CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
118. Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Ini bukan pengulangan cerita ya, ini juga bukan muter-muterin cerita. Part ini menuturkan apa yang dialami Dean saat belum bertemu Winarsih di kantornya.


Selamat membaca dan jangan lupa dilike dulu.


Btw, yang belum like atau lupa like di bab2 awal baca, minta likenya dong. Masak bab awal Likenya cuma dikit sekarang jadi banyak. Sedih aku T_T


Penulis mau kasi give away kalo Cinta Winarsih tamat nanti untuk pemberi poin terbanyak.


Untuk kenang-kenangan aja bahwa Winarsih-Dean pernah di hati :*


Keterangan lebih lanjut di akhir part.


***********


"Ke kantor pusat jam berapa Pak?" tanya Ryan saat Dean baru saja menutup kotak bekalnya.


"Kayaknya gua harus lebih cepet deh, soalnya gua mau ketemu dulu ama bagian keuangan sana. Lagian Papa udah di sana dari pagi. Ga enak gua kalo lama-lama dateng," jawab Dean.


"Ya udah, saya siap-siapin berkas dulu." Ryan berbalik menuju pintu.


"Emang kamu diajak?" tanya Dean jahil. Ryan cemberut menatap atasannya. "Bercanda gua--bercanda. Gua tau lu sekarang rajin ngikutin gua karena mau lihat Novi. Cieee." Dean mencibirkan bibirnya.


"Biasa aja. Emang kalo saya nggak ikut, bisa gitu ngerjain keperluan sendiri?" tanya Ryan kembali melangkah.


"Ya kan lu digaji. Kalo lu nggak ikut, lu mau ngerjain apa? Lu mau di kantor aja buatin teh gua?" seru Dean pada sekretarisnya yang telah menutup pintu.


Dean membenarkan letak dasinya berkali-kali. Dan berkaca di jendela sedan hitam yang sebentar lagi akan membawanya ke kantor pusat Grup Cahaya Mas.


"Udah cakep-- udah cakep. Lagian udah kawin juga masih begitu. Dasi kalo nggak simetris nggak mau pergi," ujar Ryan melihat bosnya yang berkali-kali mematut diri di depan kaca jendela mobil. Ryan telah bersiap di belakang kemudi menanti atasannya.


"Ini bukan karena perkara udah kawin atau belum kawin Ryan. Lu pernah liat gua ke kantor nggak rapi? Nggak ganteng? Nggak wibawa? Kalo pernah, itu berarti bukan gua. Ya udah, nyetir gih! Jangan bawel banget kayak ibu-ibu." Dean telah masuk ke mobil dan duduk di kursi depan.


Ryan menoleh ke arah atasannya yang memang selalu tampil rapi setiap saat di mana saja. Dia yang sudah bekerja bertahun-tahun bersama Dean, memang tak pernah melihat pria itu berantakan sekalipun. Meski di pagi buta ia mengetuk pintu kamar atasannya itu. Dean selalu muncul dengan wajah dan penampilan terkontrol.


Kantor pusat Grup Cahaya Mas lebih ramai dari biasanya. Lobby gedung yang biasanya hanya terlihat beberapa orang yang lalu lalang, kini terlihat seperti pasar saham yang ramai.


Wajah-wajah perwakilan pegawai dari perusahaan yang tergabung di dalam grup perusahaan itu tampak hadir. Setelah memberikan kunci mobil pada petugas valet parking, Dean dan sekretarisnya langsung menuju lantai tempat di mana lounge gedung terletak.


Lounge gedung itu adalah tempat di mana para tamu atau perwakilan direksi duduk bersantai di waktu coffee break. Untuk menuju tempat itu, Dean harus melewati jajaran sekat-sekat ruangan yang memisahkan meja pegawai ataupun ruangan kaca tempat kepala bagian berada.


Saat memasuki gedung tadi, dua orang resepsionis telah berbisik saat melihat kehadirannya. Dean yang melenggang hanya dengan menggenggam ponsel dan tabletnya melangkah tegap dengan dagunya yang terangkat seperti biasa. Kesan angkuh itu selalu muncul tepat waktu.


Ryan yang tingginya berada di atas bahu Dean sedikit saja, tampak berjalan seperti seorang sekretaris yang merangkap asisten yang sebenarnya.


Dean mulai menajamkan telinganya untuk mendengar bisik-bisik rutin yang selalu didengarnya tiap bertandang ke perusahaan ayahnya itu.


"Pak Dean."


"Ini anak Pak Hartono yang punya perusahaan ini."


"Katanya sih udah kawin, tapi istrinya nggak pernah keliatan."


"Anaknya satu."


"Dean tuh pacar lu."


"Jutek banget mukanya."


"Cakep, tapi ngeselin."


"Kayaknya sombong banget ya."


