
"Jam berapa rapat pemegang saham itu Nov?" tanya Bu Amalia pada Novi yang duduk di kursi belakang.
"Jam 10 pagi Bu," jawab Novi.
"Kalau gitu biar Dean berangkat ke kantor duluan kayak biasa. Nggak usah pergi bareng juga nggak apa-apa. Ketemu di kantor pusat aja. Kamu nggak usah pergi ama dia Win," ujar Bu Amalia yang duduk di kursi tunggal di dalam Vellfire hadiah dari Pak Hartono.
"Iya Ma." Tak mengerti apa maksud ibu mertuanya, Winarsih hanya mengiyakan. Padahal dia bisa saja pergi bersama Dean ke kantor pusat Grup Cahaya Mas itu.
"Nanti kita sama-sama ke sana. Bawa Dirja sekalian. Kadang-kadang hal kayak gini memang harus dikerjakan sendiri. Biar semua tetap pada tempatnya." Bu Amalia berbicara seolah pada dirinya sendiri.
Wanita tua itu merasa hal yang sudah terjadi dan sedang diperbaiki ini tak seharusnya diterpa masalah baru.
Bu Amalia tak pernah menyukai skandal. Dia tak mau keluarganya menjadi bahan perbincangan di luar sana. Rasanya baru saja dia mendapat rasa sakit kepala hebat saat suaminya menjadi tersangka perebutan lahan di Kalimantan.
Meski kasus yang bergulir itu belum selesai, tapi perlahan ia mulai mempercayai bahwa Dean bisa mengatasi hal itu untuk keluarganya.
Seorang wanita yang dipacari anaknya memeras keluarga mereka dengan sesuatu yang juga dilakukan oleh anaknya itu.
Hati ibu mana yang sanggup melihat video-video nyaris bugil anaknya tayang di berbagai sosial media dan televisi. Dean memang telah salah memilih wanita. Dan anaknya yang selalu bodoh tiap kali jatuh cinta itu selalu meninggalkan masalah untuk keluarganya.
Dulu sekali, lebih dari 10 tahun yang lalu dia telah menjauhkan seorang gadis dari anak laki-lakinya yang siang malam menghabiskan waktu bersamanya.
Bu Amalia tak suka melihat Dean yang masih remaja dan harus menjalani pendidikannya terlihat begitu terikat dengan seorang gadis yang sepertinya terlalu mengekang anaknya saat itu.
Mungkin satu kesalahannya juga dulunya, terlalu sering meninggalkan Dean yang masih sangat butuh perhatian hanya bersama para pembantu di rumah.
Dean jadi terlalu bebas. Hingga gadis itu merasa kalau Dean adalah mutlak miliknya. Dean yang selalu rela melakukan apa saja kalau sudah menginginkan sesuatu. Sebenarnya untuk satu hal itu, Bu Amalia harus mengakui bahwa Dean mirip dengannya.
Dean itu anak kandungnya. Meski sudah bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, tapi anak bungsunya itu terkadang bisa kekanakan.
Hidup dari kecil berbalut kemewahan dan ketampanan membuat Dean sering sombong. Dean sangat menyadari kelebihannya itu.
Meski tak menerima atau menanggapi wanita lain yang meliriknya, tapi Bu Amalia menilai bahwa Dean tak ingin kehilangan fansnya. Anak bungsunya itu memang mahir sekali menunjukkan pesonanya.
"Ini pakaian yang sudah dipesan kemarin. Bisa dicoba dulu Bu," ujar Supervisor sebuah outlet yang mereka datangi.
"Dicoba dulu Win, mulai dari blazer biru itu." Bu Amalia menunjuk sebuah blazer biru yang tergantung paling depan.
Winarsih mencoba satu persatu pakaian di hanger besi panjang yang tadi disodorkan padanya. Bu Amalia hanya duduk di kursi rodanya sembari memangku Dirja yang tengah terbangun.
Saat mulut ibu mertuanya menarik senyum tipis, Winarsih merasa lega karena itu berarti pakaian yang dikenakannya bagus di mata wanita itu.
Winarsih sebenarnya tak mengerti kenapa ia harus membeli pakaian sebanyak itu. Tapi Bu Amalia mengatakan padanya bahwa ia memerlukan pakaian itu jika sesekali harus menghadiri acara di kantor pusat.
Setelah Novi dan asisten ibu mertuanya membawa banyak kantong belanjaan, Bu Amalia mengangguk puas dan mengajak mereka kembali.
Winarsih memperhatikan Dirja yang sudah tertidur di gendongan babysitter-nya. Perawat Bu Amalia mendorong kursi roda keluar dari outlet itu. Kakinya sudah terasa pegal, dan ia kasihan pada Dirja yang tidur meringkuk di dalam gendongan. Tapi ternyata Bu Amalia belum selesai berbelanja.
Di lantai dasar mall yang mereka datangi Bu Amalia kembali menunjuk sebuah toko aksesoris dan perhiasan. Jemarinya dengan lihai menunjuk satu persatu perhiasan yang diinginkannya. Pramuniaga toko tampaknya sudah mengenali Bu Amalia saat didorng masuk.
