
Minta like sebagai jaminan untuk baca cerita ini sampai selesai.
Kalau sudah, selamat membaca XD
************
"Udah nggak apa-apa. Jangan nangis, kan ada aku Win. Aku bakal temenin kamu, aku pasti bakal buat yang terbaik untuk kamu dan anakku. Nggak apa-apa..." Dean masih memeluk Winarsih di dalam mobil demi menenangkan wanita yang masih terisak itu.
"Katanya kelilit tali pusernya juga. Aku bayangin nanti dia bisa tercekik atau gimana. Aku takut Mas... Aku juga takut operasi."
"Enggak apa-apa, ada aku."
Sepanjang perjalanan pulang mereka ke rumah, Dean sesekali mengelus pipi dan membelai kepala isterinya yang masih sesegukan.
Saat mereka tiba, Pak Hartono yang sedang melintas di ruang makan, melihat raut kesedihan Winarsih yang masuk ke rumah dan langsung menuju ke lantai dua.
Dean berdiri sejenak memandang punggung isterinya yang tertatih berjalan memegangi perut menuju kamar mereka. Waktu menunjukkan hampir pukul 10 malam, Winarsih pasti langsung menuju box Dirja untuk melihat puteranya.
"Ibunya Dirja kenapa? Kamu ngapain lagi?" tanya Pak Hartono.
"Ih, nanyanya gitu. Semua langsung mikirnya Dean deh yang bikin ulah." Dean menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Bu Amalia sedang duduk di sana mengemil potongan apel yang teronggok di meja.
"Ya kalau bukan kamu siapa lagi? Dari dulu kamu bintangnya rumah ini," tukas Bu Amalia.
"Gimana tuh Ma... Dean juga pusing. Kasian ibunya Dirja," ujar Dean mengalungkan satu tangannya di bahu Bu Amalia. Ia menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh wanita yang melahirkannya itu.
"Kenapa emangnya? Dokter bilang apa?" tanya Bu Amalia. "Jawab dulu," sergah Bu Amalia mengedikkan bahunya agar Dean beringsut.
"Kepala bayinya belum turun, kelilit tali puser. Dokter ngomong katanya nggak apa-apa, tapi ibu Dirja takut operasi, khawatir ama anaknya di dalem. Sepanjang jalan nangis terus." Dean menghela nafas dalam.
"Kayak kamu dulu Ma, itu ibu Dirja kayak Mama kamu ngelahirin kamu. Minta siapa itu pegawai siapin matras yoga di kamar kamu atau di deket treadmill. Pasti dokter ada nyaranin, iya kan?" tanya Pak Hartono pada Dean.
"Iya..." jawab Dean lesu. "Tapi itu emang bener nggak apa-apa kan Ma?" tanya Dean lagi pada ibunya.
"Mama dulu nggak apa-apa. Bisa normal juga. Ibu Dirja operasi juga nggak apa-apa, kamu hibur terus. Wanita itu selama hidup banyak yang harus dikalahkannya. Seorang ibu bukan takut mati karena dirinya sendiri. Tapi takut mati meninggalkan anak-anak yang masih membutuhkannya. Jadi kamu juga harus bijak kalau ngomong."
"Minta Bu Sumi dateng aja De, biar lahiran kedua istri kamu dekat ibunya. Mungkin kalau ada ibunya, istri kamu bisa lebih semangat," ujar Pak Hartono.
Benar juga, pikir Dean. Mungkin kedatangan Bu Sumi bisa sedikit meringankan bebannya dalam menghibur kegalauan hati Winarsih sewaktu menghadapi problem menjelang lahirannya kali ini.
Seminggu kemudian, Dean berhasil meyakinkan Bu Sumi untuk datang ke Jakarta bersama Yanto dan menempati kamar tamu di lantai satu.
Winarsih terlihat lebih ceria selama menjalani usahanya untuk mengembalikan posisi kepala bayinya ke bawah.
