
Like dulu ya... Biar nggak lupa :*
Selamat Membaca...
**********
Winarsih sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk bapak mertuanya yang baru pulang kunjungan kerja dari pulau lain. Sore itu dia memasak gulai ikan kesukaan bapak mertuanya itu.
Bu Amalia duduk manis di kursi rodanya sedang mengamati kelincahan tangan menantunya yang meletakkan piring-piring lauk berisi makanan kesukaan masing-masing anggota keluarga rumah itu.
Winarsih belum melihat Dean kembali pulang, jadi ia kembali duduk menemani mertuanya makan malam.
"Dean belum pulang Win?" tanya Pak Hartono.
"Kayaknya belum, saya nggak ada liat mobilnya Bapak Dirja berenti di depan." Winarsih kembali menoleh ke arah ruang keluarga dan tangga besar.
"Pak Dean ada nelfon Nov?" tanya Winarsih pada Novi yang sedang memegang ponselnya.
"Belum ada Bu," jawab Novi.
Winarsih melirik jam besar yang berdiri di sudut ruang makan. Tak mungkin Dean pulang terlambat tapi tak mengabarinya. Apa suaminya itu sudah pulang dan langsung naik ke atas?
Winarsih bergegas meminta Mba Tina membereskan sisa makan malam dan mengambil Dirja yang telah tertidur dari gendongan babysitter-nya.
Saat membuka pintu kamar, Winarsih melihat lampu telah disetel ke cahaya berwarna kuning. Winarsih melangkah masuk sembari menggendong Dirja. Ia melihat Dean tidur membelakangi pintu. Nafas pria itu terdengar telah teratur. Itu artinya Dean sudah tidur sejak tadi.
Terselip rasa bersalah di hati Winarsih karena tak tahu bahwa mungkin sejak tadi suaminya telah berada di kamar. Dean tak pernah tidur lebih dulu darinya.
Setelah meletakkan Dirja ke boxnya, Winarsih berjalan mendekati Dean dan duduk di sisi ranjang tempat suaminya tidur bergelung.
Winarsih beberapa kali mencoba memanggil Dean tapi sepertinya pria itu itu antara sadar tak sadar menjawab panggilannya.
Winarsih merasakan hawa hangat menguar saat ia menyentuh lengan suaminya. Dan ia kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Dean. Panas sekali.
Winarsih kemudian menunduk untuk menemlelkan pipinya di pipi suaminya. Hal itu biasa sering dilakukan Bu Sumi untuk lebih memastikan suhu demam anak-anaknya.
"Win... Aku sakit... Jangan dingin lagi sama aku. Aku kangen. Kerja rasanya jadi lebih capek karena nggak semangat." Masih dengan mata setengah terpejam, Dean seperti mengigau dalam tidurnya. Mungkin karena panas badannya yang sangat tinggi.
Winarsih bangkit untuk mencari parasetamol. Selama menikah dengan suaminya, belum pernah sekalipun Dean sakit selain kecelakaan mobil dan ditusuk orang.
Tubuh Dean selalu segar dan terlihat bugar. Dean bukan perokok atau peminum. Dengan jadwal makan teratur yang bisa dipastikan sangat bergizi, Dean termasuk jarang sekali sakit.
"Jangan tinggalin aku, aku kangen Win. Aku mau kamu manja lagi ke aku. Aku suami kamu. Aku suka kalo kamu manja-manja. Jangan terlalu mandiri, aku pengen kamu butuh sama kamu."
Winarsih merasa dress yang dikenakannya tertahan sesuatu. Ternyata Dean menggenggam sebagian dress-nya dengan ujung jari. Suaminya itu kembali berbicara seperti setengah mengomelinya tapi dengan nada lemah yang mengiba.
Ia merasa bersalah. Sekarang ia yang merasa bersalah. Hampir seminggu ini Dean hampir selalu pulang larut malam. Suaminya itu berusaha menangani beberapa klien baru yang merekrut badan hukumnya yang sempat meredup karena banyak kasus yang menimpa keluarganya.
Dean sedang mencoba untuk membangkitkan kembali Firma Hukum yang dibangunnya dari nol. Dean mencari nafkah untuk keluarganya.
Winarsih sadar, Winarsih tahu bahwa Dean memperoleh apa yang dimilikinya sekarang karena usahanya sendiri.
Dean tak mendompleng nama ayahnya, Dean juga tidak mewarisi Firma Hukum itu dari Pak Hartono.
__ADS_1
Dean membesarkan kantor itu mulai dari nol dan mencoba peruntungannya sendiri sejak ia tiba menginjakkan kaki di Indonesia setelah mengenyam pendidikannya di California.
