
Beberapa hari setelah Winarsih dinyatakan kelelahan dan harus menghabiskan 1 botol infus. Tiga hari terakhir ini, Dean terlihat sangat penurut pada isterinya.
Dean benar-benar tak mau lagi tidur tanpa melihat wajah isterinya. Meski jarak ranjang pasien dan ranjang pendamping cukup jauh tapi Dean sudah cukup bahagia hanya duduk di kursi rodanya dan membelai kepala Winarsih sebelum wanita itu terlelap.
"Mau makan dulu atau ganti baju dulu?" tanya Winarsih.
"Ganti baju dulu aja deh,"
"Ya udah, soalnya hari ini kan katanya jahitan di perut bakal di buka. Sebentar lagi mungkin Dokternya bakal dateng, jadi bersih-bersih aja dulu."
Winarsih menarik kursi roda mendekati ranjang dan Dean yang sekarang sudah lebih gesit melangkahkan kaki kanannya, kini sudah bisa berpindah ke kursi roda sedikit lebih cepat.
Selama beberapa malam ini setelah Winarsih tertidur, Dean selalu bangkit dari ranjangnya untuk melatih langkah kakinya.
Kondisi bahu kanan Dean, kini sudah tidak bengkak lagi. Tapi masih harus disangga dengan sebuah gips yang tersangkut di lehernya. Meski begitu, Dean sudah lebih leluasa menggerakkan tangan kirinya itu untuk menunjuk-nunjuk sesuatu atau memegang benda.
"Aku mau minta ke Dokter pulang besok ke rumah. Aku kasian sama kamu tidur di sini terus," ujar Dean saat Winarsih mendorongnya ke kamar mandi.
"Saya nggak apa-apa, selama belum sembuh ya Pak Dean harus disini," ujar Winarsih sembari membuka kancing bajunya satu persatu.
Dean hanya diam menunduk melihat sepasang tangan isterinya yang selalu lincah mengerjakan sesuatu. Setelah mengganti bajunya, Winarsih meminta suaminya berdiri. Dean menatap isterinya sedikit ragu.
"Kenapa?" tanya Winarsih.
"Mmmm--aku malu Win," ucap Dean.
"Malu kenapa? kok tumben. Maksudnya--" Winarsih terdiam karena Dean memberengut menatapnya.
"Kok tumben? maksudnya biasa aku nggak punya malu gitu?" sungut Dean.
"Bukan begitu Pak, biasa saya yang ganti semua pakaiannya juga nggak masalah. Hari ini kenapa?" tanya Winarsih lembut mengusap bahu suaminya.
Winarsih merasa bahwa sejak Dean mengalami kecelakaan dan tidak mampu bergerak leluasa, suaminya menjadi lebih rewel dan uring-uringan.
Beberapa hari tak ada menyentuh isterinya, Dean memang sedikit uring-uringan. Dean bukan hanya tak melakukan hubungan suami-istri, tapi juga membatasi sentuhan-sentuhan yang biasa selalu dialamatkannya pada tubuh isterinya.
Dan baru saja, saat Winarsih mengganti pakaiannya tadi, sentuhan jari isterinya membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian tubuh spesialnya itu seketika bangkit. Tapi Dean benar-benar memang tak mau merepotkan Winarsih lagi di sana.
Jadi, sekarang dia hanya diam menatap isterinya. Dia malu kalau-kalau Winarsih mengetahui keadaannya di bawah sana.
"Ya udah Win, aku ganti celanaku sendiri aja," ucap Dean seraya meringis.
__ADS_1
"Pak Dean kenapa? apa ada yang sakit?"
Dean menggeleng.
"Ya udah, sini saya ganti sekarang." Winarsih menunduk menyelipkan tangannya ke lengan kanan Dean hingga perutnya menempel di dada pria itu. Dean menghela nafas panjang.
"Atau entar lagi aja deh aku ganti bajunya," ucap Dean lagi.
"Pak, sebentar lagi Dokter dateng mau buka jahitan di perut. Bapak belum makan pagi. Pak Dean kenapa sih?" tanya Winarsih cemberut.
"Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa. Nggak ada yang sakit. Ya udah nanti aja gitu gantinya. Bisa kan?" Dean balik bertanya.
"Aku kan udah bisa mulai berdiri sendiri, ya udah sini celananya. Biar aku aja yang ganti." Dean menengadahkan tangannya untuk meminta pakaian barunya.
"Kenapa harus begitu sekarang? biasa juga saya yang gantiin pakaian, Pak Dean enggak apa-apa. Kalo memang nggak mau disentuh sama saya, ya udah saya ke luar." Winarsih meletakkan pakaian bersih Dean di atas pangkuan suaminya kemudian pergi keluar kamar mandi.
