
Hampir dua jam kemudian Dean telah menggandeng tangan Winarsih memasuki Beer Garden SCBD Sudirman.
"Pak Deaaaan--" sapa Bartender dari balik mejanya.
"Woiii Dik! tadi bill gua udah beres belom?" tanya Dean mendatangi meja bar. Tangannya tak lepas menggandeng Winarsih.
"Udah! Genk Duda Akut kan luar biasa," jawab Bartender itu tergelak.
"Bisa aja lu," balas Dean tertawa.
"Ini---" Diky Si Bartender melirik ke arah Winarsih.
"Oh, ini bini gua. Lu nggak boleh kenalan. Kita mo langsung makan," ujar Dean terkekeh kemudian pergi menuju sebuah meja tak jauh dari meja bar itu.
Diky Bartender hanya tertawa sembari menggeleng karena teringat peristiwa siang tadi saat Dean menggeret paksa seorang wanita ke luar dari tempat itu.
"Bu Winar mau makan apa? aku yang pesenin ya, kamu makan yang banyak. Kemampuan anakku menyerap nutrisi ternyata luar biasa." Dean membalik-balik lembaran menu.
"Iya, Pak Dean aja yang pesan," ujar Winarsih.
Dean melambaikan tangan kepada Diky yang kemudian datang ke meja mereka.
"Sini, biar gua yang nyatet. Lu ntar tinggal bawa aja." Dean mengambil sebuah nota dari tangan Bartender dan mencatatkan pesanannya. Tak sampai lima menit, Dean kembali menyerahkan kertas itu kepada Diky bartender.
"Oke, ditunggu ya" Diky membawa kertas pesanan Dean dan berlalu dari meja mereka.
"Emmm-- Genk Duda Akut itu siapa Pak?" tanya Winarsih ragu seolah khawatir suaminya itu tersinggung.
"Ooohh.. itu" Dean tertawa terbahak-bahak.
"Itu temen-temen aku yang dateng ke nikahan kita kemarin. Manusia geblek 3 orang itu," jawab Dean masih terkekeh mengingat kejadian tadi siang.
Terbayang di ingatannya ekspresi wajah Rio dan Langit yang kecewa saat foto USG Disty dirampas kembali dari tangan mereka.
"Kok namanya Duda--?" tanya Winarsih seolah tak terima nama suaminya masuk ke Genk itu.
"Entah siapa yang awalnya nyebut nama itu. Tapi yang duda cuma satu orang sih. Si Toni. Dia cerai dengan istrinya. Belom ada anak sih. Jadi dia berasa single aja sekarang. Aku sih nggak mau jadi duda. Rugi," ujar Dean seraya menggaruk telapak tangan isterinya dan menaik-naikkan alisnya ke arah wanita itu.
Winarsih lagi-lagi tak bisa menolak pesona Pengacara genit di depannya itu.
Seorang pelayan kemudian datang membawa sebuah nampan yang berisi penuh makanan. Dan saat hidangan satu persatu diturunkan dari nampan, Dean langsung mengaturnya di depan Winarsih berikut sendok-garpu yang harus dipakai isterinya.
"Ini--Bu Winar makan yang banyak. Malam ini kita perlu asupan karbohidrat yang tinggi," tukas Dean.
"Aku dan temen-temenku itu emang selalu ketemu di sini Win. Letak cafe ini paling strategis dijangkau dari kantor kami semua. Tadi siang aku juga makan di sini bareng mereka. Kami suka suasana dan pegawainya yang udah berasa temen. Tapi kamu nggak boleh ke sini sendiri. Aku nggak mau. Pokoknya kamu nggak boleh ke mana-mana kalo nggak bareng aku. Apalagi ngobrol ama Irman. Aku nggak suka," tukas Dean.
Winarsih yang menyadari Dean membahas Irman, mendongak menatap suaminya. Dean yang menyadari Winarsih sedang menatapnya melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
"Aku nggak suka liat cara Irman tiap mandang kamu," ujar Dean kembali memotong steaknya.
Dean ternyata kembali memesan steak untuk makan malamnya karena ingin menuntaskan keinginan yang sempat tertunda karena kedatangan Disty siang tadi ke sana.
"Pak Dean cemburu," gumam Winarsih sambil mengunyah makanannya.
"Aku nggak cemburu. Cuma nggak suka aja," potong Dean cepat.
"Iya. Sama aja," ucap Winarsih kalem.
Satu jam kemudian mereka telah berada di jalan utama menuju kembali ke Menteng.
15 menit pertama di dalam perjalanan, Dean yang berada di jalan raya lingkar dalam mengambil jalur sebelah kiri yang berbatasan dengan jalur darurat.
Jalur darurat itu biasanya memang tidak boleh dimasuki oleh kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Biasanya jalur itu digunakan untuk iring-iringan kendaraan pejabat, ambulans atau kendaraan yang sedang mengalami masalah di jalan.
Dean tak pernah membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi jika sedang bersama isterinya. Itu sebabnya dia selalu mengambil sebelah jalur kiri.
Dari kaca spion samping kanan, Dean melihat sebuah SUV besar berwarna hitam melaju dari jalur kanan memotong mereka dengan kecepatan tinggi.
Bunyi ban mobil berdecit di aspal.