Itu adalah potongan percakapan yang sempat ditangkap oleh telinganya barusan. Mata Dean masih berjalan menatap lurus ke arah lounge yang terletak di ujung gedung lantai itu.

__ADS_1


Kemudian matanya melihat dua orang yang tak asing lagi. Mantan pacar Winarsih dan sahabatnya yang pernah datang dan bertemunya di luar pagar rumah.


"Pak Dean!" panggil seorang wanita dari belakangnya. Dean menghentikan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya sedikit.


"Ya?" sahut Dean menaikkan alisnya.


"Ini berkas dari Kepala Keuangan yang Pak Dean minta, sebentar lagi Bu Diah nyusul ke lounge. Beliau masih membereskan bahan rapat nanti sedikit lagi," ujar pegawai wanita itu pada Dean.


Di sisi lain kantor itu saat Dean sedang berhenti karena dipanggil oleh pegawai wanita, Jaka mengguit lengan Utomo untuk mendongak sebentar dari pekerjaannya.


"Ut, madumu Ut!" Jaka terus-terusan mencolek lengan Utomo untuk melihat Dean.


"Maduku--mulutmu itu Jak! Aku udah liat dari sejak dia masuk di pintu ujung sana. Perempuan-perempuan di sini juga mulutnya juga udah kayak alarm. Untungnya pacaraku nggak kayak gitu. Dewi memang beda dari wanita lain." Utomo memandang Dean dari atas ke bawah diam-diam. Dia tak ingin tertangkap basah oleh Dean yang selalu dinilainya angkuh itu saat memandangnya.


"Ganteng ya Ut?" tanya Jaka.


"Mbooohhh---aku nggak tau cara menilai laki-laki. Menurut pendapatku, ketampanan itu relatif. Bagi setiap perempuan beda-beda," ujar Utomo sedikit melirik Dean yang sedang mengerucutkan mulutnya membuka lembaran-lembaran kertas. Memang penuh kharisma, batin Utomo.


"Iya, bagi perempuan ketampanan itu memang beda-beda. Kita pasti ganteng di mata wanita yang tepat." Jaka cengengesan menghibur rasa tak percaya dirinya sendiri.


"Ya sudah! nanti saya tunggu di ruang rapat aja ya!" seru Dean kemudian melanjutkan berjalan menuju lounge kantor. Dia telah selesai mengecek sekilas berkas yang disodorkan padanya tadi. Dia juga telah selesai memamerkan dirinya di depan mantan pacar isterinya yang pelit.


Dengan sedikit tersenyum puas karena mendapati Utomo yang terlihat mencuri-curi pandang ke arahnya, Dean mendatangi tempat di mana ayahnya sedang duduk mengobrol dengan para Direksi sebelum mereka masuk ke ruang rapat.


Setelah mengobrol beberapa saat di lounge, Dean melirik jam di pergelangan tangannya. Winarsih harusnya sudah tiba di gedung itu. Bergegas dia pamit menuju lift untuk kembali turun ke lobby.


DRRRRRRTTT


DRRRRRRTTT


Ponsel di genggamannya bergetar, dan sekilas ia langsung melihat fotonya yang sedang mencium bibir isterinya muncul di layar.


Winarsih mengabarkan bahwa ia telah tiba di lobby kantor. Isterinya minta dijemput. Rapat umum pemegang saham kali ini memang berbeda. Grup Cahaya Mas kali ini benar-benar milik keluarga Hartono sepenuhnya.


Langkahnya terburu-buru mendekati segerombolan orang yang tampak ramai dan mencolok. Seorang perawat mendorong ibunya dan seorang perawat lagi jelas sedang menggendong bayinya.


Ada Novi dan asisten ibunya juga, tapi mana isterinya?


Dean memperlambat langkahnya untuk memfokuskan pandangan.


Wanita cantik itu, yang sedang berdiri dengan anggun memakai setelan blazer biru muda dan sepatu hak tinggi mungkin lebih dari 10 senti adalah Winarsih.


Dean berjalan menghampiri dengan tatapan terpukau. Wanita yang tadi pagi ditidurinya dua kali sebelum berangkat ke kantor kini tampak bagai seorang wanita yang tak dikenalinya.


Tubuh Winarsih terbalut sempurna dengan pakaian yang dikenakannya. Perhiasannya tidak mencolok tapi berhasil memancarkan kecantikan alaminya. Winarsih yang dulu bekerja di rumahnya dengan pakaian yang itu-itu saja kini berubah menjadi seorang wanita yang bakal bisa mendapatkan pria lebih hebat darinya.


Dean gelisah. Winarsih seksi sekali meski pakaiannya tertutup. Dia sempat menelan ludahnya saat mendekati isterinya dan mencium aroma wewangian yang keluar dari rambutnya.


"Win--kamu, kamu cantik banget. Ini mahakarya mama, aku suka. Bu Winar--kamuuu, seksi sekali. Kamu harusnya nggak boleh ikut rapat ini. Nanti malah--" Dean tak bisa menahan ekspresi keterkejutannya.


