoran langganannya.
"Dirja udah minum Win?" tanya Bu Amalia membuyarkan lamunan Winarsih yang duduk mematung memandang ke luar jendela.
"Udah tadi Ma, itu dipangku mbak-nya tidur." Winarsih sedikit memutar tubuhnya untuk melihat bayinya yang sedang tidur nyenyak.
"Iya, biar tidur dulu, kasihan dia capek dibawa-bawa. Bapaknya kelayapan aja kayak masih remaja," omel Bu Amalia. Winarsih hanya bungkam mendengar perkataan ibu mertuanya.
Meski apa yang dikatakan Bu Amalia ada benarnya, tapi sebagai seorang isteri, Winarsih juga tak suka kalau suaminya harus menerima omelan dari ibunya.
Sebenarnya Winarsih juga khawatir menjalankan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Winarsih berpikir bahwa bisa saja dia mendapati hal yang tidak diinginkannya soal Dean saat didatanginya ke cafe itu.
Itu ibarat dipaksa untuk melihat sebuah kenyataan.
Terkadang memang ada satu kenyataan yang manusia sudah tahu, tapi ingin menghindari untuk tahu lebih banyak lagi demi menjaga hatinya sendiri.
Seperti itulah yang dirasakan Winarsih. Dia khawatir dengan menjalankan apa kata ibu mertuanya, dia malah mendapati Dean yang memang masih memiliki rasa terhadap mantan pacarnya atau begitu pula sebaliknya.
Winarsih khawatir kalau dia mendapati suaminya sedang melakukan sesuatu yang akan membuat hatinya lebih sakit lagi dibanding perempuan yang bergelayut manja di lengan suaminya.
Meski ia percaya Dean mencintainya dan menyayangi keluarga, rasa khawatir itu tetap ada. Tetap saja, hati wanita itu sulit untuk sembuh meski hanya sekali terluka.
"Jangan katakan apapun pada Dean saat di sana. Bagaimanapun juga, dia suami kamu. Kalau kamu bertemu dengan wanita yang kita lihat tempo hari, kamu bersikap biasa saja. Bawa Dirja duduk disana dan nikmati sore kalian seperti biasa. Mama percaya kamu bisa ngomong hal-hal yang tepat seperti biasa. Mama dan Novi langsung pulang. Mama tunggu kalian di rumah aja."
Itu adalah pesan Bu Amalia sesaat sebelum mobil berhenti di depan teras gedung tempat di mana cafe yang biasa didatangi Dean dan teman-temannya berada.
Dirja baru saja bangun dari tidurnya, babysitter telah mengganti pakaian bayi berumur tiga bulan lebih itu dengan yang baru. Meski belum kembali menyusu, tapi Dirja terlihat anteng dalam gendongan ibunya.
Dengan langkah tegap namun dengan jantung berdebar, Winarsih melangkah tegap menuju pintu masuk cafe. Winarsih sebenarnya masih kurang percaya diri bertemu mantan pacar suaminya itu. Tapi kehadiran Dirja di dalam dekapannya membuat hatinya luruh. Bayi itu terus memandangnya dan tersenyum.
Mata Dirja yang sedikit sipit dengan bola mata hitam yang besar menatapnya penuh antusias. Seolah bayi itu bertanya akan ke mana mereka hari itu. Sebelum mendorong pintu masuk, Winarsih sempat merapikan rambut hitam lebat Dirja yang berdiri rata menggemaskan.
"Dirja temani ibu ngintilin Bapak hari ini ya--jangan rewel. Agak berisik tempatnya." Winarsih berbisik ke telinga Dirja dan mencium pipi bayi itu.
Dia telah berdiri di dalam cafe dan memandang berkeliling tempat itu untuk menemukan sosok suaminya yang biasanya pasti terlihat menonjol dengan rupanya.
Beberapa pasang mata pengunjung pria yang berada di sana memandangnya tanpa sembunyi-sembunyi. Mungkin memang sedikit aneh dan jarang pengunjung yang datang sambil menggendong bayi. Terlebih penampilannya saat itu kontras dengan tampilan ibu-ibu saat bepergian dengan seorang bayi.