Dean yang terkejut dengan perpindahan jalur mobil itu yang tiba-tiba langsung menginjak rem. Range Rover Dean berhenti hanya dengan jarak beberapa senti saja dari Mobil SUV hitam tadi.
"Win!!" pekik Dean yang tangan kirinya langsung menahan tubuh Winarsih.
"Nggak apa-apa kan? perutnya? nggak sakit?" tanya Dean panik memegang dan meraba-raba perut isterinya.
Mendengar jawaban isterinya, pandangan Dean tertuju pada SUV Hitam yang berhenti di depan mereka.
Kemudian dari kaca spion kiri Dean melihat lampu mobil polisi Patwal berpijar diiringi suara sirine yang semakin mendekat.
Mobil SUV Hitam itu kemudian perlahan maju dan pergi meninggalkan mereka. Dean mengernyitkan dahinya.
Apa SUV Hitam itu salah satu dari rombongan Patwal? Sekilas Dean menghafal plat SUV Hitam besar dan menunggu iringan Patwal yang lewat juga untuk melihat Plat mobil pejabat mana yang sedang melintas.
Dean kembali melajukan mobilnya dengan kepala yang masih dipenuhi bayangan saat SUV hitam memotong mobil mereka tadi.
Hampir pukul 11 malam baru mereka kembali tiba di halaman rumah. Mobil Pak Hartono masih berada di depan teras dan Dean kembali memarkirkan mobilnya di belakang Vellfire hitam itu.
Saat Dean menggandeng tangan Winarsih menaiki undakan tangga, Irman ke luar dari dalam rumah sembari menenteng sebuah tas menuju mobil Pak Hartono.
"Malam Pak," sapa Irman mengangguk pada Dean.
"Mmm--" jawab Dean melenggang masuk.
Winarsih yang melihat Irman tersenyum padanya jadi pura-pura sibuk membenarkan letak tas tangan. Dia jadi merasa serba salah.
__ADS_1
Apalagi melihat Dean yang tadi langsung melihat ke arahnya sesaat setelah Irman tersenyum. Entah apa salah ajudan Pak Hartono itu pada Dean. Winarsih masih belum mengerti.
Rumah terasa sangat lengang meski mobil Pak Hartono terparkir di bawah. Dean langsung menggandeng Winarsih untuk cepat-cepat naik ke lantai dua agar tak berpapasan dengan ibunya.
Dan setibanya di kamar, Dean langsung membuka seluruh pakaiannya dan berganti dengan handuk. Satu hal yang belum terlalu bisa dibiasakan oleh Winarsih. Yaitu, melihat Dean yang dengan santainya bertelanjang ria di depannya.
Setelah meletakkan semua pakaiannya di sebuah keranjang, Dean duduk di tepi ranjang melihat Winarsih yang sedang membuka-buka bungkusan vitaminnya dari rumah sakit tadi.
"Panas Win. Gerah," ucap Dean masih duduk di tepi ranjang.
"Mandi Pak kalau gerah," jawab Winarsih tanpa menoleh. Mata wanita itu masih sibuk membaca aturan makan dan dosis vitaminnya.
"Iya," jawab Dean lagi tapi belum beranjak dari duduknya.
"Ya udah mandi, udah mau tengah malem gini" Winarsih mengumpulkan kembali semua vitaminnya dan memasukkannya ke dalam plastik bertuliskan apotik rumah sakit.
"Iya," jawab Dean lagi masih dengan posisi duduknya.
"Dari tadi iya-iya tapi nggak masuk ke kamar mand--" ucapan Winarsih terhenti saat mendongak dan melihat mulut suaminya yang mengerucut.
"Kenapa?" tanya Winarsih yang heran karena hari ini Dean begitu rewel seperti bayi.
"Aku mau mandi bareng kamu," jawab Dean cemberut.
"Bu Winar nggak peka," keluh Dean menghela nafas.
Winarsih meletakkan bungkusan obatnya ke dalam laci meja nakas kemudian bangkit menuju Dean yang masih duduk di tepi ranjang dengan sehelai handuknya.
"Hari ini rewel kayak bayi," ujar Winarsih berdiri di antara kaki suaminya yang sedang duduk.
"Aku kangen kamu seharian ini." Dean meraih pinggang isterinya dan perut besar berisi bayi itu langsung menyentuh dadanya.
"Pasti hari ini Pak Dean ngelewatin sesuatu yang rumit dan membingungkan," tukas Winarsih.
"Itu sebabnya aku perlu kamu untuk mendinginkan isi kepalaku," ucap Dean sembari membuka kancing dress isterinya.
"Buka semua Win, aku kangen." Dean berhasil meloloskan dress isterinya.
"Yang pertama di sini dulu ya-- kan tadi janjinya boleh dua kali," bisik Dean melepaskan pengait br*a Winarsih kemudian menarik wanita itu untuk duduk di tepi ranjang.
Dean bangkit dan berdiri di depan Winarsih. Sedetik kemudian dia kemudian menunduk untuk mencium bibir isterinya.
Ciuman yang singkat tapi cukup dalam hingga menimbulkan bunyi yang berdecak.
Kemudian,
"Win--" panggil Dean seraya melepaskan handuk dan memegang kepala Sang Isteri yang sedang mendongak menatapnya.
__ADS_1
To Be Continued.......
Jangan sampai lupa likes yaa :p