Bu Sumi yang belum bertemu dengan Bu Amalia sekali pun, tampak sedikit kaku ketika harus berhadapan dengan nyonya nomor satu rumah itu. Sesekali Bu Sumi terlihat beringsut mundur karena merasa tak pandai berbasa-basi.
Untungnya Winarsih sudah menjadi salah satu orang kepercayaan ibu mertuanya itu sekarang. Ia dengan mudah menenangkan hati Bu Sumi yang serba tak enakan itu.
Setelah satu minggu berada di kediaman keluarga Hartono, Bu Sumi terlihat lebih santai. Pada pagi hari, Bu Sumi menikmati waktunya bersama Mbah untuk menyajikan makan pagi sambil mengobrol tentang banyak hal yang menyangkut kampung halaman.
Bu Sumi yang sejak masa kecilnya meninggalkan kota solo menjadi rindu dengan tanah Jawa yang diceritakan oleh Mbah dengan apiknya. Cerita Mbah mampu menggambarkan bagaimana rupa kampung halamannya itu sekarang.
Yanto yang pendiam dan penurut selalu berada di manapun ibunya berada. Remaja laki-laki itu terlihat selalu berkeliaran di sekitar Bu Sumi. Beberapa kali Yanto malah ikut membantu pekerjaan Mba Tina meracik sayur meski berulangkali dilarang.
"Kayaknya ibu kamu mulai betah ya di sini," ucap Dean suatu malam saat Bu Sumi telah dua Minggu berada di Jakarta.
"Mungkin karena Yanto juga ikut, jadi pikiran ibu nggak terbagi. Kalau seorang ibu bisa melihat semua anaknya ada di depan mata, rasa-rasanya aku juga nggak perlu khawatir hal yang lain."
"Yanto udah sehat ya Win, aku seneng."
"Iya," gumam Winarsih yang hampir larut malam itu belum juga tidur. "Ngomong-ngomong, Makasi ya Mas.." Winarsih mendongak untuk mengecup ujung dagu Dean yang berada di atas kepalanya.
"Makasi apa?" tanya Dean memejamkan mata saat merasakan bibir Winarsih di dagunya.
"Banyak," jawab Winarsih singkat kemudian kembali mengecup dagu suaminya. "Mas baik sama keluargaku," sambung Winarsih.
"Keluarga kamu kan keluargaku juga. Masa kalo ibunya Dirja sedih aku nggak ikut sedih." Dean memeluk erat isterinya.
"Aku sudah masuk 38 Minggu Mas, tapi masih takut cek ke Dokter Azizah. Khawatir kalau katanya belum ke bawah. Nanti-nanti aja nggak apa-apa kan?" tanya Winarsih menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah Dean.
"Harusnya periksa. Minggu depan aja gimana? Menjelang dekat lahiran. Tapi kalo sekarang aku bantu liatin gimana posisi bayiku di dalem mau nggak?" tanya Dean seraya meremas bokong Winarsih.
"Mau," jawab Winarsih cepat.
"Cepet banget jawaban kamu," sahut Dean.
"Enak kok." Winarsih mengangkat piyama satin Dean dan mulai mencium dada putih mulus di depannya.
"Bibir kamu ini Win," ujar Dean menangkup wajah isterinya dengan kedua tangan.
"Kenapa?"
"Awal dulu nyium kamu aku gemes, bibirnya bagus tapi kok nggak pinter ciuman. Tapi aku suka, aku jadi berasa kayak guru."
"Aku tau kok Mas banyak ngakalin aku. Nyuruh aku begini, begitu. Aku jadi inget pertama kali disuruh nyium itu..."
Dean membelalakkan matanya, tak menyangka kalau Winarsih akan berbicara segamblang itu soal adegan bercinta yang pernah dimintanya pada awal masa pernikahan mereka.