Mata Winarsih telah menemukan seorang wanita yang pernah dilihatnya menyentuh suaminya berkali-kali saat tertawa manja di teras gedung itu.
Ara, nama wanita itu katanya Ara. Sekarang Ara sedang menyentak-nyentak pelan ujung jari Dean saat berbicara dan menatap wajah suaminya dengan tatapan teduh.
Sebagai wanita, Winarsih mengerti arti tatapan Ara. Karena sampai detik ini, seperti itu jugalah caranya memandang Dean. Terlebih saat mereka sedang mengobrol di atas ranjang sesudah menyatukan diri mereka. Dia dan suaminya selalu bertukar tatapan teduh seperti itu.
Winarsih mengenali tiga orang pria teman dekat Dean yang duduk tak jauh dari meja sepasang teman lama yang sedang ditujunya. Langit yang sejak ia masuk di pintu cafe tadi langsung memandangnya penasaran, kini sepertinya telah mengenalinya.
Langit terlihat memanggil Dean dan dalam sekejab saja suaminya itu berbalik memandangnya.
Sedetik Dean masih terlihat seperti biasa saja. Namun di detik berikutnya, Dean terlihat membelalak terkejut dan di detik selanjutnya.
Suara ketukan langkah heels yang dikenakan Winarsih membuat Ara melepaskan ujung jari Dean dari tangannya. Saat tiba di depan suaminya, Winarsih tersenyum.
"Maaf lama, tadi mama ngajak mampir ke restoran sebelah nemuin temennya. Ini Bapak Nak," ujar Winarsih menyapa Dean dan meletakkan Dirja ke dalam pelukan bapaknya.
Dean masih sedikit terkejut namun berusaha mengontrol ekspresi wajahnya menjadi biasa saja. Dia berpikir-pikir apa Winarsih sempat melihat Ara yang sedang merengek manja sambil memegang ujung jarinya barusan? Dean merasa punggungnya dialiri keringat padahal AC cafe itu dingin sekali.
"Ini meja yang dipesan tadi? Kok nggak deketan dengan meja yang lain?" tanya Winarsih seraya melemparkan pandangan pada tiga orang laki-laki yang sekarang sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Iya, tadi di deket sana penuh. Ada orang," sahut Dean mengangkat Dirja ke depan wajahnya dan membenamkan hidungnya di pipi bayi itu. Dirja tertawa kecil karena ciuman bapaknya.
"Eh iya, Ra, ini istriku. Dan ini--ini siapa ni? Anak Bapak kan? Anak bapak atau anak ibu?" tanya Dean pada Dirja yang masih diciuminya.
__ADS_1
"Saya Ara, teman SMA-nya Dean. Kita dulu semuanya ke mana-mana sering bareng. Mungkin Dean udah sering cerita," ujar Ara tersenyum pada Winarsih.
"Bapak Dirja nggak pernah cerita soal Mba. Seringnya cerita soal Mas Toni, Mas Langit dan Mas Rio aja." Winarsih menduduki sebuah kursi yang ditarik Dean untuknya.
"Oh ya? Kirain Dean pernah cerita. Soalnya saya juga udah lama banget nggak ketemu Dean, makanya waktu satu hotel di Kalimantan kemarin saya seneng banget. Bisa ngobrol banyak. Dean nggak cerita juga?" tanya Ara seraya memandang Dean yang sedang menaikkan satu alisnya menatap Ara.
"Kalau soal itu Bapak Dirja cerita, katanya ketemu teman SMA-nya perempuan. Tapi saya nggak tanya itu siapa. Ternyata temen wanitanya secantik ini." Winarsih melemparkan senyuman manis yang menampakkan kedua lesung pipinya.
DEG
Dean tak pernah memberitahukan soal siapa yang ditemuinya di secara tak sengaja di Kalimantan. Yang tahu hal itu hanyalah Ryan dan Pak Hartono. Dean merasa yakin sekali jika Ryan tak mungkin mengatakan hal macam-macam tanpa diminta.
