CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian


__ADS_3

(Beer Garden SCBD Sudirman Jakarta, Jumat pukul 16.00)


"Cheeerrsss...." teriak empat pria tampan, necis dan terlihat kaya itu serempak.


Jumat sore adalah waktu yang mereka rasa pantas untuk bertemu menyatukan cerita mereka selama seminggu dengan kehidupan pekerjaan dan keluarga mereka masing-masing.


Usia 33 tahun adalah puncak di mana mereka sedang merasa cinta-cintanya dengan isteri dan anak-anak mereka. Sedang merasa menjadi sosok pria paling bahagia dan bijaksana.


"Lu kapan lagi sih? Gonta ganti mulu," ujar Rio pada Toni.


"Gua ada mau minta tolong deh ama lu betiga. Kira-kira bini lu pada ngasi nggak ya..." ujar Toni.


"Apaan emang? Tergantung sih, lu mau ngajakin ke mana?" tanya Dean.


"Outing perusahaan gua, luar kota. Sekalian gua ada misi."


"Misi apaan? Gua kok merinding ya? Berapa hari emangnya?" tanya Langit terlihat sedikit tertarik.


"Kok lu yang merinding? Yang penting lu betiga dapet izin ya. Mulai sekarang lu betiga servis istri sepuasnya. Biar dikasi ijin. Penting pokoknya," terang Toni.


"Kalo gua bukan merinding mau pergi ke mana-nya. Tapi merinding minta izinnya. Apalagi nginep, mesti servis dari semua sudut," jawab Dean.


"Sekarang cemen amat," sergah Toni.


"Yeeeee..." ujar Rio dan Dean nyaris serentak.


"Makanya lu berkembangbiak, biar ada anak. Mau begituan aja sekarang harus memastikan semua anak udah tidur," tukas Rio.


"Makanya meski langit masih terang, kalo ada waktu luang ya langsung ambil jatah. Mumpung sempat," sambung Dean.


"Kalo lu sih nggak heran gua. Rajin di mana-mana." Langit tertawa.


"Sabtu malem nontonnya film kartun yang udah diulang ratusan kali," sahut Rio.


"Sampe lu hapal dialognya," sambung Dean lagi. Kemudian Rio dan Dean tertawa terbahak-bahak.


"Persatuan bapak-bapak banyak anak kompak ya," ujar Toni.


"Outing kantor. Bakal berasa kita kayak perkemahan Sabtu Minggu jaman SMA nggak sih?" tanya Langit. "Kangen juga," tambahnya lagi.


"Iya ya, udah lama banget nggak pergi cuma berempat aja. Outing-nya daerah mana? Daerah dingin nggak?" tanya Dean mulai tertarik.


"Sukabumi," jawab Toni.


"Banyak cewe cakep?" tanya Rio.


"Ini misi untuk gua Yo, lu jangan nanya cewe. Inget anak lu banyak. Gua yang belum laku," sahut Toni.


"Lu keseringan duduk depan pintu sih, pamali." Langit mengambil sebuah kentang goreng dan memasukkannya ke mulut.


"Iya, jauh jodohnya." Rio ikut-ikutan mengambil kentang dan memasukkannya ke mulut.


"O iya, ajak Ryan De! Biar izin lu gampang," ujar Toni tiba-tiba.


"Iya juga ya. Tapi bininya lagi hamil. Entar gua tanyain deh."


"Bilang aja acara kantor lu," saran Toni lagi.


"Enggak berani gua kalo bilang gitu, mending jujur aja. Kalo Ryan ikut kemungkinan besar dikasi."


"Iya bener... Jangan bilang acara kantor deh. Entar ketauan bohong berabe," sambung Rio manggut-manggut.


(Dari Penulis : Nantikan acara outing kantor Toni yang akan dihadiri Genk Duda Akut dalam spin off terpisah. Harap sabar menanti ya :*)


Pukul delapan malam sebuah sedan BMW putih berhenti di teras lobby rumah Pak Hartono. Beberapa saat kemudian, Dean keluar dari pintu pengemudi dan melemparkan kunci mobil pada Rojak yang telah menunggu di sisi kanan mobil.