Winarsih memperhatikan bagaimana elegannya cara Bu Amalia berbicara. Meski duduk di sebuah kursi roda, tapi ia masih mampu menebar pesona kelas atasnya. Winarsih terpukau. Dean sangat memiliki kemiripan dengan ibunya.
__ADS_1
"Besok Mama minta Fika panggil pegawai salon ke rumah. Jadi kamu nggak usah keluar rumah lagi, kasian Dirja," ujar Bu Amalia saat mereka telah ada di mobil dalam perjalanan pulang. Winarsih sangat bersyukur akhirnya acara belanja yang seperti balas dendam itu berakhir.
************
"Kamu jadi ikut ke kantor pusat kan? Kita berangkat satu mobil aja." Dean mengusap-usap punggung polos Winarsih yang berada di dalam dekapannya.
Hampir pukul 5 pagi, Dean baru saja selesai memanjakan bagian dirinya yang lain. Tangannya masih meremas-remas bokong isterinya.
"Selesai rapat, Mama katanya mau ngajak saya dan Dirja pergi ke suatu tempat. Jadi Bapak pergi kayak biasa aja." Winarsih masih memejamkan matanya. Hangat nafasnya menerpa dada suaminya.
"Mau ke mana lagi? Akhir-akhir ini kamu deket banget ama mama. Aku jadi merasa dikucilkan. Rambut kamu warnanya udah nggak item lagi. Selera mama emang bagus, tapi aku jadi khawatir. Kamu makin cantik Win," ujar Dean melepaskan pelukannya dan menatap mata isterinya yang masih memejam.
"Masa cuma Bapak aja yang boleh dandan, saya kan juga mau cantik kayak mantan-mantan pacar Bapak itu." Winarsih berbicara santai.
"Tetap lebih cantik kamu. Karena kamu bisa aku unyel-unyel gini." Dean menciumi leher isterinya.
"Bapak yakin nggak pernah bohong sama saya?" tanya Winarsih dengan mata terpejam.
"Yakin. Kamu nanya apa sih, kok kayak gitu. Jangan sampe aku harus nambah sekali lagi untuk meyakinkan kamu ya Win." Dean mencium tepi dada isterinya dan menyesap bagian itu hingga menimbulkan bercak merah.
"Udah ah, saya mau mandi." Winarsih bergerak bangkit dari tidurnya.
"Bu Winar kok belakangan berubah ya? Kayak dingin ke aku. Kalo aku ada salah ngomong dong Win." Dean menarik lengan isterinya yang memegangi selimut menutup tubuhnya.
"Engga ada kok. Memangnya Bapak ada ngerasa bikin salah?" Winarsih balik bertanya. Dean menggeleng.
"Ya udah kalo nggak ada. Saya mau mandi. Sebentar lagi Dirja bangun," ucap Winarsih.
"Ini lagi selimut!" Dean menarik selimut yang dipakai Winarsih dan membuka tubuh isterinya.
"Ngapain ditutup-tutupin mau ke kamar mandi aja. Emang udah nggak boleh aku liat kamu nggak pake baju? Aku udah liat semua. Kemarin-kemarin ke kamar mandi tinggal jalan aja. Sekarang sejak deket dengan mama, kamu makin cantik, makin sombong sama aku." Dean menindih tubuh Winarsih.
"Sebentar lagi matahari muncul. Udah ah mandi," tukas Winarsih.
"Enggak! Kalo aku mau lagi emang kenapa? Kamu nolak aku?" Dean sedikit kesal karena Winarsih memang dirasanya berubah akhir-akhir ini.
"Enggak, bukan gitu," jawab Winarsih.
Ditolak adalah suatu hal yang sangat melukai hati Dean. Dia menciumi kembali leher isterinya dengan terburu-buru. Kedua tangannya memegangi tangan Winarsih di atas kepalanya. Dia kembali berlama-lama di puncak dada isterinya.
"Aku sayang kamu Win, aku nggak pernah macem-macem. Aku nggak suka kamu dingin gini ke aku," ucap Dean merentangkan kedua kaki isterinya lagi.
Nafas Dean kembali terengah-engah di telinga Winarsih untuk kedua kalinya pagi itu. Gerakannya semakin lama semakin cepat dan Dean kembali menyesap keras puncak dada isterinya saat melakukan pelepasan.
Saat terengah-engah di atas tubuh isterinya, Dean melirik ke arah box Dirja yang masih tenang. Syukurnya bayi itu masih tidur nyenyak. Tak menyadari bahwa erangan bapaknya pagi itu memenuhi kamar yang masih diterangi lampu tidur berwarna kuning.
"Ayo mandi bareng. Aku pengen disabunin semuanya ama kamu." Dean menarik lengan Winarsih agar bangkit dari posisinya. Permintaan Dean yang tak pernah bisa ditolak oleh Winarsih. Semua perkataannya adalah mutlak.
Dan pagi itu, Winarsih memandikan Dean seperti memandikan seorang balita yang terus menempel posesif padanya.