Apa mungkin papanya yang memberitahu mamanya yang sekarang menjadi sekutu Winarsih? Kenapa Winarsih bisa tenang sekali?
Dean sejak tadi memandang Winarsih masih dengan tatapan mengagumi tampilan isterinya hari itu, tapi saat wanita itu melemparkan senyumnya pada Ara, Dean bergidik. Senyum Winarsih tak seperti biasanya.
Saat menimang Dirja di depan wajahnya, Dean melirik tatapan Ara pada Winarsih. Ada sedikit raut kesal di sana. Dan saat melirik raut Winarsih, Dean melihat raut wajah siaga di sana. Dan kini, ia seperti sedang melihat pertandingan adu mental sembari menjaga bayi.
Ara yang dikenal Dean adalah seorang wanita gigih yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Ara tak beranjak sedikitpun dari duduknya. Seolah ia memang ingin mengenal siapa wanita yang akhirnya menjadi isteri Dean.
Winarsih melambaikan tangannya dengan anggun ke arah pelayan. Saat tangan Winarsih terlipat di atas meja, Dean melirik perhiasan yang dipakai isterinya. Sebuah gelang mas putih yang dikelilingi berlian kelas GIA serta sebuah cincin melingkari jari tengahnya yang sedang membolak-balik buku menu.
"Menu paling recommended-nya apa?" tanya Winarsih pada pelayan seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kiri. Dean melihat sebuah giwang model tusuk dengan mata berlian yang besar menempeli telinga putih isterinya.
Siapa yang mengajarkan Winarsih gesture tubuh elegan seperti ini pikirnya. Nanya menu recommended? Dean seperti tak mengenali isterinya. Posisi duduk Dean kini sudah menyerong menghadap isterinya.
Pandangan Dean menelusuri bibir, rahang dan turun hingga ke dada isterinya dari samping. Winarsih tak boleh dibiarkan pergi berpenampilan seperti ini lagi pikirnya. Dia saja sejak tadi tak berhenti menatap isterinya, apalagi laki-laki lain.
Dean melemparkan pandangan pada ketiga sahabatnya yang mencuri-curi pandang sejak tadi. Rio pasti akan mendapat amukan darinya nanti. Tapi untuk sekarang dia ingin mengamankan isterinya dari pandangan banyak laki-laki di cafe itu.
Dean sudah tahu bahwa di rumah nanti dia akan mendapatkan kemarahan combo dari dua wanita paling penting dalam hidupnya. Jadi untuk sekarang dia hanya bisa bertingkah polos dan berusaha menyamai kegemasan Dirja.
"Jadi kegiatan Mba sekarang di rumah aja?" tanya Ara pada Winarsih yang baru baru selesai memesan makanannya.
"Iya, di rumah aja. Ngerawat suami, anak dan ibu mertua." Winarsih kembali tersenyum pada Ara. "Mba Ara ini, kegiatannya apa?" Winarsih balik bertanya.
"Mengurus perusahaan yang ditinggalkan suami saya. Lumayan besar, jadi saya memang lebih sibuk dan sering di luar," jawab Ara.
"Lumayan. Sayangnya Dean nggak pernah cerita ya gimana kita deketnya dulu," ujar Ara.
"Bapak Dirja nggak cerita mungkin karena menganggap itu hal yang nggak penting lagi Mba. Apalagi belakangan suami saya sibuk."
"Jahat kamu De! Aku nggak pernah dianggap ya selama ini. Padahal kan cuma cerita-cerita lama doang. Lagian sekarang kan cuma temen doang. Serius ama lu!" ujar Ara bercanda pada Dean yang menunjukkan ekspresi tak nyaman dengan perkataan Ara.
Ara sedang mencoba menunjukkan bahwa ia pernah menjadi bagian penting dalam hidup Dean.
Winarsih tertawa sumbang mendengar perkataan Ara. Kemudian, "Mba, wanita dan pria normal itu nggak akan bisa berteman dekat tanpa melibatkan perasaan. Terlebih lagi, dulunya pernah dekat. Nanti ujung-ujungnya, kalau nggak Mba Ara yang menaruh hati pada suami saya, ya bisa sebaliknya. Saya percaya suami saya. Saya juga percaya Mba Ara ini pasti lebih mengerti dari saya. Atau sekarang Mba Ara masih menaruh hati pada suami saya?"