Dan berhari-hari pula Winarsih kurang memperhatikan suaminya itu. Saat Dean pulang ia sudah tertidur dan sebelum tertidur ia hanya sempat menanyakan Dean sudah makan atau belum. Itu saja.
Winarsih sudah memaafkan suaminya. Tapi ya itu tadi, untuk langsung kembali bersikap hangat, Winarsih masih agak sedikit janggal.
Beberapa malam ia terbangun karena Dean mencium pipi atau membelai kepalanya. Pria itu memeluk dan mengusap-usap punggungnya beberapa kali.
Ia mendengar Dean yang mengatakan bahwa suaminya itu sedang merindukannya. Dan malam ini, Dean tidur meringkuk dengan panas badan hampir 40 derajat.
Bagaimana ia tak merasa bersalah? Dean selalu mencukupi semua kebutuhan isteri dan anaknya lebih dari cukup. Sangat lebih dari cukup. Bahkan ibunya di Jambi pun sudah dilarang Dean untuk bekerja mencari upahan. Dean membiayai hidup seluruh keluarganya dengan hasil keringatnya sendiri.
Winarsih naik ke atas ranjang dan mengangkat tangan Dean untuk masuk ke dalam pelukan suaminya. Tubuh Dean benar-benar panas.
Dean ganteng pikirnya. Bahkan dalam keadaan demam dan panas badan tinggi, Dean masih ganteng. Winarsih cinta pada pria itu. Dia tak mau kehilangan suaminya.
Tiba-tiba Winarsih menyadari sesuatu. Ia menyadari bahwa selama ini, ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintai suaminya lebih dulu.
Dean lah yang selalu mengungkapkan isi hatinya. Dean yang paling sering mengatakan bahwa ia cinta, ia sayang atau juga ia rindu pada istrinya.
Dean lah yang selalu menyentuhnya lebih dulu, Dean yang mengajarinya banyak hal. Dari Dean pula ia tahu arti sebuah kenikmatan. Karena Dean juga Winarsih tahu bahwa berciuman itu bisa nikmat sekali. Dean yang selalu lebih agresif ketimbang dirinya.
"Saya butuh Bapaknya Dirja setiap hari. Bapaknya Dirja selalu jadi orang pertama yang saya pikirkan setiap pagi buka mata."
Winarsih mendongak dan menarik wajah Dean hingga pandangan mereka bertemu. Mata Dean begitu sayu karena suhu panas tubuhnya.
"Saya juga kangen sama Bapak," ucap Winarsih.
Winarsih mengecup lembut leher dan rahang suaminya dengan lembut dan berpindah-pindah dengan cepat. Dean mengerang dan mulai menarik tubuhnya.
Tangan Winarsih mulai melepaskan kancing bajunya sendiri. Dia harus berkata melalui perbuatannya. Bahwa dia adalah pemilik laki-laki tampan yang terkadang angkuh itu.
Winarsih menangkupkan kedua tangannya di pipi Dean, ia kembali menciumi wajah suaminya yang tak pernah bernoda. Mungkin sejak remaja Dean belum pernah kedatangan satu jerawat pun.
"Hmmm-- Win..." desah Dean saat ia menggigit pelan telinga suaminya. Winarsih merasa tangan Dean telah masuk menyusup ke dalam penutup dadanya. Ia merasakan ibu jari suaminya mengusap puncak dada yang sekarang telah mengetat karena tuntutan rutinitas yang dilewatkannya hampir sepuluh hari.
Winarsih menghentikan ciumannya dan Dean membuka mata untuk melihat wajahnya. Winarsih bangkit dari posisinya dan melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Win..." panggil suaminya dengan sorot mata mendamba. Winarsih turun ke bagian bawah tubuh suaminya dan menarik turun semua penghalang di antara mereka. Bagian tubuh suaminya di bawah sana telah bangkit sempurna.
Saat kepalanya menunduk untuk memulai, Dean setengah bangkit untuk melihat aksinya. Dan ketika mulut Winarsih telah dipenuhi benda milik suaminya itu, Dean memejamkan matanya.
Winarsih mendengar Dean mengerang dan mendesah. Kedua tangan suaminya itu kemudian meraih seluruh rambutnya agar bisa melihat wajahnya.
Itu hal yang biasa dilakukan Dean. Suaminya itu sangat suka melihatnya saat sedang memuja bagian keperkasaannya. Winarsih suka melihat ekspresi puas di mata suaminya. Berkali-kali Dean mengusap bibirnya yang tengah melingkupi bagian itu.