"Papa ada?" tanya Dean pada Rojak.


"Ada. Itu sedang di teras samping sama anak-anak," jawab Rojak kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke belakang kemudi untuk membawa mobil itu ke parkiran di sayap kiri rumah.

__ADS_1


Langkah kaki Dean langsung menuju teras samping yang bersambung dengan ruang keluarga. Pagi tadi ia mengenakan celana bahan berwarna abu-abu yang membungkus kaki Dean dengan sedikit ketat dipadukan sepotong kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang dipilihkan Winarsih untuknya.


Saat memakai celana itu pagi tadi, Dean sempat berseloroh apa istrinya itu tak cemburu melihat bokongnya yang seksi jadi semakin berbentuk sempurna dengan celana abu-abu itu.


Winarsih dengan genit langsung meremas bokong Dean sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Langkah kaki Dean yang masih terbungkus sepatu kulit mengetuk lantai granit dengan suara yang semakin lama semakin jelas. Melewati ruang makan kemudian menembus hingga ke teras samping tempat di mana bu Amalia dan pak Hartono sedang duduk bersantai.


"Doremi mana Ma? Kok nggak ada yang keliatan?" tanya Dean mencari anak-anaknya.


"Doremi--doremi, nanti ibunya denger bisa kena omel kamu. Sembarangan aja manggil anak," omel Bu Amalia.


"Itu sedang sama mbak-mbaknya lari-larian di taman." Pak Hartono mengangkat wajahnya dari majalah dan melemparkan pandangan ke taman dekat kolam renang.


Seorang balita laki-laki dan dua orang balita perempuan berlarian saling mengejar di antara petak-petak bunga disinari lampu kuning taman.


"Main di luar malem-malem. Apa nggak pada ngantuk," gumam Dean.


"Pasti bapaknya yang manggil doremi tadi. Anak sendiri manggilnya gitu. Manggil itu yang bener. Ada namanya. Dirja, Dita, Widi. Doremi...Doremi. Anakku bukan anak tangga nada," omel Winarsih yang baru datang dengan sepiring buah potong dan meletakkannya di meja dekat kursi kedua mertuanya.


"Rasain..." gumam Bu Amalia pada Dean. Seketika Dean bungkam namun tersenyum jahil pada istrinya yang begitu sensitif kalau anaknya diganggu. Meski oleh bapaknya sendiri.


"Mbak.... Bawa masuk semua. Udah malem, gantiin semua bajunya biar tidur. Widi sini...." Winarsih merentangkan tangannya pada anak bungsunya.


Tiga orang balita berlari mendekati teras karena mendengar suara ibunya. Dirja sekarang berusia 3 tahun 9 bulan. Dita berusia 2 tahun 7 bulan, dan Widi berusia 1 tahun 8 bulan. Dean tak salah, tiga balita itu memang mirip seperti tiga anak tangga.


"Dita pegang apa?" tanya Pak Hartono pada Dita yang memegang sekuntum bunga.


"Mas kasi..." jawab balita itu dengan maksud mengatakan bahwa Dirja yang memberinya sekuntum bunga itu.


"Iya, mas yang kasi." Dirja mendekati eyangnya dan berhenti memegang lutut pak Hartono.


"Udah malem, masuk ya. Bobok," ujar pak Hartono pada cucu laki-laki satu-satunya itu.


"Widi sini, bapak gendong ke atas." Dean memanggil anak bungsunya yang kemudian berjalan mendekat dan merentangkan tangannya.


"Ya udah sana, bobok." Bu Amalia menepuk pelan paha Widi yang berada di gendongan bapaknya.


Anak ketiga mereka diberi nama Widi Danurdara Hartono. Harusnya nama balita itu hanya dua suku kata saja, Danurdara Hartono. Tapi Winarsih yang merasa harus memiliki anak yang mirip dengannya, nekad memilih nama yang serupa dengan abjad namanya sebulan sebelum bayi itu lahir dengan harapan Widi akan mirip dengannya.


Ternyata kenyataan berkata lain. Widi memiliki wajah sangat mirip dengan Dean. Bahkan bisa dibilang, semakin balita itu bertambah umurnya, matanya semakin sipit dan mirip dengan utinya.