Saat suaminya cemburu dan merasa diabaikan, tingkah pria itu menjadi lebih kekanak-kanakan. Winarsih hanya diam saja menuruti apa yang diminta Dean sampai suaminya itu berangkat ke kantor dengan sebuah kotak bekal berisi nasi goreng buatannya.
__ADS_1
"Dean udah berangkat Win? Bawa apa itu di bungkusan?" tanya Bu Amalia yang memperhatikan Dean yang bersenandung dengan sebuah bungkusan.
"Bekal Ma, nasi goreng." Winarsih mendorong kursi roda Bu Amalia menuju ke pintu lift.
"Bawa bekalnya sekarang. Dulu nggak mau dibawain bekal ke sekolah," gumam Bu Amalia dari duduknya. Winarsih hanya tersenyum mendengar perkataan Ibu Mertuanya. Seandainya saja wanita yang melahirkan suaminya itu tahu bagaimana tingkah anaknya, pikir Winarsih.
"Ya sudah Win, kamu ke kamar mama, pakai baju yang tadi pagi sudah Mama pilihkan. Sebentar lagi hair stylist yang dipesan Fika datang. Mama juga mau berpakaian." Bu Amalia mengangguk pada perawatnya.
"Biar saya bantu Mama dulu," ujar Winarsih.
"Enggak usah. Kamu juga harus belajar percaya dan sesekali berpikir bahwa nggak semua orang perlu bantuan kamu. Kamu pikirkan dulu soal diri kamu, jangan sedikit-sedikit merasa nggak enakan. Egois sesekali itu perlu." Bu Amalia merentangkan tangannya ke atas untuk membantu perawat yang sedang meloloskan pakaiannya.
Pukul 09.30 pagi, Winarsih telah selesai berpakaian. Wajahnya dipoles dengan make-up sedikit tebal dengan warna natural seperti permintaan Bu Amalia. Rambutnya ditata sederhana tapi terkesan elegan.
Bu Amalia memberinya beberapa perhiasan untuk melengkapi penampilannya pagi itu. Winarsih menatap pantulan di kaca hampir tak mengenali dirinya sendiri.
Sebuah setelan blazer biru muda yang sangat pas di tubuh membuat warna kulit Winarsih semakin cerah dan cantik. Bu Amalia tersenyum dan mengangguk padanya. Novi tersenyum seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terpukau.
"Bu Winar cantik banget. Pak Dean pasti kaget," ujar Novi.
"Ayo kita pergi, kamu jangan lupa apa yang mama bilang, kalo kita udah mau nyampe, minta Dean jemput di lobby. Kamu gendong Dirja, terus kasi ke Bapaknya. Nanti Dirja dan babysitter-nya bisa menunggu di lounge kantor dengan mama. Biar semua perempuan di kantor itu tau kalo Dean udah ada anaknya." Bu Amalia didorong masuk ke mobil dan sesaat kemudian mereka telah membelah menuju kantor pusat Grup Cahaya Mas.
40 menit kemudian mobil yang membawa mereka telah tiba di mobil. Teras kantor saat itu sangat ramai, dan rombongan mereka tiba sedikit terlambat. Semua orang tampaknya sudah hadir.
"Satu hal yang harus diakui bahwa menjadi disegani itu membuat kita bisa sedikit tak disukai orang. Kadang-kadang kamu perlu datang terlambat ke suatu acara dan pulang lebih cepat. Untuk menunjukkan bahwa waktu kamu sangat mahal dan begitu sedikit," tutur Bu Amalia sesaat sebelum pintu mobil dibuka oleh petugas valet parking.
"Sebentar saya telfon Pak Dean dulu Ma," ujar Winarsih.
"Halo Pak? Saya udah di lobby. Oh udah di lift? Iya--iya, saya tunggu ya." Winarsih mengakhiri panggilannya.
Tak lama kemudian, Dean yang tadinya terlihat sedikit tergesa-gesa perlahan melambatkan langkahnya saat melihat Winarsih.
"Win--kamu, kamu cantik banget. Ini mahakarya mama, aku suka. Bu Winar--kamuuu, seksi sekali. Kamu harusnya nggak boleh ikut rapat ini. Nanti malah--"
"De--" panggil Bu Amalia.
"Ya Ma?" sahut Dean.
"Kamu gendong Dirja, Sus--kasi Dirja sama Bapaknya," pinta Bu Amalia.
"Lho? Kok Dean Ma?" tanya Dean bingung.
"Anak kamu, ya kamu yang gendong. Ayo cepet anter kami ke lounge kantor. Kami nunggu ibunya Dirja di sana aja."
Dean yang sudah sangat rapi dan tampan pagi itu mengambil Dirja dari tangan babysitter-nya.
"Enak kamu ya--mentang-mentang udah jadi sekutu mama. Jadi aku terus yang disuruh-suruh. Harusnya kamu dandan begini kalo di kamar aja Win, awas aja kamu ntar malem," bisik Dean di telinga isterinya yang berjalan anggun di sebelah ibu mertuanya.
To Be Continued.....
Jangan lupa dilike ya gaeess,
__ADS_1
bantu-bantu Bu Winar masuk peringkat :*