Ara tertawa sumbang mendengar perkataan Winarsih.
Dean tak sengaja menahan nafasnya saat mendengar perkataan Winarsih. Rasanya ia ingin meminta Dirja menangis agar ibunya tersadar untuk segera menyusui anaknya.
"Tapi pertemanan dengan pria dan wanita itu di jaman sekarang itu sudah biasa. Seperti bersalaman, cium pipi kanan-kiri, itu kayak cuma sekedar greetings tanpa melibatkan perasaan," tukas Ara tak senang dengan jawaban Winarsih.
"Kalau dicium pipi kanan-kiri dengan setiap pria yang ditemui adalah hal yang biasa buat Mba Ara, itu nggak biasa buat saya. Saya nggak pernah bersentuhan dengan laki-laki manapun selain suami saya. Jadi saya risih melihat suami saya disentuh wanita lain. Kalau Mba di posisi saya, Mba pasti mengerti." Winarsih menyingkirkan lengannya dari atas meja untuk memberi tempat bagi hidangan yang baru saja datang.
Mata Winarsih membulat menatap hidangan cantik yang baru disajikan di hadapannya. Tanpa berbasa-basi pada Ara, Winarsih mulai menikmati makan sorenya sesuai anjuran Bu Amalia.
"Pak, mau nyobain? Ini kayak yang pernah kita makan di cafe simpang rumah dulu." Winarsih menyodorkan sepotong ayam panggang yang ditaburi bumbu campuran rempah.
"Mana? Coba aku cicipin." Dean membuka mulutnya menerima suapan Winarsih. "Enak Bu, kamu makan dulu, nanti sisain dikit buat aku," pinta Dean pada isterinya. Winarsih mengangguk-angguk dengan wajah riang.
Meski di rumah Dean yakin akan babak belur, setidaknya di cafe itu ia harus menuruti apa yang dilakukan isterinya saat itu. Dirja yang mulai bosan ditimang bapaknya mulai menggeliat dan merengek.
"Win--" panggil Dean dengan wajah memelas. Dia sudah bingung tak tahu cara menenangkan anaknya yang mulai menangis.
"Sini, anak ibu udah haus ya? Sejak bangun tidur tadi memang belum ada nyusu," ucap Winarsih.
"Hah?? Jangan di sini, nggak boleh--nggak boleh. Ayo--ayo kita pulang. Aku nggak mau kamu nanti diliatin orang. Di sini banyak laki-laki hidung belang." Dean berdiri dari kursinya dan mengusap-usap punggung Winarsih.
__ADS_1
"Banyak laki-laki hidung belang ya?" tanya Winarsih memandang suami dan ketiga orang pria di meja lain yang sedang memandang ke arahnya.
"Ayo Sayangnya Pak Dean--" gumam Dean di telinga isterinya.
"Gua balik dulu ya! Buru-buru, beresin bill gua!" teriak Dean pada sahabat-sahabatnya. Ketiga pria di meja lain itu mengangguk serentak dan mengibaskan tangan berkali-kali menyuruhnya untuk pergi dari cafe itu secepatnya.
"Saya permisi dulu Mba Ara, maklum ya Mba. Ini salah satu nikmatnya punya bayi." Winarsih mengangguk pada Ara kemudian berjalan dalam rangkulan Dean.
Dean bahkan lupa berpamitan padanya.
"Disusui dulu anaknya, kayaknya haus banget. Itu mulutnya udah mangap-mangap terus. Anak Bapak haus ya?" Dean berbicara sambil mengemudikan mobil sedan hitamnya.
Winarsih segera membuka satu kancing blazernya dan menurunkan dalaman biru blazer itu. Sedetik kemudian Dirja telah berdecak-decak menyeruput ASI langsung dari ibunya.
Dean melirik senang saat melihat anaknya minum dengan lahap.
