
Dean menyeret Disty ke luar dari Beer Garden tanpa menoleh kepada wanita itu. Langkahnya terus menuju ke Range Rover putih miliknya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk.
"Lepasin! Lepasin Berengsek!" maki Disty mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Dean.
"Lu mau minta tanggung jawab kan? ayo sekarang lu gua kasi liat apa yang namanya tanggungjawab sebenarnya." Dean membuka pintu penumpang dan mendorong Disty masuk.
Setengah berlari Dean memutari mobil dan masuk ke balik kemudi.
"Semua orang tau lu harus tanggungjawab ama gua sekarang. Seisi kota ini tau kalo lu nikahin gua De! Ga penting bayi yang gua kandung ini anak siapa! Sekarang lu harus tanggungjawab sebelum semua orang bakal ngata-ngatain keluarga lu!" cecar Disty.
Dean melajukan kendaraan meninggalkan Beer Garden menuju salah satu gedung perkantoran besar di Jakarta Pusat.
"Orang nggak akan menghina keluarga gua kalo tau bapak anak yang lu kandung itu Dis! itu bapaknya tau nggak sih lu hamil anaknya? lu nggak kasian apa sama anak lu nanti? lu nggak malu apa sampe segitunya di depan temen-temen gua?" tanya Dean dengan nada tinggi.
Disty diam menatap jalanan di depan mereka.
"Gua lama-lama kasian sama elu. Kayaknya semua yang lu punya sekarang nggak bikin hidup lu bahagia. Gua nggak ngebenci lu Dis! sumpah! gua cuma kasian! gua udah tau lu hamil! gua juga mikir lu pasti bakal datengin gua dan make cara ini meski sebenarnya gua berharap lu nggak ngelakuinnya. Tapi ternyata lu emang beneran dateng! gua juga ngga pengen liat lu dihina orang, hamil tanpa suami. Lu harus ngasi tau bapak anak lu sekarang. Kalo laki-laki itu cinta ama kamu, dia pasti tanggungjawab." Dean terus bicara sembari melakukan mobilnya.
"Gua nggak perlu nasehat dari lu! ngapain lu kasian ama gua? ngapain??!!" teriak Disty bercampur tangisan.
"Gua nggak ada ngerebut lu dari perempuan itu De! dia yang ngerebut lu dari gua! lu tiba-tiba nikah ama dia ninggalin gua. Nggak ada kabar! gua sayang ama lu bukan cuma sekedar omong kosong!" raung Disty seraya memukul lengan Dean.
"Tapi semua yang lu buat nggak ada yang mencerminkan rasa sayang elu ke gua! ngerti nggak lu? jangan pukul-pukul gua! jangan berani-berani lu pukul gua! gua ada bini di rumah yang ngeliat gua telanjang tiap hari! gua nggak mau tangan lu ninggalin bekas di badan gua" teriak Dean merampas hasil tes kehamilan dan foto USG dari tangan wanita itu.
Mobil yang dikendarai Dean memasuki lahan parkir kawasan perkantoran.
"Bini lu yang pemban--"
"DIAM!! Dia wanita terhormat dan baik-baik yang sedang mengandung anak gua! Dia wanita yang gua nikahi dan bisa gua pastiin kalo tubuhnya adalah milik gua sepenuhnya! Sekali lagi lu berani menghina istri gua dengan mulut lu itu, gua bener-bener bakal mastiin lu dipenjara!" Dean memencet tombol hand break mobil.
Disty masih terus menangis memukul dan mencampakkan semua benda yang bisa didapatnya ke dashboard.
"Ayo turun!" seru Dean membuka pintu mobil dan berputar menghampiri pintu penumpang.
"Gua nggak mau!!" jerit Disty.
Dean menarik lengan kiri Disty agar wanita itu bergerak dari posisinya. Dengan sekali tarikan Dean berhasil membawa wanita itu ke luar dari mobilnya.
__ADS_1
"Ini terakhir kali lu jadi penumpang di mobil gua," desis Dean melangkahkan kaki menuju lobby gedung kantor.
"Gua nggak mau ke sini De! gua nggak mau!" pekik Disty.
"Kenapa? lu malu? takut Si Tua itu marah? takut istri Si Tua itu bakal tau kelakuan suaminya?" sinis Dean terus melangkah melintasi lobby dan menuju lift.
"Lu liat aja apa yang bisa gua lakuin," desis Disty.
"Whatever!! pencet nomor lantai yang biasa lu kunjungi!" perintah Dean saat mereka telah berada di dalam lift. Tangannya masih terus mencengkeram tangan Disty dengan erat.
Disty diam mematung.