Winarsih harus puas memiliki tiga orang anak yang tak mirip dengannya. Untuk mencegah kelahiran kembali, kini Dean telah terbiasa mengenakan pengaman. Meski kadang-kadang ia mengenakan karet itu di akhir-akhir sesi bercinta mereka saja.


Penampilan Winarsih sudah sangat berubah. Kini rambutnya telah kembali hitam dan dipotong pendek di atas bahu tanpa memakai poni. Dengan rambut pendek seperti itu membuat Winarsih tampak segar di usianya yang ke 25 tahun.


Winarsih sekarang adalah seorang mahasiswi manajamen bisnis sebuah universitas swasta. Perkuliahannya hanya di akhir minggu selama 2-3 jam.


Dean mengantarkan Winarsih ke kampus hingga ke depan pintu kelas seperti seorang bapak yang mengantarkan anaknya masuk sekolah. Sedangkan untuk menjemputnya, ia tiba lebih awal sebelum kelas istrinya berakhir. Bahkan kadang ia menunggu di luar kalau mata kuliah Winarsih hanya berlangsung sejam.


Dean menikmati acara akhir minggu di kampus Winarsih. Hobinya mengamati mahasiswi di universitas swasta itu disalurkannya dengan baik. Tapi saat istrinya mendapat sapaan dari seorang, dua orang mahasiswa, Dean dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.


Pernah suatu kali Winarsih didatangi oleh Ketua BEM kampus saat mata kuliah berakhir untuk diajak ikut kegiatan kemahasiswaan. Dean mengamati gesture dan ekspresi pemuda itu berbicara dengan istrinya. Meski Winarsih menanggapi hal itu biasa saja, namun rupanya Dean sedikit terusik.


Minggu berikutnya, Dean menggendong Widi saat menjemput istrinya. Widi yang terlihat senang dibawa menjemput ibunya, sudah berteriak-teriak dari jauh memanggil 'Ibuuuk.... Ibuuuk'.


Pemuda yang sedang mengobrol di depan kelas bersama Winarsih akhirnya tersenyum canggung menatap Widi. Dan Dean tersenyum puas seraya berjalan santai ke arah istrinya. Senyumnya lebih mengembang lagi saat beberapa mahasiswi terlihat berbisik-bisik dan tersenyum padanya. Begitulah Dean.


"Jangan panggil anakku lagi doremi," sungut Winarsih saat Dean berbaring melingkarkan tangan di tubuhnya.


"Aku bercanda Bu Winar," sahut Dean dari bawah ketiak Winarsih yang sedang membaca buku.


"Ada namanya," tukas Winarsih.


"Iya," jawab Dean mencium bawah lengan istrinya.


"Nanti kebiasaan sampe mereka gede, kasian."


"Iya.... Tapi kan lucu Win, doremi." Dean tertawa dengan suara teredam tubuh istrinya. Winarsih menepuk lengan suami jahilnya itu.

__ADS_1


"Win," panggil Dean.


"Hmmm--"


"Itu box bayi dua-duanya kosong." Dean menegakkan kepalanya memandang dua box bayi di sisi kanan ranjang.


"Kenapa? Mas mau tidur di situ? Ya udah sana," sahut Winarsih masih dengan buku di tangannya.


"Kamu ini nggak peka."


"Hamil lagi? Enggak ah, aku sedang menikmati masa kuliahku. Sebentar lagi aku ujian akhir semester, terus aku diajak ikut kegiatan di kampus. Nambah temen dan pengalaman organisasi Mas," tukas Winarsih.


"Enggak usah ikut-ikut organisasi. Pengalaman apa? Mending kamu kerja di kantorku kalo mau pengalaman. Atau sekalian masuk jadi direksi Cahaya Mas." Dean bangkit dari posisi baringnya dan ikut bersandar di kepala ranjang.


"Nanti kalau hamil lagi, Mas panggil anakku doremifa." Winarsih mencibir pada suaminya.


Dean tertawa geli melihat wajah istrinya. "Aku nggak mau kamu ikut-ikut kegiatan kampus, ngapain? Nggak usah."