"Eh, ngakalin gimana? Aku nggak ngakalin kamu. Aku cuma ngasi tau yang enak-enak itu ngapain aja. Kayak nyium itu, akhirnya sekarang kamu yang nagih. 'Mau pegang dulu Mas' malah akhir-akhir ini kalo aku abis mandi, kamu mau liat aku telanjang lama-lama. Candu kamu, sama itu aku." Dean tertawa kemudian mencium gemas bibir isterinya.
"Namanya juga itunya suamiku. Aku nggak pernah tau sama yang lain," sahut Winarsih saat Dean melepaskan kedua telapak tangan dari pipinya.
"Ayo Win, aku jadi tegang. Pengen dicanduin sama bibir kamu," tukas Dean mengusap bibir bawah isterinya yang penuh dan merona merah karena kecupan kerasnya barusan.
Dean menurunkan piyama bagian bawah dan meraih tangan Winarsih untuk meletakkannya di bawah sana.
"Pegang Win..." bisik Dean kemudian mencium isterinya. Tak lama setelahnya, ia pun hanyut dalam rasa hangat tangan Winarsih yang menggenggamnya di bawah sana. Dia telah tegak sempurna sesaat saja.
Tepat seminggu kemudian, di usia kehamilan Winarsih 38 Minggu lebih sedikit, ia sedang menunggui Dirja yang sedang berenang dengan pelampungnya.
Yanto terlihat sangat bahagia memegangi keponakannya itu di dalam kolam. Bu Amalia duduk di teras samping membaca sebuah buku sambil sesekali melempar pandangan pada keluarga besan yang sedang menikmati waktu di rumahnya.
"Nanti sore kamu jadi ke Dokter Win?" tanya Bu Sumi.
"Jadi Bu, nunggu Bapak Dirja pulang ngantor. Nanti sama-sama perginya." Winarsih masih duduk dengan setengah kakinya berada di dalam air kolam.
"Perutmu nggak ada rasa sakit atau kram lagi?"
"Nggak ada. Biasa aja. Semoga Winar lahiran bisa normal ya Bu, Winar bener takut kalau harus operasi." Winarsih menatap ibunya yang sedang merentangkan handuk untuk Dirja yang sudah diangkat keluar kolam oleh Yanto.
"Iya, doa ibu juga begitu," sahut Bu Sumi.
Masa jabatan Pak Hartono hanya tersisa beberapa bulan lagi. Selama itu Pak Hartono terlihat lebih sibuk dari biasanya. Pak Hartono banyak menghabiskan waktu di Kantor Kementerian demi mengurusi sisa tanggung jawab pekerjaannya.
__ADS_1
Saat makan malam, beliau sering mengatakan bahwa bahwa ia tidak ingin lagi berkecimpung di bidang politik. Pak Hartono berencana menghabiskan masa tuanya bersama keluarga untuk menimang cucu dan pergi pelesir bersama isterinya.
Bu Amalia yang mendengar perkataan suaminya itu tentu saja sangat bahagia. Setelah hampir 1 tahun sakit, Bu Amalia akhirnya akan mendapat curahan perhatian penuh dari Sang Suami.
"Nov! Bapak Dirja kok lama ya? Coba ditelfon Nov, perut saya mules. Apa udah mau lahiran ya? Kalau perhitungan saya belum cukup minggunya, tapi ini udah terasa mules." Winarsih berbicara pada Novi di ruang keluarga sore itu.
Rumah itu masih nampak sepi, semua penghuni sedang menjalankan aktifitasnya masing-masing namun Winarsih sudah gelisah hilir mudik di ruang keluarga menanti suaminya.
Novi mengambil ponsel yang tergeletak di sofa dan langsung menghubungi Dean. Setelah menerima jawaban dari atasannya, Novi mengabarkan kalau Dean sudah dalam perjalanan kembali ke rumah.