"PENCET NOMOR LANTAINYA!!" teriak Dean. Disty tersentak karena suara Dean. Setengah tak percaya Disty menoleh kepada Dean yang tak pernah dilihatnya semurka itu.
Suara Dean menggema hingga ke lobby. Dia sudah tak sabar ingin segera menyelesaikan masalah itu dan kembali ke rumah. Hari itu adalah jadwal Winarsih mengecek kehamilannya. Dan Dean tak pernah terlambat setiap membuat janji pada isterinya.
Perlahan tangan Disty terangkat memencet nomor 16 dan lift bergerak naik. Dean menghempaskan tangan Disty dan memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Jalan kayak biasa lu masuk ke kantornya. Jangan bertingkah kalo lu nggak mau malu," ucap Dean dengan tatapan ke atas melihat angka lift yang semakin mendekati lantai tujuan mereka.
Saat pintu lift terbuka dua orang karyawan yang sedang berada di depan pintu lift langsung menatap tajam ke arah Dean dan Disty. Karyawan itu pasti mengetahui berita tentang mereka.
"Dean Hartono"
"Anak Pak Hartono"
"Grup Cahaya Mas, Hartono Coil"
"Pengacara Danawira Law Firm"
Terdengar bisikan-bisikan yang sangat jelas dari mulut para pegawai yang terheran-heran melihat pewaris dari saingan berat perusahaan tempat mereka bekerja.
Langkah kaki Disty terhenti di depan pintu. Dean maju selangkah dan menekan handle pintu hingga membuka.
Tangan kirinya langsung menarik lengan Disty dan menyeret wanita itu masuk dan terus melangkah berjalan hingga ke depan sebuah meja kantor kayu berukir yang terlihat sangat berat.
Seorang pria tua seumuran Pak Hartono menatap geram ke arah Dean.
__ADS_1
"Good evening Mr. Atmaja. I bring this woman to you. I'm sure, she is carrying your child*. Apa anda tau hal ini? hidup saya nggak ada lagi hubungannya dengan wanita ini. Jadi saya berharap, bisa nggak anda minta wanita ini untuk berenti mengusik hidup saya? Karna saya juga yakin bahwa istri anda di rumah nggak tau soal kelakuan suaminya di luar. Terserah mau anda apakan perempuan ini. Kalian sama menjijikkannya!" desis Dean sembari melangkah maju dan mencampakkan hasil tes kehamilan dan foto USG yang tadi dibawa Disty.
(*Selamat malam Pak Atmaja. Saya mengantarkan wanita ini pada anda. Saya yakin, dia sedang mengandung anak Anda.)
Dennis Atmaja meraih foto USG, melihatnya sekilas kemudian mencampakkannya ke samping.
"Gimana kalau saya bilang itu bukan anak saya?" tanya Dennis Atmaja tajam pada Dean.
"Itu urusan anda Pak! saya bukan orang tuanya." Dean kembali meletakkan tangannya ke kantong.
"Angkuhmu itu sama dengan Ayahmu!" ujar Dennis Atmaja.
"Tapi juga sangat tampan sampai wanita anda ini susah melepaskan saya," potong Dean sembari menaikkan bahunya.
"Sudah siap kamu menghancurkan orangtuamu sendiri rupanya! Ayah yang kamu puja-puja itu bakal membusuk di penjara!"
"Kamu sama busuk dan serakahnya dengan si Hartono itu! Nantikan waktu saat Ayahmu menghabiskan masa tuanya di penjara!!" teriak Pak Atmaja.
"Terserah!!! lakukan apa yang ingin anda lakukan!! Saya tunggu!! saya tunggu anda di pengadilan manapun! saya akan gunakan semua kemampuan saya untuk mengobrak-abrik perusahaan anda!! Anda kira saya--" ucapan Dean terhenti.
DRRRRRRTTT.... DRRRRRRTTT
Ponsel di saku Dean bergetar dan pria itu langsung menariknya ke luar.
Saat melihat nama yang tertera di layar, Dean menarik nafas panjang dan menjawab panggilan.
"Ya Win? Iya, jadi kok. Ini aku jalan pulang ya Sayang-- tadi ada urusan dikit aja. Ini udah selesai kok. Kamu udah siap-siap? Bu Winar tunggu Bapak pulang ya--"
Dean melangkah mundur dari depan meja Dennis Atmaja dan memberi isyarat dengan tangannya menunjuk Disty dan Dennis bergantian, kemudian melambaikan tangan dan pergi menuju pintu sambil terus berbicara.
Dean meninggalkan kantor Dennis Atmaja masih sambil bertelepon dengan isterinya yang khawatir karena dia tak pernah terlambat pulang tanpa bilang.
To Be Continued.....
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komentar terbaik kalian.
Makasi yaa... sayang-sayang akoooohhh
__ADS_1
.