"Bukan gitu Win. Karna pengen banget disentuh kamu makanya aku kayak gini Win. Aduh kok jadi ribet sih," gumam Dean seraya menegakkan tubuhnya dan berusaha membuka bawahan seragam pasien itu sendiri.
Setelah berhasil membuka bawahannya, Dean menunduk sambil berkata, "sekarang dia ngambek karna kamu nggak ngerti situasi."
**********
"Ibunya nggak ikut masuk? liat jahitan Bapak dilepas?" tanya Dokter Firza sebelum Perawat menutup tirai yang melingkupi sekeliling ranjang Dean.
Dean yang mendengar jawaban isterinya sesingkat itu hanya meringis menatap Dokter yang tengah membuka kasa yang menempel diperutnya.
"Lukanya udah nutup sempurna ya Pak, tinggal nunggu keringnya aja ini. Kemarin hasil CT SCAN kepalanya udah ke luar, saya liat nggak ada masalah serius. Cuma gegar otak ringan. Mungkin nantinya pusing-pusing yang dirasain berangsur-angsur akan hilang," jelas Dokter Firza yang kembali mengoleskan salep di atas luka tusuk di perut Dean.
"Besok saya sudah bisa pulang Dok?" tanya Dean.
"Besok? besok udah hari ke delapan ya? sepertinya bisa. Nanti saya koordinasikan ya." Dokter Firza kembali menutup luka Dean dengan kasa dan plester.
"Ini lukanya saya tutup lagi biar nggak kesenggol dulu. Dua-tiga hari lagi bisa kontrol," ujar Dokter Firza seraya melepaskan sarung tangannya.
Perawat yang mendampingi Dokter Firza kembali membuka tirai yang mengelilingi ranjang Dean.
"Saya permisi dulu ya, ibunya bisa temenin Bapaknya lagi," ujar dokter Firza seraya tersenyum meninggalkan kamar rawat itu.
"Win, besok katanya aku udah bisa pulang," ujar Dean dari ranjangnya. Winarsih duduk di sofa memegang ponselnya.
"Iya," jawab Winarsih singkat tanpa menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
"Kok iya aja?"
"Ya saya harus jawab apa lagi?" jawab Winarsih masih menatap ponselnya.
"Kamu kenapa sih? nggak sayang aku lagi apa Win? nggak peduli gitu," sungut Dean dengan nada sedikit kesal.
"Ya Bapak yang kenapa? memangnya saya salah apa sampe ganti pakaian aja saya diminta ke luar? Padahal saya dirawat kemarin Pak Dean kayaknya sedih banget. Sekarang malah gitu ke saya. Kadang saya nggak ngerti maunya Pak Dean gimana. Kayaknya saya berusaha ngerawat Bapak dengan segala kemampuan saya. Tapi kayaknya memang saya nggak bisa menuhi kemauan Pak Dean semuanya." Winarsih menarik nafas dan menangis sesegukan di sofa.
Dean yang mendengar curahan panjang isi hati isterinya yang salah paham itu terbengong sesaat. Winarsih tak pernah berbicara lebih dari dua kalimat padanya.
Winarsih masih menangis sesegukan di sofa.
"Win---" panggil Dean panik.
Suara tangisan Winarsih semakin keras.
"Aduh Win, bukan gitu. Bu Winarsih, udah nangisnya. Aku susah berdiri ke sofa, kamu ke sini deh" panggil Dean pada isterinya yang masih mengelap air matanya berkali-kali.
"Win.... sini sayang," panggil Dean lagi dari ranjang.
"Liat aku deh," ucap Dean.
Winarsih menoleh pada suaminya masih sesegukan. "Sini Win."
Perlahan Winarsih bangkit mendekati ranjang suaminya.
"Duduk sini." Dean menepuk tepi ranjangnya.
"Peluk aku sini," pinta Dean menarik lengan isterinya.
"Maafin aku, maksudnya bukan karna apa-apa. Aku cuma nggak mau kamu repot," ujar Dean seraya menghirup aroma wangi di leher isterinya.
"Tapi biasanya kan memang begitu, kenapa pagi ini Bapak jadi beda," isak Winarsih dalam pelukan suaminya.
"Karna pagi ini beda--" gumam Dean memejamkan matanya.
"Beda kenapa?" Winarsih menjauhkan diri menarik pelukannya.
"Karna ini aku nggak mau ngerepotin kamu," ucap Dean seraya meletakkan tangan isterinya di bagian kelelakiannya yang sekarang kembali berdiri tegak karena pelukannya pada Winarsih barusan.
Winarsih menatap suaminya terperangah.
__ADS_1
To Be Continued.....
Ternyata Winarsih bisa marah juga ya ama Dean XD