Dahi Winarsih mengernyit sejak tadi. Ia dan Novi punya rutinitas belajar di sore hari. Namun karena rasa sakit yang perlahan-lahan muncul menyerang pinggang dan perut bagian bawahnya bergantian, Winarsih sudah duduk menegakkan tubuhnya.
"Panggil ibu saya Nov, sakit ini... Kayaknya mau lahiran. Anakku gimana ini, udah muter apa belum." Winarsih yang meringis berkata seolah pada dirinya sendiri.
Novi segera beranjak pergi ke belakang untuk menemui Bu Sumi yang tadi dilihatnya sedang duduk di ruang makan pegawai bersama si Mbah.
Sesaat kemudian wanita itu datang tergopoh-gopoh menemui anaknya.
"Udah sakit? Bapak Dirja mana? Belum sampai?" tanya Bu Sumi.
"Belum Bu... Sakit ini Bu, sakit..." Winarsih mulai terisak.
"Jangan nangis, sebentar lagi suamimu pasti sampai. Biar ibu siap-siap dulu. Kita langsung pergi kalau Bapak Dirja tiba." Bu Sumi kemudian langsung menghilang masuk ke kamar tamu.
Denting halus suara lift terdengar di sisi kanan rumah. Bu Amalia terlihat berjalan perlahan menuju ruang keluarga.
"Kenapa Win? Udah mules?" tanya Bu Amalia.
"Sudah Ma, Bapak Dirja belum sampai juga."
"Mungkin macet. Novi sudah siapkan semua keperluan?" tanya Bu Amalia pada Novi.
"Sudah Bu, sudah stand by di dalam sedan hitam."
"Jangan naik sedan, saya mau ikut. Minta Pak Noto aja untuk anter kita. Ayo cepat telfon Pak Noto biar siapkan mobil dan pindahkan barang-barang," pinta Bu Amalia. Novi menuju pesawat telepon ekstensi yang terletak di sebelah televisi ruang keluarga dan berbicara sebentar di telepon.
Winarsih meringis dan terisak. Rasa sakit yang semakin lama semakin terasa melilit menjalari perut dan pinggangnya membuat ia tak kuasa menahan air mata.
"Win..." panggil Dean yang baru tiba di bawah gawang pembatas ruang keluarga dan ruang makan.
"Mas..." Tangis Winarsih yang melihat kedatangan suaminya semakin tak terbendung.
Bu Sumi melihat sikap anaknya yang selalu kuat itu menjadi sedikit terheran-heran. Winarsih yang ibaratnya dulu terluka kena sabetan arit di sawah pun hanya sekedar meringis saja, kini sangat manja.
"Sakit Mas..." erang Winarsih masih menangis.
"Iya, sakit. Memang sakit. Kalo nggak sakit kita nggak tau anaknya mau keluar. Nanti tiba-tiba keluar gitu aja kita bisa kaget."
"Mas bercanda terus," rengek Winarsih masih menangis.
"Iya maaf, ayo kita ke mobil sekarang." Dean memapah isterinya berjalan perlahan menuju sebuah Van yang telah dipersiapkan Pak Noto di halaman.
Bu Amalia sudah lebih dulu naik ke dalam Van bersama Bu Sumi. Dean mendudukkan isterinya di kursi tunggal bagian tengah. Dan saat Novi memberi instruksi pada Pak Noto, mobil langsung melaju ke arah rumah sakit.
"Sakit Mas..." erang Winarsih lagi. Dean memajukan letak duduknya untuk mengelus punggung dan pinggang isterinya bergantian.
"Iya Sayang, pasti sakit."
Dulu Bu Sumi selalu berdoa agar Winarsih bisa mendapatkan pasangan hidup yang mencintai dan mengayomi seperti layaknya seorang suami yang bertanggung jawab. Itu saja.