"De--" panggil ibunya.


"Ya Ma?"


"Kamu gendong Dirja, Sus--kasi Dirja sama Bapaknya," pinta Bu Amalia.


"Lho? Kok Dean Ma?" Dean bingung. Kenapa dia harus menggendong bayi saat sudah tampil rapi dan sebentar lagi akan masuk ke ruang rapat.


"Anak kamu, ya kamu yang gendong. Ayo cepet anter kami ke lounge kantor. Kami nunggu ibunya Dirja di sana aja."


Meski sedikit bingung, Dean menuruti ibunya mengambil Dirja dari gendongan babysitter-nya. Winarsih tersenyum geli memandangnya. Dean jadi gemas pada perempuan cantik yang seperti sedang menertawakannya itu.


"Enak kamu ya--mentang-mentang udah jadi sekutu mama. Jadi aku terus yang disuruh-suruh. Harusnya kamu dandan begini kalo di kamar aja Win, awas aja kamu ntar malem," bisik Dean di telinga isterinya.

__ADS_1


Kemudian langkah mereka menuju ke sebuah lift. Kini resepsionis lobby itu jelas-jelas tak memandangnya lagi dengan tatapan awal tadi.


Dua orang wanita itu tengah berbisik menatap Winarsih dan ikut tersenyum memandangnya yang sedang menggendong bayi.


Sesaat kemudian dentingan lift menandakan mereka telah tiba di lantai yang mereka tuju. Beberapa staf pria langsung memandang Winarsih yang tampak begitu menonjol di sana.


Dean memandang isterinya yang berjalan tanpa memegang lengannya. Dean sebal dengan Winarsih yang sepertinya sekarang tampak mahal.


"Kamu jangan jauh-jauh, sini--" bisik Dean menggenggam tangan kiri isterinya.


"Iya, saya kan di sini." Winarsih menyambut genggaman tangan suaminya. Hatinya pun sedang dilanda rasa gugup luar biasa. Tampilan semua orang di lantai gedung perkantoran itu sangat berbeda dengan hal yang dulu dilihatnya di desa.


Aroma berbagai parfum mengambang di udara. Semua pria terlihat rapi dengan setelan jas dan kemeja. Begitu pula para pegawai wanita yang begitu cantik dengan setelan kantor.


Semua mata dirasa Winarsih sedang tertuju padanya. Tapi ia mengingat apa yang dikatakan ibu mertuanya yang sedang didorong di sebuah kursi roda di belakangnya.


Dia harus berjalan dengan kepala tegak dan sedikit tersenyum. Tangannya berada dalam genggaman Dean yang sekarang mendekap Dirja dalam pelukannya. Perlahan tapi pasti, kaki Winarsih melangkah dengan heels yang baru mahir dikenakannya beberapa hari terakhir ini.


Saat menatap lurus ke depan, matanya lurus menatap lorong-lorong yang dibingkai oleh meja kerja dan sekat ruangan. Dan akhirnya mata Winarsih menangkap sepasang mata yang sedang menatap muram padanya.


Utomo berdiri di meja kerjanya, sedang melemparkan pandangan muram yang tak bisa diartikan oleh Winarsih.


"Jangan liat, aku nggak mau kamu ngeliat dia lagi. Kamu isteriku Win, kamu sekarang isteriku. Sepulang rapat aku mau berduaan sama kamu," bisik Dean.


"Enggak bisa. Saya mau pergi dengan mama dan Dirja." Kata ibu mertuanya hari ini dia harus sedikit mengabaikan Dean.


To Be Continued.....


Hai, ini juskelapa


Sebagai rasa syukur aku, karena novel ini mau tamat.


Aku mau bikin GA.


GA ini aku buat sebagai rasa syukur aku untuk semua pembaca yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca karya-karya juskekapa khususnya CINTA WINARSIH.


GAnya berupa,


13 buah Tote Bag dengan cover Winarsih untuk 13 orang


Pulsa @25K untuk 10 orang


Caranya :


Aku bakal tentuin dari peringkat Ranking UmumTop Fans pemberi Point.


Peringkat 1-10 akan mendapatkan Tote Bag exlusive Winarsih


Peringkat 10-20 akan mendapatkan pulsa masing-masing 25k


3 tote bag untuk pemberi komentar terbaik yang dipilih oleh juskelapa langsung.


2 Tote bag untuk dua orang pembaca spesial yang sering ngasi tip untuk juskelapa XD


PS. Komen harus sesuai dengan isi bab, dimohon untuk tidak komen diluar kontek bab. Kalo ada pertanyaan tanya di GC yaa...


Periode acara dimulai dari tanggal 05 April 2021



Totenya warna item bakal dicetak begini, dijamin cantik.


__ADS_1


__ADS_2