CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
113. Misi Dean


__ADS_3

Malam itu Dean berjalan mondar-mandir di depan ruang kerja Pak Hartono. Papanya baru pulang, ia ingin meminta sesuatu yang sepertinya berat untuk diberikan orangtuanya itu.


TOK!! TOK!!


Dean akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja itu.


"Masuk." Terdengar suara Pak Hartono dari dalam ruangan.


Saat melihat Dean yang muncul di ambang pintu, pria tua itu langsung bertanya, "ada apa De?"


"Pa, Dean duduk sebentar ya. Mau ngobrol." Dean menarik kursi yang berada di depan ayahnya.


"Ya udah duduk," sahut Pak Hartono. "Tumben serius banget muka kamu," tambah papanya.


"Kayaknya sidang di Pengadilan Tinggi nggak membawa angin baik. Makanya Dean males nunggu sampe sidang putusan. Dari atas sampe ke bawah udah di siram semua kayaknya." Dean menarik nafas berat.


"Jadi?"


"Kita kayaknya pasti kasasi di sini. Tapi Dean mau minta sesuatu untuk rencana cadangan nanti," jawab Dean.


"Apa itu?"


"Papa pernah bilang Disty dulu pernah ke luar hotel dengan pejabat. Dean boleh minta foto-foto yang Papa dapat itu?" tanya Dean hati-hati.


Dia sebenarnya sudah hampir yakin bahwa Pak Hartono tak akan memberikan itu padanya. Tipikal papanya yang selalu berusaha main bersih agak susah digoyahkan.


"Untuk apa? enggak bisa De, itu foto Menteri. Kalo kamu sampai bikin beritanya naik ke atas, bisa geger semuanya. Enggak ada lagi yang percaya dengan pejabat. Padahal bisa aja itu urusan pribadi yang nggak harusnya dicampuradukkan dengan kinerjanya." Pak Hartono menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Pa, Si Atmaja udah pake cara kayak gitu. Papa percaya Dean deh, kalo Papa nggak mau ribut-ribut dan nggak mau kehilangan Hartono Coil. Dean cuma butuh foto itu aja."


"Kalo foto itu berguna untuk menghentikan kasus kita, pasti udah Papa kasih ke kamu. Kasus kita udah bergulir De, foto itu nggak ada gunanya," tukas Pak Hartono.


"Siapa bilang nggak ada? ada kok. Dean punya cara lain. Lagian fotonya nggak akan Dean kemana-kemanain." Dean memandang lurus mata ayahnya.


"Maaf De, nggak bisa. Ini soal nama baik orang lain. Papa nggak bisa percaya temperamen kamu yang meledak-ledak itu. Bisa-bisa nanti niatnya kamu cuma ngancem aja tapi malah kamu lempar ke muka orangnya. Papa tau kamu. Lagian kalian para Pengacara ini kalo nggak pake cara kotor sedikit aja nggak bisa ya?" sindir Pak Hartono.


"Ih kok Papa gitu?"


"Papa membiayai sekolah kamu mahal di luar negeri sana. Buktiin dong kamu bisa menangkan kasus ini."


"Dean bukan Pengacara pidana Pa. Ini kali pertama Dean megang kasus kayak gini," ucap Dean lesu. Benar dugaannya, Pak Hartono tetap dengan prinsipnya yang lurus itu.


Dean ke luar dari ruang kerja ayahnya dengan wajah lesu. Padahal dia sudah memikirkan cara itu berhari-hari.


Tampaknya dia kembali harus menyewa agen baru untuk mencari sesuatu yang diinginkannya.


Sudah hampir pukul 11 malam, sejak tadi dia sibuk menelfon ke sana kemari untuk memastikan sesuatu soal hasil sidang dan menunggu Pak Hartono pulang.


Dean melangkahkan kaki masuk ke kamarnya dan mendapati Dirja telah kembali tertidur nyenyak di sebelah ibunya di atas ranjang. Perlahan Dean mengangkat bayi itu dan meletakkannya ke dalam box bayi.


Nafas Winarsih terdengar lembut teratur. Ibu anaknya itu mungkin telah tertidur sejak tadi karena aktifitas nonstopnya sejak pagi.

__ADS_1


Dengan perlahan Dean naik ke atas ranjang dan berbaring miring menumpukan satu sikunya di sebelah isterinya.