"Sssshhhhh--" Dean kembali mendesah. Malam ini suaminya itu tak banyak bicara. Dean kali ini hanyalah sebagai penikmat.
Setelah Dean menghentikan gerakan Winarsih di bawah sana, Winarsih menyadari bahwa suaminya telah cukup untuk itu. Winarsih bangkit dan merangkak di atas tubuh suaminya.
Dean menatapnya terpukau. Pria itu sedang menikmati gesekan dada Winarsih yang menyapu dari paha hingga ke dadanya.
"Win..." Perkataan Dean tertahan saat Winarsih sedikit bangkit untuk menuntun bagian kelelakian itu memasuki tubuhnya.
__ADS_1
Mulut Dean sedikit terbuka dan sorot matanya seperti tak sabar menanti saat gesekan yang terjadi di bawah sana hampir membuatnya gila.
"Win... Aku suka," ucap Dean seraya memejam saat merasakan bagian tubuhnya itu seperti kembali pulang ke rumah.
Dean hanya berbaring menatapnya yang bertumpu pada kedua tangan suaminya yang sedang mencengkeram pinggangnya. Winarsih terus bergerak mengikuti ayunan yang sering mereka lakukan.
Tak tahan melihat dadanya yang terbebas dan bergerak, Dean memindahkan kedua tangannya untuk meremas dadanya itu.
Winarsih hampir mencapai puncaknya, ia memekik dan menghentikan gerakannya. Ia menunduk di atas wajah suaminya yang tersenyum. Dean meraih kedua dadanya dan menyesap puncak itu satu persatu dengan keras. Sedikit keras tapi Winarsih menyukai sensasi itu. Ia mulai candu akan kebiasaan suaminya itu.
Dean bergerak seperti ingin memindahkan posisinya. Tapi Winarsih belum mau. Dia masih ingin berada di posisi itu. Masih dengan nafas tersengal-sengal, Winarsih kembali bergerak mengayunkan tubuhnya.
Dean mendesah keras. "Win... Aku suka." Winarsih sempat mendengar kata-kata suaminya sebelum suaminya itu ikut mengangkat bokongnya dan membantu untuk mempercepat gerakan.
"Ayo Win... Dikit lagi," ucap Dean. Nafas mereka sama memburunya. Dan bersamaan dengan Dean yang melakukan pelepasannya dengan sebuah erangan panjang, Winarsih kembali menunduk untuk menggigit bahu putih mulus Dean. Ia ingin meninggalkan jejak kepemilikannya pada pria itu.
Dean kembali mengerang menikmati sesapan keras di bahunya. "Win... Aku suka. Aku suka kamu begini."
Winarsih bergerak sedikit untuk mengeluarkan bagian tubuh Dean yang telah selesai melepaskan rindunya.
Winarsih masih duduk menatap wajah suaminya yang tersenyum puas. Masih dengan tubuh polosnya, Winarish menunduk untuk mencium bibir suaminya.
Dean memandanginya lekat-lekat. Mata pria itu seperti ingin puas-puas melihat tubuh telanjangnya.
"Kamu makin luar biasa," ucap Dean padanya. Winarsih kemudian bergulung ke sebelah suaminya. Dean kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Aku keringetan Win." Dean mengusap dahinya. "Keringetan padahal nggak kerja," sambung Dean lagi.
"Kemana aja seharian ini?" tanya Winarsih mengusap tanda merah bekas gigitannya barusan.
"Aku ke SPA plus-plus nyari anaknya Si Dennis Atmaja. Untuk mastiin kalo sidang nanti nggak ada intervensi lagi. Aku mau tampil keren dan sportif di depan Bu Winar."
"Banyak ketemu perempuan di SPA itu pastinya," ujar Winarsih.
"Banyak, dengan bagian atas tubuh yang hampir terbuka seluruhnya."
"Gimana rasanya kalo ngeliat yang begituan?" tanya Winarsih. Tangan Dean masih meremas dan memilin puncak dadanya.
"Biasa aja. Aku udah punya yang luar biasa," jawab Dean.
"Mas..."
"Hah?"
"Aku cinta Mas Dean..." bisik Winarsih seraya menempelkan tubuhnya kembali pada suaminya.
"Lagi... Ulangi lagi," bisik suaminya kembali mencengkeram pinggangnya yang kini kembali menggesek bagian kelelakian suaminya itu.
"Aku cinta Mas Dean," ulang Winarsih lagi.
"Aku jadi tegang lagi Win... Masih boleh nambah kan?" tanya Dean kemudian menyusupkan tangan di antara kedua pahanya.
To Be Continued.....
__ADS_1