Dalam doanya, Bu Sumi mengharapkan kalau Winarsih akan bertemu dengan seorang pria yang benar-benar mencintainya. Tidak perlu kaya, hanya seorang pria yang tulus mencintai dan mau bekerja keras untuk keluarganya.
Tapi nyatanya, Bu Sumi dikaruniai seorang menantu yang melampaui jauh di atas ekspektasinya selama ini.
Meski diawali dengan suatu musibah yang merekatkan takdir Winarsih dan suaminya, Bu Sumi bersyukur bahwa puterinya dipertemukan dengan pria seperti Dean.
Sebagai seorang wanita yang hidup di desa, yang biasa menerima secangkir kopi buatan suami atau berjalan beriringan sepulang dari sawah sebagai suatu keromantisan, kini Bu Sumi tahu bahwa romantis itu bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Tak salah suatu ungkapan pernah mengatakan bahwa sepasang suami istri masing-masing akan mengadaptasi sifat dan perilaku pasangannya.
Seorang istri akan kuat dan tangguh di dalam rumah tangga yang mungkin mendidiknya harus bersikap seperti itu. Begitu pula sebaliknya.
Semua hal itu tak pelak dari pentingnya peranan seorang suami di dalam keluarga. Sikap seorang kepala keluarga menentukan bagaimana perilaku anggota keluarga di dalam rumah yang dipimpinnya.
Winarsih sejak kecil dididik untuk kuat dan tangguh untuk kehidupan yang dijalaninya. Ia tak pernah merengek atau mengeluhkan satu hal apapun. Namun sore itu, Bu Sumi melihat bagaimana anaknya bisa mencurahkan satu sisi yang tak pernah diperlihatkannya selama ini.
Kemanjaan sosok Winarsih. Sikap Dean pada Winarsih selama ini, membuat sisi manja wanita itu keluar begitu saja.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Winarsih yang terisak-isak membasahi kemeja berwarna coklat Milo yang dikenakan Dean.
"Sakit Mas," ucap Winarsih lagi.
"Iya Sayang," sahut Dean masih mengusap punggung isterinya.
"Semua karena Mas ini... Aku jadi begini. Huhu" Winarsih tersedu-sedu.
"Iya, semua karena aku. Maafin aku yang menghamili kamu," jawab Dean. Bu Amalia dan Bu Sumi berpura-pura tak mendengar jawaban absurd suami yang sedang menenangkan isterinya itu.
"Lama lagi ya nyampenya?" tanya Winarsih.
"Sabar ya... Aku lupa minta bantuan patwal karena lahirannya dadakan gini,"
"Ini udah sakit Mas...." ruang Winarsih lagi.
"Ya ampun nak... Kasian ibumu, kasian sama bapak ya... Jangan lama-lama sakitnya." Dean mengusap perut isterinya.
"Semua karena Mas ini,"
"Iya karena aku,"
"Aku nggak mau lagi nambah anak,"
"Iya, nggak usah. Ini terakhir."
"Mas taunya enak aja. Sakitnya nggak tau,"
"Iya Maaf. Aku aja yang enak. Kamu nggak. Yang kemarin minta nambah bukan kamu, aku juga lupa siapa."
Mendengar jawaban Dean, Winarsih kembali meraung meremas lengan suaminya yang sekarang ikut meringis.
Setelah kontraksi selama hampir tiga jam dan Dokter Azizah mengatakan bahwa bayi sudah berada di posisi sempurna untuk lahir, Dean kembali menunduk di kepala isterinya yang sedang mengatur nafas untuk mengeluarkan bayi perempuan berbobot besar itu.
Dean tak tahan untuk menyaksikan proses kelahiran anaknya di bawah sana.
__ADS_1
"Tahan dulu ya Bu, atur nafas sebentar." Dokter Azizah yang telah duduk bersiap menerima bayi memberi instruksi pada Winarsih.