Dean memandangi wajah damai yang sedang tertidur itu. Kancing baju Winarsih yang tak tertutup karena menyusui anaknya tadi menampakkan dada yang nyaris tumpah ke luar karena posisi tidur miring isterinya.


Sejak dulu sepasang dada itu hingga sekarang selalu membuatnya tak tenang.


Winarsih sangat cantik. Semakin hari isterinya itu semakin terlihat cantik di matanya. Dean menyelipkan segumpal rambut yang jatuh terurai ke wajah isterinya. Ia baru menyadari bahwa poni yang dulunya selalu menutupi dahi Winarsih kini tak ada lagi.


Seperti keinginannya, kini Winarsih selalu menggerai rambutnya kalau bepergian ke luar. Tak menyangka Winarsih selalu mengikuti semua hal yang dimintanya tanpa pernah memprotes.


Dean menunduk mengecup pipi isterinya, Winarsih sedikit mengerjab kemudian perlahan membuka matanya. Tatapan mereka beradu.


"Aku cuma ngecup pipi kamu aja, lanjutin aja tidurnya." Dean mengusap-usap lengan Winarsih yang masih menatapnya dengan mata mengantuk.


"Kenapa belum tidur? mikirin sesuatu?" tanya Winarsih meluruskan tangan kiri yang sejak tadi dijadikannya bantal.


Tangan kiri itu kemudian masuk ke kolong tumpuan siku Dean dan mengusap rambut belakang suaminya.


Dean menatap isterinya ragu. "Kayaknya sidang di Pengadilan Tinggi kalah lagi. Aku harus kasasi di MA."


"MA itu Mahkamah Agung kan? di Jakarta?" tanya Winarsih menggeser tubuhnya mendekati Dean yang mengangguk. Dia ingin menghirup aroma body scent Dean yang khas dan mahal di leher pria itu.


"Iya Win, tahapan kasus itu dimulai dari Pengadilan Negeri, kalo kalah kita banding ke Pengadilan Tinggi, kalo kalah lagi, kita kasasi ke Mahkamah Agung," tutur Dean menjelaskan pada isterinya.


"Tapi MA juga berhak menolak pengajuan kasasi kita," sambung Dean lagi.


"Saya nggak pernah liat gimana Bapak di pengadilan. Seandainya semua terjadi sesuai perkiraan, saya mau bawa Dirja liat Bapaknya belain kasus Akung," ucap Winarsih kemudian mengecup lama leher suaminya.


Setengah tahun lebih bercinta rutin namun baru tadi siang wanita itu tak melepaskan pandangannya.


Dean hanya diam menikmati belaian tangan Winarsih yang terasa menenangkan menjalari tubuhnya.


"Mau liat aku sidang?" gumam Dean pelan.


"Iya," jawab Winarsih dengan nafas hangatnya yang kembali menerpa leher Dean.


"Aku usahain kasasi bakal diterima dan kamu bisa duduk tenang nunggu hasilnya. Aku juga nggak mau saham yang baru kamu beli itu hangus Bu," ucap Dean.


Winarsih tersenyum tanpa melihat suaminya. Ia sudah menebak kalau Dean pasti telah menyadari bahwa pembeli saham itu adalah isterinya sendiri.


Kemudian Winarsih kembali menempelkan bibirnya di leher beraroma bergamot itu. Dean menggerakkan kepalanya bereaksi. Winarsih sekarang sudah menunjukkan inisiatifnya.


Dean menjauhkan sedikit tubuhnya untuk memandang Winarsih. "Kamu masih kangen aku Win?" tanya Dean dengan tatapan sendu. Winarsih tampaknya sedang berusaha mengobati gelisah hatinya.


"Setiap malam saya selalu kangen. Dalam artian saya memang kangen. Saya nggak suka kalau Bapak menginap di luar. Saya mau tau Bapak ngapain aja seharian, ngobrol sama siapa, makan apa, saya mau sering-sering telfon tapi khawatir mengganggu." Winarsih menatap suaminya. Tangan kanannya berada di atas dada, tempat di mana jantung berada.


"Kamu memang udah cinta aku Win," ucap Dean.


"Istri mana yang nggak cinta suaminya, kalau diperlakukan dengan istimewa? Bapak selalu membuat saya merasa istimewa." Winarsih telah berhasil mengungkapkan perasaan pada pria yang lebih setengah tahun ini menggaulinya.