"Mumpung anak-anak udah bisa ditinggal," sahut Winarsih.


"Oh gitu..." gumam Dean.


"Iya," jawab Winarsih kalem.


"Yuk Win, udah 4 hari." Dean meremas dada istrinya.


"Di mana?" tanya Winarsih yang malam itu sepertinya rindu dikunjungi.


"Malem ini di kursi," jawab Dean seraya bangkit menuruni ranjang di sisi kanan istrinya. Ia kemudian berdiri menurunkan celana piyamanya.


"Dipanasin dulu Win," pinta Dean terkekeh.


"Kayak mobil aja," sungut Winarsih tapi tangannya bergerak cepat menyentuh milik suaminya. Beberapa lama kepalanya naik turun mengikuti tangan Dean yang menuntun gerakannya.


"Buka Win, cepet. Yang pertama nggak lama ini," ujar Dean. Tergesa-gesa ia membantu Winarsih melucuti pakaiannya kemudian menuntun istrinya ke sebuah kursi yang terletak di dekat jendela dengan tirai tertutup.


Dean duduk di kursi itu dan langsung memutar tubuh Winarsih membelakanginya. Sesaat sebelum Dean memangku Winarsih dan memasuki tubuh wanita itu, Winarsih menoleh ke belakang.


"Mas, itunya jangan lupa." Winarsih mewanti-wanti soal pengaman pada suaminya.


"Iya, entar kalo udah mau keluar aku pake." Dean yang tak sabar langsung meremas pinggang istrinya dan memasuki tubuh wanita itu.


Sedetik kemudian Dean sudah mendesah dan mengerang karena gerakan Winarsih yang menumpukan kedua tangannya di pegangan kursi.


"Aduh, sebentar Mas," ujar Winarsih berhenti terengah-engah. Tangannya kemudian berpindah meremas kaki suaminya. Ia telah mencapai puncak ******* pertamanya.


"Win, jedanya jangan lama-lama. Aku udah enak banget tadi. Kamu curang," ujar Dean dari belakang.


"Ayo Win, dibantu suaminya." Dean kemudian mengangkat pinggang Winarsih dan kembali bergerak. Semakin lama semakin cepat.


"Mas, pengamannya...aduh Mas...." Winarsih tak sanggup lagi meneruskan perkataannya. Gelombang kenikmatan kembali menyerang dan membuat gerakannya tak beraturan.


"Win..." pekik Dean pelan. Kemudian ia menyentak tubuh istrinya berkali-kali dan meremas dada wanita itu lebih keras. Dan sebuah gigitan kecil telah ia benamkan di punggung Winarsih.


"Win, keluar di dalem. Maaf... Enggak sengaja." Dean mengangkat Winarsih kemudian memutar tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya. Dean menyesap puncak dada Winarsih yang melemparkan tatapan curiga padanya.


Winarsih menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dean. "Liat aku," pinta Winarsih mengangkat wajah suaminya yang seperti pura-pura sibuk.


"Hmmm...." Dean melemparkan tatapan sayu pada istrinya.


"Aku sekarang udah nggak mudah termakan trik Mas lagi. Pasti Mas sengaja ngeluarin di dalem biar aku hamil trus nggak ikut kegiatan kampus. Iya, 'kan?" tanya Winarsih.


"Ya udah sih Win, gitu aja dibahas. Aku udah tegang lagi ini. Mau yang kedua. Ayo pindah tempat ke ranjang aja. Harus dua ronde, biar lebih pasti hamilnya." Dean bangkit mengangkat tubuh Winarsih ke atas ranjang untuk memulai ronde keduanya.


"Mas...mas..." gumam Winarsih sedikit menggerutu.


"Ini caraku bersaing," ujar Dean sebelum kembali memulai usahanya.


...EXTRA PART : 2 TAHUN KEMUDIAN...

__ADS_1


...SELESAI...


...By The Way, Makasi untuk Mba Prameswari penulis novel berjudul Hidayah yang udah banyak ngajarin aku tentang seluk beluk Noveltoon....


__ADS_2