Kemeja Dean sudah terlihat sangat kusut di bagian depan dan lengannya. Sejak tadi tangan Winarsih mencengkeram bagian itu sekuat tenaga. Dean tak akan heran kalau nanti tubuhnya akan menerima luka lebam bekas siksaan tangan isterinya yang sedang menahan sakit.
Tak apa pikir Dean. Asal itu bisa membuat Winarsih terhibur dan mengurangi rasa sakit yang sedang dirasakannya.
Pukul 22.05 seorang bayi perempuan memenuhi suasana kamar bersalin itu dengan suara tangisnya. Winarsih kembali menangis saat mendengar suara tangis anaknya. Dokter Azizah membawa bayi yang baru dipotong pusarnya itu untuk memberikan ciuman di pipi pada ibunya. Winarsih tertawa dalam tangisnya.
Kini ia merasa hidupnya semakin lengkap dan sempurna.
"Jadi bener yang kamu bilang tadi?" tanya Dean.
"Aku bilang apa?" Winarsih balik bertanya.
"Enggak mau nambah anak lagi, ini yang terakhir."
"Kapan aku bilang kayak gitu?" Winarsih menatap suaminya. Dean menjentikkan jarinya pelan ke dahi wanita yang selama beberapa jam tadi sibuk menyalahkannya.
"Mau langsung disusui Bu?" tanya Dokter Azizah.
"Iya Dok, bawa ke sini aja." Dean menjawab pertanyaan Dokter Azizah karena merasa ASI isterinya selalu berlimpah untuk menyusui mereka. Ia, mereka. Dia dan kedua anaknya.
Dua malam berturut-turut sebelum kelahiran anaknya yang belum genap 39 Minggu itu, Dean menggauli isterinya dengan sangat panas. Dalam hati ia mencurigai kontraksi yang dialami isterinya itu adalah hasil dari kerjanya dua malam kemarin.
Dean juga sempat menyesap puncak dada isterinya yang telah mengalirkan ASI dengan lancarnya. Makanya, malam itu ia tak ragu membawa puteri kecilnya menuju puncak dada ibunya yang sudah meneteskan ASI sejak tadi.
Itu adalah saat-saat yang begitu mesra bagi Dean. Ia memeluk Winarsih yang sudah kembali berbaring seperti biasa setelah menerima sedikit jahitan untuk memperbaiki jalan lahir di organ kewanitaannya.
"Ini perempuan aku Win," ujar Dean memeluk bayi kecil yang terbungkus di dalam selimut.
"Liat sini, mirip siapa Mas?" Winarsih merentangkan tangannya tak sabar.
"Sebentar, aku mau liat mukanya dengan jelas."
"Aku mau liat, sini--" pinta Winarsih tak sabar. "Itu anakku," ujar Winarsih lagi.
"Anakku juga kok. Mukanya mirip aku banget ini. Kamu belum beruntung, belum ada yang mirip kamu."
"Ah masa sih," tukas Winarsih saat menerima bayi ke dalam pelukannya.
"Liat aja..."
"Iya, mirip Mas banget. Matanya sipit gini. Kok nggak ada yang mirip aku ya," ujar Winarsih memperhatikan wajah bayinya dengan seksama.
"Kalo gitu kita harus coba lagi, sampe ada yang mirip kamu." Dean terkekeh sembari membuka bagian depan seragam rumah sakit Winarsih lebih lebar agar bayinya bisa menyusu dengan leluasa.
"Iya, aku mau."
"Hah? Mau hamil lagi?"
"Iya,"
"Belum kapok kamu?"
"Belum," jawab Winarsih tersenyum saat meletakkan puncak dadanya pada mulut bayi mungil yang terbuka menyambutnya.
"Cantik Mas," ucap Winarsih memandang anaknya.
"Itu nggak usah diragukan lagi. Ngeliat bapaknya aja orang udah pasti tau anaknya gimana," sahut Dean. Winarsih mencibir mendengar ucapan suaminya.
"Namanya siapa?"