"Aku juga cinta kamu Win, aku yang lebih dulu cinta kamu." Dean mencium isterinya lama. Ciuman mereka saling menyambut hingga berdecak-decak yang semakin lama semakin keras.

__ADS_1


Nafas mereka sama-sama memburu dan tergesa-gesa. Dean menyelipkan tangan kirinya ke dalam penutup dada Winarsih yang memang terbuka sejak tadi. Perlahan ia memijat dada isterinya dan Winarsih mendesah di sela-sela ciuman mereka.


Kembali malam itu Dean memenuhi keinginan isterinya untuk melepaskan rindu sekali lagi. Dengan perlahan dan tak terburu-buru, Dean membawa isterinya beberapa kali menuju puncak kenikmatan.


Sampai Winarsih mengangguk untuk menyudahi dengan raut lelah, Dean kembali melakukan pelepasannya. Puncak itu terasa sangat dinikmati oleh Dean hingga suara erangannya memenuhi kamar mereka.


Saat baru saja menghempaskan tubuhnya di sebelah Winarsih, Dirja menggeliat di boxnya disusul dengan suara rengekan.


"Pak, anaknya bangun." Winarsih yang belum berpakaian menoleh ke kanan tempat di mana box bayi Dirja diletakkan.


"Biar aku yang ambil." Dean bangkit memungut boxer dan mengenakannya sebelum mengangkat Dirja.


"Ini Bu, sekarang giliran Dean sachetan." Ia meletakkan Dirja di sebelah ibunya yang langsung memiringkan tubuh untuk menyusui. Dean menarik selimut untuk menutup tubuh polos isterinya.


"Aku ke luar kamar sebentar ya, mau ngecek sesuatu. Ini ada pesan dari Novi katanya dia udah mau nyampe." Dean bangkit dari ranjang untuk mengenakan piyamanya terburu-buru.


"Mau ngecek apa?"


"Entar lagi aku ceritain."


Lima menit kemudian, Dean telah berdiri di teras rumah dengan piyama satin hitam, sepasang sandal karet Nike dan rambut lurus yang jatuh sebagian menutupi dahinya.


Kedua tangan pria itu terkait di belakang tubuhnya. Matanya memandang sebuah sedan yang memasuki halaman. Saat pintu mobil terbuka di depan teras rumah, Novi melangkah keluar dari mobil.


Dengan sedikit terkejut, Novi memandang Dean yang sekarang menyilangkan kedua tangannya di dada memandang ke arah mobil.


"Heh!! nggak sopan! buka kaca lu!" seru Dean dari teras pada pengemudi mobil sedan itu.


Kaca mobil kemudian turun sepenuhnya. "Malem Pak De, belum tidur?" tanya Ryan seraya meringis pada atasannya.


"Udah jam berapa nih? bawa anak perempuan sampe lewat tengah malem begini. Lepas kangen juga lu?" omel Dean pada sekretarisnya.


"Maaf Pak," ucap Ryan.


"Lu kira gua nggak merhatiin apa. Terbukti kan kecurigaan gua?" Dean mencibir.


"Kamu masuk Nov, istirahat. Udah lewat tengah malem," pinta Dean pada asisten isterinya itu.


"Saya permisi Pak." Ryan pamit sedikit menundukkan kepalanya. Ryan sedikit merasa bingung dengan Dean yang tampak sangat mendalami perannya sebagai seorang ayah malam itu


Dean hanya menjawab Ryan dengan gumaman kemudian langkahnya buru-buru masuk ke dalam dan menaiki anak tangga.


Setengah berlari Dean menuju pintu kamarnya.


"Win! Win" seru Dean berisik. "Bener Win!! Ryan ternyata pacaran ama Novi. Hahaha" Dean tertawa geli tengah malam.


Winarsih memandang suaminy sebal. Dia mengira entah hal penting apa yang ingin dicek suaminya. Ternyata hanya soal itu. Sekarang Dean kembali berbaring di sebelahnya masih dengan sisa tawa usilnya.


Dirja yang tadi sudah tertidur kini kembali menggeliat karena tawa bapaknya.


"Ibu ngantuk, sekarang minta gendong Bapakmu ya Nak?" Winarsih mengguit lengan Dean kemudian menunjuk bayinya.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2