"Bapak nggak pernah bilang sama saya kalau ketemu Mba Ara itu di Kalimantan. Sampai satu hotel gitu. Meski nggak sengaja ketemu tapi nggak pernah ngomong. Saya juga pernah liat Mba Ara itu gelayutan di tangan Bapak di dekat petugas parkir tadi. Mba Aranya lagi ketawa-ketawa seneng megangin tangan suami saya. Uti Dirja juga liat. Bapak diem aja. Tadi juga dia megangin tangan Bapak, Bapak diem aja. Bapak seneng? Pertemanan wanita dan pria yang dimaksud Mba Ara itu memang harus seperti itu?" tanya Winarsih tak sanggup menahan sedih dan emosinya.
Dean terdiam sesaat.
"Aku nggak ngomong bukan maksud mau bohongi kamu Win. Aku cuma nggak mau kamu mikirnya aneh-aneh," jawab Dean. "Itu nggak sengaja, ketemunya nggak sengaja."
"Mba Ara itu masih ada hati dengan Bapak. Dia megang-megang Bapak hati saya sakit liatnya. Bapak juga diem aja. Saya nggak suka. Saya percaya Bapak nggak macem-macem di luar. Saya nggak bisa cegah Bapak ketemu sama siapa aja. Tapi kalau gaya pertemanan Bapak kayak gitu, saya nggak mau. Saya nggak bisa terima." Winarsih mulai menangis. Dia tak bisa menahan laju air matanya. Berkali-kali ia menyeka pipinya agar air mata itu tak menetes mengenai Dirja.
"Bu Win, maaf. Aku nggak sengaja. Aku nggak ada maksud apa-apa."
"Berhari-hari saya nahan, saya sakit hati karena Bapak kayaknya menganggap apa yang dilakuin perempuan itu wajar-wajar aja. Bapak bilang saya dingin, berubah. Saya juga sakit tiap harus gituin Bapak. Saya nggak mau."
"Win...jangan nangis. Aku minta maaf, nanti anak kamu denger ibunya nangis. Aku nggak mau."
"Perempuan mana yang mau ngeliat suaminya jadi tempat manja-manja wanita lain? Nggak ada yang mau Pak," Winarsih terisak-isak menumpahkan kesedihan yang telah dipendamnya berbulan-bulan.
"Ya ampun, ibu anakku sampe nangis kayak gini. Ampuni aku Bu Win... aku salah. Jangan nangis kayak gitu. Aku nggak bisa liat kamu nangis Winarsih. Aku cinta kamu, maafin aku." Dean mengusap-usap kepala isterinya yang masih menangis sembari menyusui anak mereka.
To Be Continued.....
Hai, ini juskelapa
Sebagai rasa syukur aku, karena novel ini mau tamat.
Aku mau bikin GA.
GA ini aku buat sebagai rasa syukur aku untuk semua pembaca yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca karya-karya juskekapa khususnya CINTA WINARSIH.
GAnya berupa,
15 buah Tote Bag dengan cover Winarsih untuk 15 orang
Pulsa @25K untuk 10 orang
Caranya :
Aku bakal tentuin dari peringkat Ranking UmumTop Fans pemberi Point.
Peringkat 1-10 akan mendapatkan Tote Bag exlusive Winarsih
Peringkat 10-20 akan mendapatkan pulsa masing-masing 25k
3 tote bag untuk pemberi komentar terbaik yang dipilih oleh juskelapa langsung.
2 Tote bag untuk dua orang pembaca spesial yang sering ngasi tip untuk juskelapa XD
PS.
• Komen harus sesuai dengan isi bab, dimohon untuk tidak komen diluar kontek bab. Kalo ada pertanyaan tanya di GC yaa...
• Peringkat dilihat dari aplikasi NT/MT versi terbaru dan tidak berlaku untuk IOS ya.
Periode acara dimulai dari tanggal 05 April 2021 - 19 April 2021.
__ADS_1
Semoga Tote Bagnya bisa selesai dengan rupa sesuai harapan ya... dukung terus Winarsih-Dean yaaa :*