"Dita. Dita Diajeng Hartono." Dean mengusap lembut rambut hitam bayi perempuan yang lebat dan lurus itu.
"Hai Dita, ini ibu. Nanti kamu bakal jadi teman dekat ibu." Winarsih tersenyum menunduk mengecup dahi bayinya.
Terdengar suara ketukan di pintu dan Dean pergi menyongsong pintu itu. Bu Amalia berjalan masuk perlahan dengan tongkatnya ditemani Bu Sumi yang memancarkan raut lega.
"Selamat ya Win, ibu lega sekali." Bu Sumi mengusap air mata haru di sudut matanya.
"Iya Bu. Sekarang Winar punya anak perempuan cantik. Kado paling indah dari Bapak Dirja," ucap Winarsih.
Di usianya yang ke 23 tahun lebih sebulan, Winarsih telah memiliki dua orang anak. Dan Dean baru akan berulang tahun ke 31, empat bulan lagi. Kebahagiaan dalam keluarga kecil mereka terasa sudah sangat lengkap. Winarsih tak mengharapkan hal apapun saat itu. Dia merasa hidupnya telah sempurna.
"Win... De, Mama mau kasi ini untuk kalian." Bu Amalia yang berdiri di sebelah puteranya mengeluarkan sebuah kotak dari dalam pouch yang sejak tadi tergantung di pergelangan tangannya.
"Apa itu Ma?" tanya Dean.
"Ini, sepasang cincin pernikahan yang Mama beli untuk kalian. Mama minta maaf karena baru bisa memberikan ini sekarang," tutur Bu Amalia membuka kotak dan menyerahkannya pada Dean.
"Pakaikan untuk istrimu," ujar Bu Amalia seraya menyodorkan kotak itu pada puteranya.
Dean mengambil satu cincin berukuran lebih kecil dan memasukkannya ke jari manis kiri Winarsih yang sedang menatap tak percaya pada wajah ibu mertuanya. Sebuah cincin Solitaire bermata berlian 2 karat melingkar manis di jarinya.
"Cantik Ma," gumam Winarsih menatap cincinnya.
"Pakein cincin aku Win," pinta Dean menyodorkan sebuah cincin pada Winarsih. Dengan senyum terkulum, Winarsih memakaikan cincin itu pada jari suaminya.
"Aku juga lupa kita belum punya yang beginian," ucap Dean nyengir memandang jari tangannya.
"Biar kalau kamu ngomong ama cewe-cewe, mereka bisa ngeliat jari kamu." Bu Amalia memandang anaknya penuh arti.
"Ah Mama..." sungut Dean.
"Beberapa bulan lagi, masa jabatan papa sudah selesai. Mama mau bikin resepsi pernikahan kalian di Jambi. Kamu mau kan Win?" tanya Bu Amalia pada menantunya.
"Eh?" Winarsih memandang bingung.
"Mama pengen bikin resepsi pesta. Beberapa bulan lagi kan, bayi kalian sudah lumayan besar. Ibunya Dirja juga sudah sehat. Gimana Bu Sumi? Mau kan? Saya juga belum ke Desa Beringin."
"Mau Bu, boleh. Dengan senang hati kami tunggu di Jambi," ucap Bu Sumi.
"Baik kalau gitu. Nanti saya minta orang urus resepsinya di Desa Beringin ya. Saya mau yang ramai," tegas Bu Amalia.
Dean dan Winarsih bertukar pandang. Yah, Bu Amalia tetaplah Bu Amalia yang menyukai resepsi besar. Kali ini tampaknya ia akan menyalurkan hobinya itu di Jambi.
Novi yang mendengar seluruh pembicaraan itu tampak tersenyum-senyum senang.
To Be Continued.....
Panjang ya?
Penulis minta votenya untuk Winarsih-Dean sekali lagi ya.. Pasangan ini akan segera pamit undur diri :*
__ADS_1